Breath Without Love

Breath Without Love
Berduka



Setelah sekian lama tidak mendapatkan kabar dari mami Leya membuat Yuuri semakin gelisah saja karena hanya diri nya lah yang tahu kondisi mami Leya dan apa yang sedang mami Leya perjuangkan, ya mami Leya sedang memperjuangkan kehidupannya agar bisa lebih lama lagi bersama keluarganya.


Yuuri semakin kaget dan tampak gelisah mendengar kabar mami Leya yang drop dan tak sadarkah diri.


"Sayang bagaimana kabar mami?" tanya Yuuri menatap suaminya dengan keadaan khawatir terhadap mertuanya.


"Sayang mami... mami udah gak ada" ucap Arkan sembari meneteskan air mata dan memeluk Yuuri.


"Mami...." lirih Yuuri terdiam untuk waktu yang cukup lama dalam pelukan Arkan.


Setelah sekian lama terdiam Yuuri mulai meneteskan air mata dan menangis dalam pelukan suaminya.


"Kenapa mami harus ninggalin aku" ucap Arkan menangis sembari memeluk erat istrinya.


"Mami... mami... harusnya mami segera kembali ke sini" tangis Yuuri benar benar pecah mengetahui mami mertuanya yang sudah tak bernyawa.


Mereka berdua menangis sesenggukan terutama Yuuri sangat menyesal tidak bisa ada di samping ibu mertuanya, karena hanya Yuuri seorang yang mengetahui riwayat penyakit mami Leya.


🌺🌺🌺


Setelah pemakaman selesai Arkan kembali ke kamar dan terduduk di sofa dengan tatapan kosong.


Yuuri yang mencari keberadaan Arkan segera berlari menuju kamar mereka dan mendapati suami sedang duduk di sofa dengan mata yg bengkak dan sembab karena air mata yang tiada henti sedari kemari ketika mengetahui mami kesayangan nya telah pergi untuk selamanya, Yuuri segera berjalan dan menduduki dirinya di sisi suaminya.


Tanpa ingin berbicara apapun pada suaminya Yuuri memeluk erat suami nya yang masih duduk dengan tatapan kosong ke arah luar jendela.


"Sayang kamu masih bersedih?" tanya Yuuri membuka pembicaraan.


Arkan tak mendengarkan ucapannya istrinya yang akhirnya membuat Yuuri semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, sejak kapan disini" ucap Arkan yang baru sadar dari lamunannya.


"Aku sudah dari tadi di sini sayang" Yuuri.


"Maaf aku masih bersedih setiap mengingat mami " ucap Arkan yang merangkul tubuh istrinya.


"Gak apa sayang, aku temani ya" ucap Yuuri tersenyum pada suaminya.


"Terimakasih istriku tercinta" ucap Arkan sembari mencium kening Yuuri.


"Sama suami tersayang" jawab Yuuri sembari duduk di sisi suaminya dan menemani suaminya agar bisa lupakan sedikit saja kesedihannya.


"Sayang aku belum bisa memberikan apa yang mami inginkan" ujar Arkan dalam sedihnya.


"Maksudnya?" tanya Yuuri bingung dengan ucapan Arkan.


"Papi ingin sekali punya cucu tapi sayang nya kita belum di percaya buat punya anak" ucap Arkan menatap Yuuri.


"Maafkan aku keinginan mami tidak tercapai karena aku sayang, aku benar benar minta maaf" ucap Yuuri merasa bersalah tidak bisa mengabulkan keinginan mami mertuanya.


"Sayang gak apa, aku yakin suatu hari nanti kita akan memiliki anak anak sebagai pelengkap di kehidupan rumah tangga kita" ucap Arkan menenangkan Yuuri.


"Tapi sayang..." Yuuri.


"Tenanglah sayang, suatu hari itu akan terjadi" ucap Arkan menenangkan istrinya.


Yuuri yang terharu memeluk erat sang suami yang selalu bisa bersikap dewasa dan mengerti semua tentang nya.


"Sayang jangan bersedih gitu lah" ucap Arkan yang melihat Yuuri nampak sangat sedih membicarakan tentang anak.


"Tapi sayang aku..." Yuuri.


"Tenang lah kita akan berusaha lebih giat lagi ya sayang" ucap Arkan.


"Harus lebih giat seperti apa lagi, hampir setiap malam kita berusaha" ujar Yuuri sembari menghela nafasnya kasar.


"Sayang..." Arkan.


"Baiklah kita tidak akan bahas masalah ini lagi" ucap Yuuri sedikit tersenyum terpaksa.


Setelah selesai sedikit mengurangi kesedihan suaminya Yuuri beranjak keluar dari kamarnya dan berjalan keluar menuju kamar adik iparnya.


Yuuri mengetuk pintu kamar Lura hingga 3 kali namun tidak ada jawabannya sama sekali dari pemilik kamar, awalnya Yuuri hendak pergi dari depan pintu kamar Allura namun Yuuri tanpa sengaja mendengar ada suara tangis seorang wanita yang sudah di pastikan itu merupakan suara tangisan adik iparnya.


Yuuri yang sangat khawatir memberanikan diri masuk ke dalam kamar yang tidak di kunci Lura dan mendapati sosok seorang wanita yang meringkuk menangis sesenggukan di atas tempat tidur dengan rambut yang di biarkan terurai.


"Allura sayang" panggil Yuuri sembari berjalan menghampiri adik iparnya.


Allura enggan untuk menghiraukan panggilan Yuuri dan kembali meneruskan tangisannya, Yuuri yang tidak mendapatkan respon dari adik iparnya segera duduk di sisi adik iparnya dan menyentuh bahu Lura.


"Lura sayang..." panggil Yuuri lembut untuk kedua kalinya.


Allura yang mendengar suara Yuuri dan merasakan sentuhan di bahunya kemudian mengangkat kepalanya dan menatap kakak iparnya yang sudah ada di depannya.


"Kak.... mami...." ucap Allura menatap sedih kakak iparnya.


"Sayang ada kakak disini yang akan selalu jaga Lura" ucap Yuuri yang hendak menguatkan Allura.


"Menangis lah Lura sayang selama itu bisa membuat kamu merasa lebih baik" ucap Yuuri sembari mengelus punggung Lura dengan sayang.


"Kenapa mami harus pergi kak, kenapa mami egois pergi gitu aja ninggalin Lura, kenapa mami gak bilang kalau mami sakit, kenapa mami sangat sangat gak terbuka sama Lura, bagaimana Lura menjalani kehidupan ini setelah mami tiada kak, kenapa harus mami" ucap Allura menumpahkan segala nya pada Yuuri.


Yuuri yang merasa bersalah karena telah menutupi kondisi kesehatan mami yang sebenarnya ikut menangis sembari terus menenangkan Allura yang masih menangis sesenggukan dalam pelukannya.


"Apa mami gak sayang sama Lura kak?" tanya Allura yang masih belum bisa menerima kalau maminya sudah tiada.


"jangan berbicara begitu Lura, kakak sangat yakin kalau mami sangat teramat menyayangi kalian semua terutama Lura" ucap Yuuri menenangkan adik iparnya.


"Tapi kak...." Allura.


"Yakin lah kalau mami benar benar sangat menyayangi semua keluarganya" ucap Yuuri agar Allura lebih bisa menerima dan mengikhlaskan nya.


"Tapi kak...." Allura.


"Tenanglah Lura, sekarang istirahat ya karena kakak yakin seterusnya kamu akan menjadi wanita yang lebih kuat dari kakak dan mami" ucap Yuuri tersenyum sembari melepaskan pelukannya.


"Kak Yuuri..." Allura.


"Iya kenapa?" tanya Yuuri bingung kenapa adik iparnya memanggil nya.


"Terimakasih" Allura.


"Untuk?" Yuuri.


"For everything" Allura.


"Sama sama Adik ku sayang" Yuuri.


"Sekarang kakak juga istirahat, kakak pasti lelah kan seharian mengurus pemakaman mami" ucap Allura.


"Iya habis ini kakak beristirahat" Yuuri.


Setelah bisa menenangkan adik iparnya putri sulung keluarga Ontario, Yuuri keluar dari kamar Allura dan berjalan menghampiri ruang kerja papi mertuanya.


Yuuri mengetuk pintu ruang kerja mertuanya.


"Siapa?" papi Derriel.


"Ini Yuuri Pi, boleh Yuuri bicara sebentar dengan papi" ucap Yuuri dari depan pintu.


"Silahkan nak, pintunya gak di kunci" ucap sang papi.


Yuuri membuka pintu ruang kerja papi mertuanya dan memperhatikan papi yang sedang memegang pigura masa muda papi dan mami yang terlihat sangat cantik dan tampan.


"Pi, papi masih belum mau makan?" tanya Yuuri hati hati.


"Kenapa mami kalian gak mau berbagi sakitnya dengan papi, apa papi gak bisa di percaya sampai dia harus menutupi kondisinya?" tanya papi kepada pigura yang sedang di pegang nya.


"Papi biarkan mami beristirahat dengan tenang" Yuuri.


"Papi tau Yuuri setidaknya dia bisa bicara dengan papi agar papi bisa sebaik mungkin berusaha hanya untuk kesembuhannya" ucap papi menahan kesedihannya.


"Mami pasti sangat sedih kalau papi seperti ini, Yuuri yakin papi gak pernah suka liat mami bersedih kan Pi" Yuuri.


"Iya tapi..." papi.


"Pi, Yuuri mohon masih ada Allura yang harus kita jaga dan perhatikan" Yuuri.


"Kamu benar nak, papi gak boleh sedih berlarut-larut karena ada Allura yang masih butuh papi" papi.


"Kalau begitu papi mau makan?" tanya Yuuri.


"Iya sebentar lagi papi akan keluar buat makan" ucap papi.


"Baiklah kalau gitu Yuuri keluar dulu ya Pi mau siapin makanan buat kita semua" ucap Yuuri.


"Iya nak, makasih ya" papi.


"Sama sama Pi ini kewajiban Yuuri" Yuuri.


Yuuri pun pamit keluar ruang kerja papi buat mempersiapkan makanan untuk suami, papi mertua dan adik iparnya.


*


*


*


Hai readers happy reading ya, maaf banget kalau author jarang up ya, nanti kapan kapan author bakal crazy up deh ya, do'akan terus author nya ya readers.....


Happy Friday πŸ€—πŸ€—πŸ€—