
dari pagi Daniel menunggu kedatangan Riana, ia menyiapkan hadiah yang tidak sempat ia berikan saat hari kelulusan Riana. tapi yang bersangkutan tidak juga datang, sampai seseorang mengetuk pintu ruangannya. dengan cepat Daniel berkata, dan segera melihat seseorang dibalik pintu. Daniel yang sudah senangendadak kecewa, karena yang dilihatnya bukanlah Riana melainkan Karin.
"hai dokter Daniel..." sapa Karin, Daniel mengangguk dan tersenyum. "aku datang untuk membawa hasil darah ayahku, apa aku menganggu?"
"hm tidak kok ... silahkan duduk!" ucap Daniel, Karin tersenyum dan duduk dihadapan Daniel. Karin melihat Daniel yang seperti menunggu seseorang, pandangannya terus melihat kearah pintu.
"gimana sudah ada rencana untuk Riana?" tanya Karin, Daniel menoleh dan menghela nafas.
"belum ada, rencanaku itu aku takut gagal!" ucap Daniel, Karin tertawa kecil melihat itu.
"buat rencana melamarnya?" ucap Karin, Daniel mengangguk. "gampang kalau masalah itu, aku punya saran!"
"iya katakan saranmu?" ucap Daniel menegakkan tubuhnya, Karin pun mendekatkan posisinya dihadapan Daniel.
"saranku, berikan kejutan untuknya. berikan semua kesukaan yang menjadi favoritnya, seperti tempat romantis, makanan lezat, barang, atau yang lainnya. " ucap Karin, Daniel mengangguk dengan sedikit bingung.
"bagaimana caranya?" tanya Daniel, Karin tertawa kecil.
"tanya kan beberapa pilihan yang disukainya, seperti bunga atau kue. jika dia memilih kue atau pun bunga, itu artinya dimenyukai salah satu itu. dan kamu harus menyiapkan yang disebutkannya, karena itu sudah pasti hal yang ia sukai." jelas Karin yang membuat Daniel tersenyum, Daniel mengangguk dan merasa senang. "nah disaat itu juga kamu lamar dia dengan sesuai hal yang menjadi favoritnya, dia pasti akan senang bercampur bahagia nantinya!"
"iya ide yang bagus, akan ku lakukan itu!" ucap Daniel, Karin pun mengangguk dan tersenyum. Daniel kembali melihat berkas yang ada didepannya, sampai sebuah kertas terbang disana. Karin yang melihat itu tidak ingin menganggu pun akhirnya berdiri, ia berniat mengambil kertas yang terbang itu karena takut kertas itu penting. Karin berjalan untuk mengejar kertas itu, dan tanpa sengaja kakinya menginjak sebuah karpet yang membuatnya oleng tidak bisa berdiri dengan benar. dan harus pasrah saat dirinya jatuh, tanpa sengaja ia terjatuh dengan duduk dipangkuan Daniel. dengan terkejut Daniel segera menangkap tubuh Karin, dan mereka saling terkejut satu sama lain.
"aduh ... " pekik Karin, belum sempat berdiri kakinya terasa nyeri. Daniel langsung menyentuh kaki Karin yang merasa nyeri itu.
"sepertinya kakimu keseleo!" ucap Daniel, Karin akhirnya diam dan membiarkan Daniel memegang kakinya.
"maafkan aku, tadi aku menginjak karpet dan mungkin keseleo jadi tidak seimbang!" ucap Karin, Daniel mengangguk.
"gak papa kok, aku akan membawamu ke sofa itu lalu aku akan melihat kakimu!" ucap Daniel, Karin pun mengangguk malu dan tidak enak dengan kejadian itu. saat Daniel ingin berdiri dengan menggendong Karin, suara pecahan yang menggema pun terdengar. membuatnya sekaligus Karin menoleh, mereka terkejut melihat Riana disana dan sebuah kaca berserakan dengan kotor.
"Riana ..." ucap Daniel mendirikan Karin dan mendudukannya, Daniel menghampiri Riana yang sedang memungut pecah kaca itu. "jangan dipungut, nanti kamu terluka !" ucap Daniel menunduk, Riana menggelengkan kepalanya.
"ma ... maafkan a ... aku, a ... aku aku ...menganggu kalian!" ucap Riana gemetar, ia memungut pecahan kaca itu dengan cepat. Daniel tidak tahu apa yang harus ia lakukan, bingung harus mengatakan apa pada Riana. sampai suara Riana terdengar lagi, dengan pekik kesakitan. "akh !! " pekik Riana, Daniel pun menarik tangan Riana karena melihat darah disana.
"sudah kukatakan, jangan memungut itu karena kau akan terluka!" ucap Daniel dengan kasar karena merasa khawatir, Daniel mencoba mencengkram tangan Riana yang berusaha melepaskan nya. "kenapa kau tidak mendengarkan aku !" ucap Daniel kembali kasar karena tangan Riana yang terus berontak, dan melihat wajah Riana yang seperti akan menangis.
"apakah itu sakit Riana, aku bahkan belum menanyakan itu!" ucap Daniel pelan, Karin memegang pundaknya dengan pelan.
"mungkin dia salah paham pada kita, kejar dia dokter Daniel!" ucap Karin, Daniel menoleh dan melihat kaki Karin yang sempat keseleo.
"aku akan mengobati kakimu dulu, ayo!" ucap Daniel, Karin menggelengkan kepala dan tersenyum.
"tidak, masih banyak dokter disini. kejarlah dia, aku takut dia semakin salah paham denganku!" ucap Karin, Daniel pun tersenyum dan mengangguk dengan itu.
disaat sudah sampai diparkiran, mobil Riana telah pergi dari sana. Daniel melepas jas dokternya dan mulai membawa mobilnya menyusul Riana, perasaan cemas dan khawatir menyelimuti Daniel.
Riana sendiri mengendarai mobil dengan cepat, perasaan gelisahnya membuat mata dan hatinya panas. sesekali Riana menarik nafasnya untuk menahan air matanya, tapi gagal sudah pertahanan nya. Riana meneteskan air matanya, bahkan rasa perih pada tangannya mulai terasa yang membuatnya semakin ingin menangis. Riana menghentikan mobilnya disebuah taman, ia mengingat kejadian Daniel yabg memangku Karin. terlihat nyata dimatanya dan tidak pernah ia bayangkan, Daniel akan berbuat sampai seperti itu.
"ada apa denganmu Riana, kenapa dengan perasaanmu!" gumam Riana melamun, ia menundukkan kepalanya pada setir mobilnya. sampai sebuah ketukan membuatnya mendongakkan kepala, terlihat jelas Daniel mengetuk jendela kaca mobilnya. Riana terkejut dengan itu, disaat pria yang tidak ingin ia temui berada dihadapannya sekarang.
" buka !" suara Daniel yang terdengar oleh Riana, bukannya menjawab Riana hanya menatap Daniel yang terus mengetuk kaca mobil itu.
"berisik sekali!" saut Riana ketika membuka kaca mobilnya, Daniel menghentikan ketukannya dan menatap Riana. "apasih Daniel, pergi sana!" ucap acuh Riana, Daniel menatap Riana dan pandangannya beralih pada telapak tangan Riana. darah yang awalnya mengalir segar, kini menjadi kering karena sudah diabaikan sejak lama.
"turun !" ucap Daniel terdengar acuh, Riana malah membuang mukanya. saat ingin pergi terlihat mobil Daniel didepan mobilnya, hingga membuatnya tidak bisa pergi dari sana. karena diabaikan Riana, Daniel membuka paksa mobil Riana dengan cepat. tanpa persetujuan Riana, Daniel membawa Riana kedalam mobilnya.
"Daniel lepaskan, Daniel !" ucap Riana, Daniel terus menarik tangannya dan mendudukan Riana ke sebuah kursi taman disana.
"duduk disini, aku akan kembali!" ucap Daniel tanpa bantahan, Riana hanya bisa diam tanpa menjawab. setelah beberapa menit Daniel pergi, ia kembali dengan membawa sebuah kotak ditangannya. yang diyakini Riana kotak itu adalah kotak obat, Riana menatap tangannya yang terdapat darah kering disana.
"seharusnya kamu tidak pergi tadi, sehingga aku tidak mengejarmu dan tidak meninggalkan rumah sakit!" ucap Daniel melembut, ia membersihkan darah kering ditelapak tangan Riana. dengan perlahan Daniel merawat tangan Riana, ia tidak menyadari Riana yang menatapnya. beberapa menit lalu ia melihat Daniel mesra dengan Karin, dan sekarang disini bersikap lembut padanya.
perasaan lembut itu membuat Riana gelisah, kenapa harus bersikap sebaik itu padanya. kenapa harus memperhatikan Riana seperti itu, jika alasannya karena sebuah persahabatan itu tidak salah. tapi entah hati Riana merasa sakit dengan itu, sakit ketika menyadari semua perhatian Daniel padanya. bukan untuk sebuah hubungan spesial dan istimewa, melainkan hanya hubungan persahabatan mereka. tanpa disadari Riana, air mata menetes dipipinya yang sudah ia tahan tadi.
"Riana apakah sakit, apakah sangat saat sampai kamu menangis?" tanya Daniel ketika melihat Riana menangis, Riana menganggukkan kepala pelan. "aku akan perlahan, aku ..."
"sangat sakit Daniel .... hiks ... sakit sekali ... kenapa ... sakit sekali ... hiks ... hiks ..." tangis Riana meledak saat itu, ia tidak memperdulikan sekitarnya. Daniel bingung melihat itu, ia menghapus air mata Riana. bukannya terdiam Riana semakin menangis, entah sesakit apa yang dirasakan Riana sampai menangis seperti itu. tidak ada pilihan untuk Daniel, ia menarik Riana kedalam pelukannya. dan berhasil, tangis Riana terhenti dalam sekejap.
"jangan menangis Riana, aku sudah menyembuhkannya !" ucap Daniel mengelus punggung Riana, hal itu membuat Riana menangis lagi. karena sakit yang ia rasakan tidak bisa disembuhkan, Riana menerima pelukan Daniel dan menangis disana. pelukan itu berbeda dengan pelukan yang ia rasakan dulu, ketika Daniel selalu memeluk nya ketika menangis.