Breath Without Love

Breath Without Love
Rencana



5 tahun kemudian


2 anak perempuan kecil berumur 4 tahunan berlarian di halaman rumah utama keluarga Ontario dengan ditemani putra sulung keluarga Ontario.


"Zei... tunggu aku dong" gerutu Winter dengan gemas nya.


"Kamu itu lelet Win... Zei bosan menunggu mu" keluh Zei.


"Kak Kai... adikmu menyebalkan" adu Winter.


"Bukan Zei kak... Winter duluan yang mulai" sambung Zei menatap tajam Winter.


"Hentikan pertengkaran kalian berdua" Kai melerai keduanya.


"Kak Kai..." Zei.


"Akan aku adukan pada mama papa" Winter berlari menuju halaman belakang rumah dimana keluarga Ontario dan keluarga Kauri sedang berkumpul bersama.


"Zeisya..." kesal Kai.


"Kakak belain Winter terus" kesal Zei.


"Zeisya kakak bukan mau belain Winter tapi kamu sebagai teman baik Winter tidak baik meninggalkan Winter begitu saja dan malah mengatakan kalau Winter itu lelet" ucap Kai dengan lembut.


"Tapi kak..." Zei.


"Zeisya..." Kai.


"Baiklah Zei bersalah maafkan Zei" ucap Zei menundukkan kepalanya.


"Ayo temui Winter dan minta maaf" ucap Kai sembari menggenggam tangan sang adik untuk mengikuti.


Dengan langkah gontai Zeisya berjalan dengan Kai yang masih setia menggenggam tangan Zei menuju halaman belakang menemui Winter.


"Papa... Zei jahat sama Winter" Winter menunjuk Zei.


"Tapi kan..." kata kata Zei terhenti ketika Kai menatap nya sembari menggelengkan kepala.


"Lihat lah Zei itu papa, dia berani bilang kalau Winter lelet" gerutu Winter yang sedang mengadu papa papanya.


"Winter kalian bukannya berteman ya?" tanya mama Salsha.


"Enggak mau temenan sama Zei" gerutu Winter sembari enggan menampakkan wajahnya ke arah Zei.


"Winter... maafkan aku" ucap Zei tulus membuat kedua orang tuanya tersenyum.


"Gak mau" ketus Winter.


"Winter papa tidak pernah mengajarkan winter bersikap kasar seperti ini" ucap papa Vino.


"Tapi pa..." Winter.


"Apa yang di katakan papa itu sangat benar sayang, cepatlah berbaikan dengan sahabatnya sayang" ucap mama Salsha.


"Sayang berbicara yang tulus" ucap momy Yuuri tersenyum.


"Iya Zei berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan maafkan atas kesalahan Zei ya" ucap Zei menatap Winter.


"Baiklah Winter sudah memaafkan Zei" sambung Winter di sertai senyuman manisnya.


"Good girl" ucap mama Salsha sembari tersenyum.


"Pelukan dong kalau udah berbaikan" sambung papa Vino.


Winter dan Zei berhamburan saling mendekat dan berpelukan membuat semua orang yang ada di sana tersenyum bahagia.


"Momy sekali kali kita liburan bareng dong di villa" ucap Kai.


"Minta nya ke Dady sayang" sambung Momy Yuuri melirik suaminya.


Sontak membuat Kai langsung menghampiri sang Dady menunggu jawaban nya.


"Baiklah baiklah kita semua akan liburan bersama ketika Dady dan uncle vino mengambil cuti" ucap Dady Arkan.


"Tapi Dady..." Kai.


"Kai merindukan aunty Shira dan aunty Lura" ucap Kai sendu.


"Tenanglah kak Kai, aunty Shira akan kesini Minggu depan" sambung Winter tersenyum bahagia karena Aunty nya akan datang.


"Lalu Dad mom, aunty Lura..." Kai.


"Kita yang akan mengunjungi aunty Lura sayang karena opa sangat ingin bertemu kalian" ucap momy Yuuri.


"Apa Winter bisa ikut?" tanya Winter.


"Bisa sayang kita semua akan ikut karena kamu pasti merindukan opa Derriel ya" ucap papa Vino tersenyum.


"Kita semua berangkat ke London bulan depan" ucap Dady Arkan tersenyum.


"Yeay...." teriak Zei dan Winter bersamaan.


"Ayo makan siang dulu, masakannya sudah siap" ucap momy Yuuri.


Kai, Zei dan Winter langsung duduk di meja makan bersama kedua orangtuanya dan mulai melahap makan siangnya tanpa drama keributan karena sejak awal mereka di didik untuk bersikap sopan ketika akan makan.


Setelah selesai makan semua kembali bersantai, anak anak bermain bersama kembali sedangkan para orang dewasa mereka berbicara banyak hal.


*


*


*


Happy reading readers 😉