
Kepergian mami Leya memberikan luka mendalam untuk seluruh keluarganya apalagi Yuuri yang di berikan amanah langsung agar selalu menjaga dan mengurusi keluarga suaminya, mulai dari menyiapkan semua keperluan suaminya dan terkadang menjadi tempat mengadu adik iparnya dan terkadang juga Yuuri sangat memerhatikan papi mertuanya.
Yuuri yang duduk sendiri di taman depan rumah keluarga Ontario merasa sangat kesepian sudah 3 bulan berlalu semenjak kepergian mami Leya tapi suasana berduka masih sangat terasa di kediaman mewah keluarga Ontario apalagi suaminya yang sekarang menjadi lebih pendiam dan tak seceria dulu ketika masih ada mami di dunia ini.
"Mami apa yang harus Yuuri lakukan ini sangatlah membingungkan dan membuat Yuuri sangat frustasi dengan situasi ini apalagi kalau semua orang tahu hanya Yuuri yang mengetahui riwayat penyakit mami, tapi mami melarang Yuuri untuk mengatakannya jadi apa ini akan baik baik saja mi" ucap Yuuri lirih dengan suara kecil.
Tak terasa air matanya menetes ketika dia memejamkan matanya perlahan menahan sesak yang di hadapi nya.
"Sayang kau disini" ucap Arkan yang mengagetkan Yuuri.
Yuuri yang sangat mengenali suara itu suara Arkan langsung mengusap air matanya yang tadi keluar tanpa sengaja ketika dia bersedih.
"Sayang sudah pulang" Yuuri menoleh asal suara yang tadi mengagetkan nya.
"Apa tidak merindukan suami mu?" tanya Arkan sedikit tersenyum sembari duduk di sisi Yuuri.
"Tentu aku aku sangat merindukanmu" Yuuri menyenderkan kepalanya di bahu Arkan dan menggandeng tangan suaminya.
"Bahkan aku sangat sangat merindukan dirimu yang dulu suami ku" ucap Yuuri dalam hati.
"Apa kita hanya akan duduk seperti ini?" tanya Arkan.
"Sebentar saja" Yuuri.
"Baiklah suami mu ini akan senantiasa selalu menemani mu" ucap Arkan menemani Yuuri.
Tidak ada yang berbicara setelahnya karena Arkan kembali sibuk dengan ponselnya dan Yuuri terbenam dalam pikirannya sendiri.
"Sayang kita sudah cukup lama di sini" Arkan.
"Em... ya sudah kita masuk ke dalam" Yuuri mengalah.
Mereka segera masuk ke dalam rumah dan berjalan beriringan menuju kamar mereka.
πΊπΊπΊ
Arkan menatap murka surat yang di temukan di selipan buku diary mami Leya, dengan langkah cepat dan emosi yang tak stabil Arkan berjalan dengan sangat terburu buru menuju kamarnya dan membuka pintu kamarnya dengan sangat emosi dan menutup nya kembali dengan sangat kencang hingga membuat pelayan yang melihatnya bergidik ngeri ketakutan.
"Sayang kenapa?" tanya Yuuri bingung melihat keanehan suaminya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arkan sembari melempar surat yang dia temukan.
"Apa ini?" tanya Yuuri sembari mengambil surat yang di lempar suaminya.
Dengan perlahan Yuuri membuka dan mulai membacanya dan bagai bom yang meledak Yuuri sungguh tidak menyangka kalau rahasia dan mami Leya sembunyikan terbongkar secepat ini.
"Sayang aku bisa jelasin" ucap Yuuri sedikit bergetar.
"Apa lagi yang ingin kau jelaskan?" tanya Arkan dengan emosi.
"Aku dan mami..." Yuuri.
"Kau penyebab utama kematian mami ku" bentak Arkan dengan suara tinggi.
"Sayang bukan seperti itu, sebenarnya..." Yuuri.
"Hentikan omong kosong mu yang tak berguna" Arkan.
"Tapi aku bisa jelaskan semuanya, karena..." Yuuri.
"Mami sudah sangat baik pada mu dan keluarga mu tapi kau tidak bisa menyelamatkan mami ku dengan kau menutupi semua penyakitnya" Arkan.
"Aku bisa jelaskan sayang" ucap Yuuri yang mulai mengeluarkan air mata.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan sekarang juga kau pergi dari kediaman ini, aku terlalu bodoh menampung parasit sepertimu" ucap Arkan.
"Kau bilang aku parasit?" tanya Yuuri tak percaya dengan ucapan suaminya.
"Iya kau parasit yang hadir di kehidupan keluarga ku" gerutu Arkan.
"Aku tidak menyangka kamu sejahat ini menghina ku" ucap Yuuri dengan air mata yang terus menerus mengalir tanpa berhenti.
"Sekarang pergi dari rumah ini, aku sudah benar benar tidak ingin melihat mu lagi" bentak Arkan.
"Aku akan pergi dan ingatlah kau akan menyesali keputusan mu telah mengusir ku dan aku pastikan aku akan menjadi candu dan rindu mu yang setiap hari akan menyakiti mu dengan rasa itu" ucap Yuuri dengan emosi dan air mata.
"Itu tidak akan pernah terjadi" Arkan.
"Itu akan terjadi bahkan secepatnya akan terjadi" Yuuri.
Yuuri mulai mengemasi semua barang barangnya dengan di pantau oleh suaminya sendiri.
"Jangan bawa apapun yang kau dapat kan setelah kita menikah" ucap Arkan.
"Aku bukan wanita yang gila harta" teriak Yuuri melempar semua perhiasan yang ada di dalam lemari.
Dengan sakit hati yang mendalam Yuuri melanjutkan mengemasi kembali barang barang nya.
Setelah semuanya telah terkemas Yuuri berjalan sembari membawa sebuah koper yang berisi beberapa pakaian dan dokumen dokumen pentingnya dan hendak pergi, tapi langkahnya terhenti dan berbalik menghadap Arkan Yang ada di belakangnya.
"Ingat lah satu hal kau benar benar akan menyesal telah memaki, menghina bahkan mengusir istri mu, tidak akan pernah kau temui istri seperti ku lagi, ingat itu baik baik" ucap Yuuri lalu langsung berbalik dan keluar dari kamar yang sudah beberapa bulan ini di tempati sebagai menantu keluarga Ontario.
Allura yang melihat Yuuri menangis sembari menuruni tangga dan membawa koper menatap bingung ke arah kakak iparnya.
"Kak kenapa menangis dan apa apaan ini?" tanya Allura menghampiri Yuuri dan menatap koper yang di pegang Yuuri.
Yuuri menatap adik iparnya dengan memeluk erat Lura dengan air mata yang terus mengalir.
"Kak ada apa?" tanya Lura yang masih bingung.
"Biarkan parasit itu pergi dari keluarga kita" ucap Arkan tiba tiba sembari menuruni tangga.
Allura melepaskan pelukannya dan menatap kakak iparnya yang masih menangis.
"Apa yang kak Arkan ucapkan, dia istrimu bukan parasit" gerutu Allura yang kesal.
"Dia parasit, dia penyebab kematian mami" bentak Arkan.
"Apa apaan ini kak, mami meninggal karena sakit bukan karena kak Yuuri" bentak Allura.
"Dia menyembunyikan penyakit mami dari kita" bentak Arkan dengan sangat kesal.
"Apa dengan mengusirnya ini tidak berlebihan kak?" tanya Lura.
"Tidak sama sekali" Arkan.
"Papi... papi... papi..." teriak Lura memanggil papi Derriel.
"Ada apa sayang kenapa berteriak?" tanya papi Deriel yang keluar dari kamar.
"Lihat lah, kak Arkan mengusir istrinya" ucap Lura.
"Arkan, papi dengar semuanya nak apa ini tidak keterlaluan?" tanya papi.
"Tidak sama sekali bahkan harusnya dia yang pergi dari dunia ini bukan mami" ucap Arkan dengan emosi yang berapi api.
Yuuri yang sudah tidak tahan lagi segera menghampiri papi mertuanya dengan air mata berlinang.
"Papi jaga kesehatan ya, Yuuri izin pergi maafin Yuuri Pi" ucap Yuuri.
"Akan pergi kemana kamu malam malam begini nak?" tanya papi khawatir.
"Kemana saja Pi, karena ini bukan tempat Yuuri" Yuuri.
Papi memeluk erat menantunya itu dan mengelus puncak kepala Yuuri lalu melepaskannya.
"Jaga diri baik baik ya nak" ucap papi.
Yuuri mengangguk dan melangkah keluar dari rumah.
"Kak Yuuri..." panggil Allura.
Allura hendak menyusul Yuuri dan menahan kepergiannya, tapi tangan Allura di tahan oleh Arkan.
"Lepaskan aku kak, kau benar benar sangat keterlaluan" ucap Allura kesal.
Allura sebenarnya juga kecewa dengan kenyataan ini tapi dia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Yuuri mengenang sifat mami nya yang sangat keras kepala dan itu menurun ke kakak nya si Arkan.
"Biarkan parasit itu pergi" ucap Arkan.
"Dia bukan parasit, dia kakak ipar ku kakak ku, dia istrimu dan menantu di keluarga ini" bentak Allura.
"Hentikan Allura" bentak Arkan emosi.
"Papi kenapa papi membiarkannya pergi begitu saja" gerutu Allura.
"Biarkan dia pergi nak, papi tidak tega melihatnya" ucap papi.
"Papi why?" tanya Allura.
"Nanti kamu akan tahu jawabannya" papi Derriel.
"kau keterlaluan kak, aku membencimu" ucap Allura dengan kesal.
"Aku tidak perduli" Arkan.
"Lepaskan aku, aku ingin ke kamar" bentak Allura kesal.
Arkan pun langsung melepaskan adiknya, Allura berlari menuju kamarnya dengan sangat emosi.
*
*
*
Hai readers.... happy Saturday π€π€π€
happy reading ya