
Sebuah tempat untuk bertemu dengan Gabriel sudah didapatkan. Sesungguhnya Freya sangat kesal karena Norman membuntutinya bahkan pria itu sudah seperti bodyguard yang sedang menjaganya. Bagaimana tidak, Norman berjalan di depannya tanpa melepaskan tangannya. Dia bertingkah seolah-olah tidak ada yang boleh mendekati Freya. Freya menghela napas, entah apa yang membuat Norman jadi seperti itu dia sungguh tidak mengerti.
Ini pertama kalinya dia melihat Norman seperti itu, dia sudah tidak jauh berbeda seperti pasangan yang posesif bahkan dia merasa Norman lebih posesif dari pada pacar yang sesungguhnya. Padahal mereka hanya rekan, dia tahu Norman sadar akan hal itu. Tidak mungkin dia lupa, namun Norman sudah seperti kekasihnya yang dibakar oleh api cemburu. Apa pria itu lupa dengan hubungan mereka dab benar-benar sedang cemburu?
Tidak mungkin, dia yakin itu. Norman tidak mungkin cemburu dan dia harus sadar diri jika dia bukanlah siapa-siapa di hadapan si raja yang sedang bermain-main dengannya.
Gabriel yang sudah menunggu tampak tidak sabar. Dia sudah tiba terlebih dahulu sedari tadi. Dia pun membawakan sesuatu untuk diperlihatkan pada Freya, dia yakin Freya akan senang.
Freya dan Norman sudah tiba, Gabriel sangat senang melihat kedatangan Freya namum pria yang bersama dengan Freya, membuat Gabriel tidak senang senang sama sekali. Padahal dia ingin berbincang berdua saja dengan Freya tapi ada gangguan yang tidak dia harapkan.
"Gabriel!" Freya berteriak memanggil sambil melambai saat melihat Gabriel.
Gabriel beranjak dan membalas lambaian tangan Freya, sedangkan Norman menatapnya dengan tatapan tidak senang. Freya menarik tangannya dari genggaman tangan Norman dan berlari menghampiri Gabriel.
Rasa tidak senang semakin Norman rasakan, kekesalan bahkan memenuhi hati ketika Freya memeluk Gabriel di depan matanya dan mereka berdua terlihat begitu akrab. Ada apa dengannya? Jangan katakan dia sedang cemburu melihat kebersamaan Freya dengan pria lain tapi untuk apa? Tidak, sepertinya ada yang salah pada dirinya. Dia tidak tahu apa tapi dia merasa sudah bermain terlalu jauh dengan wanita itu sehingga menimbulkan perasaan yang tidak seharusnya ada.
"Apa kabarmu, Freya? Kenapa kau terlihat jauh berbeda?" tanya Gabriel.
"Aku baik-baik saja, terima kasih. Kau sendiri, bagaimana dengan kabarmu?"
"Aku juga baik, seperti yang kau lihat tapi siapa pria itu? Apa dia kekasihmu?" Gabriel menatap Norman dengan tatapan tidak bersahabat tapi entah kenapa dia seperti mengenali Norman. Wajah pria itu tampak tidak asing, dia pernah melihatnya tapi dia lupa di mana.
"Bukan, Norman sahabat baikku," jawab Freya. Tentunya jawaban yang diberikan oleh Freya membuat Norman sangat, sangat tidak senang.
"Oh, aku juga sahabat Freya," Gabriel mengulurkan tangan ke arah Norman yang berdiri di sisi Freya, "Gabriel," ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Norman, sahabat paling dekat dalam segala hal!" Norman menyambut uluran tangan Gabriel. Mereka berdua saling tatap dan saling meremas telapak tangan. Freya mengernyitkan dahi, melotot ke arah Norman dengan ekspresi tidak senang karena ucapan yang dia lontarkan. Entah apa maksudnya, yang pasti Norman bersikap begitu menyebalkan.
"Hm, kalian benar-benar seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak saling bertemu!" ucap Freya.
"Enak saja, jangan asal bicara!" Norman melepaskan tangan Gabriel, dia jadi merasa jijik akibat perkataan Freya.
"Bagaimana dengan kabar ayahmu, Freya. Apa dia masih melakukan penggalian?" Gabriel segera duduk begitu juga dengan Freya dan Norman.
Norman duduk di sisi Freya dan menarik Freya mendekat, satu tangannya berada di pinggang Freya tanpa mau melepaskannya. Norman seperti menunjukkan pada Gabriel jika Freya adalah miliknya dan pria itu tidak boleh mengganggu Freya. Oke, sepertinya dia benar-benar cemburu tapi kenapa? Apa dia sudah jatuh hati pada Freya?
"Ayahku baik-baik saja, terima kasih. Sekarang dia sedang pergi melakukan penggalian di sebuah makam kuno," dusta Freya. Dia tidak mau ada yang tahu apa yang sedang terjadi dengan ayahnya.
"Ayahmu memang luar biasa, aku sangat berharap aku bisa melakukan penggalian dengannya. Mungkin saja aku bisa menemukan penemuan besar seperti yang ayahmu temukan!" ucap Gabriel.
"Penemuan besar?" Freya memandangi Gabriel dengan tatapan curiga.
"Yeah, aku mendengar ayahmu selalu menemukan peninggalan bersejarah yang berharga oleh sebab itu aku sangat ingin melakukan penggalian dengannya. Mungkin saja aku bisa menjadi asisten ayahmu sehingga aku bisa mengikuti dirinya ke mana pun ayahmu pergi!"
"Kapan ayahmu kembali? Aku sangat ingin bertemu dengannya!"
"Entahlah, Gabriel," Freya menghela napas, dia sendiri tidak tahu kapan dapat menemukan keberadaan ayahnya.
"Baiklah, bagaimana denganmu sekarang. Kapan kau akan melakukan penggalian lagi?" inilah yang ingin dia ketahui namun ada tujuan lain selain itu.
Mereka berbincang tanpa mempedulikan Norman, Norman juga tidak peduli. Dia hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan tapi jujur saja dia curiga dengan sesuatu, sesuatu yang disinggung oleh Gabriel dan akan dia cari tahu nanti setelah mereka pergi dari tempat itu.
Gabriel menunjukkan sesuatu pada Freya sehingga mereka berdua terlihat serius. Norman yang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan merasa sangat bosan dan untuk mengusir rasa bosan, Norman memesan minuman. Dia juga memesan es cream yang Freya sukai oleh sebah itu Freya terkejut saat Norman menempelkan es cream ke wajahnya.
"Es cream untukmu," ucap Norman.
"Thanks," Freya tersenyum dan mengambilnya, dia memang membutuhkan yang manis dan dingin setelah berbicara terlalu banyak dengan Gabriel.
"Ngomong-Ngomong, aku sepertinya pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu, Norman?" tanya Gabriel.
"Aku bertemu dengan banyak orang, mana aku ingat dirimu!" jawab Norman sinis.
"Yeah, kau benar. Tapi aku benar-benar pernah melihatmu di suatu tempat tapi aku lupa," dia sangat yakin pernah melihat Norman bahkan namanya tidaklah asing tapi dia lupa di mana.
"Jangan-Jangan kau bertemu dengannya saat dia melarikan diri karena hutang!" ucap Freya.
"Hutang?" Gabriel melihat ke arah Norman dengan serius. Pria seperti itu, bagaimana mungkin memiliki hutang? Apa Freya sedang ditipu?
"Benar, dia hanya orang yang dikejar oleh renternir sepanjang waktu!" ucap Freya sambil menikmati es creamnya.
"Yeah, itulah aku!" Norman menarik tengkuk Freya hingga wajahnya mendekat lalu pria itu menghisap bibir bagian bawah milik Freya sehingga membuat Freya terkejut.
"Manis!" ucap Norman tanpa menunjukkan sikap bersalah.
"Mesum, jangan lakukan hal itu di depan umum!" Freya memukul paha Norman dan terlihat kesal. Freya pun menutupi mulutnya apalagi bibir bagian bawahnya berdenyut akibat perbuatan Norman.
"Sepertinya kalian lebih dari teman!" ucap Gabriel.
"Dia hanya teman mesum!" ucap Freya, dia masih terlihat kesal.
"Sudah aku katakan, kami adalah teman. Teman dalam segala hal!" Norman tampak puas karena dia sudah menunjukkan jika Freya adalah miliknya.
"Baiklah, ayo kita pesan makanan. Aku yang bayar!" ucap Gabriel. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Freya karena dia merasa pernah melihat Norman dan pria itu, tidak mungkin memiliki hutang seperti yang Freya katakan tapi siapa? Dia sangat penasaran dan dia akan mencari tahu akan hal ini nanti.
Norman memandangi Gabriel dengan penuh selidik. Entah dia sedang cemburu atau memang tidak menyukai Gabriel tapi dia menaruh curiga pada pria itu. Dia justru sudah tidak sabar pria itu pergi karena ada hal penting yang hendak dia bahas dengan Freya.