Breath Without Love

Breath Without Love
Perjodohan Dadakan



2 Minggu kemudian


Setelah acara pembukaan kafe dan restoran di Jakarta, Zei mengundang Shira, Vino dan dr.Salsha untuk makan malam bersama.


"Selamat datang uncle dan aunty semua" sapa Kai ramah.


"Terimakasih" jawab mereka.


"Uncle terlihat cocok dengan aunty dokter" ucap Kai.


"Kai..." Yuuri.


"Momy... Kai serius, aunty dokter sangat lah cantik dan uncle juga tampan" sambung Kai.


"Hai boy kau sedang menjodohkan ku?" tanya Vino.


"Seperti nya begitu uncle biar aku juga punya adik dari uncle" sambung Kai.


"Bagus sekali niat mu Kai, aunty setuju" sambung Shira tersenyum.


"Shira...." Vino menatap tajam Shira.


"Maaf ya membuat mu tidak nyaman dokter" ucap Yuuri.


"Salsha aja jangan terlalu formal" sambung Salsha.


"Iya Salsha, maaf ya omongan Kai jangan terlalu di pikirkan" ucap Yuuri.


"Santai aja" sambung Salsha.


Vino melirik Salsha sekilas.


"Cantik..." gumam Vino dalam hati.


"Uncle kalau mau lihat ya lihat aja gak perlu main lirik lirik" ucap Kai tertawa melihat tingkah Vino yang seperti anak kecil.


Dan jangan lupakan seperti apa merahnya wajah Vino ketika Kai memergokinya melirik Salsha.


"Tidak perlu melirik ku" sambung Salsha.


"Salsha... Salsha... dari dulu sifat ketus kamu yang buat cowok pada ngacir kabur" ucap Arkan.


"Dady... aunty dokter itu baik walaupun ketus" sambung Kai.


"Kai pernah bertemu?" tanya Yuuri bingung.


"Pernah mom, Kai gak sengaja ketemu aunty dokter ketika pergi bersama opa 2 hari yang lalu" sambung Kai.


"Kamu manis sekali" puji Salsha.


"Terimakasih aunty, kau juga sangat cantik, nanti jika aunty punya anak yang cantik dan baik hati seperti aunty, Kai akan menjadikannya istri masa depan Kai" ucap Kai.


"Hei boy... kau masih terlalu muda memikirkan istri" sambung Lura.


"Aunty... Kai bisa melindunginya dan bertanggung jawab" sambung Kai.


"Kai..." Yuuri menatap putranya.


"Jika Kai jadi uncle, Kai tidak akan pernah sia siakan kesempatan yang ada, nanti aunty dokter jadi sama yang lain uncle nangis lagi" ledek Kai.


"Baiklah uncle akan pikirkan lagi" ucap Vino.


"Ekhm.... bau bau pernikahan sebentar lagi" sambung Shira.


"Aamiin..." ucap Arkan dan Zei bersamaan.


"Kak mana papi?" tanya Lura.


"Papi ada janji makan malam bersama sahabat nya" sambung Arkan.


"Sudah sudah... ayo kita makan" ucap Yuuri menengahi perbincangan mereka agar tidak membuat dr.Salsha lebih canggung lagi.


Mereka semua langsung menuju ruang makan dan memakan hidangan yang sudah di siapkan oleh Yuuri yang di bantu pelayanan yang ada di rumah.


Setelah selesai makan mereka kembali berkumpul di halaman sembari memakan camilan kue dan teh yang sudah di siapkan Yuuri yang di bawakan para pelayan.


"Salsha kamu punya niat buat nikah?" tanya Yuuri kepo.


"Punya... tapi belum ada yang berani ke rumah meminta langsung pada mama papa" jawab Salsha.


"Punya kriteria gak?" tanya Yuuri lagi.


"Sayang kok kamu kepo banget" sambung Arkan penasaran kenapa sekarang ini istri nya sangat kepo dengan Salsha.


"Kak aku hanya bertanya" ucap Yuuri tersenyum.


"Kriteria yang berarti sih gak punya palingan yang setia dan bertanggung jawab aja sih karena di zaman sekarang Setia dan tanggung jawab itu mahal harganya" sambung Salsha tersenyum.


"Aunty dokter sangat cocok dengan uncle Vino" ucap Kai.


"Hei boy... kau benar sekali" sambung Shira.


"Lagian jika kak Vino bukan tipe yang bertanggung jawab gak mungkin kak Vino bisa menjaga kak Yuuri dan Kai dengan sangat baik" sambung Lura.


"Lura jangan menyindir" gerutu Arkan.


"Dady... ayolah jangan merusak suasana yang sangat baik ini" ucap Kai.


Dengan berat hati Arkan mengalah dan menghela nafas dengan berat hati.


"Sayang tenanglah, kita semua menginginkan yang terbaik untuk Salsha dan Vino" sambung Yuuri tersenyum sembari mengelus lengan suaminya agar bisa meredakan sedikit emosional nya membuat Arkan tersenyum menatap istrinya.


"Kalian semua menjodohkan kami?" tanya Vino menatap tak percaya pada semua yang sedang berkumpul.


"Ayo lah uncle menikahlah dengan aunty dokter nanti Kai akan menikahi anak kalian yang perempuan" sambung Kai antusias.


"Seperti nya hubungan yang di paksakan itu tidak baik" sambung Salsha santai padahal di dalam hatinya dia sangat gugup.


"Apa yang di ucapkan dokter Salsha itu benar" ucap Vino.


"Bukan maksud kita begitu, apa salah nya kalian memulai perkenalan yang lebih baik lagi siapa tau merasa cocok ke depannya" sambung Yuuri.


"Yuuri... kau sangat tau kakak seperti apa" ucap Vino memelas.


"Karena kak Yuuri sangat mengetahui kakak seperti apa itulah yang membuat kak Yuuri mendukung kakak dengan dokter Salsha" sambung Shira.


"Okay... tapi bagaimana jika mama papa kita gak terima seperti dulu kakak memperkenalkan Yuuri pada mereka yang berakhir dengan kehancuran kakak sendiri" sambung Vino mengingat masa lalunya yang hancur karena orang tuanya.


"Jangan sebut aku dokter Salsha jika tidak bisa menaklukkan seseorang" celetuk Salsha.


"Nah kak Salsha setuju artinya" sambung Lura.


"Aku keceplosan" gumam Salsha.


"Baiklah baiklah, kita tidak ingin menolak dan tidak juga ingin mengiyakan dengan mudahnya" sambung Vino.


"Lalu?" tanya Yuuri penasaran.


"Aku akan segera menikahi dokter Salsha jika dia berhasil menaklukkan kedua orang tua kami yang sangat egois dan keras kepala" sambung Vino.


"Aku bukan takut dengan orang tuamu, melainkan dengan mu karena aku punya trauma yang dalam mengenai pria yang ada di masa lalu ku" ucap Salsha.


"Aku bisa membantumu menyembuhkan trauma mu karena masa lalu mu itu" sambung Vino.


"Jadi dokter Salsha besok mulai lah datang ke kediaman kami akan Shira kirim nanti alamat nya ya" ucap Shira tersenyum.


"Semoga saja kak Vino bisa berjodoh dengan dokter Salsha karena dia sangat baik dan luar biasa menurutku" gumam Shira dalam hati.


"Semoga Salsha pilihan terbaik untuk kak Vino" gumam Yuuri dalam hati.


"Oh ya ini sudah terlalu larut" ucap Salsha tiba tiba.


"Mau pulang sekarang?" tanya Yuuri.


"Iya... mau telpon sopir dulu" jawab Salsha.


"Biar kita yang antar" sambung Vino inisiatif.


"Eh jangan gak perlu repot" ucap Salsha gak enak hati.


"Dokter Salsha jangan menolak anggap saja langkah awal pendekatan ya karena kebetulan ini juga sudah terlalu larut malam jadi kami juga harus pulang" sambung Shira tersenyum.


"Ikut aja kak, pendekatan..." ucap lura meledek.


"Kakak sama adik sama sama menyebalkan" gerutu Salsha.


"Kenapa bawa bawa aku, yang menyebalkan itu Lura" gerutu Arkan menatap tajam Salsha.


"Tatapan matamu bisa melukainya" sambung Vino.


"Aduh yang sudah berpawang" celetuk Lura.


"Lura hentikan" sambung Yuuri membuat Lura hanya bisa tersenyum sembari nyengir mendapat teguran dari kakak ipar yang sangat di sayangi nya.


"Aunty Lura kapan berpawang?" pertanyaan Kai membuat Shira terdiam dan kesal.


"Kai..." Yuuri menatap tajam putranya.


"Sorry momy, oh ya aunty Shira juga kapan punya pawang?" sekarang giliran Shira yang di buat kesal atas pertanyaan Kai.


"Kai..." Arkan menatap tajam putranya.


"Baiklah baiklah.... Kai tidak akan bertanya lagi" sambung Kai.


"Ya sudah kita pamit pulang dulu ya" ucap Vino.


Akhirnya mereka bertiga pulang dan dokter Salsha pulang bersama dengan Vino dan Shira.


*


*


*


Happy reading readers 🤗🤗🤗


tolong vote dong biar dukung author buat sering sering up, jadi author nya semangat terus buat up 😉


"