Breath Without Love

Breath Without Love
Tidak ada Penolakan



Arkan menatap serius ke arah Yuuri, matanya bahkan tidak mau menjauh dari Yuuri.


Aku tidak pernah menyangka kamu ada di sini sekarang, yang aku tau sebelumnya kamu itu sangat sulit untuk di gapai (gumam Arkan yang sembari menatap lembut wajah tenang Yuuri yang sedang tertidur).


Arkan yang menjaga mami dan Yuuri pun ikut mengantuk dan akhirnya juga tertidur di sofa dengan Yuuri yang masih tidur di pangkuan Arkan.


Yuuri yang terbiasa memeluk erat guling mencari keberadaan sesuatu yang bisa dia peluk, namun dia tidak menemukan nya dengan mata yang masih terpejam Yuuri terus meraba sekitarnya dan berakhir memeluk erat pinggang Arkan, Arkan yang tertidur pulas tidak merasa keberatan karena dia tidak tau kalau tangan Yuuri melingkar di tubuhnya.


Pagi pagi sekali sebelum subuh mami sudah terbangun dari tidurnya menatap ke arah sofa yang di huni Arkan dan Yuuri lalu tersenyum menatap Yuuri yang memeluk erat pinggang Arkan, sedangkan Arkan meletakkan tangannya di kepala Yuuri.


Semoga ini menjadi awal yang baik untuk putraku, sudah berapa kali dia aku jodohkan dengan wanita tapi dia selalu menolak sehingga aku punya pikiran negatif tentang anakku sendiri.


Ya Allah jodohkanlah mereka berdua, aku mohon berilah kebahagiaan untuk keduanya (do'a tulus mami untuk anak dan calon mantunya).


Arkan terbangun ketika mendengar suara adzan berkumandang, mami yang melihat Arkan akan bangun langsung pura pura tertidur karena takut ketahuan sedang memperhatikan mereka berdua.


Awalnya Arkan sangat kaget melihat tangan Yuuri melingkar di pinggangnya tapi lama lama Arkan tersenyum melihat Yuuri yang masih saja tertidur, padahal semalam dia bilang gak bisa tidur di tempat baru tapi sekarang tidurnya malah sangat nyenyak sekali.


"Yuuri... Yuuri..." panggil Arkan sembari menepuk pelan pipi Yuuri yang masih tertidur.


Yuuri yang merasa ada yang mengganggu tidurnya langsung menyingkirkan tangan Arkan yang menepuk pipinya.


Ya Allah ini anak gadis orang tidurnya nyenyak banget ya (gumam Arkan dalam hati yang tersenyum menatap Yuuri yang kembali melanjutkan tidurnya).


"Yuuri... bangun Yuuri..." panggil Arkan lagi.


"Kenapa sih buk... Adek masih ngantuk nih" gumam Yuuri yang menganggap ibunya yang membangunkan nya.


Ibuk? aku di kira Mak nya kali ya, ya ampun Yuuri, kamu itu memang nyebelin kalau udah keluar suaranya (gerutu Arkan dalam hati).


"Yuuri bangun... udah subuh nih, ayo sholat dulu" ucap Arkan sembari membuka kedua mata Yuuri dengan paksa.


"Emmm.... aduh... masih ngantuk nih" gerutu Yuuri sembari memulihkan kesadarannya.


"Kamu susah banget sih di bangunin" gerutu Arkan yang mengangkat kepala Yuuri agar duduk.


Yuuri mengucek matanya dan menatap Arkan dengan perasaan kesal bercampur malu.


Astaga aku tadi manggilnya ibu... aduh bikin malu banget sih (gerutu Yuuri yang teringat jika dia tadi menganggap ibunya yang membangunkan nya).


"Kenapa? masih ngantuk?" tanya Arkan yang menatap yuuri.


Yuuri pun menganggukan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"Wudhu sana, biar ngantuk ya hilang" ucap Arkan sembari berdiri hendak pergi.


"Kakak mau kemana?" tanya Yuuri yang membuka matanya dan melihat Arkan hendak melangkah.


"Aku mau bangunin mami dulu, habis itu mau langsung ke mushollah Rumah Sakit" jawab Arkan.


"Mau ngapain?" tanya Yuuri bingung.


"Mau sholat Yuuri... ini udah subuh, kamu juga sana wudhu habis itu jangan lupa buat sholat" jawab Arkan.


"Tapi kak... aku gak punya mukenanya" ucap Yuuri dengan suara kecil tapi masih bisa di dengar Arkan.


"Biasanya mami selalu bawa mukena kemana mana di dalam tasnya, kamu pakai punya mami aja" ucap Arkan yang berjalan dan membuka tas maminya dan mengambil mukenanya dan memberikan nya pada Yuuri.


"Mami... udah subuh mi" panggil Arkan pelan.


Mami yang sudah bangun dari tadi pura pura baru bangun tidur agar mereka berdua tidak curiga.


"Udah subuh?" tanya mami pura pura bangun tidur sembari mengucek kedua matanya.


"Udah mami, sholat dulu ya" ucap Arkan.


"Iya sayang" ucap mami.


Setelah mami dan Yuuri selesai sholat bergantian baru Arkan pergi ke mushollah untuk menunaikan kewajibannya.


Setelah selesai Arkan kembali lagi ke ruang inap mami dan melihat maminya berbicara dengan Yuuri dengan asik.


"Assalamualaikum" ucap Arkan yang masuk dan mendekati maminya.


"Wa'alaikumsallam" jawab mami dan Yuuri bersamaan.


Arkan kembali memeluk manja maminya.


"Kamu itu udah besar sayang, sebentar lagi akan menikah jadi kurangi manja kamu tuh" ucap mami sambil mengelus lengan putranya.


"Mami... mau Arkan menikah atau gak, Arkan akan tetap jadi anak mami" ucap Arkan yang mulai melepaskan pelukannya.


"Kamu gak malu sama Yuuri calon istri kamu?" tanya mami sembari melirik Yuuri.


"Dasar manja" ucap Yuuri kesal.


"Biarin aja, kenapa?" tanya Arkan menantang Yuuri untuk berantem.


"Hentikan... kalian berdua itu seperti anak kecil" gerutu mami.


"Mami... masa iya mami mau jadikan Yuuri yang anak kecil ini sebagai istri Arkan yang sudah dewasa ini?" tanya Arkan serius.


"Anak aja aku di bilang anak kecil, mas dosen itu yang udah ketuaan" gerutu Yuuri kesal.


"Enak aja aku ketuaan... aku ini pria dewasa, pria matang" ucap arkan.


"Kamu emang ketuaan sayang untuk menikah sebenarnya tapi gak apa, insyaallah masih bisa produksi cucu buat mami" ucap mami tersenyum.


"Mami..." Arkan.


"Hahaha... dasar tua" ejek Yuuri.


"Mami... dia meledek Arkan mi" gerutu Arkan kesal.


"Bisa bisanya ya aku ketemu dosen yang manja banget begini, tapi ketika di kelas kilernya bikin mati berdiri" ucap Yuuri.


"Kamu aku kurangi nilainya nanti ya" ancam Arkan.


"Enak aja, enggak bisa gitu dong" protes Yuuri kesal.


"Bisa aja dong, kan aku dosennya" ucap Arkan tersenyum licik.


"Mami... lihat deh kak Arkan itu seperti anak kecil, nyebelin banget gitu" adu Yuuri pada mami.


"Arkan awas ya kamu main curang sama nilai mantu mami" ancam mami menatap tajam anaknya.


"Yuuri sayang mami..." ucap Yuuri sembari memeluk mami dan menjulurkan lidahnya pada Arkan.


"Mami kok gitu sih, masih sayang sama Yuuri dari pada Arkan" protes Arkan.


"Kamu udah dewasa, lagian mami inget Allura ketika memeluk Yuuri" ucap mami.


"Allura?" tanya Yuuri bingung sembari melepaskan pelukannya dan menatap mami dengan tanya di matanya.


"Dia anak bungsu mami sayang, adiknya Arkan" jawab mami tersenyum menjawab kebingungan Yuuri.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Yuuri.


"Dia sama papinya ada di London, dia sedang kuliah di sana" jawab mami sembari membayangkan anak yang di rindukannya.


"Lagian mami kenapa nyusul Arkan ke Jakarta kalau kangen banget sama Allu" ucap Arkan.


"Mami harus memastikan kamu punya pendamping dulu baru mami kembali ke London dan mengajak papi buat urus semuanya" ucap mami yang kembali tersenyum.


"Maksud mami?" tanya Arkan dan Yuuri bersamaan.


"Mami mau kalian bulan depan menikah" ucap mami.


"Apa?..." sentak Arkan dan Yuuri bersamaan kaget mendengar ucapan mami.


"Kenapa, bukannya kalian berdua juga sudah setuju?" tanya mami senang.


"Mami gak mendadak gini juga kali mi" protes Arkan yang merasa ini terlalu cepat untuk melepas masa lajangnya.


"Mami, tapi sebentar lagi Yuuri akan ada magang 2 bulan lagi mi" protes Yuuri.


"Gak apa... mami bisa urus semuanya" ucap mami tersenyum bahagia.


Aduh... gimana nih, masa iya aku harus menikah dengan orang yang gak aku cintai sama sekali, malahan kami itu sering berantem. Bagaimana nasib cita cita aku kalau begini (gumam Yuuri dalam hati yang panik dengan ucapan mami).


Mami kok ngotot banget sih, aku sama Yuuri kan jaraknya jauh banget sekitar belasan tahun gitu, terus kita kan gak pernah akur walaupun aku mengagumi nya (gumam Arkan dalam hati yang ikut bingung harus melakukan apa).


"Tidak ada penolakan ya... kalian berdua sudah janji sama mami" ucap mami.


"Tidak ada penolakan?" gumam Yuuri dan Arkan bersamaan.


*


*


*


Gimana readers berhasil gak ya rencananya mami Leya, ikuti terus ya ceritanya.


Happy reading readers.