
Yuuri duduk di sisi Vino lalu menyenderkan punggungnya ke sofa sembari kepala nya mengangkat ke atas sembari memejamkan kedua matanya.
"Apa masalah nya benar benar sulit?" tanya Vino memperhatikan mantan kekasihnya.
"Kenapa aku merasa kebahagiaan itu hanya sesaat kak?" tanya Yuuri masih dengan posisi tadi.
"Apa yang bisa Kakak bantu?" tanya Vino.
"Aku tidak ingin tinggal di Indonesia lagi" ucap Yuuri sembari membuka matanya perlahan.
"What?" Vino sangat kaget mendengar ucapan Yuuri.
"Hm... Yuuri serius" ucap Yuuri.
"Lalu bagaimana dengan suami mu?" tanya Vino.
"Dia sudah buang Yuuri kak, dia bahkan menyebut Yuuri parasit apa Yuuri benar seorang parasit bahkan dia membentak Yuuri" ucap Yuuri sembari meneteskan air matanya.
Vino yang ikut merasa sangat sedih dan sakit dengan apa yang Yuuri rasakan memeluk erat mantan kekasihnya itu, Yuuri pun membalas pelukan dan semakin memeluk erat Vino menumpahkan segala rasa sakitnya pada Vino.
"Menangis lah tapi setelah ini berjanji tidak akan ada lagi air mata kesedihan" ucap Vino mengusap puncak kepala Yuuri seperti yang dulu pernah dia lakukan.
"Yuuri gak mau gini lagi kak, Yuuri merasa bernafas sangatlah sesak untuk saat ini" ucap Yuuri semakin menangis.
"Tenang lah Yuuri, kakak akan membawa mu ke luar negeri setelah ini" ucap Vino.
Yuuri yang mendengar ucapan Vino semakin memeluk erat tubuh Vino dan menumpahkan segala kesakitan nya.
"Terimakasih kak" ucap Yuuri lalu melepaskan pelukannya.
"Apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Vino.
"Sudah kak, semua nya karena kak Vino yang selalu sayang sama Yuuri" ucap Yuuri mulai tersenyum.
"Imut" Vino mengacak rambut Yuuri gemas.
"Ih nyebelin deh kak Vino suka iseng sama Yuuri" gerutu Yuuri sembari merapikan rambutnya.
Vino tersenyum melihat Yuuri yang mulai kembali menggerutu seperti kebiasaannya dulu yang selalu saja mengomel.
Vino berjalan menjauh dari Yuuri yang sedang duduk di sofa.
"Kak mau kemana?" tanya Yuuri yang melihat Vino pergi.
"Kakak mau telpon orang sebentar" ucap Vino.
"Jangan lama lama, Yuuri laper" ucap Yuuri sembari nyengir.
"Kebiasaan suka telat makan" ucap Vino lalu pergi untuk menelpon seseorang.
Setelah selesai menelpon Vino kembali menemui yang terduduk sembari menonton televisi.
"Apa sekarang masih laper?" tanya Vino.
"Banget kak" ucap Yuuri tersenyum.
"Ingin makan apa?" tanya Vino.
"Mie instan kak" jawab Yuuri semangat.
"Gak bisa dan gak boleh" ucap Vino tegas.
"Yah kak tapi Yuuri kan..." Yuuri.
"No..." sentak Vino.
"Ya sudah terserah kakak saja mau masak apa buat Yuuri" ucap Yuuri pasrah.
Vino hanya mengangguk dan berjalan ke dapur menyiapkan beberapa bahan makanan lalu mulai memasak menu yang simple seperti nasi goreng untuk Yuuri agar dia tidak menunggu terlalu lama.
"Hm bau nya enak banget kak" teriak Yuuri sambil menonton.
"Sayang sini nasi gorengnya udah masak" ucap Vino.
Yuuri yang memang kebetulan sangat laper berangkat dan berjalan menuju ruang makan dan duduk di depan hidangan nasi goreng.
"Ih kakak gak makan?" tanya Yuuri melihat Vino yang hanya duduk menemani makan.
"Kakak gak makan malam sayang, sekarang cepat habiskan makanan mu nanti segera beristirahat" ucap Vino menemani Yuuri.
"Istirahat?" Yuuri bingung.
"Barang barang nya jangan di bongkar karena besok kita akan pergi ke new Zealand" ucap Vino.
"Kak serius?" tanya Yuuri kaget.
Dan Yuuri pun kembali ikut tersenyum dan merasa sangat bahagia bisa segera pergi dari Jakarta.
"Bagaimana dengan orang tua kamu?" tanya Vino.
"Yuuri sudah mengirim surat melalui Fahira kak" ucap Yuuri.
"Apa mereka tahu kamu akan kemana?" tanya Vino.
"Gak kak, yang mereka tahu Yuuri udah gak bersama kak Arkan lagi" ucap Yuuri dengan tersenyum di paksakan.
Siapa yang akan tenang dan baik baik saja kalau keadaan rumah tangga nya sudah ada di ujung tanduk dan tak memiliki sedikit harapan pun untuk berbaikan.
Yuuri sudah mencoba sebisa mungkin mempertahankan keutuhan rumah tangga dan keluarga nya tapi kenyataan berkata lain suaminya dengan tega menghina bahkan mengusirnya malam malam.
"Yakin tidak ingin memberitahu suami mu atau keluarga mu?" tanya Vino kembali meyakinkan Yuuri.
"No... no... no... biarkan Yuuri pergi dan menenangkan pikiran Yuuri kak" ucap Yuuri dengan sendu.
"Baiklah baiklah kau selalu memanfaatkan kelemahan ku dengan wajah polos dan sendu mu itu" gerutu Arkan mengalah.
"Wah makasih mantan" ucap Yuuri tersenyum bahagia.
"Cepat habiskan makanan mu itu dan segera lah beristirahat" ucap Vino mulai kesal dengan tingkah Yuuri.
Vino kesal bukan tanpa alasan melainkan karena Yuuri sangat menyebalkan di tambah lagi tadi dirinya di panggil mantan oleh Yuuri, memang benar status nya mantan tapi entah mengapa Vino sangat tidak menyukai panggilan itu.
"Kak... kak..." panggil Yuuri namun Vino masih diam tak mendengar panggilan Yuuri.
"Hei... kak Vino" ucap Yuuri sembari menepuk bahu Vino kesal.
"Hah... iya kenapa?" tanya Vino yang mulai sadar dari lamunannya.
"Kakak melamun?" tanya Yuuri tak percaya.
"Gak ada" bohong Vino.
"Bohong ya kan" ucap Yuuri memastikan.
"Enggak Yuuri" jawab Vino.
"Hm menyebalkan" gerutu Yuuri.
"Cepat habiskan makanan nya habis itu istirahat" ucap Vino mengalihkan topik.
"Iya ini bentar lagi juga habis" ucap Yuuri.
Setelah selesai makan Yuuri duduk kembali di sofa yang tadi di duduki nya di temani Vino yang selalu ada untuk Yuuri.
"Pernikahan kamu gimana?" tanya Vino.
"Di ujung tanduk, entah terlepas atau bakal semakin menyatu" ucap Yuuri.
"Jadi?" Vino.
"Jadi apa kak?" tanya Yuuri bingung.
"Bagaimana kamu mau pergi ke New Zealand kalau hubungan nya aja masih gantung" gerutu Vino.
"Cie pasti nungguin janda Yuuri ya" ledek Yuuri.
"Kamu tingkat kepedean nya udah paling di atas rata rata" gerutu Vino.
"Bercanda kali kak sensi amat" gerutu Yuuri.
"Jangan gitu lagi, kakak cuma nanya benar benar bukan buat di ledekin" Vino.
"Ya udah iya kak Yuuri minta maaf ya" Yuuri.
"Hm di maafkan" Vino.
"Udah sekarang Yuuri mau istirahat" Yuuri.
"Kamar kamu ada tulisan nama kamu ya" ucap Vino.
"Wah spesial thank you kak" ucap Yuuri berjalan sembari membawa kopernya ke kamar.
*
*
*
Hai readers happy reading for you