
Norman mengurus semua yang diperlukan untuk pergi ke Italia dengan cepat karena mereka akan langsung berangkat tanpa membuang waktu. Freya yang sudah tidak sabar, dia benar-benar sudah ingin mengakhiri pencariannya karena dengan begitu kisah mereka berdua akan berakhir.
Semakin cepat semakin baik agar perasaan menyesakkan dada yang dia rasakan cepat berlalu. Dia pun harus memikirkan keadaan ayahnya yang sudah lama menghilang, semoga saja ayahnya masih dalam keadaan hidup saat ini. Dia juga harus memikirkan keadaan Cristina yang berada di tangan musuh.
Seperti yang sudah-sudah, Freya masih saja bersikap tidak bersahabat dengan Norman. Seharusnya mereka duduk bersama tapi Freya menukar kursi dengan yang lain dengan sebuah alasan. Norman sangat kesal, jarak duduk mereka jadi sangat jauh. Padahal dia mengkhawatirkan keadaan Freya yang terlihat tidak baik tapi Freya benar-benar tidak mau dekat dengannya sama sekali.
Sekarang dia jadi memikirkan perkataan adiknya, apakah yang Vanila katakan adalah benar? Norman melihat ke arah Freya sesekali. Freya menolak saat pramugari menawarkan makanan untuknya. Sekarang dia baru sadar jika dia lupa dengan bukti yang dia ingin lihat apakah Freya sedang menstruasi tidak tapi tidak apa-apa. Saat tidur nanti dia akan memeriksanya.
Perjalanan menuju Italia cukup memakan banyak waktu, mereka tiba ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka pun segera mencari penginapan, Freya sudah terlihat lelah dan wajahnya sedikit pucat.
Biasanya dia selalu penuh stamina dan bersemangat tapi entah kenapa dia merasa begitu lelah hari ini. Seharusnya dia lebih bersemangat dari pada biasanya karena dia sudah mengetahui keberadaan replika mumi yang dia cari. National History Museum, besok dia akan pergi ke sana untuk menemukan keberadaan batu yang ayahnya sembunyikan dan malam ini, dia ingin beristirahat agar dia memiliki stamina yang cukup apalagi dia sangat lelah.
Norman sangat ingin bertanya, tapi Freya selalu menjauhinya. Freya bahkan sudah tidak terlihat saat mereka keluar dari bandara. Norman berlari untuk mencari keberadaan Freya yang mendadak hilang padahal dia hanya mengambil tasnya sebentar dan sudah memintanya untuk menunggu.
Norman berlari sambil mengumpat karena dia ditinggalkan begitu saja. Norman melihat orang-orang yang ada di tempat itu dengan teliti sampai akhirnya dia mendapati Freya sedang menyetop sebuah taksi. Norman segera berlari, rasanya ingin memaki karena dia merasa Freya tidak menganggapnya ada. Apa Freya sudah menganggapnya sebagai partner lagi?
"Freya, tunggu!" teriaknya saat Freya hendak masuk ke dalam taksi.
Freya melihatnya sekilas, Norman sudah berlari mendekat. Seperti tidak melakukan kesalahan, Freya masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu mobil itu. Norman benar-benar kesal, dia semakin tidak mengerti namun dia masuk ke dalam mobil yang sama yang ditumpangi oleh Freya.
"Kenapa kau meninggalkan aku?" tanyanya saat mobil yang mereka tumpangi sudah jalan.
"Kau saja yang lelet seperti siput!" jawab Freya sinis.
"Apa maksudmu? Aku hanya mengambil tas sebentar saja tapi kau sudah meninggalkan aku!"
"Aku lelah, Norman. Tidak ingin berdebat. Bisakah kau melihatnya? Tolong jangan memulai dan jika kau ingin berdebat denganku, kita lakukan besok setelah aku memiliki tenaga untuk berdebat denganmu!"
"Kau yang memulai duluan, Freya. Kau tidak mau berdebat tapi kau mencari perkara denganku. Kau pindah tempat duduk dengan sengaja seolah-olah aku penjahat. Kau pun mengabaikan aku setiap kali aku berbicara denganmu dan kau meninggalkan aku begitu saja. Aku sudah bertanya baik-baik padamu apakah aku melakukan sebuah kesalahan atau tidak tapi kau berkata tidak tapi sekarang, setelah semua yang kau lakukan dan setelah aku cukup bersabar, kau justru menyudutkan aku seolah-olah aku yang salah!" rasanya sudah tidak tahan. Dia tahu sikap Freya yang menyebalkan dan suka seenaknya tapi kesabaran yang dia miliki juga ada batasnya.
"Cukup!" teriak Freya, mereka justru bertengkar di dalam taksi. Italia adalah tempat yang romantis, tempat yang diimpikan oleh setiap pasangan untuk menghabiskan waktu tapi mereka justru bertengkar begitu mereka tiba di kota romantis itu.
"Apa semua baik-baik saja, Tuan?" tanya sang supir pada Norman menggunakan bahasa Italia.
"Tentu saja, maaf telah membuat keributan!" jawab Norman.
"Baiklah, aku harap tidak ada keributan lagi!" supir taksi itu melihat kedua penumpangnya yang saling membuang wajah tanpa adanya perdebatan lagi.
Freya diam, Norman juga diam. Tidak ada yang berbicara di antara mereka sampai mereka tiba di hotel. Freya turun terlebih dahulu, dia bergegas menuju lobi hotel karena dia ingin menyewa sebuah kamar untuk dirinya sendiri. Norman menyusul setelah membayar dan berbincang sebentar dengan sang supir yang memberinya saran untuk tidak bersikap keras pada wanita yang sedang marah. Jujur saja, selama ini dia sibuk dengan pekerjaan yang ada di istana dan tidak memikirkan hubungan apa pun dengan seorang wanita apalagi kematian Emely, cinta pertamanya membuatnya tidak pernah membuka hati lagi pada wanita mana pun.
Mungkin karena tidak adanya pengalaman membuatnya tidak tahu bagaimana harus memperlakukan wanita yang sedang marah seperti Freya. Seperti yang supir taksi itu katakan, dia harus bersikap lembut agar tidak terjadi pertengkaran di antara mereka.
"Baik Nona, apa sendirian saja?" tanya resepsionis itu.
"Ya, hanya sendiri saja!" jawab Freya.
"Berdua denganku!" ucap Norman yang sudah berdiri di sisi Freya.
"Apa? Aku tidak ingin sekamar denganmu!" tolak Freya.
"Jangan seperti itu, kita datang bersama jadi kita harus selalu bersama!" Norman menarik pinggang Freya sehingga mendekat. "Tolong berikan kamar yang romantis untuk kami berdua!" pintanya pada sang resepsionis.
"Tidak mau, kau bisa pesan kamar sendiri!" tolak Freya.
"Stop, Freya. Jangan mempermalukan diri sendiri, banyak yang melihat!" ucap Norman pelan.
Freya melihat sekitar, mereka memang menjadi pusat perhatian akibat pertengkaran konyol mereka. Freya menyingkirkan tangan Norman dan melangkah ke samping, sebaiknya dia ingat tujuan awal.
"Ini kunci kamar yang kau inginkan, Tuan," sang resepsionis memberikan kunci kamar yang Norman inginkan.
"Terima kasih," Norman menarik tangan Freya menuju lift, Freya tidak membantah karena dia sangat lelah untuk berdebat. Sebuah kamar dengan ukuran cukup besar akan mereka tempati. Freya tidak mempedulikan hal itu, yang ingin dia lakukan adalah tidur karena besok dia butuh banyak tenaga.
Freya masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Norman mengambil barang-barang yang diantarkan oleh seorang petugas hotel. Setelah ini dia akan memperbaiki situasi di antara mereka berdua dan tidak ada pertengkaran lagi. Norman bahkan mengambil baju ganti untuk Freya dan membawanya menuju kamar mandi untuk memberikannya.
"Freya, baju gantimu," Norman masuk ke dalam kamar mandi. Freya barus selesai mencuci wajahnya, dia tidak menjawab dan hanya memperhatikan Norman saja.
"Bagaimana dengan keadaanmu, wajahmu sangat pucat," Norman menghampirinya, dia baru sadar jika wajah Freya begitu pucat.
"Aku hanya lelah, Norman. Aku butuh istirahat jadi jangan mengganggu aku dan berdebat denganku hari ini!"
"Baiklah, aku minta maaf jika sudah memarahi dirimu di mobil," Norman sedang mengusap wajah Freya yang basah, "Tidak marah denganku, bukan?" tanyanya.
"Tidak, aku yang minta maaf. Aku bersikap kekanak-kanakan dan egois."
"Sudahlah, sekarang ganti pakaianmu dan beristirahatlah. Apa kau mau sup hangat sebelum tidur?"
"Tidak, terima kasih," Freya berusaha tersenyum, sebaiknya dia menyingkirkan perasaan yang tidak penting dan fokus dengan apa yang sedang dia cari.
"Jika begitu pergilah beristirahat, aku berjanji tidak akan mengganggu dirimu kecuali memelukmu saja."
Freya hanya mengangguk, dia benar-benar tidak mau berdebat oleh sebab itu dia mengiyakan semua ucapan Norman yang penting dia tidak diganggu oleh pria itu. Freya keluar dari kamar dan mengganti pakaiannya, dia pun naik ke atas ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Tidak butuh lama baginya, Freya sudah terlelap. Norman ingin memeriksa apakah Freya benar-benar menstruasi atau tidak tapi sayangnya, tubuh Freya dibungkus dengan selimut seperti kepompong sehingga dia tidak bisa memeriksanya. Sial, sepertinya dia harus menggunakan cara lain tapi janji tetaplah janji dan dia tidak akan mengganggu Freya karena dia tahu Freya akan marah.