
"Freya!" Norman berteriak memanggil, dia sudah berputar-putar untuk mencari Freya namun dia tidak bisa menemukan keberadaan Freya. Kendrick dan anak buahnya pun berpencar untuk mencari Freya sesuai dengan perintahnya namun mereka pun belum menemukan keberadaan Freya sampai sekarang.
Norman kembali berteriak memanggil, rasa cemas akan keadaan Freya membuatnya berlari semakin cepat. Norman berteriak memanggil Freya, dia harap Freya dapat mendengar teriakannya. Kelima anak buah Victor yang mengejar Freya pun tidak terlihat. Firasat buruk, dia jadi takut Freya sudah tertangkap oleh mereka.
Lari Norman semakin cepat, seharusnya dia tidak membiarkan Freya lari seorang diri. Seharusnya dia tetap bersama dengan Freya dan menjaganya. Tapi sekarang, dia harap bisa menemukan keberadaan Freya.
"Freya!" Norman kembali berteriak memanggil. Larinya terhenti sebentar, Norman mengatur napas yang memburu. Dia sudah berlari cukup jauh bahkan museum sudah tidak terlihat lagi.
"Sial! Di mana kau bersembunyi, Freya?" Norman mengambil ponsel, semoga saja Freya bisa dihubungi sehingga dia bisa tahu keberadaannya.
Freya sedang bersembunyi di dalam lubang saluran air yang ada di bawah jembatan. Kelima anak buah Victor sudah berlari pergi mencari keberadaan dirinya yang mereka kira sudah berlari pergi. Freya meringkuk sambil memegangi perutnya yang semakin nyeri, dia berusaha untuk tidak berteriak agar tidak ketahuan. Suara ponsel pun dimatikan agar tidak ada yang tahu posisinya dengan mudah, oleh sebab itulah Freya tidak tahu jika Norman sedang menghubunginya dan mengkhawatirkan keadaannya.
Kelima anak buah Victor yang kehilangan jejak pun mengumpat, mereka sudah jauh dari jembatan di mana Freya sedang bersembunyi. Seperti Norman, mereka juga kehilangan jejak Freya dan berputar di tempat untuk mencari keberadaan Freya. Situasi yang gelap membuat mereka kesulitan melihat ke mana Freya melarikan diri.
"Bagaimana, kita kehilangan wanita itu!" ucap salah dari dari mereka. Mereka tidak mungkin berputar di tempat itu sampai pagi hanya untuk mencari seorang wanita yang tidak tahu sudah lari ke mana. Tanpa menjawab pertanyaan rekannya, salah seorang dari kelima orang itu pun menghubungi bos mereka. Victor yang sudah menunggu tentu sangat senang karena dia memang sudah tidak sabar menunggu kabar dari anak buahnya.
"Bagaimana, apa kalian menemukan batu itu?" tanya Victor tanpa basa basi.
"Maaf, Bos. Kami kehilangan jejak."
"Bodoh, hanya menghadapi satu wanita dan laki-laki saja kalian tidak mampu!" teriak Victor marah.
"Kami sudah berusaha mengejar tapi wanita itu cukup cepat, sekarang kami sudah tidak bisa menemukannya lagi."
"Kalian semua tidak berguna! Kalian sepuluh orang dan mereka hanya berdua. Sudah berapa kali kalian gagal menangkap mereka? Apa sebenarnya yang kalian lakukan?" Victor terdengar murka.
"Maaf, Bos. Situasi gelap oleh sebab itu kami kehilangan jejak."
"Kalian sungguh tidak becus. Apa kalian melihat mereka menemukan keberadaan batu itu?" tanya Victor. Dia harus memastikan hal ini.
"Kami yakin batu itu ada pada mereka."
"Jika begitu segera kembali, tidak perlu dikejar karena mereka yang akan datang padaku!" perintah Victor. Sekarang dia akan menunggu kedatangan Freya dengan batu yang dia inginkan karena sekarang saatnya menggunakan umpan yang mereka punya. Freya pasti akan datang, oleh sebab itu dia akan duduk diam untuk kali ini dan menunggu batu yang dia inginkan datang padanya. Lagi pula apa yang anak buahnya lakukan sia-sia, dari pada buang tenaga lebih baik mereka menyusun rencana untuk menyambut kedatangan Freya.
Kelima anak buahnya bergegas pergi, mereka mencoba menghubungi yang lain namun tidak ada jawaban. Itu karena Kendrick sudah menghabisi mereka semua. Norman masih saja mencari keberadaan Freya tiada henti. Nomor ponsel Freya bisa dihubungi tapi tidak ada yang menjawab. Dia terus mencari sambil melacak lokasi keberadaan ponsel Freya.
Kedua tangan Freya masih berada diperutnya, rasa nyeri yang dia rasakan mulai berangsur pulih setelah dia beristirahat. Semoga saja kelima orang yang mengejarnya sudah pergi. Dia pun berharap Norman bisa melarikan diri sehingga batu yang mereka temukan tidak diambil musuh sehingga usaha mereka tidak sia-sia.
"Freya!" suara teriakan Norman terdengar di kejauhan.
"Freya, di mana kau?" teriaknya lagi. Kendrick dan anak buahnya pun mendapat perintah untuk berpencar dan mencari keberadaan Freya.
Freya merangkak keluar dari lubang air, rasanya sangat lelah. Kedua kaki terasa tidak bertenaga, dia tidak tahu keadaannya akan memburuk seperti ini padahal dia hanya berlari saja. Tidak benar, dia hanya melarikan diri dari kejaran lima orang tapi dia sudah lelah dan merasa sakit seperti ini lalu bagaimana dia bisa menyelamatkan ayahnya dan Cristina? Dengan ketemunya batu yang diincar oleh musuh, dia yakin musuh akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.
Freya merangkak sampai dia keluar dari saluran air. Kendrick yang sedang mencari keberadaannya di sana tanpa sengaja mengarahkan senter ke arah Freya. Freya sudah bagaikan hantu yang merangkak keluar dari gorong-gorong yang bisa membuat siapa saja terkejut akan kehadirannya.
"Sir, dia ada di sini!" teriak Kendrick. Meski Freya menghalangi sinar senternya menggunakan tangan tapi dia yakin wanita itulah yang sedang dicari oleh Norman.
Norman bergegas menuju tempat Kendrick dan melompat turun ke bawah. Freya sedang duduk di atas tanah yang basah dan terlihat lelah. Norman pun berlari ke arahnya karena dia sangat khawatir. Dia harap Freya tidak terluka sama sekali.
"Bagaimana dengan keadaanmu? Apa kau terluka?" tanya Norman.
"Batunya, bagaimana dengan batunya?" tanya Freya.
"Bodoh!" Norman memeluknya secara tiba-tiba sehingga membuat Freya terkejut.
"Aku mengkhawatirkan dirimu tapi kau justru mengkhawatirkan batunya. Apa batu itu lebih berharga dari pada dirimu?" Norman memeluk Freya dengan erat, dia harap Freya tahu jika dia mengkhawatirkan keadaannya. Dia sudah takut setengah mati, dia takut Freya tertangkap tapi Freya justru lebih mementingkan batu itu yang hanya sebuah benda mati saja.
"Jangan memeluk aku seperti ini, aku tidak bisa bernapas!" pinta Freya.
"Baiklah, apa kau baik-baik saja?" Norman melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Freya yang lelah.
"Aku lelah, Norman. Kedua kakiku sakit."
"Jika begitu sebaiknya kita kembali. Orang-Orang yang mengejarmu bisa kembali lagi oleh sebab itu lebih baik kita pergi dari sini!"
Freya mengangguk, dia memang sudah ingin pergi agar dia bisa beristirahat. Norman menggendongnya dan membawanya pergi dari tempat itu. Kendrick memerintahkan anak buahnya untuk mengawal Norman sampai ke mobil karena mereka akan mengatar Norman. Freya tidak bertanya sama sekali, dia tidak mencari tahu siapa Kendrick. Kedua mata bahkan sudah terpejam, Freya seperti sedang tertidur.
"Freya, apa kau baik-baik saja?" tanya Norman. Keadaan Freya yang seperti itu semakin membuatnya khawatir. Wajah Freya begitu pucat, ekspresi wajahnya terlihat sedang menahan rasa sakit.
"Apa kau tertembak?" tanya Norman. Meski tidak ada darah tapi tidak ada salahnya bertanya.
"Tidak, Norman. Bisakah tidak banyak bertanya? Aku benar-benar lelah bahkan untuk berbicara saja rasanya sangat lelah jadi biarkan aku istirahat sebentar!" pinta Freya. Napasnya terasa mau habis padahal dia hanya berbicara seperti itu saja.
"Baiklah, kita kembali ke hotel!" Norman masuk ke dalam mobil saat Kendrick sudah membuka pintu. Freya duduk di atas pangkuannya dan berada dalam pelukannya. Norman memeluknya erat, mendadak dia merasa takut akan kehilangan Freya. Apa yang sedang dia rasakan? Tidak saja merasa takut akan kehilangan Freya, dia pun merasa jika mereka akan berpisah. Rasanya tidak rela dan dia harap apa yang dia rasakan itu tidak menjadi nyata karena dia tidak mau kehilangan Freya.