Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Jangan Membohongi Diri Sendiri



Cristina sangat senang karena Freya sudah kembali tapi suasana pagi itu tampak berbeda. Tidak biasanya Freya dan Norman diam-diam saja, mereka berdua seperti sedang bermusuhan. Entah apa yang terjadi tapi Cristina tidak berani bertanya.


Tatapan mata Norman tidak berpaling dari Freya, wanita itu cuek saja, menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh Cristina dengan santai. Norman yang tidak senang dengan sifat Freya jadi gusar. Jujur saja dia lebih suka dengan sifat Freya yang seperti biasanya. Meski Freya suka berkata kasar, memukul dan menendang tapi dia lebih menyukai sifat Freya yang sebelumnya.


Menurutnya Freya lebih cocok seperti itu dari pada bersikap manis seperti yang dia tunjukkan saat ini. Freya masih bersikap cuek, dia berusaha menahan diri. Sepotong roti diambil lalu dioles dengan coklat namun setelah selesai, Norman justru sengaja merebut roti itu dari tangan Freya.


Freya diam, tidak mau terpancing. Dia kembali melakukan hal yang sama namun Norman kembali merebutnya bahkan menggigit roti itu sebagian lalu meletakkannya ke atas piring milik Freya.


"Untukmu," ucap Norman sambil tersenyum.


Freya hanya melotot namun tidak lama kedua mata terpejam dan napas berat pun dihembuskan. Tidak, dia tidak boleh emosi seperti biasanya.


"Terima kasih," ucap Freya sambil tersenyum manis. Dia kembali mengambil roti dan mengoleskan selai namun Norman kembali merebutnya dan menggigitnya.


"Beraninya kau?!" teriak Freya karena kesabarannya sudah habis.


"Wah, akhirnya!" ucap Norman. Ternyata Freya hanya berpura-pura, dia ingin lihat seberapa lama Freya akan bersikap sok manis seperti itu karena dia tidak cocok sama sekali.


Freya sudah menutup mulut, sial. Dia terpancing gara-gara ulah pria itu yang menyebalkan. Freya kembali menarik napasnya dan setelah itu memperlihatkan senyuman manisnya. Dia tidak boleh terpancing lagi dan harus bersikap manis.


"Berhentilah bersikap manis seperti itu, sikap seperti itu tidak cocok untukmu!" ucap Norman.


"Tidak perlu kau pedulikan!" Freya meneguk minuman sampai habis dan setelah itu dia melangkah pergi. Saatnya kembali mencari tahu keberadaan replika mumi serta mencari keberadaan artefak milik ayahnya.


Norman pun beranjak lalu berlari mengikuti Freya. Dia benar-benar tidak suka oleh sebab itu, Norman meraih lengan Freya dan menariknya. Tentunya Freya terkejut, habis sudah kesabaran oleh itu dia berteriak marah.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Freya, dia bahkan hendak memukul Norman namun Norman segera menghindar.


"Aku tidak suka melihatmu bersikap seperti itu jadi jangan bersikap seperti ini," ucap Norman.


"Apa pedulimu? Kita tidak memiliki hubungan apa pun jadi kau tidak usah peduli dengan sikapku yang mau berubah menjadi apa!"


"Apa kau marah padaku sehingga kau bersikap seperti ini?" tanya Norman.


"Untuk apa aku marah padamu? Jangan terlalu percaya diri!" Freya menarik lengannya hingga lepas dari genggaman tangan Norman.


"Baiklah, aku yang salah. Tidak seharusnya aku mendekati kedua wanita itu. Seharusnya kau mengatakan padaku jika kau cemburu gara-gara hal ini."


"Hng, kau benar-benar terlalu percaya diri. Siapa yang cemburu padamu? Kau mau dengan siapa dan dekat dengan wanita mana pun aku tidak peduli!" ucap Freya.


"Apa benar? Jangan membohongi dirimu sendiri, Freya?"


"Untuk apa aku membohongi diriku sendiri?" Freya melangkah mendekat dan berdiri di hadapan Norman. Dia kembali terlihat angkuh, tatapan matanya seperti menghina Norman.


"Kau lihat dirimu di depan cermin sana, apakah kau pantas aku cemburui atau tidak? Pria yang memiliki banyak hutang seperti dirimu ini, apa pantas untukku? Aku tidak berminat terlibat asmara denganmu karena aku hanya menganggap dirimu sebagai pemuas naf*suku saja!" ucap Freya. Dia sengaja mengatakan perkataan itu agar Norman membenci dirinya.


"Ya, kau memang aku anggap sebagai partner dan penghangat ranjangku saja jadi jangan terlalu berlebihan dan bertingkah seolah-olah kita memiliki hubungan spesial. Aku harap tidak ada perasaan spesial di antara kita dan aku harap kau tahu batasannya agar hubungan kita ini tidak melibatkan perasaan. Aku tidak begitu mengenal dirimu dan kau pun tidak begitu mengenal aku!" setelah berkata demikian, Freya melangkah pergi meninggalkan Norman yang sepertinya tidak terima dengan apa yang Freya ucapkan.


Freya pun tidak peduli, dia sudah masuk ke dalam kamar untuk melakukan apa yang harus dia lalukan. Seperti ini lebih baik karena mereka akan berpisah pada akhirnya jadi dia harus membentengi diri agar perasaan cinta tidak tumbuh di hati apalagi sejak awal mereka rekan yang saling menguntungkan.


Norman yang masih berdiam diri di tempatnya sangat tidak terima dan kesal, entah kenapa jadi begitu emosional. Norman melangkah menuju kamar Freya lalu membuka pintu itu dengan kasar pula sehingga membuat Freya yang sedang sibuk terkejut.


Freya beranjak dari tempat duduk, Norman mengunci pintu dan melangkah ke arahnya sambil menatapnya tajam. Jadi Freya menganggapnya sebagai penghangat ranjang? Baiklah, dia tidak keberatan karena dia tidak rugi apa pun.


"Mau apa kau?" tanya Freya.


Norman melihat sebuah ikat pinggang di atas ranjang, Norman mendekati Freya lalu meraih tangannya dan menariknya menuju ranjang.


"Mau apa kau? Lepaskan!" pinta Freya.


"Menghangatkan ranjangmu, apa lagi? Itu peranku, bukan? Jadi mulai sekarang aku akan menghangatkan ranjangmu setiap hari sampai kau muak padaku!"


"Hentikan, jangan gila. Aku sedang tidak ingin!" Freya berusaha menarik tangannya namun genggaman tangan Norman cukup erat.


"Tapi aku ingin!" Norman mengambil ikat pinggang yang ada di atas ranjang lalu mengikat kedua tangan Freya.


"Lepaskan aku, jangan perlakukan aku seperti ini!"


"Diam!" Norman mengangkat tubuh Freya lalu melemparkannya ke atas ranjang. Freya mengumpat dan memaki, dia hendak beranjak dan lari namun Norman sudah berada di atas tubuhnya dan menarik bajunya sampai robek. Freya berteriak marah, sumpah serapah dia keluarkan namun semua itu terhenti setelah Norman membungkam bibirnya. Pria itu menggila, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia jadi seperti itu.


Teriakan Freya bahkan terdengar dari luar kamar saat Norman mencumbui dirinya. Norman bagaikan seseorang yang baru saja mendapatkan kekuatan super. Cristina bahkan bisa mendengar teriakan dan era*ngan Freya yang terdengar begitu keras. Bagus, dia justru senang mereka berdua memiliki hubungan. Sepertinya dia yang terlalu khawatir, pasangan seperti itu biasanya menyelesaikan masalah di atas ranjang dan dia yakin saat keluar nanti hubungan mereka akan kembali membaik.


Setelah melewati percintaan panas dan Norman yang menggila, Freya berbaring akibat tidak bertenaga. Norman berbaring di sisi Freya dalam keadaan lelah. Dia merasa semua tenaganya sudah terkuras untuk percintaan kali ini.


"Apa kau sudah puas?" tanya Norman.


"Diam!" bentak Freya dengan napas memburu.


Norman tersenyum dan mendekati Freya, sebuah kecupan lembut mendarat di dahi Freya.


"Kau benar-benar wanita paling menyebalkan yang pernah aku kenal!" ucap Norman.


"Biarkan saja!" Freya membuang wajah, kesal.


"Baiklah, setelah ini kita bicara!"


"Tidak mau, pergi sana!" Freya mendorong tubuh Norman, dia bahkan berusaha menendang tapi semua yang dia lakukan sia-sia karena Norman memeluknya erat. Norman tidak melepaskan dirinya karena dia lebih menyukai Freya yang bersikap seperti itu bukan Freya yang bersikap manis dan dia pun lebih menyukai kebersamaan mereka yang seperti itu.