
Setelah makan siang, mereka tidak langsung kembali ke hotel. Freya dan Norman memilih menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di sisi dermaga. Lagi pula mereka datang tidak saja untuk mengambil artefak milik ayah Freya tapi mereka pun ingin berjalan-jalan.
Lagi-Lagi sebuah es cream berada di tangan Freya, sedangkan satu tangannya lagi di genggam oleh Norman. Mereka berdua sudah melangkah jauh sambil menikmati sejuknya angin laut yang berhembus. Freya menghentikan langkahnya sejenak, sehingga Norman pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Norman.
"Tidak ada apa-apa," jawab Freya tapi tatapan matanya melihat ke bawah.
"Apa kakimu sakit?" Norman sudah berjongkok di bawah kaki Freya dan melihatnya.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Freya tapi Norman tidak mengindahkan ucapannya dan membuka sepatu yang Freya kenakan.
"Norman, sudah aku katakan aku baik-baik saja!"
"Aku tahu, tapi aku ingin melihatnya!" tidak saja melepaskan sepatu yang Freya kenakan, Norman pun melepaskan kaus kaki yang Freya kenakan dan melihat telapak kaki Freya.
"Tidak apa-apa, kakimu baik-baik saja."
"Sudah aku katakan baik-baik saja!"
"Lebih baik dipastikan dari pada ada sebuah luka di kakimu!"
Norman kembali memakaikan kaus kaki, Freya berpegangan pada bahu Norman. Tatapan matanya tidak berpaling pada pria yang terlihat begitu mempedulikannya dirinya itu.
"Sudah selesai!" ucap Norman setelah memakaikan sepatu Freya.
"Thanks," Freya tersenyum saat Norman mendongak dan menatapnya.
"Ayo kembali jalan," Norman beranjak dan meraih tangan Freya.
"Mau ke mana?" tanya Freya.
"Entahlah, apa kau tidak mau pergi ke suatu tempat? Apa tidak mau mengunjungi museum lagi?"
"Tidak, tidak semua replika mumi raja Tutankhamun berada di museum."
"Benarkah?" tanya Norman karena dia mengira replika yang dicari Freya berada di museum."
"Begitulah," jawab Freya.
Mereka kembali berjalan, mendadak Freya teringat dengan angka romawi yang dia lihat di dahi replika mumi. Apa sebenarnya maksud dari angka itu? Apakah itu hanya angka biasa ataukah angka itu ada artinya. Freya berpikir dengan keras namun langkahnya mendadak terhenti karena dia jadi mendapatkan sesuatu mengenai arti angka yang ada di dahi mumi dan juga dari perkataan tadi.
"Ada apa lagi?" tanya Norman.
"Norman, kau benar-benar dewa keberuntunganku!" teriak Freya seraya melompat ke dalam pelukan Norman.
"Wah, ada apa ini?" tanya Norman karena dia tidak mengerti dengan sikap Freya yang mendadak seperti itu.
"Terima kasih, sekarang aku jadi tahu arti dari angka yang ada di dahi mumi itu!"
"Oh, yeah? Untuk apa kau berterima kasih padaku? Aku tidak melakukan apa pun!" Norman sudah menggendong Freya meski dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Pokoknya terima kasih!" Freya mencium wajah Norman berkali-kali. Dia melakukan hal itu karena dia benar-benar senang.
'Wah.. Wah, meski aku tidak mengerti tapi aku lebih suka kau mencium aku di atas ranjang!" goda Norman.
"Itu urusan nanti. Sekarang, ayo kembali ke hotel!" ajak Freya.
"Apa kau mengajak aku kembali karena kau sudah sangat ingin bercinta denganku?"
"Bukan, bodoh!" Freya memukul bahu Norman dan turun dari gendongan pria itu.
"Ck, itu urusan belakangan. Ayo kembali!" ajak Freya seraya menarik tangan Norman untuk pergi dari tempat itu.
"Baiklah, baik. Jangan menarik seperti itu!" ucap Norman.
"Ya sudah, tapi cepat. Jika tidak aku akan meninggalkan dirimu!" teriak Freya yang sudah berjalan pergi.
"Jika kau tinggal maka aku akan pergi!" ancam Norman.
Langkah Freya terhenti, Norman tersenyum dan melangkah dengan cepat menghampiri Freya yang sudah menunggu.
"Cepat!" teriak Freya.
Norman meraih tangan Freya dan menggenggamnya. Freya mendengus dan berpaling, tentunya itu hanya sikap seperti biasa yang dia tunjukkan. Mereka mencari halte bus yang ada di dekat dermaga untuk kembali ke hotel. Freya sungguh tidak sabar, dia ingin melihat angka romawi yang ada di gambar.
Perjalanan kembali ke hotel pun tidak terlalu memakan banyak waktu. Freya membeli beberapa roti dari toko roti yang ada di dekat hotel. Dua gelas kopi panas pun mereka beli karena mereka berencana menikmati kopi sambil berbincang.
Begitu tiba di dalam kamar, Freya mengambil laptop yang dia tinggalkan di atas ranjang dan menyalakan benda itu. Freya pun melangkah pergi ke kamar mandi sebentar untuk mencuci wajahnya. Norman menunggu di depan jendela sambil membalas pesan dari adiknya karena Vanila bertanya akan sesuatu.
Freya yang sudah keluar dari kamar mandi duduk di meja dan membuka foto yang dia ambil tapi yang menjadi objek utamanya sudah tentu gambar dahi mumi. Norman melangkah mendekat, lalu berdiri di belakang Freya.
"Coba perlihatkan angka yang kau maksud," ucap Norman.
"Kau sedang melihatnya," Freya memperbesar gambar sehingga mereka bisa melihatnya dengan jelas. Angka yang mereka lihat seperti sebuah guratan berbentuk silang tapi di sisi lain juga ada guratan lain bahkan di atas guratan yang mereka temukan juga ada guratan lain yang membuat bingung.
"Apa itu semacam angka, maksudku angka yang menunjukkan jika mumi yang kita lihat adalah mumi kesekian di antara mumi yang dibuat oleh sebuah perusahaan sebelum di sebar ke museum. Maksudku seperti ini, kau membuat sepuluh buah boneka lalu kau menandainya satu persatu dengan angka di setiap boneka itu. Kau paham maksudku, bukan?" tanya Norman.
"Aku tahu, Norman. Itulah yang aku pikirkan. Angka yang ada di mumi menunjukkan tanda jika mumi yang kita lihat adalah mumi yang kesekian dari semua jumlah replika mumi yang dibuat!"
"Jadi, apa artinya? Apa kita harus melihat semua replika mumi yang ada?" tanya Norman.
"Sekarang aku ingin tahu, berapa angka romawi yang kau lihat di dahi mumi ini?" tanya Freya.
"Sepuluh," jawab Norman karena yang dia lihat sebuah tanda silang.
"Tapi aku merasa itu angka tujuh belas atau lima belas. Kau bisa melihat guratannya," jawab Freya sambil menunjuk beberapa guratan yang cukup samar.
"Lalu, apa hanya itu?" tanya Norman.
Freya beranjak dan tampak berpikir, dia bahkan melangkah menuju jendela dan berpikir dengan keras. Angka-Angka itu pasti memiliki arti dan dia yakin ayahnya memberikan teka teki berhubungan dengan angka yang ada di replika mumi raja Tutankhamun tapi apa hubungannya? Tidak ada yang tahu berapa jumlah replika dibuat dan tidak ada yang tahu ke mana saja replika itu di sebarkan.
Norman memandanginya, jujur dia tidak bisa membantu lagi jadi dia tidak akan mengganggu Freya untuk berpikir karena dia memang tidak mengerti dengan mumi.
"Sial, kenapa aku melupakan hal ini!" Freya kembali menghampiri Norman.
"Apa kau mendapatkan sesuatu?" tanya Norman.
"Raja Tutankhamun adalah raja yang memerintah di dinasti ke delapan belas dengan masa pemerintahan selama sembilan tahun. Aku yakin ada hubungannya dengan angka yang ada di dahi mumi itu. Teka teki yang ditinggalkan oleh ayahku mengatakan jika di malam gelap Dewa Osiris akan mengambil nyawa raja Tutankhamun. Apa kau mengerti dengan maksudnya?"
"Apa kita harus mencari mumi ke sembilan atau ke delapan belas untuk menemui batu permata yang disembunyikan oleh ayahmu?" tanya Norman.
"Yeah, ayahku menyembunyikan batu itu di antara salah satu replika mumi sang raja dan aku yakin, ayahku menyembunyikan batu yang dia temukan ke replika mumi nomor sembilan," ucap Freya dengan yakin.
"Cerdik, kau sungguh cerdik. Itu sangat masuk akal mengingat angka yang ada. Angka yang ada di mumi dan jika dihitung dari jaman raja itu memimpin dan lamanya, sangat masuk akal jika ayahmu menyembunyikannya di replika nomor sembilan tapi yang jadi pertanyaannya adalah, di mana replika mumi nomor sembilan itu berada?"
"Itu urusan nanti yang penting teka teki sudah terpecahkan," Freya mendekati Norman dan mengalungkan kedua tangan ke leher Norman, "Ternyata kau cukup berguna," ucapnya.
"Aku memang berguna jadi waktunya kau berterima kasih padaku!" Norman mengangkat tubuh Freya dan mencium bibirnya.
Freya membalas ciuman Norman, benar-benar partner yang sangat berguna. Norman membawa Freya ke kamar mandi, saatnya menghabiskan waktu mereka berdua sebagai perayaan mereka sudah bisa memecahkan teka teki yang diberikan oleh ayah Freya. Satu tahap sudah dilewati, tinggal ke tahap selanjutnya yang harus mereka lewati tentunya tidak mudah karena semakin mereka dekat dengan apa yang mereka cari semakin banyak pula musuh yang akan mereka hadapi.