Do You Remember?

Do You Remember?
dikagumi.



keesokan harinya Adrian dan Naira kembali seperti kehidupan sebelumnya, hal yang paling diinginkan Adrian telah tercapai. setelah bangun pagi, Naira membantu Adrian untuk bersiap ke kantor. itu untuk pertama kalinya bagi Naira, mungkin setelah empat bulan dalam insiden lupa ingatannya. Naira tersenyum saat Adrian menatapnya, ada perasaan bahagia dalam dirinya.


Adrian masih menatap Naira dengan rasa tidak percaya, tidak percaya Naira istrinya berdiri di hadapannya dan memakaikan dasi untuknya. bahkan membantunya mandi hingga memilih pakaian, bahkan Naira dengan setia menyisirkan rambut untuknya.


"selesai!" ucap Naira senang setelah memakaikan dasi, Adrian tersenyum melihat wajah Naira.


"terima kasih!" saut Adrian kemudian mencium pipi kanan Naira, apa yang dilakukan Adrian membuat Naira tercengang. pipinya langsung memerah karena merasa malu, Adrian sendiri memperhatikan wajah Naira gang seperti itu. "kamu kenapa?" tanya Adrian menyentuh kedua tengkuk Naira, membuat Naira semakin gugup dan panas pada wajahnya.


"lepaskan aku, mereka sudah menunggu kita untuk sarapan!" ucap Naira memalingkan wajahnya, Adrian sadar dengan Naira yang seperti itu. Naira menyipitkan matanya ketika Adrian seperti menahan tawa, Naira jadi berniat untuk membalas itu. "tertawa saja, kemarin kamu kan menangis seperti itu dihadapan papa Vano. aku tidak menyangka tuan Adrian bisa menangis, sekarang malah menahan tawa didepanku." ucap Naira, Adrian membalakkan matanya. mengingat kejadian sebelumnya Adrian teringat sangat kesal pada Vano, karena Vano dirinya harus menangis seperti itu.


"aku menangis karenamu, karena kau meninggalkanku jadi aku menangis. hal yang paling aku takutkan adalah kehilangan dirimu, apalagi alasannya kamu meninggalkanku secara terang terangan!" ucap Adrian serius, Naira terkejut karena godaannya menjadi pembicaraan serius.


"maafkan aku, aku tidak bermaksud..."


"kemarin aku kesal pada papa Vano, sekarang aku kesal padamu!" ucap Adrian bernada manja, ia membelakangi Naira dan melipat kedua tangannya. Naira yang melihat itu sangat ingin tertawa, tapi ia menahan tawanya.


"baiklah, bagaimana caraku menebus agar kamu tidak kesal lagi padaku?" ucap Naira, Adrian menatap Naira dengan memasang wajah datarnya.


"cium aku, maka aku tidak akan kesal!" ucap Adrian, Naira sudah menyangka Adrian akan mengatakan itu. bahkan Adrian sudah menutup mata dan siap untuk mendapat cium dari Naira, terdengar Naira menarik nafas dan Adrian merasakan Naira menyentuh pipinya.


"akh!!!" teriak Adrian membuka mata, ketika Naira menjewernya bukannya memberikan ciuman yang ia minta.


"rasakan ini, kenapa kamu sangat nakal. mencari kesempatan dalam kesempitan!" ucap Naira memainkan kedua telinga Adrian, bahkan Naira tertawa melihat wajah pasrah Adrian. "sudah, ayo kita turun!" ucap Naira melepas telinga Adrian, dengan melas Adrian memegangi kedua telinganya yang sakit. "apa sakit?" ucap Naira terdengar bersalah, Adrian mengangguk pelan. Naira terkejut karena merasa tidak menarik telinga itu dengan keras, Naira berjinjit untuk melihat telinga Adrian. disaat Naira seperti itu, Adrian menarik pinggang Naira hingga mendekat kearahnya.


"tanggung jawab!" ucap Adrian, Naira tersadar Adrian hanya menipunya. Naira mendorong tubuh Adrian tapi tenaganya tidak semua Adrian yang menahan tubuhnya. "baiklah, ayo pergi!" ucap Adrian melepas Naira, Adrian sangat kesal saat Naira tidak ingin disentuh olehnya.


"dasar pemarah!" ucap Naira menarik Adrian, dengan cepat Naira mencium Adrian yang sedang marah. Adrian membalakkan matanya karena terkejut, kemudian Naira melepas ciuman itu dan bersembunyi didada Adrian karena merasa malu. "ayo turun, mama Amelia menunggu dibawah!" ucap Naira lirih yang masih menyembunyikan wajahnya, Adrian tersenyum dan mengangkat kepala Naira untuk menatapnya.


"aku tidak senakal dirimu, benarkan?" ucap Adrian tersenyum, seketika Naira tertawa dan memeluk Adrian. kebahagiaan Naira menular pada Adrian, mereka tertawa dikamar itu.


"haruskah kamu bekerja hari ini?" tanya Naira memasang kancing jas Adrian, terdengar nada khawatir disana. Naira sangat khawatir karena Adrian sebelumnya masih sakit, tapi tetap harus bekerja.


"ada meeting penting, setelah meeting aku akan pulang. oke?" ucap Adrian mengusap rambut Naira dengan sayang, Naira mendongakkan kepala untuk menatap Adrian.


"aku akan pergi denganmu, aku kan masih sekretarismu!" ucap Naira senang, Adrian menggelengkan kepala secara bersamaan.


"kamu bukan sekretarisku, kamu istriku tetap dirumah saja!" ucap Adrian, Naira terlihat kesal.


"tidak mau, aku bisa membantumu disana. aku juga...."


"tidak!" suara itu terdengar tegas tidak ingin ada penolakan, Naira terdiam setelah itu.


setelah mengatakan tidak Adrian berjalan keluar dari kamarnya, Naira mengikuti langkah Adrian dengan kesal. terlihat Amelia yang sedang berada didekat meja makan, dan Vano membaca koran dengan tenang disana.


Amelia tersenyum dan melihat Adrian yang berjalan mendekat. Amelia menyentuh dahi Adrian dan sudah tidak merasakan panas disana.


"aku sudah sembuh ma, dan berkat dia!" ucap Adrian menunjuk Naira, Amelia tersenyum dan mengusap kepala Naira yang merasa malu. tapi Amelia melihat wajah cemberut Naira dan itu membuatnya penasaran.


"kamu kenapa, masih pagi kok cemberut?" ucap Amelia, Naira menggelengkan kepala dan menatap Adrian.


"masih pagi sudah bertengkar!" ucap Vano tanpa melihat mereka, Adrian menghela nafas dengan itu.


"aku melarangnya bekerja lagi, dan dia bersih kukuh untuk tetap bekerja. apa aku salah membiarkannya dirumah, tanpa harus kerja lagi?" ucap Adrian, Amelia tersenyum dan mengelus rambut Naira.


"Adrian benar sayang, kamu dirumah aja. nanti ada mama yang akan kesini setiap hari, buat nemenin kamu!" ucap Amelia, Naira tersenyum mengangguk.


"iya ma, Naira ngerti!"


****


setelah sarapan selesai, Adrian pergi kekantor seperti biasanya. rasa sakit dan lemah sebelumnya sudah tidak ia rasakan, karena baginya pekerjaan adalah prioritasnya. mungkin karena itu selama Adrian sakit, tidak pernah ia pedulikan. sampai menjadi fatal, meskipun sudah fatal Adrian tetap bekerja.


"Siska, berikan hasil laporan saham yang sudah kamu buat waktu itu!" ucap Adrian, Siska merasa bingung dan terdiam. karena laporan yang dimaksud Adrian dibawa Naira, dan Naira tidak datang entah kemana Naira berada


"maaf pak, saya tidak membawa laporan itu!" ucap Siska, Adrian langsung menatapnya. Siska menjadi sedikit tegang dengan tatapan Adrian, ia hanya menunduk tidak berani menatap Adrian.


"bagaimana ini pak Adrian, kami datang kemari untuk hasil laporan saham itu!" ucap seseorang, dan beberapa orang disana mulai berbisik satu sama lain.


"bagaimana kamu tidak bawa, saya sudah menyuruh itu lima hari yang lalu. dan kemarin saya sakit, jadi tidak ingat untuk memintanya!" ucap Adrian sedikit tegas, Siska hanya terdiam tidak bisa mengatakan apapun. semuanya mulai ribut disana, Johan berusaha menenangkan mereka tapi tidak ada hasil. sampai suara seseorang membuat mereka terdiam, dan menjadi pusat perhatian.


"laporan nya disini!!!" ucap seseorang, Adrian terkejut dengan suara yang ia kenali. semua orang menatap kearah pintu, suara sepatu berjalan sesuai dengan irama. mereka terpaku melihat seorang wanita berjalan dengan cantik, membawa berkas yang mereka maksud.


"maaf saya terlambat, ada sedikit masalah dijalan!" ucap wanita itu menunduk yang tidak lain adalah Naira, Naira berjalan mendekat kearah Adrian yang masih terdiam menatapnya. "maaf pak, ini hasil laporan yang anda butuhkan. saya sudah menyelesaikannya empat hari yang lalu, saya juga membuat salinannya untuk kalian lihat!" ucap Naira dengan tenang, tapi tidak tenang saat tatapan tajam Adrian menatapnya. semua orang memuji hasil pekerjaan Naira, mereka puas dengan hasil kerjanya. mereka mulai berdiskusi disana, Adrian hanya berfokus pada Naira yang berdiri menjadi pusat perhatian.


"terima kasih atas segala pujian anda sekalian, saya adalah sekretaris dan juga asisten pribadi pak Adrian. perkenalkan nama saya Naira Putri, kalian bisa mengenal saya sebagai Naira." ucap Naira, semua orang tersenyum dan memuji Naira. Adrian sangat kesal karena Naira tidak mendengarkannya, karena sebelum pergi Adrian mengatakan pada Naira tidak perlu bekerja lagi. tapi Naira datang dan membuat perhatian orang tertuju padanya, bahkan berdandan sangat cantik dan pakaian yang sedikit elegan membuatnya tampak anggun dan juga manis.


"baiklah pak Adrian, kami sudah selesai. terima kasih sudah memberikan bukti memuaskan, dan wanita seperti nona Naira sangat pintar dan juga cerdas. anda sangat beruntung!" ucap seseorang bersalaman dengan Adrian, bahkan bersalaman dengan Naira.


"wanita cantik seperti ini pasti banyak yang mengagumi, apakah nona Naira sudah menikah?" ucap seseorang lainnya, Naira tersenyum canggung dan menatap Adrian. Naira sadar Adrian sangat marah padannya, karena selama diskusi dirinya hanya diam dan menatap Naira. "kalau belum, saya ada kesempatan untuk berkenalan mungkin juga mengajakmu jalan berdua untuk mengenal lebih dekat!" ucap orang itu mengulurkan tangan, Adrian menerima tangan itu sebelum Naira.


"maaf tuan Danto, sekretarisku yang CANTIK ini. sudah MENIKAH dan memiliki ANAK, jadi anda tidak bisa mengajaknya berkencan!" ucap Adrian menekan perkataannya, Naira tersenyum canggung dan masih mamasang kesopanan.


"sayang sekali, apakah semua itu benar?" tanya nya pada Naira, perlahan Naira mengangguk pelan. "sepertinya aku terlambat melihatmu, kalau begitu senang bertemu denganmu!" ucapnya, lalu mereka bersalaman dan orang itu pergi dari sana secara teratur.


Siska merangkul Naira karena sudah mengatasi kekacauan, mereka senang satu sama lain. tanpa disadari ada hawa buruk dibelakang mereka, Naira begidik ngeri merasakan akan terjadi hal buruk. Naira teringat dengan Adrian, dengan cepat Naira berbalik kearah Adrian.


"em.. aku pergi dulu, ayo pak Johan!" ucap Siska yang sadar situasi, Siska pun menarik tangan Johan untuk keluar dari sana. Naira tersenyum canggung pada Adrian yang terlihat buruk, ia tahu Adrian saat ini sedang dalam mode buruk.


"aku..."


"kenapa tidak mendengarkan aku, datang dan membuat perhatian semua orang. dan itu tadi, pakai pegang pegang!" ucap Adrian menarik tangan Naira, Adrian dengan kesana mencuci tangan Naira ditoilet sana. Naira menahan tawa melihat Adrian sangat posesif, Adrian menatapnya dengan kesal. "bagaimana kamu bisa kesini?" tanya Adrian, Naira tersenyum dan duduk disamping Adrian.


"mama Amelia yang menyuruhku!" ucap Naira, Adrian menyipitkan matanya karena tidak percaya. Adrian tahu benar sifat Naira, pasti Naira telah memaksa untuk pergi meskipun Amelia melarang. "jangan marah suamiku, aku kan sudah menolongmu tadi. jangan marah ya..." ucap Naira lagi, Adrian mendirikan tubuhnya dan meninggalkan Naira. saat keluar dari sana, dikejutkan Johan dan Siska yang sedang berdiri dipintu. mereka kepergok Adrian sedang menguping, Naira menahan tawa melihat ekspresi Johan dan Siska.


"Johan ikut aku!" ucap Adrian lalu pegi, saat Naira ingin mencegah Adrian terlalu cepat berjalan.


"Naira aku dengar dari Johan kamu sudah sembuh?" tanya Siska hati hati, Naira menoleh dan menatap Siska. semenit kemudian Naira tersenyum dan memeluk Siska.


"Siska maafkan aku, aku melupakanmu. aku tidak ingat banyak, tapi aku merasa sangat dekat denganmu!" ucap Naira senang, Siska pun senang dan memeluk Naira.


"aku sangat senang, Naira ku kembali!" ucap Siska, Naira tersenyum dan mengangguk. "jadi bagaimana dengan pak Adrian yang marah?" ucap Siska, saat Naira ingin menjawab Adrian kembali terlihat. Naira dan Siska terdiam dengan itu.


"Siska bantu Johan mengerjakan berkas A diruangannya, dia membutuhkanmu!" ucap Adrian, Siska mengangguk dan pamit pergi dari sana. Naira tersenyum saat Adrian menatapnya, Adrian masih kesal melihat Naira.


"kamu, ikut aku pulang sekarang!" ucap Adrian berjalan, Naira terkejut dan mengikuti langkah Adrian.


"pulang, aku datang untuk bekerja!" ucap Naira dibelakang Adrian, tapi tidak ada jawaban dari Adrian. Naira sampai harus memegang tangan Adrian untuk merayunya, tanpa disadari beberapa wanita disana memperhatikan tingkah Naira. mereka mencemooh Naira, cemohan itu terdengar ditelinga Adrian.


"kamu kenapa?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala.


"sudah ayo, katanya mau pulang!" ucap Naira berjalan mendahului Adrian, dengan cepat Adrian menarik tangan Naira hingga jatuh dalam dekapannya. hal itu membuat Naira terkejut, karena semakin banyak wanita yang menatapnya. "lepaskan aku!" ucap Naira, Adrian menggelengkan kepala.


"kalian!!" teriak Adrian, semua orang menatap Adrian yang merangkul Naira disampingnya.


"beberapa hari ini saya tahu, kalau kalian ingin mendapatkan perhatian saya. kalian bahkan membulli Naira karena bisa dekat dengan saya, tapi asal kalian tahu kenapa Naira bisa dekat dengan saya karena Naira...."


"Adrian jangan seperti itu, biarkan saja!" ucap Naira, Adria. tersenyum dan mengusap kepala Naira.


"mulai hari ini saya tidak ingin pembulian terjadi lagi, terutama pada istri direktur!" tegas Adrian, semua orang disana terkejut. mereka seakan tidak mengerti perkataan Adrian, istri direktur siapa yang dimaksud Adrian. "Naira adalah istri direktur, dan direkturnya adalah saya!" ucap Adrian lagi, Naira tersenyum canggung.


"siapa istri direktur?" ucap seseorang, membuat semua orang menoleh termasuk Adrian dan Naira. terlihat berdiri disana seorang pria berjas serba hitam, dan beberapa asisten pribadi dibelakangnya. wajah semua orang berbinar melihat nya, termasuk Naira yang langsung tersenyum senang.


"kakak!!" ucap Naira senang, pria itu adalah Bagas. sekian lama Bagas tidak terlihat karena luar kota, kini kembali langsung menemui Naira. semua orang disana tidak percaya, kalau Naira adik dari Bagas wakil direktur KR Group. Bagas dikenal karena kepandaiannya, dan juga kehebatannya dalam berbisnis. Bagas mengikuti jejak Kara, hingga membuat para gadis mengaguminya.


Bagas berjalan kearah Naira, dan langsung memeluk sang adik disana. semua orang disana merasa sakit hati dan patah hati, bukan hanya istri direktur mereka tapi juga adik dari pria yang dikagumi mereka. Naira sendiri merasa sangat bahagia, kebahagiaan meledak dalam hati nya.


"jadi ini istri direktur?" ucap Bagas, Naira tersenyum dan mengangguk. Bagas menepuk pundak Adrian yang menatapnya, Adrian sendiri tersenyum dan mengangguk.


"kapan kau pulang?" tanya Adrian, Bagas tersenyum dan mengisi rambut Naira.


"baru saja, dari bandara langsung kemari!" ucap Bagas, mereka bertiga berjalan keluar dari gedung itu. Adrian dan Naira yang berniat kerumah, jadi harus ikut Bagas kerumah Kara. dan berniat mengambil semua pakaian atau barang milik Naira, Adrian menceritakan semua kisahnya pada Bagas tentang kejadian 2 hari sebelumnya.


setelah sampai dirumah itu, Naira berlari masuk untuk menemui Kara dan Nadia. Bagas dan Adrian mengikuti langkah Naira, perhatian mereka tertuju pada Bagas dan juga Adrian.


"papa, mulai sekarang Naira akan tinggal dengan Adrian. Naira ingin menjadi seorang istri lagi, papa setuju kan?" ucap Naira, Kara tersenyum dan mengangguk.


"tentu sayang, papa tidak bisa mencegah kamu. tugas papa sudah digantikan oleh Adrian, maafkan papa sudah merahasiakan Adrian dari kamu " ucap Kara, Naira tersenyum dan memeluk Kara.


"Naira tidak marah kok pa, kalian semua menyembunyikan itu pasti karena ada sesuatu. Naira tahu, kalau kalian selalu ingin membuat yang terbaik untuk Naira." ucap Naira, Kara dan Nadia tersenyum dengan itu.


"hari ini kalian menginap disini ya, besok kalian boleh pergi!" ucap Nadia, Naira mengangguk dan tersenyum. "Adrian apa kamu setuju?" ucap Nadia, Adrian menoleh dan mengangguk.


"iya ma, Adrian setuju!" ucap Adrian singkat, saat semua orang mengobrol tanpa mereka sadari seseorang berdiri diatas tangga memperhatikan mereka. siapa lagi kalau bukan Riana, Riana menatap Naira yang tersenyum bahagia.


"kenapa aku tidak seperti Naira, aku juga ingin dicintai!"