
Semua orang sudah berkumpul di meja makan makan tapi karena meja makannya tidak cukup maka hanya orang tua saja yang duduk di meja makan sedangkan anak anak muda termasuk Yuuri dan Arkan duduk lesehan beralaskan tikar sederhana.
"Kak Yuuri hutang penjelasan sama aku" cetus Fahira yang sudah berkumpul lagi.
"Tapi kenapa calon suami kamu kelihatan gak asing ya" gumam Ocha mengingat ingat lagi apakah dia pernah bertemu dengan Arkan.
"Udah semuanya jangan pada berisik di depan makanan begini, udah langsung makan aja" sambung ibu Rita.
"Iya buk" jawab Ocha.
Mereka semua makan dengan sangat menikmati menu yang sangat enak hasil kerja keras Yuuri dan Zia.
"Daddy enak gak masakannya?" tanya Zia tersenyum penuh arti.
"Enak lah, apalagi yang masak calon istri Daddy" ucap Arkan dengan sombongnya.
"Daddy!..." sentak Zia.
"Kenapa sayang?" tanya Arkan.
"Itu kan bukan cuma Ami yang masak, tapi hasil kerja keras tangan Zia juga, kenapa Daddy hanya membanggakan Ami" gerutu Zia tak terima.
"Oh itu... maksud Daddy masakannya enak karena Ami Yuuri yang masak tapi tambah enak dan nikmat karena ada Zia yang cantik dan pintar ikut masak bermasa Ami" Arkan berusaha membuat Zia merasa senang.
"Gitu dong Daddy, jangan cuma Ami saja yang Daddy banggakan" celoteh Zia.
"Zia... selesaikan makanannya nak, setelah selesai makan nanti kamu bisa main lagi" Ayah Aga berusaha membuat Zia diam dengan dengan alasan memintanya menghabiskan makanannya.
"Iya ayah... maaf" Zia kembali melanjutkan makannya.
Setelah semua telah selesai makan dan kembali berkumpul di halaman rumah yang teduh karena banyaknya pepohonan dan bunga yang sangat rajin di rawat oleh ibu Rita, sedangkan Yuuri kembali membereskan sisa makan tadi dengan di bantu oleh Arkan, tadinya Ocha dan Fahira ingin membantu Yuuri tapi di larang karena mereka pasti merasa lelah setelah pulang dari Bali.
Sedangkan Arkan di suruh mami Leya untuk membantu Yuuri, awalnya Yuuri juga sempat menolak tapi mami Leya terus saja memaksa yang membuat Yuuri dan Arkan terpaksa melakukannya.
Setelah selesai semuanya Yuuri hendak pergi tapi sayangnya tangannya di tahan oleh Arkan sehingga langkahnya pun terhenti
"Ada apa?" tanya Yuuri bingung.
"Apa yang buat mami sangat sayang sama kamu?" tanya Arkan yang mulai sedikit emosi karena mami selalu memaksa nya semenjak kenal dengan Yuuri.
"Aku gak tau kak, kamu kenapa sih?" tanya Yuuri yang mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Arkan tapi bukannya melepas Arkan malah semakin mengencangkan genggaman nya pada Yuuri.
"Jawab pertanyaan aku dengan benar!..." Arkan bertanya dengan sangat emosi dan penuh penekanan di setiap katanya sembari mengencangkan genggaman nya.
"Kak sakit... lepasin tolong" rintih Yuuri yang masih berusaha melepaskan genggaman tangan Arkan.
"Jawab aku Yuuri" Arkan sangat emosi.
Yuuri yang sudah merasa sangat kesakitan mulai meneteskan air matanya perlahan.
"Aw... sakit kak, aku mohon lepaskan aku" Yuuri kembali memohon.
Tapi bukannya melepaskan tangan Yuuri, Arkan malah membawa Yuuri masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang tanpa di ketahui orang orang, tapi tidak lupa Arkan berpamitan akan pergi dengan Yuuri pada Rida yang sedang mengawasi Zia yang sedang bermain.
"Kak, Arkan mau keliling di temani sama Yuuri berdua ya" ucap Arkan sembari membuka sedikit jendela mobilnya.
"Iya, jangan pulang terlalu malam ya" jawab kak Rida.
"Iya kak, duluan ya" ucap Arkan.
Lalu mobilnya pergi meninggalkan area rumah Yuuri pergi menuju sebuah pantai yang sepi dan jarang di kunjungi.
"Turun!..." bentak Arkan.
Dia mau apa bawa aku ke sini (gumam Yuuri yang terlihat sedikit ketakutan sembari memandangi pergelangan tangannya yang memerah karena genggaman tangan Arkan yang terlalu kuat).
Dengan perlahan dan hati hati Yuuri turun dari mobil dan menyusul Arkan yang sudah berdiri di depan mobil.
"Jawab pertanyaan aku yang tadi" ucapan Arkan membuat Yuuri refleks langsung menyembunyikan yang yang tadi di genggaman Arkan ke belakang.
"Apa sakit?" tanya Arkan lembut setelah sedikit melirik Yuuri yang ketakutan.
"Kenapa kakak bisa berubah menjadi sangat kasar begini?" tanya Yuuri takut takut.
"Maaf aku menyakitimu, aku terlalu terbawa emosi tadi" ucap Arkan yang sembari memutar menghadap Yuuri.
Apa... dia minta maaf dengan sangat mudah setelah tadi dia menyakiti ku (gumam Yuuri dalam hati).
"Yuuri... apa masih sakit?" tanya Arkan sembari meraih tangan Yuuri yang tadi dia sembunyikan.
Arkan melihat tangan Yuuri yang memerah dan sedikit lebam karena nya.
"Yuuri apa ini sa_" Arkan menyentuh lebam tangan Yuuri.
"Ah... aw!..." pekik Yuuri.
"Maaf" Arkan langsung melepaskan tangannya dari Yuuri dan berjalan mencari sesuatu di dalam mobil.
Arkan keluar dari mobil dengan kotak P3K di tangannya dan berjalan mendekati Yuuri yang masih berdiri di tempat tadi, Arkan langsung mengambil salep untuk mengobati tangan Yuuri yang memerah karenanya.
"Maaf" lirih Arkan merasa menyesal sembari memperhatikan tangan Yuuri yang memerah.
"Aku gak apa kok kak" ucap Yuuri yang sudah merasa jauh lebih baik dari tadi.
Arkan spontan langsung memeluk Yuuri dengan erat, Yuuri yang kaget dengan perlakuan Arkan hanya bisa pasrah menerima pelukan dari Arkan yang sangat tiba tiba.
Ada apa ini? kenapa dengan kak Arkan ini? kenapa dia sangat mudah berubah begini? (gumam Yuuri dalam hati).
Setelah puas memeluk Yuuri, Arkan pun langsung melepaskannya.
"Kakak kenapa?" tanya Yuuri yang mulai berani bertanya pada Arkan.
"Apa yang kamu dan mami sembunyikan?" tanya Arkan menatap mata Yuuri.
"Aku... mami..." Yuuri.
"Jawab aku Yuuri, mata kamu gak bisa bohong sama aku" Arkan semakin menatap mata Yuuri dengan tajam.
"Kak... aku cuma mau membantu meringankan beban mami yang selalu memikirkan kamu yang tidak mau menikah" Yuuri berbicara dengan tegas walaupun kenyataannya sangat berbeda.
"Apa dengan aku menikahi kamu bisa mengurangi beban mami papi?" tanya Arkan bingung.
"Iya kak, mami selama ini sangat lelah bila memikirkan kapan kakak akan menikah dan mempunyai anak" Yuuri mencoba meyakinkan Arkan walaupun ada alasan lain kenapa mami ingin Arkan segera menikah dengan Yuuri.
"Kamu gak bohong kan?" Arkan masih belum yakin, tapi kali ini dia mencoba untuk percaya dengan Yuuri.
"Aku benar kok kak" Yuuri tersenyum menyembunyikan fakta lain di balik rencana pernikahan nya dengan Arkan.
"Baiklah, kita percepat saja acara pernikahannya menjadi Minggu depan" Arkan spontan langsung meminta pernikahannya di percepat.
"Kenapa secepat itu kak, bukannya kita punya waktu 1 bulan untuk menikmati masa sebelum menikah" Yuuri protes dengan ide gila Arkan.
Arkan tidak menghiraukan ucapan Yuuri dan dia malah asik mengambil ponselnya dan mengetikan suatu pesan ke orang lain.
"Kak... jawab aku" gerutu Yuuri kesal karena Arkan tidak menghiraukan nya.
"Hm... sebentar ya" Arkan tidak mengalihkan perhatian dari ponselnya.
"Kak Arkan... hei...pak dosen...mas dosen... tua..." Yuuri memanggil Arkan sesukanya.
Tapi panggilan yang terakhir berhasil mengalihkan perhatiannya.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Arkan kesal dan menyimpan ponselnya kembali.
"Yang mana?" Yuuri pura pura bingung dan gak tahu apa apa.
"Yuuri!..." pekik Arkan kesal.
"Dasar tua...nyebelin" Yuuri dengan beraninya mengatai Arkan tua.
"Dasar bocah labil" kesal Arkan.
"Ih enak aja aku di bilang bocah labil" gerutu Yuuri yang ikutan kesal.
*
*
*
Happy reading para readers....