
Matahari pagi sudah menyinari dunia tapi Yuuri yang sangat kelelahan karena sesampainya di rumah langsung melanjutkan acara lamaran semalam, Zia yang meminta untuk di izinkan tidur dengan Ami nya tadi malam sekarang sudah lebih dulu bangun dan asik mengusili Ami Yuuri yang sedang tidur dengan nyenyak karena kelelahan.
Mulai dari mencium Ami Yuuri, memencet hidung, menggelitik hingga mengguncang tubuh Ami nya dengan sekuat tenaganya, tapi Yuuri malah tidak menghiraukan gangguan keponakan usil nya itu.
Sampai akhirnya Zia punya ide agar Ami nya segera bangun.
"Daddy... you are here
Daddy... kamu disini" ucap Zia sembari menutup mulutnya menahan tawa.
"Apa... Daddy kamu disini?" Yuuri langsung terbangun mendengar Zia menyebutkan Daddy-nya ada disini.
"Sorry Ami... I Will call Daddy that you missing him so much... hahaha...
maaf Ami... aku akan menelpon Daddy kalau kamu sangat merindukannya... hahaha..." tawa Zia menggema ruangan kamar Yuuri.
"Jadi kamu bohongin Ami?" tanya Yuuri tak percaya dengan apa yang dilakukan keponakan nya itu.
"Sorry Ami... karena Ami itu susah banget di bangunin" gerutu Zia yang kesal mengingat kalau dia sudah menggunakan banyak cara agar Yuuri bangun, tapi nyatanya Yuuri sama sekali tidak terganggu dan malah asik melanjutkan tidurnya.
"Kamu ini ya, kelewatan banget sih nyebelin nya" gerutu Yuuri yang sangat kesal pada Zia.
"Morning Ami... I love you...
pagi Ami... aku mencintaimu..." Zia langsung mengecup pipi Yuuri lalu memeluknya.
"Morning sweety... I love you too...
pagi sayang... aku juga mencintaimu..." Yuuri ikut membalas pelukan Zia.
"Ami..." Zia.
"Ada apa Zia sayang?" tanya Yuuri menatap keponakannya yang sangat menggemaskan itu.
"Apa Daddy akan mengambil Ami dari ku?" tanya Zia dengan polosnya.
"Hei... tidak akan ada siapapun yang bisa mengambil Ami dari mu sayang, kamu tetap menjadi kesayangannya Ami nak" ucap Yuuri sembari menangkup kedua pipi Zia dengan tangannya.
"Termasuk Daddy?" tanya Zia yang masih takut kalau Yuuri menikah dengan Arkan.
"Kamu nanti akan sayang sama Daddy sama seperti kamu sayang sama Ami nak" ucap Yuuri menatap lembut keponakan cantiknya.
"Ami..." Zia.
"Ada apa sayang?" tanya Yuuri bingung.
"Zia sayang Ami..." ucap Zia.
"Ami juga sayang" balas Yuuri.
Mereka pun berpelukan dengan erat.
"And than now, the time for shower...
dan sekarang, waktunya untuk mandi..." ucap Yuuri.
"Ami... Zia belum mau, give me a time (beri aku waktu)" Zia meminta waktu untuk mandi.
"5 minute... 5 menit" ucap Yuuri sembari menunjukkan tangannya dengan 5 jari.
"No... 30 minute... tidak... 30 menit" tawar Zia.
Yuuri langsung mengangkat tubuh kecil keponakannya dan membawanya ke dalam kamar mandi dan tidak lupa juga dia membawa handuk untuk Zia.
"Ami curang... mentang mentang Zia kecil, seenaknya aja main angkat angkat" gerutu Zia ketika sudah ada dalam kamar mandi.
"Sekarang waktunya mandi, bukan protes Zia" ucap Yuuri sembari membuka baju Zia lalu memandikannya.
Zia hanya bisa pasrah ketika Ami Yuuri sudah tidak bisa di ajak tawar menawar begini, sebenarnya Zia sudah bisa mandi sendiri tapi Yuuri tidak pernah membiarkan Zia mandi sendiri jika Zia sedang bersamanya.
Setelah selesai memandikan Zia, Yuuri juga menggantikan baju Zia dan menguncir rambut Zia menjadi kuncir kuda.
"Selesai... sekarang kamu main dulu sama ayah bunda, Ami mau mandi dulu ya sayang" ucap Yuuri.
"Okay Ami..." jawab Zia lalu pergi dari kamar Ami Yuuri dan berjalan mencari ayah dan bundanya.
"Morning nenek... ayah... bunda..." sapa Zia yang mendapati ayah dan bunda sedang duduk bersama dengan neneknya.
"Morning sayang" balas nenek, ayah dan bunda bersamaan.
"Daddy belum kesini?" tanya Zia.
"Belum sayang, Daddy bentar lagi pasti datang kok" ucap ayah.
"Oh gitu" Zia terlihat kecewa karena Daddy Arkan belum datang.
"Kamu tau gak hari ini siapa yang datang?" tanya Nenek pada Zia.
"Siapa nek?" tanya Zia bingung.
"Onty Fahira dan om Kenzi hari ini datang sayang" ucap bunda Rida.
"Really?... benarkah?" Zia kaget mendengarnya.
"Yes... Tante Ocha dan om Daffa juga" sambung nenek.
"Tante Ocha... Zia kangen Tante Ocha bunda" ucap Zia memeluk bunda nya.
"Iya hari ini mereka datang sayang" sambung Ayah.
Yuuri segera keluar dari kamarnya setelah selesai mandi dan segera menyusul Zia yang berada di ruang tengah bersama keluarganya.
"Ami..." Zia berlari lalu memeluk Yuuri, membuat Yuuri langsung berjongkok dan menggendong Zia.
"Belum..." jawab ibu santai.
"Bukannya nanti bakalan ada Fahira, Ocha dan yang lainnya ya, ada kak Arkan dan keluarganya juga kan" Yuuri sangat bingung kenapa ibu belum masak juga.
"Mami mertua kamu mau kamu sendiri yang masak" sambung bunda Rida.
"Masa iya aku masak sendiri sih kak?" tanya Yuuri bingung.
"Iya, dia ketagihan sama masakan kamu" sambung bang Aga.
"Zia mau bantu Ami masak... bolehkan bunda, ayah?" tanya Zia meminta persetujuan kedua orang tuanya.
"Ya udah iya sayang, tapi jangan melakukan yang berbahaya untuk kamu ya" ucap bunda.
"Ayah..." Zia.
"Zia bisa membantu Ami, tapi tidak untuk merepotkan ya sayang" ayah memberi izin.
"Hore... Zia masak sama Ami..." ucap Zia sangat senang.
"Ya udah kalau gitu, the time for cooking (waktunya untuk masak)" Yuuri segera membawa Zia yang masih di dalam gendongannya.
Betapa bahagianya Zia bisa belajar memasak bersama Ami yang sangat pintar memasak itu, apalagi semua orang dalam keluarganya sangat suka memasak jadi wajar saja jika Zia juga ikutan sangat suka memasak.
"Ami... kita masak apa hari ini?" tanya Zia setelah Yuuri menurunkannya ke bawah.
"Kita masak ayam lempah kuning, pindang ikan patin, lempah sayur darat dan capcay" ucap Yuuri ketika sudah mengeluarkan semua bahan yang akan di olah nya.
"Sekarang Zia bantu apa Ami?" tanya Zia bingung apa yang akan dia kerjakan.
"Zia bisa bantu Ami kupas bawang?" tanya Yuuri.
"Bisa Ami... tapi bawang putih ya, soalnya bawang merah itu pedih mata Zia" ujar Zia.
"Baiklah ayo kita mulai putri cantik ku" ucap Yuuri.
Mereka berdua pun memasak dengan sangat kompak apalagi Zia benar benar sangat antusias belajar memasak dari Ami Yuuri, setelah semua hidangan tersedia mereka juga tidak lupa membuat olahan dari ikan berupa pempek dan tekwan kuah khas daerah Bangka Belitung tempat kelahiran Yuuri.
"Ami Zia capek" ujar Zia dengan memelaskan wajahnya.
"Aduh... duh... duh... kasiannya anak gadis Ami" ucap Yuuri sembari mengelus pelan puncak kepala Zia.
"Zia... ada Daddy di_" nenek Rita.
"Daddy is here Zia... Daddy di sini Zia..." ucap Arkan yang sudah ada di belakang nenek Rita sembari melambaikan tangannya dan membawa boneka di tangan kirinya.
Lah itu baru nongol orangnya, tau gitu bakalan aku kerjain lagi ni calon suami hahaha... (Yuuri cekikikan dalam hati).
"Daddy..." teriak Zia.
"Ibu, Arkan ke sana dulu ya" ucap Arkan sopan.
"Iya nak, silahkan" jawab ibu Rita.
Arkan langsung berjalan melewati ibu Rita dan datang menghampiri Yuuri dan Zia.
"Daddy bawa boneka buat kamu, biar kamu ingat terus sama Daddy" ucap Arkan sembari menyerahkan boneka bebek berwarna kuning putih.
"Thank you Daddy... terimakasih Daddy..." ucap Zia setelah menerima boneka pemberian Arkan dan langsung memeluk Arkan.
"Sama sama sayang" jawab Arkan.
"Zia permisi dulu ya Daddy, Ami... Zia mau simpan dulu bonekanya biar gak rusak" ucap Zia lalu pergi meninggalkan Yuuri dan Arkan berdua di dapur.
"Lagi masak apa calon istri?" tanya Arkan pada Yuuri yang sedang asik mengaduk kuah tekwan.
"Lagi masak tekwan buat makan sama sama nanti" ucap Yuuri tanpa mengalihkan pandangannya dari masakannya.
"Dih serius banget sih" gerutu Arkan yang kesal karena Yuuri tidak memperhatikan nya berbicara.
"Gak usah nyebelin" sinis Yuuri.
"Calon istri, aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Arkan yang mulai menjahili Yuuri.
"Tanya aja" jawab Yuuri santai sambil mengambil gelas yang berisi air minum dan merubah posisinya menatap arkan.
"Kalau udah nikah, mau punya anak berapa?" tanya Arkan dengan senyum nakalnya.
Byuurrr....
Air yang tadi di minumnya langsung tersembur ke muka Arkan.
"Yuuri!..." pekik Arkan yang kesal mukanya jadi terkena semburan air yang ada di mulut Yuuri.
"Maaf kak, aku gak sengaja kak" ucap Yuuri.
Karena kesal Arkan langsung pergi meninggalkan Yuuri, sedangkan Yuuri langsung tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian dia menyembur muka Arkan.
Siapa suruh suka iseng sama orang, enak kan aku sembur itu air biar kamu gak ngomong seenaknya sama aku... hahaha... misi pertama selesai (gumam Yuuri cekikikan setelah Arkan pergi membersihkan mukanya).
*
*
*
Happy reading readers...