
"Apa sekarang Dady sudah mengenali aku?" tanya Kai dengan tatapan tajam nya.
"Sudah tuan saya akan bereskan anak kecil yang mengaku ngaku ini" seorang petugas keamanan hendak menyentuh Kai.
"Jangan sentuh dia" sentak Arkan menatap tangan Kai yang akan di sentuh kembali.
"Tapi... tuan" petugas keamanan.
"Jangan berani berani menyentuh nya" ketus Arkan.
"Sayang siapa nama mu?" tanya Arkan menatap matanya.
"Kai... Kaizo Abrisam..." jawab Kai lantang.
"Nama yang bagus" sahut Arkan.
"Dady tolong momy, seorang satpam yang bernama Dirga itu menghalangi kami masuk dan bahkan momy berbicara sopan dan lembut padanya sedangkan dia sangat tidak sopan pada momy dan menghina momy" Kai memohon pada Arkan.
"Boleh tau siapa nama momy mu sayang?" tanya Arkan gugup karena dia sangat berharap istrinya akan di sebut.
"Yuuri... momy Yuuri Ferianarifa" ucap Kai.
Arkan langsung memeluk erat Kai dan menciumnya sembari meneteskan air mata bahagia.
"Apa Dady bersedih bertemu dengan Kai?" tanya Kai yang melihat Arkan menangis.
"Tidak sayang bukan... Dady bahagia" sambung Arkan.
"Hentikan air mata Dady sekarang dan cepat tolong momy" ketus Kai karena bisa bisa nya sang Dady menangis lebih dulu bukannya menolong sang momy.
"Baiklah sayang maafkan Dady" Arkan langsung menghapus air matanya dan berlari beriringan dengan Kai.
Sedangan pada petugas keamanan yang tadi bertindak kasar pada Kai mulai takut bukan main, anak kecil yang mereka kasari ternyata anak majikannya bahkan bisa di bilang pewaris tunggal aset keluarga Ontario.
"Momy..." teriak Kai yang melihat momy nya masih saja di halangi oleh pak Dirga.
"Kai..." Yuuri merentangkan tangannya agar Kai masuk ke pelukannya.
"Maaf tuan tapi nona ini memaksa untuk masuk" ucap pak Dirga setelah melihat Arkan.
"Apa kau tidak malu sebagai laki laki bersikap kasar terhadap wanita" ketus Arkan menatap tajam pegawai rumahnya.
"Jika tidak ada putra ku sudah dari tadi aku menghajar mu" ketus Arkan menahan emosinya.
Pak Dirga hanya bisa diam tak berkutik membela diri ketika mendengar tuannya mengatakan putra pada anak kecil itu.
"Maaf tuan..." lirih pak Dirga.
"Sayang..." Arkan menghampiri Yuuri dan memeluk erat tubuh sang istri yang sangat dia rindukan.
Yuuri menatap sang suami yang terlihat sangat tak terurus bahkan sangat kacau dan berantakan membuat Yuuri menjadi sedih.
"Apa kakak tidak bisa mengurus diri dengan benar?" tanya Yuuri tak menyangka.
"Bagaimana aku bisa mengurus diri ku dengan benar jika kau tidak ada di sisiku" lirih Arkan menyesal.
"Lalu mengapa mengusir ku jika tidak bisa hidup tanpaku?" ketus Yuuri menatap tajam suaminya.
"Maafkan aku sayang aku khilaf aku benar benar terbawa emosi malam itu" ucap Arkan menyesal.
"Oh wait... wait..." Kai terdiam sejenak.
"Ada apa sayang?" tanya Yuuri dan Arkan bersamaan.
"Dady... suami seperti apa dirimu yang berani mengusir istrinya sendiri" gerutu Kai kesal mendengarnya.
"Kai Dady tidak bermaksud begitu nak" ucap Arkan.
"Sekali lagi Dady berbuat jahat pada momy aku akan melindungi momy dari mu dad dan aku akan membawa momy pergi jauh darimu" ancam Kai.
"Baiklah sayang, Dady berjanji tidak akan menyakiti dan mengecewakan momy dan kau lagi nak" janji Arkan.
"Promise?" Kai menyodorkan jari kelingking kecilnya pada Arkan.
"Promise" Arkan menyambutnya.
Baiklah sekarang ayo kita masuk sayang" ucap Arkan membuat pak Dirga benar benar mematung dari tadi.
"Dimana opa ku?" tanya Kai aktif.
"Kai... momy bilang apa tadi sayang" ucap Yuuri.
"Jangan nakal, jangan menyusahkan, jangan merepotkan dan harus menjadi anak yang baik" sambung Kai.
"Pinter sayang" sahut Yuuri.
"Nina..." panggil Arkan.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya mbak Nina yang tadi bersama Kai.
"Baik tuan, selamat datang kembali nyonya" ucap Nina tulus.
"Terimakasih" jawab Yuuri tersenyum.
Nina mengangguk dan mengajak Kai ke taman belakang karena di sanalah opa nya berada sedang memberikan makan untuk ikan ikan peliharaannya.
"Apa kau sudah memaafkan aku?" tanya Arkan menatap istrinya yang duduk sisinya di ruang keluarga.
"Sudah kak dan jangan bahas lagi masa lalu yang buruk" ucap Yuuri tersenyum.
"Apa kau ingin kembali dan membiarkan aku ikut andil membesarkan putra kita?" tanya Arkan.
"Darimana kakak tau Kai itu putramu?" tanya Yuuri penasaran.
"Apa kau ingat dengan dokter Salsha?" tanya Arkan.
"Dokter pribadi almarhum mami?" Yuuri balik bertanya.
"Iya sayang, dia yang mengatakan pada papi bahwa kau kemungkinan sedang hamil" ucap Arkan.
"Tapi kenapa aku tidak tau?" tanya Yuuri bingung.
"Karena kita sangat berduka saat itu jadi Dady tidak ingin menambahkan beban pikiran mu sayang" jawab Arkan tersenyum.
"Ya karena aku ketahuan hamil ketika aku berada di Singapura" ucap Yuuri tersenyum.
"Kenapa kau menutup akses aku untuk menemukanmu" sungut Arkan kesal.
"Kak Vino yang melakukannya dan dia menjaga ku dan Kai dengan sangat baik" ucap Yuuri.
"Maafkan aku..." lirih Arkan.
"Sudahlah kak itu sudah berlalu" ucap Yuuri mengelus lembut pipi suaminya.
"Apa kau tau sayang... putra kita itu sangat cerdas dan pemberani" ucap Arkan.
"Dia memang seperti itu kak, dia di tempa uncle Vino nya agar bisa melindungi ku bahkan dia sama sekali tidak terima ada orang yang menyakiti ku walaupun hanya berbicara dengan nada ketus ya seperti pak Dirga tadi" ucap Yuuri tersenyum.
"Aku harus mengucapkan banyak terimakasih terhadap Vino karena sudah mendidik dan menjaga putraku dengan baik" ucap Arkan tulus.
"Sayang apa kalian sudah makan siang?" tanya Arkan.
"Belum kak tadi kita dari pemakaman momy langsung kesini, dan oh ya tadi mampir ke toko kue buat di makan bersama di sini" ucap Yuuri lupa mengeluarkan kue dari dalam mobil.
"Sebentar kak aku ambilkan dulu kuenya" ucap Yuuri tapi tangannya langsung di cekal oleh Arkan.
"Mbak...." teriak Arkan.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan.
"Tolong ambilkan kue di mobil nyonya ya" ucap Arkan.
"Kak... Yuuri bisa ambil sendiri" ucap Yuuri.
"Tidak apa nyonya biar saya saja yang ambilkan, lagipula nyonya belum lama sampai" ucap mbak pelayan.
"Baiklah kue nya ada 5 box di jok belakang ya mbak, maaf merepotkan" ucap Yuuri merasa tidak enak.
Mbak hanya menganggukkan kepalanya lalu berlalu meninggalkan Yuuri dan Arkan.
Arkan menarik tangan Yuuri dan membuatnya jatuh di pangkuan Arkan.
"Kak..." Yuuri.
"Sayang... apa kau tidak merindukan ku?" tanya Arkan mengelus pipi sang istri.
"Aku juga merindukanmu kak" Yuuri menatap lekat mata suaminya.
cup...
Arkan mengecup lembut bibir Yuuri yang sudah lama tidak dia sentuh.
Arkan hendak mencium Yuuri untuk kedua kalinya.
"Papi... Lura pulang..." teriak Lura seperti biasanya.
Yuuri yang ada di pangkuan Arkan langsung turun dan duduk normal di sisi Arkan.
*
*
*
Happy reading readers 🤗🤗🤗
Tolong bantu author buat vote dong biar tambah semangat up nya 😉