Breath Without Love

Breath Without Love
Perpisahan



Ibu Rita sengaja memasak makanan kesukaan Yuuri, apalagi hari ini Yuuri dan keluarga dari suaminya akan segera berangkat ke Jakarta dan kembali pada aktivitas biasanya.


"Pagi ibuk..." sapa Arkan sembari mengambil air putih di kulkas.


"Pagi menantu baru, seger banget pagi pagi gini udah minum air dingin" ucap ibu Rita.


"Iya buk, haus nih" sambung Arkan.


"Si Yuuri ke mana Arkan?" tanya ibu Rita.


"Lagi packing peralatan kita buk, ibuk masak apa nih?" tanya Arkan yang mulai mencium harum nya aroma masakan ibu Rita.


"Ini bekal buat kalian, ada sayur capcay nya juga" jawab ibu Rita.


"Capcay?" Arkan.


"Sayuran kesukaannya si Yuuri itu Abang ipar" sambung Fahira yang tiba tiba saja muncul di dapur.


"Oh dia suka sayuran, pantas aja kulitnya bagus banget gitu" celetuk Arkan.


"Tunggu... tunggu... tunggu..." Fahira.


"Ada apa?" tanya ibu bingung.


"Bukan ibuk... tapi Abang ipar" sela Fahira.


"Aku kenapa?" tanya Arkan bingung sembari kembali minum.


"Kamu yang jadi supir taksi online yang kak Yuuri pesan ke tujuan bandara malam malam" Yuuri mengingat kembali kejadian ketika mereka akan berangkat ke Bali dengan penerbangan malam hari.


Arkan yang mendengar ucapan Yuuri langsung tersedak air yang sedang di minum nya.


"Kamu gak apa nak?" tanya ibu Rita khawatir pada menantunya.


"Aku gak apa kok buk" jawab Arkan dengan wajah yang sudah memucat.


Bagaimana gadis ini bisa ingat kejadian malam itu, padahal bertemu juga baru kali itu tapi kok bisa ya dia ingat banget sama aku (gerutu Arkan kesal kalau ternyata Fahira sangat mengingat dirinya).


"Benar kan itu Abang ipar" tebak Fahira.


"Fahira..." ibu Rita melotot melihat tingkah keponakan nya.


"Ibuk.... Fahira kan bertanya" gerutu Fahira kesal.


"Kamu bertanya atau mengintrogasi menantu ibu?" tanya ibuk Rita.


Untung aja punya mertua baik banget dan penyayang lagi, love you ibu mertua (gumam Arkan dalam hati).


"Ibuk...." Fahira.


"Ada apa pada ribut pagi pagi begini juga" bang Aga datang menghampiri kegaduhan di dapur.


Semua orang langsung diam dan tidak ada yang berani berbicara siapa yang salah dan siapa yang benar.


"Bang, Arkan balik ke kamar dulu ya mau bantuin Yuuri" ucap Arkan berlalu meninggalkan mereka semua.


"Iya" jawab bang Aga.


"Fahira... Ibu... kenapa kalian berisik sekali pagi ini" Aga memerhatikan ibu yang sedang memasukan makanan ke tempat bekal dan menatap Fahira yang mengambil buah di dalam kulkas.


"Fahira...." seru bang Aga.


"Iya bang, Fahira sama ibu tadi cuma debat kecil aja kok" Fahira menatap ibu.


"Iya nak, biasa lah si Fahira kan titisan Adek mu si Yuuri yang sangat suka debat sama ibu" sambung ibu Rita.


"Ibu kok gitu sih, nyebelin..." gerutu Fahira lalu pergi meninggalkan bang Aga dan ibu Rita di dapur.


"Gak nyangka banget dia juga bakalan menikah bentar lagi" ucap bang Aga melihat tingkat Fahira yang sangat tidak dewasa.


"Dia selalu bisa menghibur ibuk ketika kalian sedang tidak ada di rumah ini" ucap ibu Rita.


"Pasti ibu bakalan kangen banget ngerjain dia ya buk" ucap Aga sembari tersenyum menatap ibunya yang sudah tidak muda lagi.


"Iya nak, pasti kangen banget ngomel sama kalian semua seperti waktu kalian masih pada kecil kecil" ucap ibu.


"Buk... gimana kalau ibu tinggal sama Aga dan Rida aja biar ibu gak kesepian, lagian ada si cerewet Zia yang bisa menemani ibu" Aga menggenggam erat tangan ibu Rita.


"Ibu di sini aja nak, ibu gak mau buat susah anak anak ibu" tolak ibu Rita dengan halus.


"Buk... biar ibu dekat sama Zia ya" rayu Aga agar ibunya mau ikut dengannya.


"Kalau ibu ikut Yuuri aja gimana buk?" tanya Yuuri yang berjalan menghampiri Abang dan ibunya.


"Kalian berdua kenapa pada minta ibu tinggal sama kalian?" tanya ibu Rita bingung sekaligus terharu kalau kedua anaknya memperebutkan dirinya.


"Yuuri juga khawatir kalau ibu sendiri di rumah" ucap Yuuri sembari menggenggam tangan ibu Rita.


"Ibu biar sama Abang aja lah dek" sambung bang Aga.


"Tapi bang... Yuuri juga mau ibu tinggal dengan Yuuri" Yuuri.


Ibu Rita hanya tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya yang tidak pernah akur sedari kecil karena ada ada saja yang selalu di perebutkan oleh mereka berdua.


"Udah... ibu kan di sini masih tinggal sama Fahira" ibu Rita tersenyum menatap kedua anaknya.


"Untuk sekarang, ibu punya aku" sambung Fahira yang berlari dan memeluk ibu Rita.


"Enak aja... ini ibu aku" gerutu Yuuri.


"Nak... kamu udah bersuami jadi kamu harus bersikap lebih dewasa lagi ya" ucap ibu Rita.


"Dengerin tuh kak kata ibu kakak itu harus lebih dewasa" Fahira menjulurkan lidahnya pada Yuuri untuk mengejeknya.


"Kalian berdua seperti anak kecil saja, manja...." Aga pergi meninggalkan mereka semua.


"Abang tuh yang manja" ketus Yuuri dan Fahira bersamaan.


Bang Aga yang malas menimpali kedua adiknya hanya berlalu tanpa membalas ucapan keduanya dan membuat mereka berdua tertawa setelah nya.


"Kamu juga harus belajar lebih dewasa Fahira sayang" ucap ibu Rita menatap keponakannya.


"Kenapa Fahira ibu.... Fahira kan belum menikah?" tanya Fahira bingung.


"Kamu belum nikah, tapi bentar lagi juga bakalan menikah Fahira..." gerutu Yuuri geram dengan tingkah Fahira.


"Oh iya kak... Fahira hampir lupa kalau Fahira bakalan nikah dalam hitungan bulan lagi" Fahira tersenyum mengingat kebodohannya yang melupakan kalau dia akan menikah dalam waktu dekat ini.


"Udah sana duduk, ayo kita sarapan dulu anak anak" ucap ibu Rita yang sudah menyiapkan semuanya.


"Ibu masak capcay ya?" tanya Yuuri antusias.


"Iya sayang.... ayo cepat panggil suami dan keluarga baru mu" ucap ibu kembali menyiapkan sarapan dan Yuuri segera pergi.


"Fahira.... panggil semua orang ya, ajak sarapan lesehan bareng ya" ucap ibu.


"Siap buk bos" jawab Fahira lalu pergi untuk memanggil orang agar sarapan bersama.


Semua orang sudah berkumpul untuk makan bersama dan menikmati hidangan yang sudah ibu Rita siapkan.


Setelah sarapan pengantin baru beserta keluarga dari pihak pengantin laki lakinya pamit untuk segera pergi.


Yuuri memeluk erat tubuh renta sang ibu yang akan segera berpisah darinya dengan air mata yang ikut mengalir di pipi ibu dan anak itu.


"Jaga diri kamu baik baik ya nak, baik baik sama suami ataupun keluarga suami mu, jangan anggap mereka mertua mu nak tapi anggaplah dia itu ibu dan ayah mu sendiri" nasehat ibu untuk putri semata wayangnya.


"Iya ibu... Yuuri akan selalu ingat pesan ibu" Yuuri beralih kepada abangnya, sedangkan ibu kini berhadapan dengan sang menantunya.


"Tolong jaga anak ibu baik baik dan bimbing dia agar menjadi istri yang sholehah, ibu titip dia ya nak dan jangan pernah sakiti hatinya karena itu sama saja kamu melukai kami semua dan jika ada masalah tolong di bicarakan baik baik ya, jangan pernah mencari kelebihan apapun pada wanita lain jika kamu tidak dapatkan dari istri mu" ibu Rita memeluk erat menantu nya.


"Insyaallah iya buk, Arkan akan mengingatnya" jawab Arkan.


Yuuri memeluk erat abangnya yang sudah lama mengganti kan posisi ayahnya yang sudah lama tiada.


"Sekarang adek kesayangan Abang sudah menjadi istri, jadi Abang berharap kamu selalu bahagia dengan pilihan mu sayang, turuti suami mu jika itu demi kebaikan ya, ridho Allah ada pada suami mu sekarang dek dan bukan lagi Abang dan sayangi mertua mu seperti kamu yang selalu sayang ayah dan ibu" Abang Aga juga ikut menasehati adik kesayangannya dan di ikuti anggukan kepala Yuuri karena Yuuri tidak kuat untuk berkata kata lagi.


Sekarang giliran Arkan yang berhadapan dengan bang Aga.


"Abang titip adik Abang satu satunya sama kamu Arkan, tolong jangan sakiti dia dan buatlah dia bahagia di tangan mu" ucap bang Aga.


Yuuri menatap kakak iparnya dan juga keponakan dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


*


*


*


Happy reading para readers....