
"mama!!"
suara Adrian terdengar serak menangis, Amelia tertegun dengan itu.
"perasaan mama tidak salah, ini putra mama... berganti nama bukan berarti.. bisa mengganti identitas seseorang. mama ini Adnan, mama..." ucap Adrian menangis mengeratkan pelukannya, Amelia meneteskan air mata lalu berbalik untuk melihat Adrian. terlihat Adrian menunduk dan menangis dihadapan Amelia, Amelia menangis melihat Adrian. kebahagiaan seorang ibu adalah bertemu anaknya, bertemu yang telah sekian lama telah jauh darinya. sekarang itu lah yang dirasakan Amelia, ia tidak percaya putranya berdiri dihadapannya. putra yang selalu ia tunggu dan diharapkannya pulang, kebahagiaan Amelia tidak bisa ditukar dengan apapun.
Plak!!!
Amelia menampar pipi Adrian, Adrian sempat terkejut tapi ia hanya diam dengan itu. wajah sendu nya menatap Amelia, Amelia menangis sesenggukan. Amelia memukul dada Adrian, Adrian menahan tubuh Amelia yang melemas. Adrian mendudukan Amelia disofa, Adrian bersimpuh dihadapan Amelia.
"mama tidak pernah salah mengenaliku, ini Adnan mama.. mama jangan benci Adnan, Adnan akan bersunud meminta maaf pada mama." ucap Adrian menangis. saat ingin bersujud dikaki Amelia, Amelia menahan tubuh Adrian lalu memeluk putra yang dirindukannya itu.
"mama sangat merindukanmu, kenapa kamu tidak datang menemui mama langsung. mama tidak pernah membencimu Adnan, selama ini hanya satu yang mama harapkan. hanya dengan bertemu denganmu, meskipun hanya sekali." ucap Naira menangis, Adrian memeluk ibunya dengan erat.
"Adnan tidak berani... Adnan tidak ada keberanian untuk menemui mama, maafkan Adnan, Adnan kangen mama, pelukan yang bertahun tahun Adnan rindukan kini Adnan rasakan. pelukan seorang ibu, kasih sayang seorang ibu. Adnan sudah sangat merindukannya mama, mama bisakah Adnan mendapat semua itu?" ucap Adrian, Amelia mengusap rambut Adrian dan menciumnya. Amelia mencium kening, pipi Adrian secara terus bergantian.
"mama akan berikan semua itu, tidak perlu meminta. mama akan lakukan semua yang kamu inginkan, mama akan memberikan kasih sayang yang mama belum berikan padamu. tapi jangan pernah ninggalin mama lagi, mama sayang sama kamu Adnan. jangan pernah pergi lagi Adnan, berjanjilah!" ucap Amelia yang masih menangis, Adrian mencium kedua tangan Amelia. ia tersenyum disaat menangisnya.
"Adnan berjanji, kali ini Adnan tidak akan meninggalkan mama. Adnan tidak akan meninggalkan kalian semua, apapun yang terjadi Adnan akan selalu disini untuk mama!" ucap Adrian, Amelia tersenyum dan mengangguk. mereka saling memeluk dan melepas kerinduan masing masing, Adrian menyeka air mata Amelia yang terus keluar dari matanya.
"ada apa ini?"
suara seseorang mengejutkan Amelia dan Adrian, mereka menoleh keasal suara itu. terlihat Vano berdiri dengan menggandeng Nanda, Nanda tersenyum melihat Adrian. ia berlari kearah Adrian, Amelia berjalan kearah Vano.
"kamu kenapa, kenapa menangis?" tanya Vano saat melihat Amelia menangis, Amelia tersenyum disela tangisnya.
"aku sangat bahagia, aku bahagia Vano!" ucap Amelia memeluk Vano, Vano membalas pelukan itu.
"bahagia, karena apa sampai menangis begini!" saut Vano mengelus punggung Amelia, Amelia masih menangis sesenggukan.
"putraku, dia kembali. Adnanku... kembali..." ucap Amelia, Vano melihat kearah Adrian yang sedang bicara dengan Nanda. Adrian melihat kearah Vano dan tersenyum, Vano melepas pelukan Amelia. ia melangkah kearah Adrian, Vano teringat bagaimana Adrian kecil dulu yang selalu ia gendong.
"papa..." panggil Adrian, seketika Vano meneteskan air mata. Vano tersenyum melihat Adrian, ia tidak percaya anak kecil yang selalu membuatnya rindu sekrang sedang berdiri dihadapannya.
"Adnan?..." ucap Vano, Adrian tersenyum dan mengangguk. Vano masih tidak percaya, dalam menangisnya Vano tersenyum bahagia melihat Adnan berdiri dihadapannya.
"anak kurang ajar, kamu berani membuat kami selalu merindukanmu!" ucap Vano, Adrian tersenyum dan menyeka air matanya.
"ayo peluk aku, aku sangat merindukanmu." ucap Vano lagi, tanpa bicara Adrian langsung memeluk tubuh Vano. Adrian menikmati pelukan Vano, meskipun Adrian harus membungkung memeluknya.
"Adnan minta maaf pa, bisakah Adnan mendapat maaf!" ucap Adrian, Vano tersenyum dan mengelap air matanya.
"ini bukan kesalahanmu, tidak perlu minta maaf!" ucap Vano, Amelia berjalan kearah mereka. Vano merangkul Amelia yang masih menangis, Adrian menyeka ai mata itu.
"sekarang tidak akan kubiarkan, mama meneteskan air mata lagi. Adnan berjanji pada mama!" ucap Adrian, Amelia tersenyum. Mereka bertiga saling memeluk dan merasakan kerinduan, yang selama ini mereka rasakan.
"hiks... hiks... hiks..."
suara isak tangis membuat mereka terkejut, terlihat Nanda menangis disana. mereka saling memandang, karena merasa telah melupakan Nanda. Adrian tersenyum ia berjalan kearah Nanda, Nanda menangis disana.
"kenapa kamu menangis, hm?" ucap Adrian berlutut, Nanda mengusap matanya.
"apa kau kakakku?" ucap Nanda, Adrian tersenyum dan mengangguk.
"kau mau kan jadi adikku?" tanya Adrian menyeka air mata Nanda, Nanda mengangguk tersenyum.
"kakak!!" ucap Nanda memeluk Adrian, Adrian tersenyum dan menggendong Nanda.
"dia menyukainya!" ucap Vano, Amelia mengangguk.
"aku selalu ingin punya kakak laki laki, seperti kak Naira dan juga kak Riana. mereka punya kak Bagas, meskipun kak Bagas sayang padaku aku masih ingin punya kakak sendiri!" ucap Nanda, Adrian tersenyum.
"sekarang kau punya kakak, kau senang?" ucap Adrian, Nanda mengangguk.
"jangan, jangan katakan apapun!" ucap Adrian, Vano dan Amelia mendengar itu merasa bingung.
"kenapa?" tanya Nanda, Adrian tersenyum.
"nanti kita akan beritahu sama sama oke, sekarang kamu mandi dulu. setelah itu kita akan bermain lagi, oke?" ucap Adrian, Nanda tersenyum dan mengangguk. Adrian menurunkan Nanda, Nanda berlari masuk kedalam kamarnya. Adrian terdiam dengan pikirannya, Amelia mendekati Adrian yang terdiam.
"apa kamu belum bilang pada Naira, kalau kamu Adnan?" ucap Amelia, Adrian menoleh kearah Amelia dan menggelengkan kepala.
***
ditempat Naira sedang tiduran didalam kamar, Naira melihat hpnya beberapa kali tapi Adrian tidak menelfonnya ataupun mengirim pesan. Naira menjadi khawatir, tapi ia berpikir Adrian sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"hm.. oke aku akan tidak akan mengganggumu!" ucap Naira meletakkan hpnya, Naira berjalan keluar kamarnya. dirumah itu terlihat sepi, Naira melihat jam dan menunjukan pukul 7 malam.
Naira berjalan kearah dapur, ia membuka kulkas dan mengambil minuman kaleng. ia duduk dimeja makan dan meminum minuman yang ia ambil, Naira juga mengiris apel yang ada diatas meja. terlihat Bagas dari arah pintu utama, Bagas melihat Naira sedang duduk dan bersenandung. Bagas berniat untuk mengagetkan Naira, ia berjalan berjinjit.
"kamu ngapain?"
suara seseorang mengejutkan Bagas, ia menoleh dan melihat Febriyan berdiri dekat tangga. Naira mendengar itu pun juga menoleh, Bagas pun tersenyum kaku.
"hehe papa, mengagetkan saja!" ucap Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Bagas berjalan kearah Naira dan memakan apel yang dikupas Naira.
"tadi kamu ngapain?" tanya Febriyan lagi, Naira menatap Bagas.
"tadi niatnya mau ngejutin Naira, eh papa ada disana." ucap Bagas, Naira mengambil apelnya.
"jangan dimakan, kamu kakak yang jahat!" ucap Naira, Bagas mencubit pipi Naira dengan gemas. Febriyan menggelengkan kepala, dan pergi dari sana. Bagas tersenyum sendiri melihat Naira yang makan apel seperti anak kecil, tiba tiba Bagas teringat pada Adrian.
"Naira bisahkah aku tanya sesuatu?" ucap Bagas, Naira mengangguk dengan masih mengunyah apel.
"Adrian itu asalnya darimana?" tanya Bagas, Naira menatap Bagas dan menelan apel yang ada dimulutnya.
"hm.. dia itu orang Indonesia, tapi keturunan orang Inggris juga." ucap Naira, Bagas mengangguk.
"apa kamu tidak cari tahu tentang dirinya, atau ingin tahu dia itu seperti apa dulu?" ucap Bags lagi, Naira menatap Bagas lagi.
"aku tidak peduli tentang itu, dia mencintaiku dan aku mencintainya itu sudah cukup!" saut Naira, Bagas mengisi rambut Naira lembut
"lalu bagaimana dengan Adnan, Bukankah sebelumnya kamu hanya mencintainya dan bakal menunggunya?" tanya Bagas, Naira terdiam dan menatap kaleng yang ia pegang.
"dulu aku berpikir, jika kak Anan tidak kembali aku tidak akan mencintai siapapun. lalu aku menyadari aku tidak bisa hanya menunggu kak Anan, kehidupan pasti berubah. dia bahkan punya kehidupan disana, begitu denganku kak. jadi aku sudah membuat keputusan, aku akan melupakan kak Anan dan mulai membuka hati untuk orang lain." jelas Naira, Bagas tersenyum.
"lalu kau memilih Adrian?" ucap Bagas, Naira tersenyum dan mengangguk.
"sejak bertemu Pak Adrian, ada perasaan aneh yang tumbuh hatiku. aku tidak tahu apa perasaan yang aneh itu, aku tidak kenapa setiap melihatnya perasaan itu muncul. lalu aku sadar itu cinta, aku mencintainya. sejak kejadian dipulau itu, aku baru tahu kalau dia juga mencintaiku. bahkan dia mengatakan pada semua orang, aku adalah harta yang paling berharga untuknya. tidak sembarang orang bisa menyentuhku, siapapun yang menyentuhku akan dapat akibat dari pak Adrian!" jelas Naira, Bagas semakin penasaran dengan Adrian siapa dia sebenarnya.
"kalian kenal berapa hari?" tanya Bagas, Naira tampak berpikir.
"beberapa bulan lalu, saat aku bekerja 2 bulan. aku bertemu dengannya yang baru datang!" saut Naira, Bagas mengangguk.
"Yasudah kakak mau ganti baju, kamu jangan nyemil terus nanti gendut!" ucap Bagas berdiri, Naira mengangguk. Bagas berjalan dengan pikirannya, ia menaiki anak tangga dan melihat kearah Naira.
"aku bisa melihatnya dari awal, dia tidak lain adalah Adnan. tidak mungkin kalian bisa saling mencintai hanya pertemuan pertama, aku akan mencari tahu tentang itu nanti!" ucap Bagas, ia bertekat untuk bertemu dengan Adrian dan menanyakan semuanya.
***
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍
terima kasih juga buat kalian yang selalu mendukung author🤗 maaf jika ada kesalahan atau typo bertebaran ya😁🙏🏼