
Sebelum pergi, Norman dan Freya bekerja sama melepaskan plat mobil karena plat itu bisa dilacak oleh polisi saat terekam kamera cctv yang ada di jalan. Mereka bahkan mencuri plat dari sebuah mobil yang sedang terparkir di dekat bangunan terbengkalai.
Freya yang beraksi, sedangkan Norman yang mengawasi. Setelah mendapatkan plat mobil yang entah milik siapa karena mobil itu sepertinya ditinggalkan oleh pemiliknya, Freya segera memasang plat mobil itu agar dia bisa cepat kembali.
"Aku yang bawa mobilnya!" ucap Norman.
"Langsung pulang?" tanya Freya.
"Tidak, luka-lukamu harus diobati, Freya. Kau seorang wanita, jangan sampai luka itu meninggalkan bekas sehingga kau kesulitan mencari gaun yang bisa kau gunakan," ucap Norman.
"Sejak kapan kau jadi peduli denganku seperti ini?" tanya Freya.
"Aku memang peduli padamu tapi kau tidak peka sama sekali!" Norman menjalankan mobilnya, dia akan mencari hotel karena mereka butuh tempat untuk beristirahat dan mereka pun butuh tempat tenang untuk makan karena acara makan siang mereka gagal akibat diserang secara mendadak.
Freya tidak lagi bertanya, dia sedang menyandarkan kepalanya di kursi sambil memejamkan kedua mata karena dia butuh istirahat. Dia tidak mau tahu Norman akan membawanya ke mana karena dia yang dia butuhkan saat ini adalah istirahat dan makan.
Sesungguhnya ada yang ingin dia tanyakan pada Norman, pria itu semakin mencurigakan. Dia pun semakin yakin jika Norman bukanlah orang biasa apalagi selama ini dia tidak bisa menemukan identitasnya. Apa Norman seorang mafia yang sedang menyamar? Atau dia seorang polisi dan bisa saja dia seorang tentara. Rasa penasaran itu memenuhi hati tapi akan dia tanyakan nanti, setelah dia mengumpulkan tenaga.
Mobil yang dibawa oleh Norman sudah berhenti di sebuah hotel, Norman menarik tangan Freya saat memasuki hotel itu. Tidak saja memesan sebuah kamar, Norman juga meminta obat-obatan serta makanan karena mereka membutuhkannya. Freya pun tidak membantah, bahkan sikap diamnya membuat Norman heran.
"Kenapa jadi diam saja? Apa ada gigimu yang rontok akibat dipukul wanita itu?" tanya Norman.
"Tidak, apa aku seperti seseorang yang baru saja kehilangan gigi?" tanya Freya pula.
"Memang tidak, sekarang lepaskan bajumu. Aku akan melihat luka yang ada di punggung apakah dalam atau tidak."
"Tidak apa-apa, luka seperti ini sudah biasa bagiku," ucap Freya.
"Aku tahu, kau sudah terbiasa tapi jangan mengabaikannya karena luka ini bisa meninggalkan bekas nantinya!"
"Aku tahu maksudmu, tapi yang akan kau gunakan adalah baju tahanan nantinya untuk seumur hidupku!"
"Hei, kita berdua sama-sama lelah. Untuk kali ini saja, jangan bertengkar!" ucap Norman.
"Baiklah, apa dengan begitu kau mau memberitahu aku siapa kau sebenarnya?" tanya Freya. Norman belum menjawab, mereka berdua saling pandang. Norman sedang mencari jawaban apa yang harus dia berikan untuk pertanyaan Freya, sedangkan Freya menunggu jawaban darinya. Mereka berdua masih diam sampai akhirnya suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian mereka berdua.
Norman melangkah pergi, untuk membuka pintu. Dua orang petugas hotel membawa obat yang dia inginkan serta makanan yang dia pesan. Norman membiarkan mereka masuk, sedangkan Freya sudah melangkah pergi menuju kamar mandi karena dia ingin membasuh lukanya.
"Sepertinya aku harus pergi membeli baju!" ucap Freya.
"Aku yang akan membelikannya untukmu yang paling penting obati lukamu terlebih dahulu!" Kotak obat di letakkan di atas wastafel. Norman melangkah mendekati Freya dan melihat luka di punggungnya.
"Ini cukup dalam, Freya!"
"Aku tidak bisa menghindarinya di tempat sempit itu!"
"Aku akan membersihkannya menggunakan alkohol, tahanlah rasa sakitnya!"
Freya mengangguk, Norman mengambil kotak obat yang ada di atas wastafel. Mereka berdua diam, Norman sibuk mengobati setiap luka yang ada di tubuh Freya dengan perlahan dan hati-hati. Freya berusaha menahan rasa sakitnya saat lukanya dibersihkan oleh alkohol. Norman melihat Freya sejenak saat dia sedang membersihkan lukanya lalu dia kembali fokus.
"Apa sakit?" tanyanya.
"Cukup basa basinya, sekarang jawab pertanyaanku. Siapa kau sebenarnya? Aku tahu kau bukanlah orang sembarangan. Kau berkata akan ada yang membereskan wanita itu. Kau pasti memiliki anak buah, bukan? Apa kau seorang mafia yang sedang menyamar?" Freya menatap Norman dengan lekat saat melemparkan pertanyaannya. Sungguh dia sangat ingin tahu tapi dia merasa Norman tidak akan menjawab begitu saja.
"Siapa aku, apa itu berarti bagimu, Freya?" tanya Norman.
"Hng, sudah aku duga kau tidak akan mau menjawabnya!" ucap Freya sinis.
"Kita akan berpisah suatu saat nanti, aku rasa lebih baik kita tidak saling mengenal. Tapi suatu saat nanti, kau pasti akan tahu siapa aku!"
"Cih, sudah tidak penting. Kau tidak mau menjawab, aku tidak memaksa. Lagi pula kau tidaklah penting bagiku. Aku hanya ingin tahu saja, mau kau siapa aku tidak peduli. Mafia, mantan tentara atau apa pun aku tidak peduli!" Freya mengambil pakaian yang dia lemparkan ke atas lantai dan melangkah pergi namun sebelum itu dia mengucapkan rasa terima kasihnya pada Norman.
"Tunggu, Freya. Jawab aku, apa kau benar-benar menganggap aku tidak berarti? Apa tidak ada sedikit pun perasaan di hatimu untukku?" pertanyaan Norman menghentikan langkah Freya. Freya tampak berpikir lalu memutar langkahnya.
"Bagaimana denganmu, Norman? Kau selalu membicarakan perpisahan, apa aku berarti bagimu?" kini Freya yang balik bertanya. Norman pun diam, tidak menjawab. Mereka berdua saling pandang sesaat, Freya menunggu jawaban Norman yang tak kunjung ada. Senyuman sinis terukir di bibir Freya karena dia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya.
"Kau pun tidak bisa menjawab, aku tahu kita tidak mungkin memiliki hubungan spesial karena itu mustahil. Mainkan peranmu sampai selesai, sampai kau puas bermain. Jangan bertanya tentang perasaan karena kita sudah sepakat untuk tidak melibatkan perasaan jadi jawabanku adalah tidak dan jawabanmu juga tidak karena tanpa kau menjawab pun, aku sudah tahu jawabanmu!" Freya melangkah pergi setelah mengatakan hal itu. Mereka tidak mungkin bisa memiliki hubungan spesial karena itu hal mustahil dan tidak mungkin terjadi. Lebih baik menyiapkan tali sebelum jatuh ke bawah karena rasa sakit yang dia rasakan nanti bisa menghancurkan dirinya.
Norman bersandar di wastafel, wajah diusap dengan kasar. Apa yang sedang dia lakukan? Tidak seharusnya dia melemparkan pertanyaan itu tapi dia justru terbawa suasana akibat perkataan Freya yang cukup menyakitkan. Sudah sejauh ini, Freya masih saja menganggapnya rekan dan dia masih saja tidak berarti tapi apa sebenarnya yang dia harapkan? Lagi-Lagi pertanyaan itu mengusik dirinya.
Norman mencuci wajahnya, mungkin air dingin bisa mendinginkan pikirannya. Freya berada di luar, menikmati makanan yang sudah terhidang karena dia lapar. Pembicaraan yang tidak bermutu, lain kali dia tidak mau bertanya karena hanya menyisakan rasa kesal saja. Tidak peduli Norman siapa yang paling penting adalah, pria itu membantunya sampai misinya selesai dan mereka berdua, tidak akan pernah memiliki hubungan spesial apa pun selain kemesraan mereka berdua di atas ranjang.