
Yuuri berjalan menaiki anak tangga dan kembali ke kamarnya untuk menemui Vino yang tadi dia tinggalkan di dalam kamar sendirian.
Yuuri membuka pintu kamarnya perlahan takut menimbulkan suara, karena tadi Yuuri meminta Vino untuk beristirahat sebelum dia keluar dari kamarnya.
Ternyata dia tidur (gumam Yuuri sembari berjalan mendekati Vino yang tertidur pulas di kamarnya).
Sayang kamu pasti lelah sekali ya menghadapi aku yang selalu menyusahkan kamu sampai kamu tertidur begitu pulas (ucap Yuuri sembari mengelus rahang kokoh milik Vino).
Yuuri pun mengambil ponselnya yang tadi di simpannya di atas nakas, Yuuri segera memotret Vino dalam keadaan tidur seperti bayi itu, lalu tertawa cekikikan melihat foto Vino yang baru saja dia abadikan melalui ponselnya.
Lucu juga kalau dia lagi tertidur begini, aku akan merindukanmu kak (ucap Yuuri yang kembali mengelus rahang kokoh milik Vino sembari menatap mata Vino yang terpejam).
Yuuri masih menatap tajam wajah tampan Vino yang sedang tertidur sambil menyentuh setiap lekuk wajah Vino yang tampan.
Aku benar benar tidak pernah menyangka mempunyai pacar setampan dan sebaik kamu kak, apalagi menurutku kamu begitu sempurna untuk aku yang bukan apa apa ini, walaupun kesempurnaan hanya milik sang pencipta (ucap Yuuri memperhatikan wajah Vino).
"Apakah aku sangatlah tampan sehingga kamu tidak puas menatap ku?" tanya Vino dengan mata terpejam, membuat Yuuri kaget mendengar suara Vino.
"Sejak kapan kamu bangun kak?" tanya Yuuri balik menatap Vino tak percaya.
"Sejak kapan itu tidak penting sayang" jawab Vino santai.
Yuuri hanya terdiam terpaku menatap Vino setelah mendengar jawaban yang tidak jelas dari Vino.
"Sayang... kenapa?" tanya Vino yang melihat Yuuri terdiam seperti patung.
Panggilan dari Vino tidak juga menyadarkan Yuuri membuat Vino menatap Yuuri dan melambaikan tangannya ke hadapan Yuuri sembari terus memanggilnya.
"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Vino yang mulai frustasi.
"Ah... apa... kenapa kak?" tanya Yuuri tergagap.
"Kamu ditanya malah nanya balik, kamu yang kenapa?" tanya Vino mengulangi pertanyaannya.
"Oh itu, gak ada apa apa kok kak aku cuma lagi mengkhayal aja" jawab Yuuri sambil nyengir memperlihatkan gigi kelincinya.
"Dasar pacar labil" ucap Vino sembari mengacak acak rambut Yuuri.
"Ih... kakak... berantakan tau gak sih" ucap Yuuri yang kesal karena rambutnya berantakan ulah dari Vino.
"Habisnya kamu bikin gemes sih" Vino tersenyum nakal menatap Yuuri.
"Dasar menyebalkan" gerutu Yuuri kesal lalu berlalu meninggalkan Vino.
Yuuri masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya meninggalkan Vino sendiri yang setia menatap kepergian Yuuri menuju kamar mandi.
Setelah Yuuri masuk ke kamar mandi Vino juga keluar dari kamar Yuuri menuju kamarnya dan melakukan hal yang sama seperti Yuuri di kamarnya sendiri yang berada di lantai 1.
Setelah sekitar 35 menit Yuuri berada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya Yuuri pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
Yuuri tidak lagi menemukan Vino yang tadi masih ada di dalam kamar ketika Yuuri masuk ke kamar mandi.
Kemana pacar lebay ku itu bukannya tadi dia masih duduk di kasur ketika aku mau ke kamar mandi tapi dimana dia sekarang sudah tidak ada dia sini (gumam Yuuri sembari mengedarkan matanya mencari sosok Vino di dalam kamarnya).
Yuuri mulai mengeringkan rambutnya yang basah dan mulai merias wajahnya dengan riasan tipis dan mengenakan lip cream berwarna nude ke bibirnya dan menguncir setengah rambut atasnya setelah rambutnya kering.
Setelah selesai dengan riasannya, Yuuri segera berjalan menuju ke lemari pakaiannya dan mengambil baju untuk acara malam ini.
Yuuri mengenakan floral dress berwarna pastel sebatas lutut dengan lengan di bawah siku yang sangat cantik.
tok... tok... tok...
"Nona, nona Shira baru saja datang" ucap mbak Jum memberitahu kedatangan Shira.
"Oh iya mbak, saya segera turun sebentar lagi" jawab Yuuri dari dalam kamar sembari merapikan bajunya dan meraih ponselnya.
"Baiklah, saya duluan ya nona" ucap mbak Jum dari depan kamar Yuuri.
"Iya mbak, tolong panggilkan semua tamu saya ya mbak, terimakasih sebelumnya" ucap Yuuri.
"Siap mbak, oke sama sama" jawab mbak Jum pergi meninggalkan kamar Yuuri dan berjalan ke kamar tamu satu persatu.
Yuuri berjalan keluar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga dan berjalan ke arah ruang tamu, tempat Shira menunggu.
"Malam kak, gak lama kok, Shira juga belum lama sampai di sini" jawab Shira sembari tersenyum ke arah wanita yang berjalan mendekatinya.
"Shira ada teman dan saudara kakak di sini, kamu gak keberatan kan kalau kita makan malamnya dengan barbeque di halaman kolam renang biar suasananya lebih santai aja, bagaimana menurutmu?" tanya Yuuri meminta pendapat Shira.
"Jadi kakak sedang ada tamu, apa Shira mengganggu?" Shira balik bertanya kepada Yuuri.
"Enggak kok, Shira sama sekali gak ganggu malahan kakak senang karena tambah ramai buat barbeque nya, oh ya para mbak juga semuanya ikut loh" jawab Yuuri sedikit berbisik kepada Shira mengingat para mbak yang sebenarnya tidak mau ikut tapi dipaksa Yuuri untuk ikut bergabung dengan mereka.
"Eh yang bener kak?" tanya Shira tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Iya bener lah, kamu gak masalah kan kita semua gabung biar membaur, karena kakak lebih suka menganggap siapapun yang ada di rumah ini sebagai teman dan saudara bagi kakak" jawab Yuuri tegas dengan tersenyum.
"Iya gak apa sih sebenarnya, tapi aku gak menyangka aja masih ada orang sebaik kakak yang menganggap orang asing yang baru bekerja dengan kakak seperti itu" ucap Shira.
"Asik banget ceritanya, gak ajak kakak nih?" tanya Vino sembari berjalan mendekati Yuuri dan Shira yang duduk di ruang tamu.
"Dasar raja kepo, mau tau terus apa yang orang omongin" gerutu Shira yang kesal dengan kelakuan kakaknya yang selalu ingin tau urusannya.
"Dasar Adek nyebelin, orang kakak cuma mau tau aja kok" ucap Vino sembari duduk di sebelah Yuuri sembari menyenderkan kepalanya di bahu Yuuri dengan manja.
"Manja banget sih" ucap Yuuri sembari mengelus rahang kokoh milik Vino yang menyenderkan kepalanya di bahu Yuuri.
"Tau tuh dasar manja" sambung Shira sembari melihat kakaknya yang tatapan kesal.
"Dasar iri kan kamu gak punya tempat senderan begini" goda Vino dengan senyum mengejek ke arah adiknya.
"Kakak nyebelin banget sih jadi orang... ih..." gerutu Shira yang semakin kesal dengan kakaknya.
"Siapa yang nyebelin, orang kamu tuh yang suka emosian" ucap Vino tak mau kalah dengan adiknya.
"Ih... kak Vino..." teriak Shira sambil melemparkan bantal sofa ke kakaknya.
Tepat sasaran sekali karena bantal sofa yang di lemparkan Shira tepat mengenai kepala Vino sehingga membuat Vino mengaduh kesakitan.
"Aw... sakit tau, kamu kok gak sopan sih sama kakak sendiri" pekik Vino menatap tajam adiknya.
"Siapa suruh jadi kakak nyebelin nya itu kebangetan, jadi gitu kan jadi kena getahnya" celetuk Shira membalas ucapan kakaknya.
"Udah... udah... kalian kenapa jadi perang saudara begini" ucap Yuuri yang mulai bersaudara setelah dari tadi hanya diam saja menyaksikan perang saudara antara Vino dan Shira.
"Dia tuh kak, nyebelin banget jadi kakak" gerutu Shira sambil mencebikkan bibirnya.
"Dia mulai duluan sayang, dia kan harusnya kan bersikap sopan dengan kakaknya" sambung Vino yang masih saja tidak mau kalah.
"Kakak tuh yang duluan" Shira.
"Kamu tuh dek yang duluan" Vino.
"Kakak..." Shira.
"Kamu kok..." Vino.
"Kakak..." Shira.
"Kamu..." Vino.
Yuuri yang melihat perang saudara antara Vino dan Shira, pandangannya mengikuti suara mereka dan menatap mereka bergantian berulang kali.
"Hentikan..." teriak Yuuri yang membuat perang saudara yang tadinya ramai seperti di pasar berubah menjadi suasana yang sangat sunyi dan mencekam seperti di kuburan ketika mendengar teriakan dari Yuuri.
Yuuri mulai mengatur nafasnya setelah tadi meneriaki perang saudara antara Vino dan Shira, sedangkan mereka hanya bisa terdiam seperti patung dan mata keduanya menatap ke Yuuri yang sedang mengatur nafasnya untuk berbicara.
*
*
*
Hai para readers, sudah lama ya aku gak update.
Maaf ya readers, selamat membaca ya dan jangan lupa juga buat selalu dukung karya aku ya readers ku tersayang.