Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Diluar Rencana



"Daddy, awas!" teriakan Freya kembali terdengar karena peluru yang di tembakan oleh Victor mengarah ke arah ayahnya juga ke arah Gabriel.


Gabriel tidak sempat menghindar, dua peluru menembus kepalanya hingga berlubang. Freya yang berlari ke arah ayahnya pun pada akhirnya berteriak histeris karena peluru yang di tembakan oleh Victor juga menembus kepala ayahnya.


Cristina yang sedang memapah Nathan Walner terkejut, teriakannya pun terdengar karena kepala ayah Freya pun berlubang akibat peluru senjata api yang bersarang di kepalanya.


"Tuan.. Tuan!" Cristina mengguncang tubuh Nathan yang sudah jatuh bersimbah darah serta tak bernyawa. Cristina menangis dengan keras, seharusnya dia lebih cepat lagi agar hal itu tidak terjadi.


"Sialan kau, sialan!" teriak Freya marah dengan air mata berderai. Padahal tinggal sedikit lagi, sedikit lagi ayahnya akan keluar dari pintu itu tapi Victor tidak memberikan kesempatan. Freya memberi sinyal untuk Norman, dia akan menghancurkan mereka semua, akan dia hancurkan.


"Sekarang berikan batunya!" pinta Victor.


"Kau tidak akan pernah mendapatkan batu itu, tidak akan pernah!" teriak Freya penuh emosi.


"Jika begitu dia juga akan mati!" Victor sudah mengarahkan pistolnya ke arah Cristina.


"Jangan pernah menyentuhnya!" teriak Freya.


"Jika begitu berikan batunya karena aku tidak akan ragu!" ancam Victor.


"Jangan Nona, jangan!" Cristina menggeleng, air mata tak henti mengalir. Cristina sedang memeluk ayah Freya yang sudah tidak bernyawa, amarah dan juga perasaan bersalah karena tidak bisa menyelamatkan ayahnya memenuhi hati Freya.


"Cepat berikan!" teriak Victor.


"Kau tidak akan pernah mendapatkannya!" teriak Freya pula.


"Jika begitu, dia akan mati!" Victor sudah akan menembaki Cristina yang memeluk tubuh Nathan yang sudah tidak bernyawa dengan erat. Cristina bahkan sudah memejamkan kedua matanya, siap untuk mati. Pelatuk pistol sudah akan ditekan namun pada saat itu, Duaaarr.... terdengar sebuah ledakan keras di luar sana bahkan tempat itu berguncang akibat ledakan dahsyat yang terjadi.


"Apa yang terjadi?" teriak Victor yang tak jadi menembak.


"Ada yang menyerang kita, Sir. Ada yang menyerang!" teriak anak buahnya.


"Sial, maju semua!" teriak Victor. Semua anak buah yang ada di dalam ruangan itu berlari keluar begitu juga dengan kedua rekannya yang akan melawan musuh yang ada di luar sana. Tidak perlu dia lihat, dia sudah bisa menebak jika yang menyerang mereka pasti pria misterius yang bersama dengan Freya selama ini.


"Pergi, Cristina. Larilah!" teriak Freya. Semua di luar rencana dan semua gara-gara keserakahan Gabriel yang ingin tahu berapa persen bagian yang akan dia dapatkan. Jika Gabriel langsung memberikan batunya maka ayahnya tidak akan mati meski pada akhirnya Victor akan tahu jika itu batu palsu tapi sebelum hal itu terjadi, dia sudah mengirim sinyal untuk Norman sehingga pria itu bisa menyerang tanpa adanya korban dan sekarang, semua benar-benar di luar rencana akibat keserakahan satu orang pengkhianat.


Cristina memandanginya sambil menggeleng, dia tidak mau namun Freya kembali berteriak agar dia cepat pergi dari tempat itu apalagi dia yakin Norman sudah berada di luar.


"Tidak akan aku biarkan!" Victor mengarahkan pistolnya ke arah Cristina kembali namun Freya sudah berlari ke arahnya dan menabrakkan tubuh mereka berdua hingga membuat Victor terjatuh.


"Lari!" teriak Freya lagi.


Cristina beranjak lalu dia berlari dengan air mata berderai. Victor sangat marah, gagang pistol digunakan untuk memukul pelipis Freya. Tubuh Freya pun ditendang sampai membuat Freya terpental dan jatuh ke atas tubuh ayahnya yang tidak bernyawa.


Cristina terus berlari, berlari tanpa tujuan arah dan ketika ada sebuah jendela, Cristina melompat keluar dari jendela itu tanpa mempedulikan apa pun. Di luar sana keributan terjadi, Norman dan Kendrick sedang melawan anak buah Black Scorpion serta dua organisasi lainnya. Anak buah yang mereka bawa cukup banyak, Norman sudah tidak sabar menyelamatkan Freya apalagi Freya begitu lama memberinya sinyal.


Norman dan Kendrick terus maju, menyerang para penjahat yang ada. Cristina yang baru saja menerobos melalui jendela dan dipenuhi dengan luka segera berlari ke arahnya. Dia tidak peduli dengan baku tembak yang sedang terjadi. Jika dia harus mati maka dia akan mati yang penting Norman segara menolong Freya.


Seorang wanita yang berlari di antara baku tembak menarik perhatian Norman. Dia mengera itu adalah Freya namun dia salah karena Cristina yang sedang berlari ke arahnya.


"Selamatkan wanita itu!" perintah Norman.


"Cepat!" teriak Kendrick pada Cristina.


Cristina yang melihat jika Kendrick pihak kawan berlari ke arahnya. Antoni yang melihat itu pun membidikkan sebuah senjata peledak ke arah Cristina. Dia akan membunuh semuanya, wanita itu pun tidak luput. Peluru senjata peledak yang di tembakan oleh Antoni melesat dengan cepat ke arah Cristina, siap menghancurkan tubuh wanita itu.


"Kendrick!" Norman berteriak pada anak buahnya agar waspada. Kendrick yang mengetahui situasi langsung menyerang Antoni dengan senjata api otomatisnya. Dia pun berteriak pada Cristina, "Tiarap!" Cristina yang mendengar tentu saja melompat untuk tiarap. Hampir saja, sedikit lagi peluru ledak yang di tembakan oleh Antoni mengenai dirinya karena begitu dia tiarap, peluru itu melesat melewati kepalanya lalu menghantam benda lain dan meledak.


Situasi semakin kacau, Norman memerintahkan anak buahnya untuk tidak ragu. Kini mereka menggunakan senjata api peledak tanpa ragu lagi sehingga ledakan-ledakan terjadi menghancurkan markas musuh.


Cristina diamankan oleh Kendrick, dia segera berlari ke arah Norman yang sedang menembaki musuh yang sedang bersembunyi.


"Mana Freya?" tanya Norman.


"Nona masih di dalam melawan penjahat itu!" jawab Cristina.


"Kenapa kau hanya seorang diri, mana ayah Freya?" tanya Norman lagi.


"Tuan.. Tuan," Cristina tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi dan terlihat ketakutan serta menangis.


"Sial!" Norman mengumpat karena dia tahu sudah terjadi hal yang buruk pada ayah Freya.


"Bawa dia!" Norman memberi perintah pada salah seorang anak buahnya untuk mengamankan Cristina.


"Kalian semua, hancurkan semua tanpa ragu dan Kendrick, kau dari aras sana. Bunuh mereka semua dan ratakan tempat ini!" perintah Norman.


"Bagaimana dengan Nona, dia masih berada di dalam!" tanya Cristina.


"Aku bersumpah akan membawanya kembali, segera pergi!" dua selongsong senjata api yang sudah kosong jatuh ke bawah, Norman mengisinya dengan cepat. Semoga dia tidak terlambat menyelamatkan Freya dan membawanya kembali.


Baku tembak kembali terjadi, Kendrick dari sisi kiri sedangkan Norman dari depan. Dari sisi lain ada anak buahnya yang lain sehingga musuh terkepung dan tidak bisa melawan mereka. Mereka tidak memberikan kesempatan pada musuh sehingga membuat Antoni dan rekannya mulai melangkah mundur.


Ledakan yang terjadi pun meruntuhkan bangunan itu membuat bangunan berguncang bagaikan terkena gempa bumi. Musuh yang semakin terpojok pun semakin berkurang, sambil melawan mereka menyelamatkan diri dari serangan Norman dan anak buahnya.


"Habisi mereka semua!" teriak Norman.


Kendrick dan anak buahnya berteriak, mereka berlari maju sambil menembak musuh yang mereka lihat. Mereka bahkan sudah berada di dalam markas musuh dan menguasai tempat itu. Mayat-Mayat bergelimpangan di atas lantai, semua itu mayat anak buah Victor serta dua kelompok lain yang gugur.


"Freya!" Norman berteriak memanggil, dia harap Freya masih berada di dalam markas namun tidak ada jawaban sama sekali.


Norman memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa setiap ruangan yang lain namun mereka tidak mendapati Freya. Mereka hanya mendapati Antoni dan rekannya yang hendak melarikan diri menggunakan mobil namun Kendrick sudah menembak mereka dengan senjata peledak sehingga mobil yang mereka gunakan untuk melarikan diri meledak dan hancur berkeping-keping.


"Sir, kami menemukan mayat dua orang pria!" lapor anak buahnya yang baru menemukan keberadaan mayat Nathan Walner juga Gabriel.


"Apa ada yang lain?" tanya Norman.


"Tidak ada, hanya kedua mayat itu dan sebuah borgol." jawab anak buahnya. Norman mengikuti anak buahnya dan mendapati mayat Gabriel serta mayat seorang pria tua yang dia tebak jika itu adalah mayat ayah Freya.,


"Sial, cepat cari keberadaan Freya dan bunuh siapa pun musuh yang kalian lihat!" perintah Norman.


Markas musuh ditelusuri, namun keberadaan Freya tidak ditemukan begitu juga dengan Victor. Norman segera mencari keberadaan Freya dari alat pelacak yang ada di cincin yang dia berikan pada Freya dan setelah tahu Freya tidak jauh dari tempat itu, Norman memerintahkan anak buahnya untuk bergerak karena mereka akan segera mengejar Freya dan dia harap Freya baik-baik saja.