Breath Without Love

Breath Without Love
Salam Perpisahan



Yuuri terdiam termenung beberapa hari di dalam kamarnya, mengingat kembali ucapan mami Leya yang ingin dia dan Arkan segera menikah bulan depan.


Kenapa bisa jadi begini sih, aku masih sangat mencintai kak Vino... (gumam Yuuri yang mulai meneteskan air matanya).


Kalau begini jadinya seperti aku yang mengkhianati kak Vino, kak Vino? (gumam Yuuri lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya).


Bagaimana aku bisa dengan kak Vino begini, bahkan aku lupa kalau dia akan pergi ke New Zealand hari ini, aku masih punya waktu 2 jam lagi sebelum keberangkatannya (ucap Yuuri sembari memesan taksi online dari ponselnya sembari keluar dari kamarnya setelah selesai bersiap siap).


"Nona mau pergi kemana, kenapa terburu buru?" tanya mbak Nana yang melihat Yuuri menuruni tangga dengan cepat.


"Oh iya mbak, aku ada kerjaan tapi aku lupa, aku pergi duluan ya" ucap Yuuri sembari berlari keluar rumah dan masuk ke dalam taksi online yang sudah datang.


"Pak ke bandara ya sekarang" ucap Yuuri sembari terus menelpon Vino.


"Siap mbak sesuai aplikasi" jawab sopir taksi online.


Kak Vino... angkat dong, Yuuri mohon (gumam Yuuri gelisah sambil terus menelpon Vino).


Sedangkan Vino sedang dalam perjalanan menuju bandara dengan diantar oleh sopirnya.


Yuuri yang sudah pergi lebih dulu ke bandara dan tau semua informasi tentang keberangkatan Vino dari adiknya Shira.


Kata Shira dia belum datang dan sedang dalam perjalanan menuju bandara (gumam Yuuri yang sudah sampai di bandara).


Yuuri menunggu Vino di bandara cukup lama sampai akhirnya dia melihat mobil yang berhenti di depannya, mobil yang sangat dia kenal berhenti tepat di depannya.


Ketika sang pemilik mobilnya keluar dan membawa koper di tangannya sembari berjalan dengan kaca mata hitamnya.


Kak Vino... iya itu benar kak Vino (gumam Yuuri dengan terdiam kaku di tempat nya).


Sedangkan Vino sama sekali tidak menyadari kehadiran Yuuri yang sudah menunggunya dari tadi, karena semenjak hari itu Vino tidak lagi menghubungi Yuuri.


Yuuri langsung berlari menuju Vino dan memeluknya dengan tiba tiba dengan buliran bening yang mengalir di pipinya.


"Yuuri..." Vino kaget ketika Yuuri memeluknya erat.


"Kak... aku kangen" ucap Yuuri yang masih enggan melepaskan pelukannya.


"Kamu tau dari mana aku ada di sini?" tanya Vino bingung.


"Shira yang kasih tau semua tentang kakak ke aku" jawab Yuuri yang masih memeluk erat Vino.


"Sayang... maafkan aku" ucap Vino dengan merasa sangat bersalah pada Yuuri.


"Jangan minta maaf kak, kamu gak salah... mungkin kita memang gak jodoh" ucap Yuuri melepaskan pelukannya perlahan.


"Aku akan tinggal di New Zealand sebelum pernikahan aku berlangsung" ucap Vino dengan sedih.


"Aku ikhlas kak... aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi sama aku, semoga semuanya akan berakhir indah dengan jalannya masing masing" ucap Yuuri yang menatap mata Vino.


"Apa kamu bisa menjalani ini semua sayang?" tanya Vino bersalah.


"Aku bisa kak... aku yakin aku bisa, semoga kakak selalu bahagia ya" ucap Yuuri hendak pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Vino yang menghentikan langkah kaki Yuuri karena tangannya di tahan oleh Vino.


"Aku mau pergi kak" ucap Yuuri menghentikan langkahnya dan menghadap Vino.


"Disini lah dulu, temani aku sebelum penerbangan" ucap Vino memelas.


Yuuri nampak memikirkan ucapan Vino dan akhirnya menurutinya dan mereka berjalan mencari tempat untuk dudu sambil menghabiskan waktu sebelum penerbangan.


"Aku senang bisa melihat kamu lagi di sini" ucap Vino tersenyum manis menatap Yuuri yang sudah menghapus air matanya.


"Kamu habis nangis ya" ucap Vino menatap Yuuri.


"Enggak kok, mana ada" ketus Yuuri malu ketahuan nangis.


"Ayo... ngaku aja deh, sayang banget ya sama aku" goda Vino tersenyum nakal.


"Dasar nyebelin banget sih, udah mau nikah juga masih aja nyebelin" gerutu Yuuri dengan kesal.


"Maaf sayang..." ucap Vino.


"Kakak harus biasakan jangan manggil aku sayang lagi ya, kasian sama Anna kalau kakak masih aja bertingkah seperti ini" ucap Yuuri.


"Iya sayang, tapi aku gak janji ya" sambung Vino.


"Kebiasaan banget deh nyebelin nya, oh ya... tadi aku berhenti di mini market ketika ke sini, aku beliin roti sandwich buat kakak" ucap Yuuri sembari membuka kantung kresek yang berisi makanan dan minuman yang dia beli dengan terburu buru.


"Karena suka banget kak" sambung Yuuri sambil tersenyum manis pada Vino.


"Gimana caranya agar aku bisa melupakan kamu?" tanya Vino yang menatap sedih pada Yuuri yang menyuapi roti ke dalam mulut Vino.


Seandainya jika kamu tau tentang aku yang akan segera menikah dengan seseorang bulan depan, kamu pasti sangat terkejut jika kamu tau kak (gumam Yuuri dalam hati merasa sedih).


"Kamu kenapa mukanya sedih gitu sayang?" tanya Vino yang melihat Yuuri tiba tiba saja merasa sedih.


"Gak kok kak, aku cuma gak nyangka semuanya bakalan jadi begini" ucap Yuuri menundukkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita menikah secepatnya" ucap Vino memberi ide gilanya.


"kakak gila... nikah tanpa restu orang tua itu gak baik kak" sambung Yuuri yang tidak setuju.


"Kita sama sama tersakiti jika begini sayang" ucap Vino menangkup kedua pipi Yuuri sembari menatap kedua mata Yuuri.


"Iya aku tau... tapi aku juga gak bisa menikah tanpa restu orang tua kamu begini, ikuti saja jalan cerita yang sudah Allah takdirkan untuk kita kak" ucap Yuuri pelan.


"Yuuri... aku mencintaimu... sangat mencintai, walaupun nanti aku sudah menikah dengan orang lain tapi hati aku masih tetap untukmu" ucap Vino sedih.


"Aku tau kamu sangat mencintaiku kak... tapi jika kamu nanti sudah menikah, belajarlah perlahan mencintai orang yang sudah kamu nikahi kak dan bersyukurlah atas apa yang kamu miliki dan aku harap Anna tidak akan pernah mengecewakanmu dan keluargamu" ucap Yuuri yang masih memikirkan teman yang selama ini menemaninya di kampus.


"Bagaimana bisa kamu memintaku mencintai orang lain selama kamu masih sangat melekat dalam hati ku" protes Vino tidak terima dengan ucapan Yuuri dan menurunkan tangannya dari pipi Yuuri.


"Bisa kak... aku yakin kamu bisa, aku harus melepaskan aku dari hatimu perlahan" ucap Yuuri.


"Gak bisa... aku gak bisa dan gak mau" ucap Vino memalingkan wajahnya dari Yuuri.


"Kak... gak bisa gitu, kakak akan sangat tersiksa jika tidak melakukannya" ucap Yuuri.


"Aku pergi dulu..." ucap Vino yang hendak berangkat dari duduk dan berjalan melangkahkan kakinya untuk check in.


Yuuri yang melihat Vino berangkat dan bergegas berjalan masuk karena merasa kesal dengannya langsung ikut berangkat dan menyusul Vino yang berjalan dengan berlari kencang ke arah Vino dan langsung memeluk Vino dari belakang sehingga membuat langkah Vino terhenti.


"Jangan marah kak... jangan pernah pergi dalam keadaan marah, maafkan aku ya... aku gak punya niat buat kakak kesal, aku selalu berharap kebahagian atas kakak" ucap Yuuri yang masih memeluk erat Vino dari belakang.


Vino yang awalnya terdiam kaku akhirnya mengulur tangannya mengelus lembut kedua punggung tangan Yuuri.


"Maafkan aku yang sudah baut kamu menderita begini" ucap Vino.


"Hei... hei... kenapa kakak yang minta maaf, kakak gak salah" ucap Yuuri yang melepaskan pelukannya dan berjalan berjalan menghadapi Vino.


"Maafkan kedua orang tua aku juga ya, pasti mereka sangat menyakiti mu" ucap Vino dengan meneteskan air matanya.


Yuuri menatap sendu Vino yang meneteskan air matanya lalu tangannya terulur untuk menghapus air mata Vino.


"Kenapa cengeng banget sih, udah gede loh" ejek Yuuri yang masih menghapus jejak air mata Vino.


"Aku pergi ya... jaga diri kamu baik baik dan jangan tinggalkan rumah yang sudah aku berikan untukmu" ucap Vino.


"Tapi kak... bagaimana kalau kedua orang tua kakak tau" ucap Yuuri takut.


"Tenang saja... rumah itu sudah sertifikat atas nama kamu dan mama sama papa gak tau soal itu kecuali Shira dan Shira sendiri yang akan mengantar sertifikasi nya" ucap Vino.


"Terus... bagaimana aku bisa menggaji orang yang bekerja di rumah itu?" tanya Yuuri bingung.


"Tenanglah sayang... mereka semua masih tanggung jawab aku, aku yang membayarnya" ucap Vino tersenyum lembut menatap Yuuri.


"Terimakasih kak" ucap Yuuri yang langsung memeluk erat Vino kembali.


"Iya sayang kakak pergi ya" ucap Vino.


"Baiklah... hati hati ya, save flight dan jaga diri kakak baik baik dan jangan lupa juga buat jaga kesehatan nya" ujar Yuuri sembari melepaskan pelukannya.


"Siap nona bos" ucap Vino.


Vino pun berlalu pergi meninggalkan Yuuri yang menatap kepergiannya.


Selamat jalan kak, semoga kakak selalu bahagia ya... salam perpisahan dari aku, karena aku gak tau bakalan bisa ketemu kakak lagi atau gak... yang aku tau aku sudah memberikan salam perpisahan sebelum aku menikah, walaupun aku gak tau ini akan menjadi baik untuk aku atau gak dan pasti akan sangat menyakiti kakak kalau kakak tau tentang pernikahan ku (gumam Yuuri yang masih diam berdiri di tempat dia memberikan salam perpisahan nya).


*


*


*


Happy reading readers...