
Mereka berdua berdiri menunggu Fahira dan yang lain nya di pintu kedatangan.
"Sayang, kita tunggu di dalam mobil aja ya" ucap Vino yang merasa tidak nyaman berada di kerumunan banyak orang seperti ini.
"Kamu gimana sih kak, bagaimana mereka bisa tau nantinya kalau kita tunggu di dalam mobil" gerutu Yuuri yang kesal dengan usulan Vino untuk menunggu di dalam mobil.
"Tapi sayang, di sini terlalu banyak orang sayang dan aku merasa gak nyaman di sini" ucap Vino menatap sekitarnya.
"Sana... pergilah sana, tunggu aja di dalam mobil" usir Yuuri yang masih kesal dengan sikap Vino.
Apa dia marah, aku mana bisa membiarkan dia sendirian di tempat yang seperti ini (gumam Vino menatap sini ke arah Yuuri).
"Kenapa liat liat aku begitu, gak suka, marah atau apa" ucap Yuuri kesal dengan tatapan sinis Vino terhadapnya.
Vino yang malas berdebat dan di tambah lagi mereka sedang berada di tempat umum yang takut membuat mereka menjadi pusat perhatian karena perdebatan sengit antara mereka berdua akhirnya dengan sedikit berat vino mengalah agar perdebatan mereka tidak berlanjut.
"Sayang kamu marah?" tanya Yuuri yang mulai melihat perubahan pada raut wajah Vino.
Vino hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan Yuuri yang akan membuatnya tambah kesal dengan kelakuan pacarnya.
"Kak, kamu benar benar marah sama aku?" tanya Yuuri lagi yang masih tidak ada jawaban dari Vino yang lebih memilih diam dan tidak menghiraukan ucapan Yuuri.
"Kak... aku min_" Yuuri
"Kak Yuuri... " panggil Fahira yang menghentikan ucapan Yuuri yang berniat meminta maaf kepada Vino.
Fahira berlari menghampiri Yuuri dan memeluk Yuuri dengan erat dan di susul oleh Ocha, Daffa dan juga Kenzi yang berjalan mengikuti langkah kaki Fahira yang sudah lebih dulu berlari ke arah Yuuri.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Yuuri yang sudah melepaskan peluka Fahira dan beralih memeluk Ocha.
"Kami semua baik kok kak" seru Fahira sembari tersenyum dengan di ikuti anggukan dari Daffa dan Kenzi.
"Aku senang mendengar kalian semua baik baik saja" ucap Yuuri sembari melepaskan pelukan Ocha.
"Hai kak Kenzi, Kak Daffa..." sapa Yuuri sambil melambaikan tangannya.
"Hai Yuuri... " jawab Daffa dan Kenzi bersamaan.
Ish... apa aku di sini Hana akan menjadi penonton mereka yang sedang reunian (gumam Vino menatap kesal ke arah pacarnya karena di acuhkan semenjak kedatang Fahira dan yang lainnya).
Yuuri yang sudah melihat wajah Vino semakin kesal dan tambah menakutkan langsung beralih menatap wajah Vino dengan mengembangkan senyuman paling manis dan menggandeng tangan Vino di hadapan mereka semua.
"Nanti aku kenalkan siapa yang ada di sisi ku ini, tapi untuk sekarang ayo kita pulang dulu. Kalian pasti lelah kan sekarang, kami ambil mobilnya dulu ya" ucap Yuuri sembari menarik tangan Vino yang sedang di gandengnya.
Yuuri dan Vino berlalu pergi begitu saja meninggalkan mereka dengan begitu banyak pertanyaan dari mereka berempat untuk Yuuri.
"Apakah masih marah sama aku?" tanya Yuuri ketika mereka sudah sampai di dekat mobil.
"Hm... " jawab Vino acuh dan hendak membuka pintu mobilnya.
Dengan segera langsung di tahan oleh Yuuri ketika Vino semakin mengacuhkan seperti ini.
"Apakah harus marah selama ini terhadap ku?" tanya Yuuri yang menahan lengan Vino.
"Lepaskan tangan ku, mereka sudah menunggu terlalu lama" ucap Vino yang melepaskan tangan nya dari Yuuri.
"Baiklah, kita selesaikan ini nanti di rumah" ucap Yuuri sembari berlalu dan masuk ke dalam mobil.
Maafkan aku sayang, aku bukan marah dengan mu. Aku hanya sedang kesal saja (gumam Vino sembari masuk ke dalam mobil).
Vino mengemudi menuju tempat Fahira dan yang lainnya menunggu.
Vino tidak berbicara sepatah katapun di dalam mobil, dia hanya terus diam dan fokus mengemudi.
Hanya mereka berlima ya sibuk bertukar cerita selama perjalanan.
Setelah sampai mereka semua langsung takjub dengan rumah yang di huni oleh Yuuri begitu elegan dan tertata dengan rapi.
Mereka semua duduk dan berkumpul di ruang tengah.
"Ini minuman dan cemilan nya mbak dan mas, silahkan di minum dan di makan cemilannya ya. Saya permisi ke belakang dulu" ucap Jum lalu berlalu ke belakang lagi.
"Mbak... " panggil Vino sedikit berteriak memanggil mbak yang mengurus rumah.
Suara Vino yang sedikit meninggi membuat mereka berlima kaget dan langsung terdiam dan saling menatap dan merasa tidak enak.
Yuuri ikutan kaget dengan suara Vino merasa tidak enak deng Fahira dan yang lainnya.
Dia benar benar kelewatan deh, habis ini aku harus ngomong sama kak Vino (gumam Yuuri dalam hati sembari menatap Vino kesal).
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya mbak Ati menghampiri Vino.
"Saya mau istirahat, tolong nanti antar mereka ke kamarnya masing masing. Diantara mereka ada yang sudah menikah dan ada yang belum" ucap Vino lalu berlalu begitu saja meninggalkan mereka semua yang berada di ruang tengah tanpa mendengar jawaban dari mbak Ati lagi.
"Silahkan di makan lagi dan jangan lupa tuh di minum ya, setelah ini kalian bisa istirahat atau mandi dulu. Nanti kita makan siang setelah kalian selesai istirahat, aku duluan ya" ucap Yuuri hendak pergi menyusul Vino.
"Oh ya mbak, tolong ya nanti dianter saudara saya ke kamar mereka masing masing. Seperti yang di kasih tau tuan tadi ya mbak" ucap Yuuri lalu kembali melangkah menuju kamar Vino.
Tanpa mengetok pintu kamar Vino, yuuri langsung membuka pintu kamar Vino yang tidak di kunci.
Di lihat nya Vino sedang berdiri menghadap ke arah jendela, Yuuri segera melangkah mendekati Vino dan memeluk Vino dari belakang sembari menenggelamkan kepalanya ke punggung Vino dengan tangannya yang memeluk erat laki laki yang sedang marah dengannya.
"Sayang, maafkan aku" ucap Yuuri dengan tulus, tapi tetap saja Vino tidak membalasnya sepatah katapun.
"Sayang apa semarah itu kamu kepada ku?" tanya Yuuri sambil tambah mengeratkan pelukannya.
Tapi tetap saja dia tidak mendengar sepatah katapun yang keluar dari mulut Vino.
"Sayang, apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah lagi kepadaku" ucap Yuuri hendak melepaskan pelukannya.
Tapi dengan cepat Vino menahan tangan Yuuri agar tidak melepaskan pelukannya dan kembali melingkarkan kembali tangan Yuuri yang hendak melepaskan nya tadi.
"Apakah tidak marah lagi dengan ku?" tanya Yuuri dengan tangan yang masih melingkar di tubu Vino.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Yuuri, Vino langsung membalikkan badannya menghadap Yuuri dan menatap wajah Yuuri yang menahan tangis di pelupuk matanya.
"Aku tidak marah sayang" ucap Vino sembari memeluk Yuuri bersamaan dengan air mata Yuuri yang sudah di tahan nya dari tadi tumpah begitu saja dalam pelukan Vino.
"Terus kalau tidak marah, kenapa kakak bersikap seperti tadi kepadaku hah" protes Yuuri yang kesal dengan sikap Vino dari tadi.
"Sayang, aku hanya kesal sama kamu bukan marah" ujar sembari mengelus puncak kepala Yuuri dengan sayang.
"Kamu bohong, kamu marah kan" ucap Yuuri di sela tangisnya.
"Sayang, aku kesal bukan Marah" ucap Vino meyakinkan Yuuri.
"Kamu jahat tau hiks... hiks... hiks... " tangis Yuuri semakin pecah sembari meremas baju Vino dengan kesal.
"Sayang, maafkan aku membuatmu ketakutan dari tadi" ujar Vino sembari masih mengelus puncak kepala Yuuri dengan sayang.
"Jangan ulangi lagi ya, aku takut" ucap Yuuri sambil melepaskan pelukannya pada Vino.
"Baiklah, aku tidak akan melakukan hal membuat seorang Yuuri Ferianarifa ketakutan atau bersedih lagi" ucap Vino sembari menatap serius wajah Yuuri.
*
*
*
Happy reading ya para readers yang baik hati.