
Norman pergi menenangkan pikirannya dengan sebotol minuman di bar yang ada di hotel itu. Dia sedang bimbang, apakah dia masih mau lanjut dengan petualangannya atau menyudahinya. Dia bisa berhenti jika dia mau apalagi dia sudah cukup puas.
Freya pun tidak akan keberatan dia pergi karena Freya sudah mengatakan tidak akan mencegah dan tidak keberatan. Norman meneguk minumannya sampai habis dengan pikiran yang kacau, sekarang dia benar-benar bimbang apakah dia masih mau mengikuti Freya atau tidak.
Tatapan matanya justru tertuju pada seorang wanita yang ada di seberang meja. Akibat tatapan matanya, wanita itu justru mendekati Norman karena dia mengira Norman tertarik dengan dirinya.
"Sendirian saja?" tanya wanita itu seraya duduk di hadapan Norman. Wanita itu bahkan mencoba menggodanya dengan memajukan tubuhnya sedikit agar Norman dapat melihat belahan kedua dadanya dari pakaiannya yang minim.
"Kau bisa lihat sendiri?" Norman meneguk kembali minuman yang sudah di tuang. Yeah, wanita memang harus bersikap seperti itu. Terlihat manis dan menggoda tidak seperti Freya yang memiliki sifat tidak menyenangkan. Sial! Norman mengusap wajah, tidak seharusnya dia membandingkan Freya dengan wanita lainnya apalagi dia dan Freya sudah menghabiskan malam berdua.
"Bagaimana jika kita pergi ke tempat lain," ajak wanita itu.
"Maaf, aku tidak berminat!" tolak Norman.
"Ayolah," wanita itu beranjak dan duduk di sisi Norman. Dia bahkan menggoda Norman dengan menempelkan lengan Norman ke belahan dadanya. Norman jadi kesal, dia benci dengan wanita yang menggoda seperti itu.
"Menjauh dariku!" Norman beranjak dan terlihat kesal.
"Apa? Bukankah aku menatap padaku sedari tadi? Bukankah kau tertarik denganku?" tanya wanita itu tidak terima.
"Tidak, kau salah paham!" setelah berkata demikian, Norman pergi dari bar. Dia masih belum mendapatkan jawaban apakah dia masih mau lanjut atau tidak. Norman melihat jam, celaka. Bukankah hari ini mereka harus kembali ke Amerika? Jangan katakan dia sudah membuat Freya menunggu tapi sayangnya, begitu dia masuk ke dalam kamar, Freya sudah tidak ada di dalam.
"Freya!" Norman memanggil dan mencari Freya ke dalam kamar mandi. Freya tidak ada di sana, semua barang-barang Freya pun sudah tidak ada saat Norman melihatnya. Bagus, dia ditinggalkan begitu saja.
"Bagus, Freya. Kau benar-benar rekan yang kejam yang telah meninggalkan aku dua kali!" Norman sangat kesal. Di saat dia sedang memikirkan hal ini ternyata dia sudah ditinggal, mungkin ini sangat bagus? Sepertinya itulah jawaban dari pertanyaan yang sedang dia cari.
Norman menjatuhkan diri ke atas ranjang, petualangannya sudah selesai. Ke mana lagi dia akan pergi setelah ini? Norman berpaling namun sebuah kertas yang ada di atas ranjang justru menarik perhatiannya. Norman segera mengambil dan melihat, ternyata itu tiket pesawat yang ditinggalkan oleh Freya.
Norman duduk di atas ranjang. Bagus, ini undangan ataukah Freya sengaja meninggalkan tiket itu agar dia membuat keputusan sendiri apakah dia akan kembali ke Amerika atau tidak. Norman melihat tiket yang ada di tangan, lagi-lagi dia jadi memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Freya sudah berada di bandara saat itu, dia tampak gelisah sambil melihat jam. Entah apa yang dia tunggu, dia sendiri tidak tahu. Setelah mandi, dia memilih pergi seorang diri tanpa menunggu Norman. Dia pun sengaja meninggalkan tiket milik Norman. Terserah pria itu masih mau mengikutinya atau tidak, Norman berhak memutuskan sendiri tapi kenapa dia seperti menunggu? Sebenarnya apa yang sedang dia harapkan?
Freya menghela napas, panggilan untuk menaiki pesawat sudah terdengar. Para penumpang sudah berbondong-bondong bergerak menuju pintu. Freya melihat para penumpang satu persatu seperti mengharapkan sesuatu tapi setelah semua penumpang keluar pun dia tidak mendapati apa yang dia cari.
Napas berat kembali dihembuskan, sudahlah. Lebih baik dia segera bergegas sebelum ada yang memanggilnya. Mungkin saja Norman sudah tidak mau lagi dan memilih berhenti. Itu memang haknya, dia tidak akan mencegah atau apa pun. Lupakan saja pria itu, setidaknya dia sudah dibantu dan setidaknya Norman sudah memberikan kepuasan untuknya di atas ranjang.
London, hari ini dia akan meninggalkan kota itu. Dia bahkan belum mendapatkan informasi di mana saja replika mumi tersebar akibat terlalu lama berdebat dengan Norman. Tidak jadi soal, mungkin setelah ini dia bisa kembali fokus setelah pria itu tidak ada lagi.
Meski dengan langkah yang berat, itu karena kedua kakinya masih terasa pegal. Freya masuk ke dalam pesawat dan mencari kursinya yang ternyata masih kosong. Baiklah, kembali bekerja sendiri bukan berarti dia berada di dalam neraka jadi dia tidak boleh terlihat seperti orang yang putus asa.
Freya memejamkan mata, dari pada pikirannya kacau lebih baik dia tidur sampai pesawat itu tiba di New York. Dia sudah yakin Norman pasti tidak akan kembali dengannya. Bisa saja Norman belum kembali ke kamar dan mengetahui kepergiannya atau bisa saja Norman memang tidak mau kembali lagi tapi sayangnya dia harus dikejutkan oleh seseorang yang duduk di sampingnya secara tiba-tiba. Freya berpaling, kedua mata melotot karena pria menyebalkan itu sudah berada di samping tapi entah kenapa seperti ada kembang api meledak di dalam hatinya.
"Kau benar-benar wanita yang kejam!" ucap Norman seraya mengatur napasnya. Dia berlari seperti orang gila di bandara karena dia sudah terlambat, beruntungnya pesawat itu tidak meninggalkan dirinya.
"Tolong gunakan sabuk pengaman, Tuan," pinta sang pramugari karena pesawat sudah akan lepas landas.
Norman mengangguk, dia butuh istirahat sebentar akibat tenaga yang terkuras untuk berlari. Freya berpaling, dia bersikap tidak menyukai keberadaan Norman di sana padahal sesungguhnya senyuman tipis sedari tadi menghiasi wajahnya.
"Kenapa kau begitu tega, hah?" tanya Norman setelah napasnya sudah kembali normal.
"Untuk apa kau mengikuti aku? Kenapa kau tidak pergi saja?!" ucap Freya sinis.
"Aku memang tidak mau mengikuti dirimu lagi tapi kenapa kau meninggalkan tiket pesawat itu untukku?"
"Siapa yang meninggalkan tiket itu, aku hanya membuang sampah!" jawab Freya.
"Kau?!" Norman menarik napas lalu tangan Freya diraih dan di genggam dengan erat sehingga membuat Freya kesakitan.
"Kau pria gila, lepaskan!" Pinta Freya namun dia dikejutkan dengan ciuman Norman yang secara tiba-tiba. Saat itu pesawat lagi menukik naik, penumpang yang berada di samping mereka tidak melihat karena sedang memejamkan kedua mata akibat goncangan kecil di pesawat.
Freya memukul bahu Norman, pria itu membalas perbuatan Freya yang telah meninggalkan dirinya dengan cara menghisap bibir bawahnya. Dia ingin membuatnya membengkak oleh sebab itu Norman menghisapnya dengan sekuat mungkin sampai membuat Freya kesakitan dan memegangi bibir bawahnya.
"Sialan, kau benar-benar gila!" umpat Freya. Norman tersenyum dengan ekspresi puas meski dia merasa balasan yang tidak setimpal.
"Oh, No!" Freya memegangi bibir bagian bawahnya yang berkedut sakit dan terasa tebal.
"Tidak mungkin!" Freya mengambil kaca kecil di dalam tas untuk melihat bibirnya. Freya terkejut mendapati bibirnya yang memerah dan menebal.
"Kurang ajar kau!" ucap Freya sambil menutup mulut. Jangan sampai ada yang melihat karena dia tidak memiliki masker.
"Itu balasan untukmu yang meninggalkan aku. Jika kau berani lagi, aku akan menghisap bagian lainnya sampai kau meminta ampun padaku!" ancam Norman.
"Menyebalkan, seharusnya aku tidak meninggalkan tiket pesawat itu!" sesal Freya.
Norman sangat puas, tadinya dia memang sempat bimbang tapi dia mengambil keputusan yang tepat saat detik-detik terakhir oleh sebab itu dia berlomba dengan waktu agar tidak tertinggal di pesawat. Dia tahu maksud Freya meninggalkan tiket itu dan dengan gengsinya yang tinggi dia pun tahu Freya tidak mungkin mengajaknya untuk kembali jadi selama masa liburannya belum habis, dia akan tetap menjadi partner Freya meski Freya tidak mau.