
Vanila pergi mencari kakaknya sambil membawa putrinya. Kakaknya tidak akan marah jika dia menggunakan putrinya sebagai alasan. Jujur saja dia sangat ingin tahu, kenapa Norman membawa wanita asing pulang dan kenapa tidak Freya, wanita yang dia ajak lari waktu itu.
Norman sedang berbaring di atas ranjang dengan tatapan kosong. Petualangan sesaat yang mendebarkan dan yang pastinya sudah tidak bisa dia lakukan lagi karena hal menyenangkan itu tidak akan terulang kembali. Petualangannya yang membawanya bertemu dengan Freya namun pertemuan tak sengaja mereka diakhiri dengan perpisahan yang tak terduga. Apa ini benar-benar akhir dari semuanya?
Sial, perasaan rindu melanda. Saat bersama dia tidak merasakan hal seperti itu tapi sekarang, saat sudah jauh dan kehilangan dia justru merasakan kerinduan yang teramat sangat. Norman berusaha memejamkan mata, dia jadi kurang tidur setelah kejadian itu. Mendadak dia malas melakukan apa pun, semua terasa tidak menyenangkan lagi.
"Kak, apa kau sedang tidur?" tanya Vanila sambil mengetuk pintu. Norman enggan menjawab, dia tahu adiknya pasti akan bertanya mengenai Freya.
"Ana ingin bermain denganmu," ucap Vanila lagi dan begitu mendengarnya dia langsung melompat turun.
Vanila tersenyum saat kakaknya membuka pintu. Ana sudah berpindah tangan, Norman tidak mengatakan apa pun dan melangkah masuk sedangkan Vanila mengikutinya masuk ke dalam.
"Bagaimana dengan liburan yang kau jalani?" tanya Vanila basa basi.
"Menyenangkan, meski singkat."
"Bagus, aku senang mendengarnya. Jika menyenangkan kenapa kakak kembali dengan wajah sedih seperti itu? Apa telah terjadi sesuatu? Atau kakak tidak mau liburan kakak berakhir?" Vanila sungguh penasaran.
"Ck, jangan banyak bertanya. Mana Abraham? Kenapa dia tidak datang?" Norman berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia enggan membahas apa yang telah terjadi.
"Suamiku pergi melakukan bisnis, dia akan menyusul nanti setelah selesai."
"Sepertinya kehidupan rumah tangga kalian berdua sangat baik," ucap Norman yang sudah duduk di sisi ranjang dengan keponakannya yang manis.
"Kenapa? Apa kakak tidak mau memiliki keluarga seperti aku?"
"Bukan begitu," Norman menghela napas, Vanila buru-buru menghampiri kakaknya dan duduk di sisi kakaknya.
"Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa kau tidak kembali dengan wanita bernama Freya? Kenapa kau justru kembali bersama dengan wanita asing yang kau sebut sebagai calon permaisuri-mu, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau benar-benar akan menikah dengannya?" Vanila tidak ragu untuk bertanya meski kakaknya terlihat enggan menjawab.
"Bukan seperti itu, Vanila. Aku malas membahasnya."
"Kak, Jangan mengambil keputusan sembarangan hanya karena kau akan didesak untuk menikah. Kau rajanya, kau yang memiliki kuasa dan kau bisa membantah para menteri itu. Mereka tidak akan mungkin melengserkan dirimu dari taktha karena tidak ada kandidat. Aku tidak mungkin karena aku hanya seorang putri saja. Jangan gegabah dengan menggunakan seorang wanita untuk membungkam para menteri itu.
"Aku tahu, aku hanya memanfaatkan keadaan. Cristina adalah pelayan Freya, mereka berdua begitu dekat. Cristina sudah bekerja lama dengan Freya, aku tidak bisa meninggalkan dirinya seorang diri karena insiden buruk terjadi yang merenggut ayah Freya dan Freya," Norman menghentikan perkataannya, dia pun tampak sedih.
"Apa yang terjadi dengan Freya?" tanya Vanila. Sepertinya telah terjadi hal buruk pada Freya sehingga membuat kakaknya jadi seperti itu.
"Freya jatuh ke sungai saat menghadapi musuh," jawab Norman.
"Apa yang terjadi dengannya saat ini? Apa kau sudah menemukan keberadaannya?"
Norman hanya menggeleng, dia kembali terlihat putus asa. Sampai sekarang Kendrick belum juga memberikan kabar padanya. Entah Freya masih hidup atau tidak, dia tidak tahu.
"Apa dia sudah mati?" tanya Vanila lagi.
"Entahlah, jangan berkata demikian. Aku sedang mencari keberadaan dirinya dan aku harap dia selamat dan kembali padaku!"
"Bagaimana jika kau tidak menemukan keberadaan dirinya? Bagaimana jika ternyata dia sudah mati, apa kau akan menikahi Cristina dan benar-benar akan menjadikannya sebagai ratu?"
"Tidak! Jika dia memang sudah tiada, maka aku tidak akan menolak rencana para menteri itu untuk mencari seorang istri dari kaum bangsawan dan kali ini aku tidak mau menggunakan perasaan lagi. Aku sudah kehilangan Emely, sekarang aku harus kehilangan Freya dan aku, tidak mau mengalami hal yang sama untuk ketiga kalinya jadi aku tidak akan menggunakan perasaan lagi!" ucap Norman.
"Lakukan yang terbaik untukmu, Kakak. Aku harap kau bisa menemukan keberadaan Freya dan membawanya kembali agar tidak terlalu banyak drama nantinya. Kau tahu para menteri itu, bukan? Aku juga berharap wanita yang kau bawa pulang itu tidak akan berkhianat!"
"Tidak perlu khawatir, semua itu tidak akan terjadi!"
Vanila mengusap lengan kakaknya dengan maksud menghibur. Dia harap kakaknya mendapatkan kebahagiaan terlepas Freya masih hidup atau tidak. Meskipun kakaknya harus menikah tanpa adanya perasaan tapi lambat laun, dia akan mencintai istrinya apalagi setelah mereka memiliki anak.
Norman bermain dengan Ana sebentar, hal itu cukup menjadi hiburan untuk mengobati perasaannya yang sedang kalut tapi ketika Vanila membawa putrinya keluar karena Ana sudah mau tidur, perasaan kalut itu kembali Norman rasakan.
Tidak tahan dengan perasaan yang sedang dia alami, Norman menghubungi Kendrick untuk mencari tahu bagaimana dengan pencarian yang sedang mereka lakukan. Kendrick sedang memantau para tim pencari, pasukan telah ditambahkan sehingga pencarian semakin luas bahkan mereka sudah mencari sampai ke hulu sungai di mana sungai itu berakhir di sebuah air terjun yang memiliki muara namun keberadaan Freya benar-benar tidak bisa mereka temukan.
"Bagaimana, Kendrick. Apa kau belum juga menemukan keberadaannya?" tanya Norman.
"Belum, Sir. Kami sudah mencari ke hulu sungai tapi keberadaannya tidak juga ditemukan. Menurut tim penyelamat jika tubuhnya tidak tersangkut di tengah sungai berarti Nona Freya selamat dari sungai itu!" jawab Kendrick. Mendengar opsi kedua yang dikatakan oleh Kendrick, Norman jadi bersemangat. Berarti masih ada harapan meski hanya lima puluh persen.
"Jika begitu sebar orang untuk mencari keberadaannya dan tetap lakukan pencarian di sungai sampai tim pencari berhenti mencarinya!" perintah Norman.
"Baik, Sir. Aku akan melakukan perintahmu!"
"Bagus!" Norman melangkah menuju lemari dan mengambil alat pelacak yang dia simpan di laci. Sampai sekarang dia masih tidak mengerti kenapa alat itu bisa terlepas padahal alat itu mungkin terlepas hanya karena arus air sungai bahkan jika terantuk batu pun, alat itu tidak akan terlepas lalu bagaimana bisa alat itu berada di tengah sungai?
Mendadak dia jadi menerka jika alat itu sengaja di lepaskan oleh Freya. Bagaimana jika Freya melakukan hal itu dengan sengaja karena dia sudah memiliki rencana untuk pergi darinya? Hal itu bisa saja terjadi, Freya mungkin memutuskan untuk pergi karena ayahnya sudah meninggal sehingga dia merasa tidak ada lagi yang perlu dia perjuangkan apalagi dia belum mengutarakan pada Freya niatnya.
Sial, sekarang semua jadi terasa masuk akal. Mungkin Freya ingin dianggap mati sehingga tidak ada yang mencarinya tapi dia justru sedang bersembunyi saat ini apalagi dia adalah buronan. Norman kembali mengumpat, kenapa dia tidak memikirkan hal ini sebelumnya?
Semoga saja apa yang dia pikirkan sangat benar karena dia lebih suka Freya sedang bersembunyi saat ini dari pada dia mendapati Freya yang sudah tidak bernyawa tapi semua itu akan terjawab saat tim penyelamat sudah tidak melakukan pencarian lagi karena jika memang Freya tidak ditemukan maka dia yakin, Freya sedang bersembunyi.