
Zia menangis tersedu-sedu ketika mendengar dari ayahnya kalau Ami Yuuri akan kembali ke Jakarta hari ini.
"Ami kenapa mau ninggalin Zia lagi, Ami gak sayang Zia?" tanya Zia lirih dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Yuuri menyamai tingginya dengan Zia, lalu memeluk erat anak gadis kesayangannya itu.
"Zia sayang, Ami harus ikut Daddy nak seperti bunda yang selalu menemani ayah sayang" ucap Yuuri lalu melepaskan pelukannya dan menatap mata indah keponakan tersayang nya.
"Itu sama saja Ami, kenapa Ami dan Daddy harus pergi secepat ini?" tanya Zia polos.
Yuuri menatap suaminya untuk di mintai pertolongan agar menjawab pertanyaan keponakan nya, Arkan mendekati Zia dan ikut menyamai tingginya dengan Zia dan istrinya.
"Zia sayang, ada urusan yang harus segera Daddy selesai kan nak, bukankah kamu juga akan mengunjungi kami ke Jakarta bulan depan sayang?" tanya Arkan.
"Benarkah Zia akan segera kembali bertemu dengan Ami Daddy, ayah?" tanya Zia pada ayahnya.
Ayahnya hanya bisa tersenyum sembari mengangguk melihat kelakuan anaknya yang sangat menyayangi adik semata wayangnya.
"Yeay... Zia semakin gak sabar menantikan nya" Zia menatap bahagia Ami dan Daddy nya.
"Jadi bisa Ami dan Daddy pergi sayang?" tanya Yuuri kembali.
"Tentu saja Ami... tapi Zia akan sangat merindukan mu Ami..." ucap Zia sedikit sedih bila membayangkan dia akan berpisah dengan Ami nya.
Yuuri kembali memeluk erat tubuh mungil keponakan kesayangannya itu, lalu mencium kedua pipi gembul Zia lalu melepaskan nya.
Begitu pun dengan Arkan yang mulai menyayangi Zia, memeluk erat keponakan barunya.
"Daddy... jaga Ami untuk Zia, walaupun Zia sering nakal sama Ami, tapi Daddy tidak boleh nakal sama Ami dan jangan buat Ami bersedih" ucap Zia dengan wajah seriusnya.
"Daddy berjanji atas nama mu princess" jawab Arkan tersenyum menatap Zia.
"Thank you Daddy" ucap Zia tulus.
"Sama sama sayang" jawab Arkan.
mereka semua saling berpamitan lalu Yuuri, suaminya dan keluarga suami pergi meninggalkan kota kelahiran Yuuri.
🌺🌺🌺
Bandara
Sambil menunggu jadwal keberangkatan, Yuuri dan Arkan beristirahat di ruang tunggu.
"Apa yang kamu ingat dari Bandara sayang?" tanya Arkan pada istrinya.
"Apa ya kak, tempat untuk bepergian menggunakan jalur udara" jawab Yuuri sekenanya.
"Maksudnya bukan itu sayang" gerutu Arkan kesal karena Yuuri tak mengerti apa yang di maksudkan suaminya.
"Lalu apa kak?" tanya Yuuri bingung.
"Kamu kok gitu sih sayang, jadi nyebelin" kesal Arkan.
Yuuri kembali mengingat ada apa dengan Bandara, lama sekali dia mengingat ingat kejadian yang pernah dia alami di Bandara.
"Aku ingat, kamu yang bersitegang dengan aku waktu itu kak dan ngaku ngaku aku calon istri kamu" gerutu Yuuri kesal mengingat kejadian yang sudah lama sekali dia alami.
"Kenyataan benar kan kamu jadi istri aku, walaupun kamu itu nyebelin sebenarnya" sambung Arkan.
"Dih... benar benar ya ternyata suami aku ini" gerutu Yuuri kesal dengan suaminya.
Arkan hanya tersenyum saja mendengar ocehan istri yang kesal dengan kelakuan dirinya.
"Papi, lihat deh mereka berdua mesra banget kan ya" ucap mami Leya tersenyum melihat putra dan menantunya yang sedang bersenda gurau.
"Mami, Lura juga mau nikah" sebut Allura adik kandung Arkan.
"Sayang, kamu masih terlalu muda untuk menikah nak" jawab mami Leya.
"Putri kesayangan Papi jangan dulu menikah sayang, nanti papi gak punya teman main lagi kalau Lura menikah" sambung papi Deriel.
"Tapi papi, Lura itu iri sama mami yang punya papi, terus sekarang di tambah lagi dengan pasangan baru itu tuh" gerutu Allura kesal karena hanya dia yang tidak memiliki pasangan sekarang.
Mereka tidak tahu saja kalau pengantin baru itu sedang memerhatikan kelakuan manja Allura.
"Allura.... kamu tuh manja nya kebangetan sama papi" gerutu Arkan kesal melihat tingkah adik nya yang tidak juga kunjung dewasa.
"Kenapa, kakak iri sama aku?" tanya Allura menjahili Arkan.
"Ngapain juga kakak iri sama kamu" gerutu Arkan.
"Kak... udah dong, Allura adik kamu jadi kamu harus kasih contoh yang baik untuk dia" sambung Yuuri.
"Kakak ipar aku padamu" ucap Allura.
Allura segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari gembira menuju kakak dan kakak iparnya duduk dan langsung memeluk erat tubuh Yuuri.
"Lura... lepasin istri kakak" ucap Arkan kesal melihat istrinya di peluk adiknya.
"Gak mau, selama ini Lura gak pernah di bela sama kakak malah selalu di kata katain sama kakak dan sekarang Lura punya kakak ipar yang akan selalu manjain Lura" celoteh Lura panjang x lebar.
"Mami... Allura nih mi" adu Arkan pada mami nya.
Mami dan papi hanya bisa tersenyum bahagia melihat kedua anak nya yang sangat menyayangi menantunya.
"Kakak ipar, Lura punya pertanyaan" ucap Lura setelah melepaskan pelukannya pada Yuuri.
"Apa sayang?" tanya Yuuri dengan sangat lembut.
"Kenapa kakak mau nikah dengan kak Arkan yang nyebelin dan udah tua ini?" tanya Allura membuat Arkan sangat kesal.
"Mami... Lura anak siapa sih mi" gerutu Arkan kesal dengan pernyataan adiknya yang seolah menganggap bahwa menikah dengan dirinya tidak ada untungnya.
"Allura anak kesayangan papi Arkan" sambung papi Deriel.
Mami hanya bisa tersenyum bahagia melihat rona bahagia yang ada dalam keluarga sejak Yuuri mulai memasuki keluarga nya.
"Kakak juga gak tahu dek, yang kakak tahu kakak akan menjadi pendamping hidup untuk kakakmu" jawab Yuuri dengan tersenyum lembut.
"Kakak kan cantik baik dan juga berbakat
kalau Lura jadi kakak, Lura gak bakal mau pilih kak Arkan yang nyebelin ini" ucap Lura.
Arkan yang kesal langsung menarik rambut adiknya.
"Aw... sakit tahu gak sih kak" pekik Lura sembari mengelus rambutnya yang di tarik Arkan.
"Kak... kasian Lura nya, masa rambutnya cantik cantik di tarik gitu, sakit loh sayang" ucap Yuuri.
"Iya sayang, gak di ulang lagi kok" sambung Arkan menuruti istrinya.
"Baru kali ini Lura lihat kak Arkan gak debat sama orang, biasanya kan dia ngeselin" gerutu Lura yang kaget melihat kelakuan kakak nya yang sangat manja dengan kakak iparnya.
"Diam deh adek ku yang cantik" ucap Arkan kesal tapi dengan bahasa yang lembut.
"Sejak kapan juga kak Arkan bisa memuji Allura?" tanya Allura semakin bingung.
"Allura, kak udah ya jangan pada berantem lagi, sebentar lagi kita bakalan naik ke pesawat" ucap Yuuri menengahi kakak beradik itu.
"Apa yang di katakan menantu kesayangan mami benar, udah hentikan perdebatan kalian berdua" sambung mami Leya.
*
*
*
Hai readers, udah lama ya author gak up, maaf banget ya readers author lagi banyak kerjaan aja nih....
Selamat menikmati kembali karya author ya readers.
Happy reading for readers.