Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Ingin Sendiri



Hubungan mereka yang tidak jelas membuat Freya semakin menjaga jarak dari Norman. Lagi pula apa yang dia harapkan? Sudah jelas jika sejak awal dia dan Norman adalah partner. Norman mau terlibat karena gara-gara dirinya yang melibatkan pria itu tanpa sengaja.


Dia pun mendapatkan keuntungan selama ini karena sudah banyak dibantu oleh Norman dan pria itu bersenang-senang dengannya untuk menghilangkan kebosanan. Dia rasa mereka saling menguntungkan jadi dia tidak perlu menuntut lebih banyak dari hubungan mereka berdua.


Lagi pula, siapa dirinya? Hanya seorang pencuri yang sudah pasti akan menghuni penjara sedangkan Norman, dia adalah seorang raja yang akan kembali ke istananya setelah semua selesai. Dari pada bersedih, bukankah seharusnya dia bersyukur karena sudah bertemu dengan pria itu? Bukankah seharusnya dia berterima kasih karena sudah banyak dibantu?


Freya keluar dari kamar setelah Norman tidur, dia tidak mau Norman tahu sehingga banyak pertanyaan yang akan dilontarkan oleh pria itu nantinya. Dia pun tidak mau berdebat apalagi sudah malam. Freya lebih memilih tidur di sofa, namun malam itu dia tidak bisa tidur sama sekali karena biasanya ada tangan kekar yang memeluk dirinya dan ada tubuh hangat yang akan menghangatkan dirinya.


Dia tidak tahu keberadaan Norman ternyata mempengaruhi dirinya begitu besar. Dia pun tidak tahu jika sekarang dia merindukan kehangatan tubuh pria itu. Baiklah, tidak terlambat menyadari itu lebih baik karena dengan demikian, dia harus membiasakan diri tanpa keberadaan pria itu lagi nantinya namun Freya tidak bisa  tidur sama sekali.


Freya sudah berusaha memejamkan mata, lampu ruangan bahkan dimatikan agar dia bisa memejamkan mata namun yang dia lakukan sia-sia belaka. Untuk mengusir rasa bosan, Freya menghubungi Gabriel karena dia butuh teman untuk berbincang. Beruntungnya Gabriel belum tidur sehingga dia memiliki teman untuk berbincang.


Malam yang sangat aneh, malam yang tidak sama seperti yang sudah-sudah tapi dia harus terbiasa karena malam seperti itu memang akan dia alami lagi saat rekannya pergi dan dia tidak memiliki hak untuk mencegahnya.


"Ada apa, Freya? Apa kau berubah pikiran?" tanya Gabriel.


"Tidak, aku hanya ingin berbincang denganmu saja. Maafkan aku jika aku mengganggumu!"


"Tidak, aku justru sangat senang kau menghubungi aku. Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Bukan hal penting," jawab Freya. Dia tidak akan lupa dengan pesan Norman yang memintanya untuk berhati-hati dengan Gabriel tapi dia hanya ingin berbincang saja. Freya bahkan tidak menyinggung masalah ayahnya apalagi penggalian yang ayahnya temukan, kali ini dia bertanya pada Gabriel apa yang dia lakukan selama ini.


Norman yang terbangun mencari keberadaan Freya di atas ranjang. Norman meraba ranjang tanpa membuka kedua matanya karena dia pikir Freya pasti tidur di sisinya namun keberadaan Freya justru tidak dia temukan.


"Freya," Norman memanggil dan mengangkat tubuhnya sedikit karena dia ingin melihat ke arah kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka, Norman kembali memanggil tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Norman beranjak dari atas ranjang, ke mana Freya pergi? Sikapnya benar-benar aneh dan ini kali pertama Freya tidak ada di ranjang semenjak mereka sudah melewatkan malam panas mereka di London. Apa Freya pergi ke dapur untuk mengambil air hangat akibat perutnya sedang nyeri? Mungkin saja Freya memang sedang mengambil air minum.


"Freya," Norman kembali memanggil sambil membuka pintu kamarnya.


"Gabriel, kita lanjutkan besok!" ucap Freya karena dia tidak mau Norman tahu dia sedang berbicara dengan Gabriel.


"Baiklah, aku akan menghubungimu besok!" ucap Gabriel, sepertinya dia harus mengajak Freya bertemu lagi.


"Terima kasih sudah menemani aku berbincang," Freya menyimpan ponselnya ke bawah bantal lalu berbaring dan berpura-pura tidur.


Norman mencarinya di dapur tapi Freya tidak ada. Aneh, Norman melangkah keluar, dia curiga Freya berada di ruang tamu dan benar saja dugaannya, Freya sedang berbaring membelakanginya. Norman menggeleng, apa yang sedang terjadi dengan Freya benar-benar membuatnya bingung.


Freya masih menutup kedua mata dengan rapat, dia dapat merasakan Norman yang duduk di belakangnya dan tangan pria itu sudah berada di atas lengannya.


"Kenapa kau tidur di sini, Freya?" Norman menyingkirkan rambut Freya dan mengusap wajahnya dengan perlahan.


"Apa kau tidak mau tidur denganku lagi sehingga kau lebih memilih tidur di sofa?" tanyanya lagi. Dia tahu Freya tidak sedang tidur dan hanya pura-pura saja namun Freya masih tidak mempedulikan dirinya.


"Aku tahu kau sedang berpura-pura saja. Kenapa kau tidur di sini?" Norman masih memperlakukannya dengan lembut karena dia tidak mau membuat Freya marah apalagi di masa menstruasinya di mana emosionalnya tidak stabil.


"Aku tidak bisa tidur!" jawab Freya.


"Kenapa? Apa perutmu sakit?".tangan Norman sudah berada di perut Freya dan memberikan usapan di sana.


"Tidak perlu dipedulikan, besok sudah membaik!"


"Ayo kembali ke kamar, aku akan memijitkan pinggangmu agar rasa nyeri di perutmu berkurang."


"Tidak perlu, Norman. Aku ingin di sini sendirian jadi jangan mengganggu aku!" tolak Freya.


"Kau benar-benar tidak seperti biasanya, Freya!" Norman beranjak, Freya mengira Norman akan pergi tapi dia justru terkejut saat tubuhnya terangkat ke atas karena Norman sedang menggendongnya.


"Lepaskan aku!" pinta Freya.


"Aku tahu keadaanmu karena masa hormon yang tidak stabil, kau boleh marah padaku dan melampiaskan semua kekesalanmu padaku tapi jangan tidur di sini. Aku akan keluar jika kau tidak sedang ingin tidur denganku!" ucap Norman.


"Tidak perlu, aku ingin tidur di luar jadi turunkan aku!" pinta Freya.


"Tidak, Freya. Aku akan keluar setelah aku memijitkan pinggangmu sehingga nyeri perutmu membaik!"


Freya membuang wajah, dia malas berdebat. Norman membawanya ke dalam kamar dan membaringkannya dengan perlahan. Dia bahkan meminta Freya untuk berbaring tertelungkup karena dia akan memijitkan pinggang Freya seperti yang dia katakan. Karena tidak mau berdebat, Freya tidak mencegah apa yang Norman lakukan.


"Sebaiknya jangan menunjukkan perhatian yang sia-sia seperti ini, Norman!" ucap Freya.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Norman. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Freya.


"Aku rasa kau tahu maksud dari perkataanku jadi tidak perlu pura-pura!"


"Ck, sudahlah. Aku akan mengalah karena keadaanmu ini!" Norman berbaring di sisi Freya dan memeluknya. Freya berusaha untuk tidak tergoda dengan pelukan hangat yang sangat dia inginkan sedari tadi dengan cara menggeser tubuhnya.


"Aku ingin sendirian, tolong tinggalkan aku!" pinta Freya.


"Tidak mau aku peluk?" Norman kembali bergeser mendekatinya.


"Aku sedang ingin sendirian, Norman. Tolong tinggalkan aku!" pinta Freya dengan nada tinggi.


"Baiklah, baik. Jangan marah seperti itu, aku akan tidur di luar dan tidak mengganggumu!" Norman mendekatinya dan memberikan ciuman di pipi Freya, "Panggil aku jika kau menginginkan sesuatu!" ucapnya. Norman memandangi Freya namun kedua mata Freya sudah terpejam karena dia tidak mau melihat wajah Norman.


Norman turun dari atas ranjang, semoga saja besok keadaan Freya sudah membaik. Jujur saja dia tidak suka mereka seperti itu. Dia harap besok hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula namun dia tidak tahu jika air mata Freya jatuh saat dia sudah berada di luar. Freya menghapus air matanya dengan cepat, perasaan menyesakkan dada yang dia rasakan benar-benar bisa menghancurkan dirinya. Dia harap dia bisa segera menemukan batu itu agar perpisahan mereka cepat terjadi dan memang, anak buah yang Kendrick utus sudah menemukan keberadaan mumi ke delapan yang sedang dia cari dan besok dia akan tahu di mana replika mumi itu berada.