Do You Remember?

Do You Remember?
Kesedihan Riana.



hari cepat berganti, tujuh hari setelah kematian pak Wijaya. setelah melakukan tahlil untuk pak Wijaya, semua keluarga berkumpul diruang keluarga. masih dengan kesedihan mereka duduk diam disofa, suara hening tanpa suara. hanya terdengar suara isak tangis ibu Kumala, sudah tujuh hari ibu Kumala menangisi suaminya yang telah pergi jauh.


Bagas memperhatikan semua orang, termasuk memperhatikan Riana yang terdiam dengan air mata menetes tanpa henti. Naira datang meletakkan air putih untuk mereka semua, kemudian Naira duduk disamping Riana.


"semuanya sudah dibersihkan, semua pintu juga sudah ditutup. kita bisa istirahat sekarang!" ucap Daniel yang datang bersama Adrian, Nadia dan Risa memapah ibu Kumala untuk membawanya istirahat.


"Riana mau kemana?" tanya Naira, Riana terus berjalan tanpa menghiraukan Naira. "Riana..."


"capek, mau istirahat!" ucap Riana tanpa menoleh, Riana berjalan kedalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya.


"ada apa dengannya?" tanya Adrian, ia terkejut saat melihat wajah Naira yang pucat. "Naira kamu demam lagi ya?" ucap Adrian memegang dahi Naira, dengan senyuman Naira menggelengkan kepala.


"nggak kok, mungkin kecapean aja!" saut Naira, Adrian merangkul tubuh Naira dan memberinya senyuman.


"kalian istirahatlah, Naira jangan sampai sakit!" ucap Kara berjalan Perlahan, Naira menarik tangan Kara dan Menatap wajah Kara.


"papa baik baik saja kan?" ucap Naira, Kara tersenyum dan mengusap rambut Naira.


"iya, papa baik baik saja!" ucap Kara lalu pergi dari sana, Naira merasa khawatir pada Kara karena banyak diam.


"sudahlah, jangan pikirkan papamu. dia hanya sedih, percaya pada om!" ucap Febriyan, Naira mengangguk. Adrian pun membawa Naira untuk kedalam kamar, Bagas masih duduk disofa dan menatap foto pak Wijaya diatas meja. Bagas mengingat saat kecil pak Wijaya selalu menggendongnya, bahkan memberikan uang jajan tanpa diminta.


"tidak terasa sudah tujuh hari, semoga kakek ditempatkan disurganya Allah!" ucap Bagas menghapus air matanya, Adrian menghampiri Bagas yang duduk dan bergumam sendirian.


"tidurlah, kau pasti lelah!" ucap Adrian, Bagas mengangguk dan membuka jas yang ia pakai. "aku mendengar pemebicaraan mereka, mendengar semuanya!" Bagas menoleh dan menatap Adrian, Bagas bingung apa yang didengar oleh Adrian.


"apa yang kau dengar?"


"kakek mendengar pembicaraanmu dengan Riana, dimana malam pertama kali kita datang." saut Adrian, Bagas memejamkan mata dan sudah benar dugaannya.


"karena itu Riana selalu mengatakan dirinya bersalah, apa yang kau dengar lagi?" ucap Bagas, Adrian menggelengkan kepala. sebenarnya Adrian mendengar semuanya, tapi Adrian sudah tidak ingin membahas itu semua.


Pyar!!!


Bagas dan Adrian terkejut mendengar suara pecahan, apalagi suara itu berasal dari kamar Riana. dengan cepat Bagas dan Adrian berlari kekamar Riana, Naira keluar dari kamarnya dan menuju kamar Riana.


"Riana ada apa? (tok tok tok)" ucap Naira mengetuk pintu, Riana mengunci pintu itu dan terdengar suara tangisan didalam.


"semuanya salahku, semuanya salahku aakkhhh!!! (prangg)" semua orang terkejut mendengar suara itu, yang mereka khawatirkan sekarang terjadi.


"cepat dobrak pintunya, Riana akan melukai dirinya sendiri!" teriak Risa, Adrian mencoba mendobrak pintu itu tapi gagal. dengan seluruh tenaga Bagas menendang gagang pintu, hingga membuat gagang pintu itu terlepas dan memudahkan Adrian mendobrak pintu itu.


"Riana!!" teriak Bagas, terlihat cermin rias Riana pecah dan hancur. kamar itu menjadi porak poranda akibat ulah Riana, Bagas mencari keberadaan Riana yang tidak terlihat.Naira membuka pintu kamar mandi, dan benar Riana sedang duduk dilantai memeluk lututnya sendiri dan menangis.


"Riana!!" ucap Naira mematikan shower, Naira mengambil handuk dan memeluk Riana. "jangan seperti ini, ayo!" ucap Naira, Riana memeluk Naira dengan tubuhnya yang bergetar.


"hiks... hiks... aku... bersalah..." ucap Riana terisak, Naira membawa Riana duduk dikasur dan mengeringkan tubuh Riana yang basah.


"jangan seperti ini, kakek akan sedih melihat kamu seperti ini. bukankah kakek meminta kita untuk selalu bahagia, kenapa kamu melakukan hal yang akan melukai dirimu?" ucap Naira, Riana terdiam masih dengan tangisannya.


" Naira bawa Riana tidur bersama mu, lupakan yang sudah terjadi. jangan sampai membuat nenek kalian khawatir lagi, ayo kita harus istirahat untuk perjalanan besok!" ucap Kara, Naira mengangguk dan memapah Riana untuk kekamarnya.


"kenapa Riana menyalahkan dirinya?" tanya Nadia, Bagas terkejut dengan itu.


"bunda, mungkin Riana menyalahkan dirinya karena saat dia kesini membuat kakek khawatir." ucap Bagas, Nadia mengangguk dengan itu. Adrian dan Bagas sepakat untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya dari mereka, karena Bagas maupun Adrian tidak ingin menambah masalah itu menjadi rumit.


****


Riana duduk dihalaman rumah itu ketika pagi hari, Riana menganyunkan perlahan ayunan yang ia duduki. musim hujan membuat pagi itu terasa dingin, Riana memeluk lututnya sendiri dan menutup dirinya dengan selimut tebal. ia teringat tentang kakeknya yang duduk bersamanya, bahkan menggendongnya saat kecil. Riana membayangkan saat bermain saling mengejar dengan kakeknya, terlihat begitu bahagia setiap bayangan itu. tiba tiba air mata itu menetes lagi, tidak bisa tertahan dimatanya.


"andai saja aku tetap diam dan tidak ingin tahu, ini semua tidak akan terjadi. hiks ... hiks ... " gumam Riana menundukan kepalanya, ia menangis secara perlahan agar siapapun tidak mendengar isak tangisnya.


"aku mendengarnya!" suara itu membuat Riana mendongakkan kepala, terlihat Adrian berdiri dihadapannya. Adrian tersenyum dan duduk disamping Riana, dengan cepat Riana menghapus air matanya agar Adrian tidak melihatnya menangis. "kenapa kau duduk disini, udaranya dingin dan gerimis!" ucap Adrian lagi, Riana menyandarkan tubuhnya.


"sangat sejuk, jadi aku duduk disini!" ucap Riana, Adrian mengangguk dan menghela nafas.


"aku tidak tahu sejak kapan, hanya yang kurasakan aku menyukai dirimu yang seperti itu!"


"itu artinya bukan cinta!" saut Adrian, Riana menoleh dan menatap Adrian yang mengangguk melihatnya.


"apa maksudmu?" ucap Riana yang tidak mengerti, Adrian tersenyum dan menaikkan selimut Riana hingga menutupi tubuh Riana.


"terima kasih sudah merasa kagum terhadapku!"


"rasa kagum?"


"iya rasa kagumu terhadapku, dan kau mengartikannya sebagai rasa cinta serta ingin memiliki. Riana itu bukan mencintai, melainkan hanya rasa kagum. dengan melihatku kau ingin memiliki seseorang yang sepertiku, seseorang yang memprioritaskan wanita miliknya. kau ingin semua itu dan kebetulan itu adalah aku, coba pegang tanganku!" ucap Adrian mengulurkan tangan, Riana memegang tangan itu. Riana tidak mengerti dengan maksud Adrian, ia memegang tangan Adrian dengan penuh keheranan. "apa yang kau rasakan saat kau menyentuhku?"


"aku tidak merasa apapun, dan ..." Riana tersadar bahwa rasa aneh yang pernah ia rasakan tidak terjadi lagi, apa perasaan itu sudah hilang pada Adrian.


"aku tau apa yang kau pikirkan, maafkan aku. dulu aku memanfaatkanmu waktu itu, Riana kita ini semua saudara jangan hancurkan persaudaraan kita dengan hal kecil!" ucap Adrian, Riana menoleh dan mengangguk.


"kau benar, (menghela nafas) untung saja aku sadar sebelum setan mendekatiku. aku juga tidak ingin menjadi orang jahat, tapi bisakah kau melakukan satu hal untukku?"


"katakan?"


"jangan membuat Naira sedih, aku tidak ingin melihat saudariku itu bersedih. apa kau bersedia melakukannya?" ucap Riana, Adrian tersenyum.


"lakukan satu hal dulu untukku!"


"apa itu?"


"tersenyum padaku dan tunjukan gigimu!" ucap Adrian, seketika Riana tersenyum hingga tertawa dan mengusap air matanya. "begitu dong tersenyum, kau sangat cantik saat tersenyum!" ucap Adrian, Riana menoleh kearah lain dan menggelengkan kepala.


"aku heran dengan Naira akhir akhir ini!" ucap Adrian, Riana menoleh dan menatap Adrian.


"kenapa?"


"dia itu seperti..." sebelum meneruskan perkataannya, suara teriakan Daniel terdengar oleh Adrian dan juga Riana.


"hei tuan posesif, istrimu sedang mencarimu!" teriak Daniel membuat Riana dan Adrian terkejut, dengan senyuman Daniel menghampiri mereka.


"siapa yang kau maksud dengan tuan posesif?" ucap Adrian, Daniel tersenyum dan memainkan alisnya.


"tuan Adrian, istri tercintamu itu sedang mencari dirimu. sebaiknya cepat kesana, atau dia akan mengamuk!" ucap Daniel, Adrian memukul perut Daniel dengan tenaga ringan. Daniel hanya tertawa dengan itu, Daniel melihat kearah Riana yang terdiam.


"jangan sedih lagi, semuanya sudah selesai!" ucap Daniel, Riana menoleh dan mengangguk.


"iya, semua sudah selesai!" saut Riana, Daniel mengangguk dan mengusap rambut Riana. "perasaan itu sudah hilang, tidak ada lagi rasa cinta!" ucap Riana, Daniel tersenyum dan menggenggam tangan Riana.


"jika kau bahagia, kakekmu akan bahagia melihatmu!" ucap Daniel tersenyum, Riana menoleh dan menatap Daniel yang tersenyum. sejenak mereka saling menatap, mereka tenggelam pada tatapan itu. semenit kemudian Riana menarik tangannya, Daniel yang terkejut tersenyum canggung.


****


Assalamualaikum para pembaca, bagaimana nih kabarnya. semoga semuanya diberi kesehatan ya, amiin...


*oh iya sebelum itu, Author mengucapkan Taqabalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamakum. Kullu 'aamin wa antum bi khoyr*


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, 1 SYAWAL 1441 H


Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. jika author punya salah disengaja ataupun tidak sengaja, tolong dimaafkan yaa**...


terima kasih yang sudah setia membaca cerita Do You Remember? , meskipun lama up. author bingung mau ngomong apa lagi, 😁 intinya Author terima kasih pada kalian dan juga minta maaf ya...


Wassalamualaikum.


jangan lupa like, komen dan vote kalian😍