Breath Without Love

Breath Without Love
Terpesona



Yuuri berjalan dengan menahan kesalnya ada Arkan karena ketidak pekaan Arkan akan situasi yang di alami Yuuri.


Setelah sampai di ruang rawat inap mami, mereka berdua langsung masuk dan menatap kaget ke arah mami.


"Mami Leya..." ucap Arkan kesal.


"Ada apa anak ku?" tanya mami dengan melemparkan senyum manisnya.


"Mami kenapa belum tidur, harusnya mami udah istirahat sekarang" sambung Yuuri berjalan menghampiri mami sembari membawa bekalnya.


"Mami laper, tapi gak suka makanan disini" ucap mami sembari memegang perutnya dengan wajah memelas.


"Tapi tetap aja kan mami itu gak boleh begadang, harusnya mami telpon Arkan kalau mau makan bukannya diam aja begini" gerutu Arkan.


"Mami... gak usah dengerin omelan anak durhaka itu mi, Yuuri ada masak bubur buat mami, mami mau kan makan masakan Yuuri" ucap Yuuri dengan senyum di wajahnya.


"Kamu bilang apa? aku anak durhaka?" tanya Arkan dengan ketusnya.


"Iya..." jawab Yuuri acuh.


"Aku peduli sama mami Leya, karena itu lah aku begini" protes Arkan yang tidak terima kalau Yuuri menyebut nya anak durhaka.


"Mami Leya?" tanya Yuuri bingung sembari menatap mami.


"Nama mami sayang... nama mami Leya Soraya, kamu bisa panggil mami Leya atau mami Ley" sambung mami menatap lembut calon menantunya.


Yuuri pun menganggukan kepalanya pertanda mengerti ucapan mami dan kembali tersenyum menatap mami.


"Sayang mami laper" ucap mami menatap anak dan calon mantunya.


Yuuri pun mengeluarkan makanan yang sudah dia siapkan untuk mami, Arkan yang melihat makanan yang siapkan Yuuri untuk mami hanya bisa menelan salivanya dan menatap kesal ke arah Yuuri ketika mencium aroma menggiurkan dari masakan yang di masak langsung dari tangan Yuuri.


"Giliran buat mami aja gitu, aku cuma minta di temani makan di luar aja kamu gak mau" gerutu Arkan kesal.


"Kakak masih laper?" tanya Yuuri sembari menyuapi bubur ayam untuk mami.


"Bukan laper tapi laper banget tau gak" ketus Arkan kesal.


"Kamu kenapa gak mau nemenin dia makan?" tanya mami dengan berbisik di telinga Yuuri.


"Aku udah siapin makanan untuk Kaka Arkan kok mi, cuma Yuuri kurang suka aja makan di luar sekarang" jawab Yuuri yang juga ikut berbisik di telinga mami.


"Kalian kenapa pada bisik bisik gitu, ngomongin aku ya" ketus Arkan yang bertambah kesal melihat Yuuri dan maminya berbisik sembari meliriknya.


"Kamu tuh ngomel aja dari tadi, gak capek apa, mami sama Yuuri aja capek dengernya dari tadi" ucap mami sembari menerima suapan demi suapan yang di berikan Yuuri untuk mami.


"Aku gak ngomel kok mi, cuma kesal aja" sambung Arkan.


"Mami mau tambah lagi?" tanya Yuuri ketika bubur yang ada di mangkuk mami sudah habis.


"Enggak sayang... mami sudah kenyang, terimakasih ya" ucap mami sembari mengelus puncak kepala Yuuri.


Aku jadi inget kak Vino yang sering ngelus rambut aku gini... gak... gak... aku gak boleh lagi inget inget kak Vino begini, aku harus bisa lupain dia biar aku juga bisa melangkah tanpa harus menatap ke belakang lagi (gumam Yuuri dalam hati).


Yuuri pun langsung mengalihkan perhatiannya untuk segera menyedok nasi dan dan menyiapkan lauknya di atas meja yang ada di depan Arkan.


"Kak Arkan makan dulu, biar gak sakit" ucap Yuuri sembari duduk di sisi Arkan.


"Aku gak laper... kamu aja yang makan" sambung Arkan.


"Kak Arkan marah sama aku?" tanya Yuuri bingung.


"BANGET..." ketus Arkan.


"Aku minta maaf, aku kurang suka makanan luar" ucap Yuuri sembari meletakkan sepiring nasi di depan Arkan.


Arkan enggan menjawab ucapan Yuuri dan memalingkan perhatiannya pada ponselnya, sedangkan mami menahan tawanya kala melihat anak sulungnya yang merajuk karena lapar.


"Kak Yuuri suapin ya" ucap Yuuri yang langsung mengambil beberapa menu lauk pendamping nasinya.


Yuuri langsung menyuapi Arkan dengan sesendok nasi dan juga lauknya, tanpa ada penolakan dari Arkan.


Setelah selesai menyuapi Arkan makan, Yuuri pun langsung membereskan sisa makanannya dan menyimpannya kembali.


"Aku akan istirahat setelah melihat mami istirahat dengan baik" jawab Yuuri yang melihat mami belum juga memejamkan matanya.


"Baiklah, mami akan segera tidur biar kalian juga bisa beristirahat" ucap mami sembari memejamkan matanya.


Setelah melihat mami tertidur, Yuuri segera menarik selimut mami dan membentangkan ke seluruh tubuh mami.


"Mami sudah tidur, sekarang giliran kamu untuk istirahat" ucap Arkan.


"Aku gak bisa tidur" ucap Yuuri sambil nyengir.


"Kenapa?" tanya Arkan bingung.


"Aku gak bisa tidur terlalu cepat jika ada di tempat yang baru" ucap Yuuri dengan senyum kakunya.


"Kemarilah" titah Arkan sembari menepuk sofa di sisinya.


"Untuk apa?" tanya Yuuri bingung dan duduk di sisi Arkan.


"Berbaringlah" titah Arkan yang di turuti Yuuri walaupun Yuuri juga bingung.


"Pejamkan matamu" ucap Arkan.


Yuuri pun memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membuka matanya dan terduduk dengan cepat.


"Kakak mau ngapain?" tanya Yuuri penuh curiga.


"Kamu ngomong apa sih?" tanya Arkan yang juga ikutan bingung.


"Kakak mau cium aku kan" celetuk Yuuri sembari menutup mulutnya.


"Dasar otak mesum... aku cuma mau bantu agar cepat tidur biar kamu bisa segera beristirahat" ucap Arkan sembari menekan jidat Yuuri denagn jari telunjuknya.


"Oh gitu... tapi kok aneh caranya?" tanya Yuuri yang masih tidak percaya.


"Mami jika tidak bisa tidur biasanya sering tiduran di kaki aku dan minta di elus rambut atau kepalanya, jadi aku coba ke kamu siapa tau aja kamu bisa tidur seperti itu jika susah buat tidur" jelas Arkan dengan menahan kesalnya pada Yuuri.


"Tapi kak aku_" Yuuri.


Yuuri langsung menghentikan ucapannya ketika dirinya sudah di paksa berbaring di pangkuannya Arkan dengan tangan Arkan yang sudah mengelus lembut kepalanya sembari menatap matanya.


"Tidurlah... aku akan menjaga kamu dan mami disini" ucap Arkan tanpa mengalihkan matanya dari mata Yuuri.


Yuuri langsung terdiam kaku ketika matanya bertatap dengan mata indah milik Arkan.


Sumpah demi apa, ini kok pak Arkan jadi ganteng banget gini ya, terus ini kenapa jantung aku jadi berdetak tanpa aturan begini (gerutu Yuuri dalam hati).


"Yuuri... pejamkan matamu biar cepat istirahat" titah Arkan dengan senyum manis di wajahnya yang tampan.


Yuuri yang tadinya masih terpesona dengan ketampanan paripurna yang di miliki Arkan langsung menutup matanya kala mendengar suara indah nan seksi milik Arkan.


Kenapa aku jadi terpesona dengan pak dosen ini ya... Ya Allah selamatkan jantungku biar gak lepas (gumam Yuuri dalam hati sembari meletakkan tangannya di area luar jantungnya).


"Yuuri kamu kenapa, apa ada yang sakit?" tanya Arkan khawatir yang melihat Yuuri tiba tiba memegang bagian tubuhnya.


"Aku baik baik aja kak" jawab Yuuri yang masih memejamkan matanya.


Aku gak baik baik aja gara gara kamu kak, jantung aku hampir melompat karena terpesona dengan visual yang kamu miliki apalagi suara kamu itu benar benar membuat aku terpesona... aku kenapa begini, bukannya tadi aku lagi galau karena patah hati akibat terhalang restu keluarga Kauri ya, lah terus sekarang udah terpesona aja sama pak dosen... perasaan memang tidak bisa di duga, Dia datang dan pergi sesuka hatinya tanpa bisa di duga.


*


*


*


Hai readers gimana kalau kalian jadi Yuuri, apa yang harus kalian lakukan, jadi bingung kan harus gimana.


Ikuti aja terus kelanjutannya ya readers


Happy reading para readers.