
aku tidak pernah mencintai siapapun sebelumnya, aku bahkan tidak suka saat seorang pria mendekatiku. tapi selama empat bulan terkahir aku dekat dengan seseorang, lebih tepatnya dia adalah suami dari saudariku sendiri. Adrian Pratama, suami dari Naira.
selama empat bulan aku menemani Adrian ketika Naira menjalani perawatan, pada awalnya aku hanya menghubunginya lewat telfon saja ataupun lewat telegram. karena aku juga tidak terlalu mengenalnya, dan ada masanya dia menghubungiku untuk menemui ku menanyakan kabar Naira. hampir terjadi setiap hari kami bertemu dalam empat bulan, bahkan kami sering jalan berdua. aku berpikir itu hanya ia lakukan karena ingin dapat kabar tentang istrinya, tapi seiring kami bertemu aku merasa aneh saat bersamanya. aku sadar dia menemui ku hanya ingin mendapat kabar Naira, bukan hal lain.
aku merasa beda saat bersamanya, ada sesuatu yang aneh saat bersamanya. aku yang bisanya tidak nyaman dekat dengan pria, merasa nyaman saat bersama Adrian. untuk pertama kali nya aku mencintai, tapi kenapa aku harus mencintai Adrian suami dari saudariku. kenapa tidak orang lain saja, apa cintaku itu benar ataukah salah. setelah empat bulan aku tidak lagi bertemu dengannya, karena Naira sudah sembuh. melihat mereka bersama sekarang seharusnya aku bahagia, tapi kenapa aku sangat bersedih seperti ini.
***
"Riana kenapa berdiri disini?" suara Risa mengejutkan Riana, Riana menoleh dan tersenyum pada Risa. "hayo ngelamun ya, sudah sana jangan melamun terus!" ucap Risa, Riana merasa kesal dan berjalan menghampiri Naira.
"Naira!!" ucap Riana, Naira menoleh dan tersenyum. Naira langsung memeluk Riana, mereka berpelukan disana. "aku senang kamu mengingat Adrian!" ucap Riana, Naira tersenyum dan mengangguk.
"itu juga berkat dirimu, karena kamu selali memberitahuku kesehatan Naira dulu!" ucap Adrian menepuk pundak Riana, Riana tersenyum dan melihat tangan Adrian.
tidak, tidak bisa. Adrian suami Naira, aku tidak bisa mengambil sesuatu yang bukan milikku.
Risa sadar melihat tingkah Riana, karena lagi lagi Riana melamun. Riana tersadar saat Naira menepuk pundak Riana, mereka saling melempar senyum.
"ya sudah, kalian ganti baju yang lebih santai!" ucap Nadia, Naira tersenyum dan mengangguk.
"pak Adrian, ayo kesana. itu kamar saya!" ucap Naira, Adrian terkejut dengan itu. Naira tertawa sendiri dan membuat semua orang tertawa disana.
"berhenti bicara seperti itu!" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala.
"aku sekretarismu, jadi harus sopan pada presdir!" ucap Naira, Adrian mengejar langkah Naira. mereka tertawa dan masuk kedalam kamar Naira, dari bawah Riana menatap penuh kecemburuan. Riana mengepalkan tangannya sendiri, ia mencoba menahan perasaannya sendiri.
Risa yang berdiri disamping Riana, sadar akan perilaku Riana. Risa melihat tingkah kedua suami istri itu, dan ekspresi Riana secara bersamaan.
"apa yang bukan milikmu, tidak bisa kau ambil begitu saja!" ucap Risa, Riana langsung menoleh menatap Risa.
"mama... Riana masuk dulu!" ucap Riana terbaru dan langsung pergi dari sana, Risa menatap kepergian Riana yang terburu buru.
"ada yang salah!" gumam Risa
"apa yang salah?" ucap Nadia saat mendengar Risa bergumam, Risa menggelengkan kepala dan tersenyum pada Nadia.
****
sore harinya Adrian keluar dari kamarnya, karena merasa haus dan perutnya yang lapar. Adrian melihat tidak ada siapapun disana, hanya pelayan yang sedang membersihkan dapur. Adrian membuka lemari es dan mengambil air dingin disana, setelah itu berjalan menuju meja makan. secara bersamaan Riana keluar dari kamar mandi dekat dapur, hingga membuat mereka bertabrakan.
Brugh...'
Adrian menangkup tubuh Riana, sehingga mereka terjatuh secara bersamaan. Riana menatap Adrian yang ada diatasnya, Riana hanya terdiam dan berkedip beberapa kali.
"ada apa?" tanya Adrian yang tersadar Riana sedang menahan sakit.
"seperti nya kakiku terkilir, aduh nyeri!" ucap Riana, Adrian berjongkok dan melihat kaki Riana.
"aku bantu berjalan kesana!" ucap Adrian, Riana mengangguk pelan. Adrian memapah Riana untuk duduk disofa, tapi Riana merasa kakinya tidak kuat untuk menyentuh lantai. dengan cepat Adrian menggendong Riana, tanpa persetujuan dari Riana.
Riana menatap Adrian yang menggendongnya, ia terus bersumpah untuk tidak beranggapan lain dengan Adrian. karena yang dilakukan Adrian hanyalah membantunya, dan Adrian hanya menganggapnya sebagai saudari Naira.
"Adrian sudah lepaskan, aku nggak papa kok!" ucap Riana, Adrian tersenyum dan mendudukan Riana di sofa ruang keluarga. Adrian berjongkok untuk melihat kaki Riana yang terkilir, perasaan Riana sudah tidak tahan dengan perlakuan Adrian.
"masih sakit?"
"sudah tidak, kakiku sudah baik!" ucap Riana, Adrian mengangguk dengan itu. secara bersamaan Adrian mendapat telfon, Adrian duduk disamping Riana dan mengangkat telfon itu. Riana memperhatikan wajah Adrian yang serius, Riana melihat ketampanan dari Adrian yang membuatnya jatuh cinta. Riana selalu berharap tidak merasakan cinta itu berlanjut, Riana ingin menghentikan cinta itu. tapi semakin Riana menghentikannya, semakin juga cinta itu datang.
"Riana!!" panggil Naira menepuk pundak Riana, hal itu membuat Riana terkejut dan menoleh kearah Naira.
"kamu... kamu mengagetkan aku!" ucap Riana berdiri, Naira tertawa dengan itu.
"hahaha, maafkan aku. kamu lamunin apa, kok sampai terkejut gitu saat ku panggil?" tanya Naira, Riana terdiam dan menatap Naira. Riana tidak bisa mengatakan kalau dirinya sedang menatap Adrian, itu akan membuat Naira marah dan membencinya. "hello... tuh kan melamun lagi, kamu mikirin cowok mu ya?" ucap Naira, Riana memukul tangan Naira yang tertawa.
"mana mungkin dia punya cowok, dia kan anti sama cowok!" ucap Adrian tiba tiba, Riana terkejut karena Adrian merangkul dirinya. Riana tersenyum dan mengangguk.
"kamu dari mana, aku tinggal sebentar udah gak ada!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mendekat kearah Naira.
"tadi aku lapar, terus turun berniat ambil makanan. eh ketemu Riana dan menabraknya, jadi aku membantunya?" ucap Adrian, Naira menyipitkan mata dan menatap Riana.
"benarkah?" ucap Naira, Riana mengangguk pelan.
"kau tidak percaya padaku?" tanya Adrian, Naira mengalungkan kedua tangannya pada leher Adrian.
"iya, aku memang tidak percaya. kenapa?" ucap Naira menggoda Adrian, dengan nakal Adrian menarik pinggang Naira untuk mendekat ke tubuhnya.
"baiklah, akan aku buat kamu percaya!"
"Adrian ada Riana disini, lepaskan aku!" ucap Naira saat Adrian akan menciumnya, bukannya melepaskan Adrian malah mengeratkan tangannya.
"anggap saja tidak ada, dan..." ucap Adrian terhenti ketika Naira mengigit pipinya, seketika Naira berlari ketika merasa Adrian melonggarkan tangannya. dengan cepat Adrian mengejar Naira yang berlari, mereka saling tertawa saat saling mengejar.
mereka tidak sadar, ada hati yang sedang terbakar disekitar mereka. siapa lagi kalau bukan Riana, hati Riana terbakar melihat kebersamaan mereka. Riana merasa cemburu melihat mereka, tapi apa yang bisa dilakukan Riana tentang itu. dirinya tidak punya hak untuk marah ataupun cemburu, karena kebahagiaan itu milik Naira bukan miliknya.