Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Kiteria Wanita Yang Diinginkan



Freya meraba sisi ranjang dan mendapati tidak ada siapa pun di sisinya. Kedua mata terbuka, Freya mencari keberadaan Norman di dalam kamar tapi pria itu tidak ada di mana pun. Suara air juga tidak terdengar yang menandakan jika Norman tidak ada di dalam kamar mandi.


"Norman," Freya memanggil tapi tidak ada jawaban sama sekali. Freya kembali berbaring, sudahlah. Terserah pria itu mau pergi ke mana. Lagi pula dia tidak berhak melarang karena mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Lebih baik dia kembali tidur karena dia masih mengantuk dan lelah. Selimut ditarik untuk menutupi tubuhnya yang telanjang dan setelah itu Freya kembali tidur.


Dia benar-benar tidak mau memikirkan Norman pergi ke mana karena mereka partner sesaat saja. Mungkin saja pria itu sudah pergi karena sudah merasa cukup menjadi partner dalam melakukan kejahatan dan dalam memadu kasih karena banyak wanita yang lebih baik dari pada dirinya di dunia ini. Lagi pula tidak ada yang mau dengan pencuri seperti dirinya oleh sebab itu, Norman mau kembali atau tidak dia tidak akan mempermasalahkannya. Entah kenapa setelah di pikir-pikir, dia tidak tahu apa pun tentang Norman sampai sekarang. Mungkin ini yang terbaik bagi mereka, lebih baik tidak saling mengenal satu sama lain karena bertemu secara tiba-tiba dan sekarang, mereka memang berpisah secara tiba-tiba pula.


Sesungguhnya Norman pergi ke rumah adiknya setelah mendapatkan sebuah pesan ancaman dari Vanila. Begitu membuka mata, pesan ancaman yang Norman dapatkan oleh sebab itulah mau tidak mau dia meninggalkan Freya untuk pergi menemui adiknya agar adiknya tidak mengatakan kepada kedua orangtuanya jika dia sedang berada di Inggris dengan seorang wanita.


Bagaimanapun dia tidak mau kedua orangtuanya tahu karena mereka bisa mengutus seseorang untuk menangkap Freya lalu membawa Freya ke Swedia untuk diinterogasi. Bisa celaka jika semua itu terjadi, mereka akan tahu jika dia dan Freya adalah rekan dalam melakukan kejahatan. Freya pun akan gagal dalam misinya dan semua tidak akan berjalan sesuai dengan rencana.


Norman sudah berada di rumah adiknya, Vanila tersenyum saat melihat kedatangannya. Dia kira kakaknya tidak mau datang berkunjung tapi sayangnya dia hanya datang seorang diri tanpa membawa wanita yang bersama dengannya kemarin. Padahal dia sangat ingin bertemu dengan wanita itu tapi sepertinya sang kakak tidak mau dia tahu akan wanita itu.


"Uncle.... Uncle," Anatasya yang baru pandai berbicara berlari menghampiri Norman yang sedang duduk di ruang tamu.


"Kemari, Ana. Uncle belikan permen untuk Ana," Norman mengeluarkan gulali yang dia bawa.


"Kenapa kakak datang sendiri?" tanya Vanila.


"Emangnya aku harus datang dengan siapa?" tanya Norman pula.


"Mana wanita itu? Apa kakak sengaja menyembunyikannya?" Vanila menatap kakaknya dengan tatapan curiga. Dia yakin kakaknya pasti sengaja tidak membawanya serta.


"Tidak ada, kami hanya bertemu waktu itu. Karena dia membantu aku jadi aku membantu dirinya. Kami hanya partner satu hari saja!" dusta Norman.


"Benarkah?" Vanila tampak tidak percaya dengan apa yang kakaknya ucapkan.


"Tentu saja benar, untuk apa aku menipu dirimu!" Norman sudah menggendong Ana dan membawanya menuju sofa.


"Bohong, kau mungkin bisa menipu Abraham tapi kau tidak bisa menipu aku!" ucap Vanila.


"Jangan bawa-bawa aku, aku tidak tahu apa pun!" ucap Abraham yang baru keluar dari kamar dan hendak pergi ke kantor.


"Sorry, tidak bermaksud. Tapi yang bisa dia tipu memang hanya dirimu saja!" Vanila merapikan dasi suaminya.


"Aku pergi dulu," Abraham mendaratkan ciuman di bibir istrinya tanpa mempedulikan keberadaan Norman.


Norman juga cuek saja, dia sedang bermain dengan Ana. Lagi pula dia sudah ada jadi mereka tidak bisa memanasi dirinya dengan mengumbar kemesraan di depan matanya.


"Sorry aku tidak bisa menemani, Norman. Ada pekerjaan penting," ucap Abraham.


"Tidak apa-apa, aku juga tidak lama!"


"Bye.. Bye, Daddy," Ana turun dari atas pangkuan Norman dan berlari ke arah ayahnya.


"Tidak bisa, Vanila," tolak Norman.


Vanila mengantar suaminya sebentar, dia akan membuat kakaknya mengakui siapa wanita itu karena dia sangat ingin tahu siapa wanita yang bersama dengan kakaknya yang sejak dulu hanya sibuk di istana dan tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.


Segelas minuman sudah diantar oleh seorang pelayan, Vanila kembali ke dalam sambil menggendong putrinya namun perawat Ana mengambil gadis manis itu untuk memberinya makan. Vanila menghampiri kakaknya dan duduk bersama, mereka berdua saling menatap dengan tatapan penuh arti.


"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Norman. Dia curiga dengan tatapan sang adik, sebaiknya dia tidak membuat adiknya semakin curiga.


"Katakan, siapa Freya? Apa dia kekasihmu?" tanya Vanila tanpa basa basi lagi.


"Bukan, jangan sembarangan mengambil kesimpulan!"


"Jika dia bukan kekasihmu, lalu dia siapa? Aku yakin kau tidak mungkin sembarangan dekat dengan seorang wanita apalagi setelah kematian Emely."


"Itu sudah berlalu lama, jadi jangan diungkit lagi!"


"Aku tahu, tapi sejak dulu kau selalu sibuk di istana tanpa mau dekat dengan wanita mana pun tapi wanita yang bernama Freya itu, aku lihat kalian tidak saja sebatas partner seperti yang kau katakan."


"Ck, sebaiknya tidak banyak bertanya. Aku sedang liburan dan sebelum masa liburanku selesai, aku ingin menikmati waktuku menjadi rakyat biasa dan menikmati waktuku sebagai rakyat biasa."


"Aku tahu, Kak Norman. Aku bukannya ingin mengganggu masa liburanmu tapi aku harap kau menemukan seseorang yang bisa kau bawa pulang ke Istana dan memperkenalkan pada Mommy dan Daddy. Justru inilah kesempatan bagimu untuk menemukan seseorang yang tulus tanpa tahu siapa dirimu yang sebenarnya jadi temukanlah seorang wanita yang akan mencintaimu dengan tulus sebagai rakyat biasa, bukan sebagai raja karena banyak putri bangsawan yang mengantri untuk menjadi istrimu karena mereka ingin menjadi ratu selanjutnya."


"Tidak perlu cerewet, aku akan melakukannya dan mengikuti nasehatmu!" jawab Norman.


"Jadi, apa bukan Freya yang akan kau pilih?" Vanila masih penasaran dengan Freya.


"Aku rasa," Norman menghentikan perkataannya dan terlihat berpikir. Dia dan Freya memang sudah melakukan seeks tapi mereka berdua tidak memiliki hubungan spesial bahkan mereka adalah rekan yang saling menguntungkan. Bersama dengan Freya dia akan mendapatkan kesenangan akan petualangan menyenangkan sebagai rakyat biasa dan Freya akan mendapat bantuan darinya untuk menemukan artefak yang dia cari dan juga ayahnya. Bisa dibilang mereka berdua sama-sama mengambil keuntungan satu sama lain.


"Kenapa? Apa dia bukan wanita yang akan kau pilih nantinya?" tanya Vanila penasaran.


"Memang tidak, kami hanya terikat karena suatu kejadian yang tidak menyenangkan jadi jangan katakan hal ini pada Mommy dan Daddy. Setelah kesepakatan kami selesai maka kami akan berpisah dan aku, akan mencari seorang istri yang memiliki kedudukan yang lebih baik!"


"Oh, apa karena kedudukan yang dia miliki sehingga kakak menolaknya?"


"Tidak, bukan seperti itu. Kau tidak mengerti, sudah aku katakan kami hanya terikat karena suatu kejadian yang tidak menyenangkan!" ucap Norman.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama bermain dan segera temukan wanita ideal yang menurutmu sesuai dengan kiteria yang kau inginkan untuk menjadi pendamping hidupmu dan untuk menjadi ratu selanjutnya. Jika kau memang tidak memiliki hubungan apa pun dengan wanita itu aku rasa tidak masalah kau menginap jadi menginaplah untuk satu atau dua hari. Ana selalu menyebut namamu setelah dia pandai berbicara."


"Aku tahu, cerewet!" ucap Norman. Kiteria wanita yang dia inginkan, seperti apa? Dia sendiri tidak tahu. Untuk saat ini, jalani saja kebersamaannya dengan Freya. Apa yang akan terjadi kemudian dia tidak tahu karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka berdua nantinya.