
Yuuri langsung melanjutkan kembali kegiatannya setelah kepergian Arkan.
"Ami... where is my Daddy? Ami... dimana Daddy ku?" tanya Zia ketika dia kembali ke dapur.
Hahaha... tawa Yuuri langsung pecah mendengar Zia menanyakan keberadaan Arkan, karena dia kembali mengingat kembali wajah kesal Arkan yang terkena semburan air yang di minumnya.
"Ami!... Daddy mana, kenapa Ami malah tertawa dan tidak menjawab pertanyaan Zia" Zia protes kesal dengan kelakuan Ami.
Yuuri langsung menghentikan tawanya ketika mendengar suara Zia yang protes.
"Zia, Daddy ada di toilet" ucap Yuuri yang telah menghentikan tawanya.
"Zia susul Daddy dulu Ami" ucap Zia.
Zia pun pergi lagi untuk menyusul Arkan yang sedang ada di toilet dengan berlari, karena keasikan berlari dan tanpa memperhatikan sekitarnya Zia pun tanpa sadar menabrak kaki seseorang.
"Aw!... sorry" pekik Zia sembari mengusap kepalanya yang menabrak orang dewasa.
"Are you okay Zia? apa kamu baik baik saja Zia?" tanya Daddy Arkan.
"Daddy... Ami said you are the toilet
Daddy... kata Ami kamu ada di toilet" ucap Zia bingung melihat Arkan sudah ada di hadapannya.
"Iya tadi Daddy dari toilet, tapi sekarang sudah selesai" ucap Arkan.
"Oh gitu" Zia.
"Kamu mau ke mana Zia?" tanya Daddy Arkan.
"Mau menyusul Daddy karena Zia ingin memeluk Daddy" ucap Zia.
Arkan langsung sigap memeluk tubuh mungil Zia serta menggendongnya dengan sangat erat.
"Thank you bonekanya Daddy, and thank you for loving Ami so much...
terimakasih untuk bonekanya Daddy, dan terimakasih sangat mencintai Ami..." bisik Zia di telinga Arkan.
"Sama sama sayang" balas Arkan.
"Zia titip Ami ya Daddy, tolong jaga Ami dengan baik dan berjanjilah untuk tidak menyakiti Ami" ucap Zia membuat Arkan sangat terkejut mendengarnya.
Bagaimana bisa anak sekecil ini mempunyai pemikiran yang sangat dewasa begini (gumam Arkan dalam hati).
"Daddy..." Zia.
"Iya sayang, Daddy berjanji akan menjaga Ami dengan nyawa Daddy sendiri" ucap Arkan.
Apa aku berdosa karena telah mempermainkan sebuah pernikahan, karena aku belum memiliki perasaan sepenuhnya terhadap Yuuri tapi sekarang aku malah mempunyai janji dengan anak kecil ini (Arkan menjadi bingung sendiri dengan apa yang akan dia lakukan ke depannya.
"Daddy, aku belum selesai membantu Ami di dapur" ucap Zia.
"Baiklah tuan putri, sekarang kita akan membantu Ami di dapur ya" Arkan langsung membawa Zia yang ada di gendongan nya ke dapur, dimana Yuuri sedang asik mengiris bengkoang.
Arkan dan Zia dengan usil mengerjai Yuuri yang tidak menyadari keberadaan mereka berdua, Zia langsung meminta turun dari gendongan Arkan dan berniat mengejutkan Ami Yuuri, karena Zia sangat tau kalau Yuuri tipe orang yang sangat mudah kaget.
"Ami!..." Zia mengeraskan suaranya ketika memanggil Yuuri.
Membuat Yuuri langsung terkaget dan hampir saja terjatuh tapi dengan cepat Arkan langsung menangkap tubuh Yuuri agar tidak terjatuh, mata mereka bertemu dan saling menatap.
"Cie Ami sama Daddy..." goda Zia.
Mereka berdua langsung gugup dan tersadar mendengar suara Zia yang menggoda mereka berdua.
"Lepasin kak!" titah Yuuri.
Dengan cepat Arkan langsung melepaskan Yuuri membuat Yuuri yang tidak seimbang akhirnya terjatuh ke lantai.
"Aw!... sakit nih, gak berperasaan banget sih jadi calon suami" gerutu Yuuri sembari menggosok pinggangnya yang terbentur lantai.
"Katanya tadi minta di lepasin, ya udah aku langsung lepas, lagian kamu nih lucu banget sih di tolongin bukannya bilang terimakasih malah marah marah gak jelas begini" Arkan ikut kesal.
"Ami sama Daddy kenapa jadi berantem?" Zia menjadi bingung dengan kehidupan orang dewasa.
"Sini aku bantu" ucap Arkan sembari mengulurkan tangannya memberi pertolongan.
Yuuri langsung meraih tangan Arkan dan menariknya sehingga dia bisa kembali berdiri lagi.
"Terimakasih" ucap Yuuri.
"Ami, Daddy... biasanya kalau ayah dan bunda baikan lagi, ayah sering meluk bunda dan bilang I love you" celetuk Zia.
"Zia, itu kan_" Yuuri.
Yuuri langsung terdiam ketika dirinya di peluk oleh Arkan.
"I love you" ucap Arkan di telinga Yuuri.
"Berhenti drama yang berlebihan begini" bisik Yuuri di telinga Arkan agar Zia tidak mendengarnya.
"Diam lah... jangan buat orang berpendapat kalau kita mempermainkan pernikahan" balas Arkan di telinga Yuuri.
Setelah mengatakan itu, Arkan langsung melepaskan pelukannya pada Yuuri lalu mengelus lembut rambut Yuuri.
"Zia senang melihat Daddy sangat menyayangi Ami begitu" ucap Zia.
"Daddy akan menepati janji Daddy sayang" bisik Arkan di telinga Zia.
"Zia senang mendengarnya Daddy" ucap Zia dengan suara yang besar.
"Senang mendengar apa Zia sayang?" tanya Yuuri bingung arah percakapan Zia dan Arkan.
Duh gawat nih kalau Zia buka suara, bisa malu banget aku (gumam Arkan dalam hati).
"Udah selesai dek?" tanya kak Rida dari kejauhan.
"Oh iya kak, ini udah kok" ucap Yuuri.
"Ami mau susun makanan nya ke meja dulu ya Zia sayang" ucap Yuuri lalu berlalu meninggalkan Arkan Zia.
Syukurlah kak Rida keburu datang (gumam Arkan yang bernafas lega).
"Ada apa Daddy?" tanya Zia yang melihat Arkan menghembuskan nafasnya.
"Itu Zia, kamu... kamu jangan bilang Ami janji yang Daddy buat" ucap Arkan.
"Kenapa jangan Daddy?" tanya Zia bingung.
"Ini rahasia kita berdua sayang" ucap Arkan.
"Baiklah Zia tidak akan mengatakannya tapi ada syaratnya" ucap Zia tersenyum nakal.
"Baiklah apa syaratnya?" tanya Arkan pasrah.
"Bawa Zia ke taman hiburan pasar malam" ucap Zia dengan tersenyum manis.
"Aduh Zia... apa di bolehin sama ayah bunda?" tanya Arkan yang terlihat frustasi mendengar syarat dari Zia.
"Kalau Daddy gak_" Zia.
"Iya...iya... Daddy bakal bujuk ayah bunda" ucap Arkan dengan sangat terpaksa.
"Hore... asik... terimakasih Daddy..." ucap Zia sembari memeluk erat Arkan.
"Iya sama sama Zia" balas Arkan.
"Daddy ayo kita ke meja makan" ajak Zia sembari menarik tangan Arkan.
Arkan hanya bisa pasrah ketika tangannya sudah di tarik Zia menuju meja makan.
"Zia kenapa tangan Daddy di tarik begitu sayang?" tanya bunda Rida melihat Zia menarik tangan Arkan.
"Maaf bunda, Zia_" Zia langsung melepaskan tangan Arkan.
"Enggak apa kak, dia anak yang manis kok" sambung Arkan yang tau kalau Zia merasa bersalah.
"Maafkan kelakuan Zia ya Arkan, dia emang begitu, terlalu aktif dan ekspresif" ucap bunda Rida.
"Arkan gak apa kak, malah dia terlihat sangat lucu dan manis" ucap Arkan.
"Oh ya, Yuuri mana kak?" tanya Arkan yang tidak melihat Yuuri di meja makan.
"Yuuri lagi nemuin sepupunya dan sahabatnya yang baru datang dari Bali" jawab Rida.
"Zia bisa tolong panggilkan semua orang buat sarapan bareng sayang" bunda Rida meminta bantuan Zia.
"Biar Arkan saja kak" Arkan menawarkan diri untuk membantu.
"Gak perlu Arkan, kamu duduk aja karena Zia sudah terbiasa melakukannya dan dia sangat senang" sambung Aga.
"Yang dikatakan ayah benar Daddy, Zia kan anak pintar" ucap Zia lalu pergi meninggalkan dapur.
"Silahkan duduk Arkan sambil menunggu semua orang datang" ucap Aga.
Mampus nih, abangnya Yuuri kok mukanya serius banget ya, tegang nih badan (gumam Arkan dalam hati).
"Iya bang" jawab Arkan.
"Saya boleh bertanya sesuatu?" tanya bang Aga.
Aduh... mau nanya apalagi nih Abang abang, enggak tau apa badan ku jadi tegang gini (gerutu Arkan dalam hati).
"Hm... mau nanya apa ya bang?" bukannya menjawab pertanyaan bang Aga, Arkan malah balik bertanya.
"Kenapa berniat menikahi adik saya?" tanya bang Aga serius.
"Ayah..." Rida.
"Karena... karena niat saya ingin menyempurnakan agama saya dan saya juga meniatkan pernikahan ini sebagai ibadah" jawab l Arkan dengan tubuh yang masih menegang karena takut salah bicara.
"Begini ya Arkan, jika betul niat kamu seperti itu, saya harap kamu juga menjalani rumah tangga mu dengan adik saya dengan pedoman agama" ucap bang Aga tegas.
"Insyaallah saya akan menjalani sesuai dengan yang agama anjurkan bang" ucap Arkan masih tegang karena dia kembali membuat janji dengan keluarga Yuuri.
Ya Allah... kuatkan hamba mu ini, aku benar benar terjebak sekarang dengan janji yang aku baut sendiri (gumam Arkan dalam hati).
"Sekali saja kamu menyakiti adik saya, jangan harap kamu bisa lolos dengan mudah dan tolong berjanjilah untuk membahagiakan adik saya" ucap bang Aga dengan tatapan mengintimidasi nya.
"Saya berjanji bang, saya akan mengutamakan kebahagiaan Yuuri di atas kebahagiaan saya" ucap Arkan.
"Saya akan menagih janji ini jika suatu saat nanti kamu memperlakukan adik saya dengan tidak baik" ucap Aga tegas.
"Baik bang, saya akan selalu mengingat janji yang saya buat" ucap Arkan.
"Ayah udah..." ucap Rida.
"Iya bunda" ayah Aga.
*
*
*
Happy reading readers...