
hari yang sama Adrian sedang merasa resah ketika menunggu didepan sebuah ruangan, ruangan itu bertukiskan poli ibu dan anak. bukan untuk pertama kalinya Adrian mengantar Naira kesana, tapi ini pertama kalinya dirinya akan melihat jenis kelamin sikembarnya. Naira sadar atas ketegangan Adrian, bahkan Adrian terdiam dan keringat terus keluar dari dahinya.
"sayang jika kamu lihat papa kalian sekarang, kalian pasti akan tertawa!" ucap Naira, Adrian menoleh dan menatap Naira.
"kapan dokter akan memanggil, sudah kukatakan tadi ambil jalur vip saja. agar tidak membuatku terus tegang begini, rasanya hampir copot jantungku!" mendengar suara Adrian kesal, Naira tertawa dan mengalungkan tangannya pada lengan Adrian.
"sabarlah, aku tidak suka jalur vip. jadi sabar sebentar ya, aku mencintaimu" ucap Naira, Adrian menghela nafas saat melihat wajah Naira tersenyum padanya.
"ibu Naira silahkan!" ucap seorang perawat, Adrian memapah Naira untuk berdiri.
"halo selamat siang, silahkan duduk!" ucap seorang dokter, Adrian terkejut saat melihat dokter itu seorang laki laki. bagaimana bisa dokter kandungan seorang pria, "saya dokter Ridwan, dokter spog baru menggantikan ibu dokter Nur yang dipindah tugaskan!" ucap dokter Ridwan ramah, Naira tersenyum dan bersalaman dengan dokter itu.
"wah dokter masih muda ya, kayaknya?" ucap Naira, dokter iti tersenyum dan mengangguk.
"iya mungkin bisa dibilang masih 25 tahun!" saut dokter Ridwan, Naira tersenyum dengan itu.
"wah hanya selisih satu tahun dengan saya, enak dong ibu hamil bisa ngeliat dokter ganteng gini!" ucap Naira, Adrian terkejut dengan itu.
ibu hamil ini, bisa bisa nya mengatakan dokter ganteng dihadapan suaminya.
"ehem... kami kesini untuk cek kandungan, bukan untuk berkenalan!" ucap Adrian kesal, tapi Naira tidak memperdulikan perkataan Adrian. Ridwan tersenyum ramah melihat kekesalan Adrian, disitu sisi wajah bahagia Naira. "sudah kukatakan tadi dikelas vip saja, jangan jangan kamu tahu ya ada dokter ini!" bisik Adrian, Naira tersenyum pada Adrian.
"aku juga butuh cuci mata, sesekali melihat pria ganteng selain suamiku!" ucap Naira tersenyum manis, Adrian hanya mengerucutkan bibirnya.
"sepertinya kalian pasangan yang bahagia, bahkan suamimu merasa cemburu saat anda bicara denganku!"
"haha dokter bicara formal saja, dia ini memang seperti itu." saut Naira tertawa kecil, dokter itu mengangguk dan ikut tertawa bersama Naira.
"baiklah, saya sudah membaca buku tentang kehamilanmu. dan selamat sebelumnya, kalian mendapatkan bayi kembar!"
"terima kasih dokter!"
"disini tertulis ini adalah kehamilan pertamamu, pasti sangat berat hamil anak pertama dengan membawa dua sekaligus!" ucap dokter itu, Naira tersenyum dan mengangguk.
"iya meskipun itu susah, selama ada suamiku semuanya pasti baik baik saja!" saut Naira, Adrian menoleh dan tersenyum.
"terakhir datang semuanya sangat sehat, dan untuk berat badan itu sudah normal bagi ibu hamil dengan bayi kembar. dan sebenarnya diusia kehamilan 18 minggu bisa melihat jenis kelamin sikembar, apakah kalian sudah tahu jenis kelamin sikembar?"
"sebenarnya kami cek up hari ini untuk melihat jenis kelamin sikembar, karena suami saya beberapa hari sebelumnya sangat sibuk jadi tidak ada pikiran untuk melihat jenis kelaminnya dokter!" saut Naira, dokter Ridwan tersenyum mendengar suara lembut Naira.
"Wah kebetulan, kalau begitu hari ini kita usg untuk melihat jenis kelamin sikembar ya ..." ucap dokter Ridwan, Naira sangat senang dan bersemangat untuk itu. Adrian yang sedang kesal kembali merasa tegang, Adrian membantu membaringkan Naira ditempat tidur yang tersedia.
"baiklah, permisi ya ..." dokter Ridwan telah siap melakukan usg itu, tapi kegiatan nya terhenti ketika Adrian mencengkram tangannya.
"kamu mau apa dokter?" ucap Adrian, wajah suram Adrian terlihat ketika dokter Ridwan yang akan mengangkat sedikit baju Naira.
"maaf tuan, usg memang dilakukan seperti ini."
"kenapa harus membuka bajunya, jangan mengambil kesempatan untuk melihat istri saya!" saut Adrian, Ridwan yang mendengar itu hanya tersenyum canggung.
"Adrian, kamu ini apaan sih!" ucap Naira melepas tangan Adrian dari tangan Ridwan, "maaf dokter Ridwan, dia memang seperti ini!"
"kenapa minta maaf, ayo pergi kita cari dokter perempuan saja. kamu harusnya pakai daster saja tadi, kenapa harus pakai baju itu!"
"nah bisa kalian lihat itu, dua bayangan itu adalah sikembar kalian ..." ucap dokter Ridwan senang, Naira dan Adrian yang melihat merasa senang dan juga gemas melihat layar monitor usg itu. "nah itu tangan sikembar, dan itu kaki sikembar ..." ucap dokter Ridwan lagi, dengan terdiam Adrian menatap layar monitor dengan takjub.
"mereka bergerak terus!" ucap Adrian lirih, Naira tertawa kecil mendengar suara Adrian.
"selamat untuk nona Naira dan tuan Adrian, kalian akan memiliki anak perempuan!" ucap dokter itu, sontak membuat Naira merasa senang mendengar bayi perempuan. Adrian yang mengharapkan laki laki, tetap merasa senang melihat kebahagiaan istrinya.
"maaf suamiku, bayi kita perempuan!" ucap Naira tersenyum, Adrian mendekatkan wajahnya dan menghapus air mata Naira yang menetes.
"tidak perlu minta maaf, aku juga sangat bahagia melihatmu bahagia!" ucap Adrian tersenyum, Naira tertawa kecil dengan itu.
"tunggu sebentar!" ucap dokter Ridwan membuyarkan rasa haru pasutri itu, mendengar itu Naira dan juga Adrian merasa khawatir.
"ada apa dokter?" tanya Adrian terdengar khawatir, terlihat dokter Ridwan meneliti layar monitor usg dengan serius.
"sepertinya bayi kembar kalian yang satunya pemalu, lihat ini dia membelakangi kamera!" ucap dokter Ridwan dengan tertawa kecil, Adrian terkejut karena mengira kata perempuan itu untuk sikembarnya.
"sepertinya dia sadar kamera haha ... " ucap Naira, dokter Ridwan ikut tertawa mendengar Naira tertawa.
setelah beberapa menit mereka kembali keruang depan, Naira tersenyum pada Adrian karena masih merasa senang dengan bayi perempuannya.
"sudah selesai untuk check up hari ini, ini hasil usg terbaru sikembar. jika kalian masih ingin melihat jenis kelamin sikembar satunya, kalian bisa datang seminggu kemudian!"
"hm.. tidak perlu deh!" ucap Naira, Adrian merasa bingung dengan itu. "biarkan yang satunya itu menjadi rahasia sampai lahir, biarkan papa nya penasaran untuk itu haha..." ucap Naira tertawa, Adrian menghela nafas dan tersenyum mengacak rambut Naira. pada awalnya Adrian merasa kesal bayinya perempuan, tapi Adrian tetap bersyukur untuk itu. karena semua itu bukan keburukan yang harus dikesali olehnya, tapi jika sifatnya seperti Naira itu tetap akan membuatnya kesal.
****
"Daniel lepasin nggak!" ucap Riana yang tangannya terus ditarik Daniel, dengan terkejut Daniel melepaskan tangan itu.
"maaf maaf, aku lupa!" saut Daniel, Riana kesal dan hanya terdiam. "kenapa kamu kesal?"
"ya kesal dong, gimana sih kamu. aku itu mau keruangan papa, dan kamu malah narik narik gak jelas." saut Riana, Daniel hanya tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"oke oke jangan marah, papamu baru aja istirahat aku sudah mampir tadi kesana!"
"oh iya, ini aku bawa makan siang untuk nya!" saut Riana, Daniel tersenyum.
"Memangnya papa mu sedang dikantor, yang bisa kamu bawakan makan siang. dirumah sakit sudah menyediakan makan siang untuknya, jadi keluarga pasien bisa tenang. apalagi ruangan om Riyan itu esklusif, makanan sehat selalu datang keruangannya!" jelas Daniel, Riana mengangguk mengerti dengan itu. "hm... gimana kalau itu buat aku aja, aku belum makan siang nih!" ucap Daniel dengan ragu, Daniel takut Riana akan menolak permintaannya itu.
"hm ... boleh, dari pada gak ada yang makan. mending kamu yang makan, yuk!" ucap Riana riang, Daniel terkejut dengan Riana yang sedikit periang itu. Daniel tersenyum dan mengikuti Riana yang melangkah, Daniel melangkah lebih cepat dan menggandeng tangan Riana. "eh ..."
"kamu lama kalau jalan, aku sudah lapar ini!" ucap Daniel tersenyum, Riana pun tersenyum dan mengangguk. Riana terdiam saat tangan Daniel yang memegang erat tangannya, Riana menatap Daniel yang berjalan dengan tersenyum. Riana merasa Daniel tidak tersenyum seperti itu pada wanita yang dilihatnya, apakah senyum itu hanya untuknya.
berulang kali dirinya berjalan dengan Daniel, berulang kali mereka bergandengan bahkan memeluk pun pernah. tapi tidak pernah sekali jantungnya berdegup kencang, tapi sekarang jantungnya berdegup kencang apalagi saat melihat Daniel tersenyum dan berpikir senyum itu untuknya.
****
kisah Naira dan Adrian udah bahagia, author jadi seneng. sekarang author akan menceritakan kisah Riana dan Daniel ya, karena author ga rela cerita ini tamat hehe ... jadi mau tuntasin hubungan mereka satu satu, dan tinggal hubungan Riana dan Daniel. jadi untuk para reader ku, jangan bosan ya pasti akan author buat yang terbaik untuk ceritanya.
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍