
Arkan yang kesal dengan Yuuri karena sudah mengatainya tua berjalan menjauhi Yuuri menyusuri tepian pantai dan menikmati angin yang berhembus ke sana kemari, Yuuri mengikuti Arkan di belakangnya tanpa Arkan sadari.
Dasar nyebelin si bocah labil itu, bisa bisanya dia bilang aku tuh tua ya, udah ganteng begini masa di bilang tua sih (gerutu Arkan sembari berjalan di tepi pantai dan tentunya gerutuan nya itu sudah pasti di dengar oleh Yuuri).
Yuuri tertawa mendengar gerutuan Arkan yang kesal karenanya dengan masih saja berjalan mengikuti Arkan.
Aku mau banget ngerjain dia tapi apa daya kalau dia itu calon mantu kesayangannya mami Leya yang ada jadi aku yang kena sama mami Leya (gerutu Arkan kembali kesal mengingat mami Leya yang sangat menyayangi Yuuri).
"Terima aja kalau mami Leya itu sayang banget sama calon mantunya" ucap Yuuri.
"Mau gimana lagi, ya mau gak mau aku juga harus menerima semuanya" sambung Arkan sembari terus berjalan tanpa menoleh yang tidak sadar kalau dia sedang berbicara dengan Yuuri.
"Bagus... gitu dong" ucap Yuuri cekikikan sendiri di belakang Arkan.
"Eh tunggu deh" Arkan langsung berbalik ke belakang.
"Hai calon suami tua" ucap Yuuri sembari melambaikan tangannya dan tersenyum senang.
"Yuuri!... kamu keterlaluan ya" pekik Arkan yang bertambah kesal dengan Yuuri.
Yuuri yang takut terkena amukan Arkan dengan tiba tiba memeluk Arkan dengan erat dan itu mampu membuat Arkan terdiam seperti orang bodoh tanpa bisa berkata kata lagi.
"Kak Arkan..." ucap Yuuri lembut tanpa melepaskan pelukannya.
"Ada apa?" tanya Arkan yang mulai membalas pelukan Yuuri.
"Kata mami, mami pernah juga menjodohkan kakak dengan wanita lainnya, tapi kakak dengan keras menolaknya" ucap Yuuri mengingat kembali ucapan mami.
"Hm... iya waktu itu aku belum siap" jawab Arkan asal.
"Terus kenapa denganku kakak langsung menerimanya?" tanya Yuuri bingung karena nyatanya Arkan sangat tidak suka di jodohkan.
"Karena sekarang kebahagiaan mami jauh lebih berarti bagi ku" jawab Arkan.
"Apa kakak sudah siap menjadi seorang suami yang bertanggung jawab?" tanya Yuuri kembali.
"Insyaallah aku siap, karena_" Arkan.
"Karena kakak sudah berumur tua... hahaha..." tawa Yuuri pecah dalam pelukan Arkan.
Dan hebatnya Arkan tidak kesal atau marah sama sekali ketika Yuuri kembali mengatainya tua.
"Tidak masalah aku tua, yang penting istri ku masih muda dan bisa menghasilkan banyak keturunan untuk ku" ucap Arkan dengan senyum nakalnya.
Yuuri langsung mencubit pinggang Arkan ketika mendengar ucapan Arkan.
"Kenapa?" tanya Arkan bingung.
"Bagaimana jika aku tidak bisa menghasilkan keturunan untukmu?" tanya Yuuri khawatir, karena dalam hidup Yuuri hanya ingin menikah satu kali seumur hidup.
Walaupun Yuuri sendiri tidak tau apa yang akan terjadi dalam hidupnya ke depannya.
"Pastikan kalau kamu bisa menjadi istri yang baik untuk ku" ucap Arkan dengan semakin erat memeluk Yuuri.
"Apa kamu siap menikah kak, karena kita menikah ini tanpa di dasari cinta" ucap Yuuri melepaskan pelukannya.
"Aku tau kamu masih sangat mencintai mantan pacar kamu itu, tapi apa salahnya kalau kamu mencoba menerima pernikahan kita dengan ikhlas" ucap Arkan.
"Maaf kak, untuk sekarang aku memang belum mencintai kamu, tapi ke depannya aku tidak tau dengan perasaan ku" ucap Yuuri lalu menundukkan kepalanya.
"Kita pulang sekarang, semua orang pasti bingung mencari kita" ucap Arkan yang tidak ingin melanjutkan percakapan diantara mereka berdua.
Yuuri hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki Arkan di belakang Arkan, Arkan yang sadar kalau Yuuri berjalan di belakangnya langsung menghentikan langkahnya dan menarik tangan Yuuri yang sakit untuk berjalan di sampingnya.
"Aw!..." pekik Yuuri melepaskan tangannya dari tangan Arkan.
"Maaf... maaf... maaf... aku lupa tangan kamu itu luka gara gara aku" Arkan merasa bersalah.
"Enggak apa kak, cuma perih sedikit aja kok" jawab Yuuri santai, walaupun sebenarnya tangan sangatlah sakit tapi dia mencoba untuk menahannya.
"Masih sakit gak?" tanya Arkan khawatir.
Mereka pun segera pergi meninggalkan pantai dan kembali ke rumah Yuuri.
🌺🌺🌺
Yuuri duduk dengan tenang sembari menatap dirinya di depan cermin dengan riasan simpel tapi tidak mengurangi sedikitpun kecantikan alami dari dirinya.
Hari ini adalah hari terakhir kalinya aku menyandang status single dan akan berganti menjadi seorang istri dalam hitungan jam, bismillahirrahmanirrahim semoga aku bisa melewati semua ini ya Allah... (gumam Yuuri sembari menatap cerminan dirinya di depan cermin).
Wanita cantik berbalut baju putih lengkap dengan hijab putih yang dia kenakan semakin membuat dia tampak cantik alami, dia sengaja mulai mengenakan hijab di hari pertama kali dia akan menjadi istri.
Semua itu sengaja dia lakukan karena ingin menjadi seorang istri seperti mami Leya yang sangat baik hati, walaupun terkadang dia suka memaksa anak sulungnya, siapa lagi kalau bukan Arkan Zayne yang selalu menjadi sasaran empuk mami Leya.
Sebenarnya Yuuri belum menggunakan hijab tapi entah mengapa dia ingin sekali mengenakan hijab di pernikahan nya.
Ayah... Yuuri hari ini akan menikah, tolong restui setiap langkah kaki Yuuri ayah, Yuuri sayang ayah dan sangat merindukan ayah... (Yuuri memandang foto almarhum sang ayah yang ada di dalam ponselnya).
"Ami..." panggil Zia sembari berlari memeluk Yuuri.
"Ada apa sayang?" tanya Yuuri bingung.
"Bunda meminta Zia untuk memanggil Ami agar segera keluar" Zia melepaskan pelukannya.
"Iya sayang, Ami akan segera keluar" Yuuri kembali melihat dirinya di cermin dan memastikan dia sudah siap.
"Dek..." suara ibu membuat Yuuri ingin sekali menangis sekarang, tapi dia menahannya agar riasannya tidak rusak.
"Ibuk..." Yuuri langsung memeluk erat tubuh tua sang ibu.
"Apa kamu bahagia sayang?" tanya ibu tanpa melepaskan pelukannya.
"Insyaallah Yuuri bahagia dengan pilihan Yuuri ibu" ucap Yuuri.
"Nenek kata bunda, Ami harus segera keluar agar acaranya bisa di mulai" Zia membuat ibu dan anak itu langsung melepaskan pelukannya dan menatap gemas Zia.
"Kenapa nenek dan Ami menatapku seperti itu?" tanya Zia bingung.
"Kamu itu lucu banget sih anak gadis ku" ucap Yuuri mencubit pipi kiri Zia.
Sedangkan ibu Rita hanya tersenyum melihat tingkah anak dan cucunya yang selalu ada ada saja kelakuannya.
"Ih... sakit tau mi..." gerutu Zia kesal dengan Ami Yuuri karena telah mencubit pipinya.
"Habis kamu itu bikin kami gemes banget sayang" ucap Yuuri tersenyum menatap keponakannya.
"Ayo sekarang kita keluar sayang, semua orang pasti sudah menunggu kamu" sambung ibu Rita.
"Ibu... Yuuri gugup" ucap Yuuri yang mulai merasa gelisah.
"Sayang... kamu jangan begitu, kamu harus tenang ya" ibu Rita segera meraih tangan anaknya dan menggenggam erat, mencoba memberi kekuatan untuk Yuuri.
"Ami... ayo... semua orang udah nunggu dari tadi, nanti Zia di omelin bunda kalau kelamaan" Zia merasa tidak sabar.
"Iya sayang, Ami keluar sekarang kok" Yuuri mencoba untuk tenang dan kuat sembari menghembuskan nafasnya perlahan.
"Ami... are you ready?" tanya Zia.
"Yes, I'm ready to be wife, bismillahirrahmanirrahim" Yuuri bersiap keluar bersama ibu Rita dan Zia.
*
*
*
Happy reading readers.
Mohon dukungannya dong readers.