
Jakarta, Juli 2022
Kembali ke masa sekarang. Dua insan itu kini duduk saling berhadapan. Satu mangkuk seblak yang asapnya masih mengebul hadir diantara jarak mereka.
Mereka tertawa. Selalu. Kebersamaan mereka selalu terasa hangat. Dan tawa ini terasa familiar. Membuat rindu menguar.
"Waktu itu kamu sakit perut selama seminggu di villa. haha .. sukurin!! susah sih dibilangin"
Ameera tergelak. Mengingat masa itu. Gala yang menerima tawaran Adeeva untuk makan seblak level lima belas. Bahkan untuk Ameera pun, level itu terbilang pedas. Bagaimana bisa Gala nekat memakannya saat ia tak bisa makan pedas?
"Ya kan, gengsi. Masa kalah sama anak kecil" Tak mau kalah memang. Tipikal Gala sekali.
Ameera menggelengkan kepalanya, "Kalau kamu lupa, kamu baru tujuh belas waktu itu. Adeeva cuma beda empat tahun dari kamu"
"Tetep aja!" Gala tanpa sadar merengek.
Gala tak mengerti. Sisi kekanakannya ia pikir hanya bisa muncul saat ia bersama bunda. Tapi sekarang Gala bertingkah seperti bocah berusia sepuluh tahun yang sedang merengek di hadapan Ameera.
Entah karena Ameera teman masa kecilnya, atau tanpa sadar kehadiran Ameera masih membuatnya merasakan kenyamanan.
Saat gelak tawa Ameera mereda hening kembali menyapa suasana. Gala mencuri pandang pada Ameera yang kembali sibuk dengan makanannya.
Hatinya berdesir, untuk yang kesekian kali.
"Kamu, kemarin datang ke ulang tahun perusahaan?" Tanya Gala tiba-tiba menghentikan gerak tangan Ameera.
Ameera diam menjeda sebelum memberi anggukan pelan, "Ya datang, kan aku yang buat kuenya"
"Kenapa gak nemuin aku disana?"
Karena kamu bersama orang lain disana.
"Buat apa?" Pikiran dan mulutnya memberikan jawaban yang berbeda. Sakit yang sempat reda kemarin, perlahan menguak lagi ke permukaan. Denyut nyeri kembali ia rasakan kala mengingat malam itu.
"Ya kasih aku selamat gitu. Kamu kan tahu aku dulu bagaimana. Kamu yang jadi penyemangatku dulu. Seenggaknya kamu ucapin selamat buat aku karna aku berhasil mencapai posisi itu" Tersirat nada kecewa yang sedikit bisa Ameera tangkap.
Begitukah seharusnya? Haruskah ia berpura-pura tersenyum seraya memberi ucapan selamat saat hatinya hancur, teriris perlahan?
Kamu tahu aku yang nemenin kamu, tapi kamu bawa dia masuk ke hidup kamu.
"Kan ada tunangan kamu" Bodoh. Jawaban Ameera mengembalikan keheningan yang terjadi sebelumnya. Bahkan kali ini lebih pekat. Suasana tegang terasa jelas oleh Ameera. Ia tahu, Gala mengeras disana.
Tak tahu mana yang salah. Atau apa yang salah. Ameera tahu Gala sedang menahan amarahnya.
Kenapa Gala marah? Batin Ameera bergulat. Sepertinya ia tak mengucapkan apapun yang bisa membuat pria itu tersinggung.
"Ameera!" Gala memanggil. Suaranya berat dengan nada dingin yang kentara hebat. Ameera merinding. Seumur hidupnya mengenal Gala, ini kali pertama ia mendengar kalimat dingin keluar dari mulut laki-laki itu.
Bahkan saat Ameera menolak pengakuannya waktu itu pun, Gala hanya marah dan berbicara ketus padanya.
Tapi tidak sampai sedingin ini.
"Perkataan Adeeva tadi, apa benar?"
Ameera menegang. Kenapa harus dibahas. Ia kira Gala lupa karena sedari tadi Gala tak menanyakannya.
"Yang mana, A'?" Berlagak bodoh. Ameera rasanya ingin menghilang. Ia terjebak suasana canggung yang menyesakkan dada.
"Aku tahu kamu tidak bodoh, aku tahu kamu paham maksudku, Ameera. Jangan sampai aku berbicara blak-blakan soal hal itu"
Suara Gala makin berat. Kalau ini adalah film animasi, Ameera yakin suara Gala pasti diiringi suara monster menyeramkan yang membuat siapapun yang mendengarnya ketakutan.
Bahkan tanpa tambahan suara monster pun, Gala terlihat menakutkan sekarang.
"Apa sih, A'? Adeeva bercanda aj—" Perkataan Ameera yang hendak mengelak terputus kala ia mendengar pria itu menggeram, matanya menajam, seperti sudah mencapai puncaknya.
"Kenapa gak bilang?"
"...."
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu juga suka sama aku?? Kenapa kamu tolak aku waktu itu?? Kenapa kamu dorong aku jauh dari hidup kamu, Ameera?"
Sepertinya Gala melunak. Nada dingin yang tadi terdengar pekat, kini terganti dengan erangan frustasi.
Suaranya melemah diakhir kata, mata tajam itu berangsur berganti menjadi sedih.
Gala berantakan, pun dengan hatinya.
"A' udah! Itu masa lalu" Ameera terkejut dengan reaksi laki-laki itu. Ia pikir, Galanya akan marah dan mengamuk, ia pikir Galanya akan pergi meninggalkannya, kabur dari keadaan—seperti kebiasaannya selalu.
Sekarang ia bingung harus bagaimana. Gala di depan matanya terlihat rapuh. Persis seperti waktu itu.
Gala memegang kepalanya kasar, mengusap wajah hingga kebelakang kepala.
Frustasi, sedih, menyesal, semuanya berdesakkan, seakan berebut menjadi yang lebih dominan untuk dirasakan.
Tak ada ucapan lagi yang keluar dari keduanya. Mereka bungkam.
Gala yang sesak, juga Ameera yang bingung harus melakukan apa.
"Kenapa kamu nolak aku, waktu itu?" Lirih Gala.
Haruskah ia jujur? Gumam batin Ameera. "A', mungkin kalau kamu ingat saat itu kamu baru lulus kuliah, aku masih ada di tingkat satu dan sedang dalam masa sibuk-sibuknya. Aku gak mau ganggu kamu saat kamu baru mau memulai karir kamu, dan aku gak mau kamu ganggu saat aku mau fokus sama kuliahku"
"Kamu waktu itu terlalu terburu-buru. Aku gak tau alasan apa yang membuat kamu tiba-tiba begitu. Tapi bagi aku, A', langkah kamu saat itu salah. Makanya aku nolak kamu. Maaf kalau kamu menangkap lain maksudku. Tapi aku gak sama sekali menyesal dengan keputusanku saat itu. Lihat sekarang, kamu bisa naik sebegini tingginya karna kamu fokus sama tujuan kamu. Satu-satunya yang aku sesali adalah, aku yang gak berusaha buat nyari kamu saat aku punya waktu senggang. Tanya kabar kamu saat kamu sedang berjuang. Aku diam di tempat tanpa mau berusaha. Maaf. Karena aku, keadaan kita jadi seperti ini. Tapi waktu gak bisa diulang, A'! Kita harus terus berjalan, walau dijalan yang berbeda"
Ameera berujar panjang. Lega sudah kini perasaannya. Ia sudah ikhlas, jika ia dan Gala memang tidak berjodoh, Ya sudah. Ia akan lepaskan. Toh sedari awal mereka tak pernah 'bersama'.
Dalam hatinya, Gala meruntuki keadaan, Meruntuki dirinya. Jika saja ia sabar waktu itu, jika saja ia tak gegabah waktu itu, ia tak akan meminta Ameera untuk menjadi kekasih. Ameera tak akan menolaknya. Hubungannya dan Ameera tak aka merenggang.
Sekarang ia menyesal. Tidak, ini sama sekali bukan salah Ameera, ia tak pantas minta maaf.
Kalau bisa ia mengulang waktu, ia akan memperbaiki semuanya. Ia akan menjalani hubungannya dengan Ameera dalam tenang, tanpa mementingkan status.
—Juga, ia akan menolak mentah-mentah kehadiran Shaqueena di hidupnya.
Tapi seperti yang Ameera katakan, Waktu gak bisa diulang, semuanya sudah terlanjur sekarang.
"Ameera, maaf" Tangis sepertinya sudah menohok tenggorokannya. Suaranya serak tapi tak ada air yang keluar dari matanya—ia menahannya.
Ameera tersenyum menenangkan, tangannya ia larikan ke punggung pria itu, mengusap pelan, menenangkan.
"Kita masih bisa jadi teman, kan?" Tanya Gala kemudian. Matanya sayu menatap Ameera, dan ia dapati wanita itu mengangguk pelan, membuat senyum kini terbit dibibirnya.
"Terimakasih" Ucap Gala kemudian.
Mereka terus melempar senyum penuh makna sampai denting bel di pintu masuk terdengar.
"eleuh.. eleuh... Mesra bener, euy!" Adeeva masuk dan dengan jahil menggoda kedua orang yang tadi berbagi emosi disana.
Sontak keduanya salah tingkah, saling membuang pandangan ke arah lain, dan Ameera, yang tanpa sadar masih mengusap punggung Gala, bergegas melepas tangannya.
"Biasa aja kali, tingkahnya kayak yang habis kepergok berbuat mesum," Lalu Adeeva berjalan mendekat, "Eh, apa udah?"
"Adeeva!" Ameera memperingati adiknya. Sedang Adeeva hanya nyengir, sebelum mengambil tempat duduk di sebelah Ameera.
"Eh! ada seblak! Tapi kok cuma satu?? udah lodoh lagi?" Adeeva menyorot tatap ke arah Gala.
Gala mengendikan bahunya, "Ya aku mana tau kalau kamu ada disini. Aku pikir kamu di Bandung sama Umi Abah" ucap Gala santai, suaranya sudah kembali normal.
"IH APA-APAAN!!! A' GALA PULANG SANA. AKU GAK TERIMA AA' KALAU CUMA BAWA SEBLAK SATU DOANG!!"
Tawa pecah dari kedua orang yang lebih dewasa.
Damai sudah mengisi hati masing-masing dari mereka. Semuanya sudah selesai. Status mereka sudah jelas sekarang.
Mereka teman sekarang.
......................
Sabtu ini Gala putuskan untuk berkunjung kerumah Shaqueena. Sejak malam itu, Shaqueena memblokir semua media sosialnya.
Benar-benar marah rupanya.
Makanya Gala putuskan untuk meminta maaf. Sebuah ketidak-biasaan untuk Gala, tapi patut dicoba.
Dengan buket bunga yang cantik, juga dua tiket nonton yang sudah bersarang apik di sakunya, Gala keluar dari mobilnya.
Gala ketuk pintu hitam berbahan jati tersebut pelan.
Terus menerus sampai akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan wanita yang selama tiga hari ini mendiaminya.
"Ngapain?" Ketus sekali nada bicaranya. Wajahnya berbias raut tak suka.
"Mau minta maaf"
"idih?"
"please?" Gala menyodorkan bunga yang ia bawa. Menampilkan senyum menawan yang sulit Shaqueena tolak.
Ya Tuhan, lemah sekali aku, Maki Shaqueena pada dirinya.
Ia terima bunga itu dalam diam. Matanya menilik Gala dengan tatapan curiga.
"Ini aku gak disuruh masuk?" Gala bertanya, "Eh tapi gak usah deh. aku juga gak akan lama"
Raut kecewa dapat Gala tangkap di wajah cantik Shaqueena. Ia menahan tawanya, "Soalnya mau ngajak kamu keluar"
"Eh?"
"Yuk?"
Katakanlah Shaqueena begitu lemah karena di detik berikutnya ia tersenyum dan menghambur ke pelukan prianya.
Bukannya apa. Ini pertama kali prianya bersikap sebegini manis.
Dan ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Diluar keheranannya ia meraih hangat pelukan dari prianya.
Dan ia berharap. Kehangatan ini dapat terus ia rasakan untuk kedepannya.
...****************...