Breath Without Love

Breath Without Love
Gara gara Dokter Salsha



Setelah sampai di depan rumah Salsha, Vino pun ikut turun dan menemui kedua orang tua Salsha.


"Malam ma, pa..." panggil Salsha yang menghampiri kedua orang tuanya.


"Malam sayang" jawab kedua orang tua Salsha ketika melihat anaknya menghampiri nya.


"Ma,pa... ada tamu di depan ingin bertemu mama papa" ucap Salsha.


"Siapa?" tanya mama Raya penasaran.


"Gak mungkin pacar Salsha lah ma dia mana pernah punya pacar orang anak nya ketus gitu" ucap papa Tama tersenyum.


"Papa...." Salsha langsung memasang wajah kesalnya.


"Sayang jangan hiraukan papa, dia hanya bercanda" ucap mama Raya tersenyum.


Papa Tama sering kali menjahili putri kesayangannya bahkan sang papa sangat suka melihat ekspresi kesal dari putrinya dan tak jarang papa Tama juga sering jadi amukan sang putri.


"Ayo pa kita lihat tamunya" ucap mama Raya.


"Baiklah papa akan lihat seperti apa selera putri manja ini" ucap papa Tama.


Papa Tama dan mama Raya berjalan menghampiri ruang tamu dan di ikuti oleh Salsha dengan wajah kesalnya.


"Selamat malam om Tante" ucap Vino menyapa kedua orang tua Salsha sembari berdiri menghormati kedua orang tua Salsha.


"Malam... silahkan duduk kembali nak " sambut papa Tama dan mama Raya


"Begini om saya Vino yang tadi mengantar Salsha pulang dari rumah Arkan" sambung Vino tersenyum.


"Oh jadi kamu yang sudah mengantar putri manja ini, terimakasih kasih ya nak dia memang sangat manja" ucap papa Tama.


"Papa..." Salsha nampak sangat kesal dengan perlakuan papanya yang seenaknya mengatai nya manja.


"Maafkan Salsha dan papa nya ya nak mereka berdua memang sering tidak akur" ucap mama Raya tersenyum.


"Tidak masalah Tante, bahkan saya bisa melihat sisi keakraban yang sangat kuat antara Salsha dan om" sambung Vino tersenyum.


"Ya... begitu lah papa dan anak itu suka sekali berselisih" ucap mama Raya.


"Tante om sebenarnya kedatangan saya kemari ingin meminta izin" ucap Vino tiba tiba.


"Minta izin buat apa?" tanya papa Tama.


"Saya ingin meminta izin agar om dan Tante mau memberi restu untuk kami" sambung Vino.


"Kak..." Salsha menegang mendengar ucapan Vino.


"What.... maksudnya apa ini gimana?" tanya mama bingung.


"Dalam waktu dekat saya berniat untuk menikahi Salsha putri om dan tante" ucap Vino tegas.


"Wait... Salsha kamu bahkan menyembunyikan hubungan mu dengan seorang pria" ucap mama kesal.


"Gak ma..." Salsha berkata jujur.


"Tante jangan salah paham ke Salsha saya dan Salsha tidak punya hubungan apapun sebelumnya saya juga mengenal Salsha dari Yuuri dan Arkan mereka berdua sahabat baik saya dan mereka berdua itu sudah seperti saudara saya sendiri" sambung Vino.


"Jadi apa yang membuat kamu yakin ingin menikahi putri saya?" tanya papa Tama tegas tak terbantahkan.


"Kak Vino...." Salsha masih deg degan dengan apa yang akan di respon kedua orang tuanya.


"Bawa saja kedua orang tuamu secepatnya jika menginginkan putri ku" sambung papa Tama.


"Syukurlah aman..." gumam Salsha dalam hati.


"Baiklah karena sudah terlalu larut malam saya ingin pamit pulang om tante, dan maaf jika malam malam begini sudah membuat om dan Tante kurang nyaman dengan kehadiran saya" ucap Vino.


"Iya nak gak papa" sambung mama.


Setelah pamit Vino segera kembali ke mobilnya lalu kembali mengemudikan mobilnya.


"Kak kok lama sih di rumahnya dokter Salsha?" tanya Shira menatap curiga kakak nya.


"Biasa di suruh minum minum dulu sambil main catur" jawab Vino asal.


"Oh my God... kau enak enakan di dalam bercanda sedangkan aku menunggu mu seperti satpam di sini" gerutu Shira kesal.


"Sudahlah jangan marah, katakan pada Ervin untuk siapkan pernikahan kakak dengan dokter itu Minggu depan" ucap Vino.


"Oh ok" Shira langsung mencari ponselnya di dalam tas nya.


Tapi setelah mendapatkan ponselnya Shira menatap tajam sang kakak.


"Bisa tolong ulangi lagi apa yang kakak katakan?" tanya Shira takut apa yang di dengarnya tadi itu salah.


"Segera urus pernikahan kakak dengan dokter itu minggu depan" ucap Vino santai.


"Minggu depan? menikah? dokter?" Shira.


"Kau kenapa sih Salsha?" tanya Vino.


"Kakak aku Shira bukan Salsha" ketus Shira kesal karena Vino bahkan salah memanggil namanya.


"Maaf sayang maaf ini semua gara gara dokter Salsha itu, kenapa mulai dari tadi dia selalu memenuhi otak ini" gerutu Vino.


"Otak mu sudah di penuhi dokter Salsha kak?" tanya Shira menjahili kakaknya.


"Hentikan jangan aku kesal" sambung Vino sembari masih fokus menyetir.


"Oh dokter Salsha dimana mana ada dokter Salsha" ucap Shira menertawakan kakaknya.


"Shira..." Vino kesal bukan main.


"Dokter Salsha... gara gara kau aku bahkan di ledek adik ku sendiri" gerutu Vino dalam hati.


*


*


*


Happy reading readers 🤗🤗🤗


jangan lupa vote buat selalu dukung karya author dan dukung cerita cerita nya author biar author makin tambah semngat buat selalu up.