
Malam yang dinantikan oleh Freya pun tiba, tentunya malam pelelangan karena malam ini dia dan Norman akan mengambil artefak milik ayahnya yang akan di lelang. Sesuai dengan rencana, mereka akan mengikuti pelelangan dengan pura-pura menjadi peserta yang mengikuti lelang.
Freya dan Norman belum pergi karena mereka berdua sedang melakukan persiapan. Mereka sedang memantau tempat di mana pelelangan akan dilakukan. Norman melihat lokasi sedangkan Freya Mengecek para tamu yang akan datang ke tempat pelelangan itu. Freya pun membuat identitas palsu karena pelelangan itu tidak bisa didatangi oleh sembarangan orang.
Alat-Alat yang cukup memadai yang mereka bawa sangat membantu. Dengan begitu mereka tidak perlu bersusah payah dan tidak perlu keluar dari hotel. Freya sudah hampir selesai, dua pengenal palsu sedang dibuat olehnya. Sekarang dia semakin ahli dalam hal seperti itu dan Norman pun jadi belajar banyak meski dia harus menjadi seorang pencuri.
"Bagaimana, apa kau sudah selesai?" tanya Freya.
"Tentu saja, lihat ini!" Norman menggeser layar laptop agar Freya bisa melihatnya. Freya pun menggeser duduk agar dia bisa melihat tempat yang akan mereka susupi.
"Perhatikan, para penjaga akan berada di tempat ini," Norman mulai menunjukkan beberapa posisi penjaga yang memang pada saat itu sudah berjaga. Mereka sibuk melihat, ruang tempat menyimpan barang lelang dan juga ruangan untuk melakukan transaksi nantinya setelah barang terjual. Ruangan itulah yang penting, karena mereka akan melakukan aksi setelah barang yang mereka incar sudah terjual.
"Jadi, setelah artefak itu terjual kita akan langsung mengambil dari tangan pembeli?" tanya Norman.
"Tidak, kita akan mencoba mengikuti lelang itu tapi jika kita tidak mendapatkannya maka kita akan mengambilnya dari tangan pembeli lain sebelum transaksi dilakukan dengan begitu kita tidak akan merugikan orang lain. Tapi kita harus waspada karena bisa saja orang yang memiliki artefak itu berada di tempat pelelangan dan bisa saja, orang yang melelang artefak itulah yang telah menculik ayahku!" ucap Freya. Inilah yang dia harapkan, dia harap langsung bertemu dengan orang yang menjual artefak milik ayahnya karena dengan begitu, kemungkinan besar dia akan langsung bertemu dengan pelaku yang sesungguhnya.
"Jika begitu, kita harus berhati-hati. Jangan lupa untuk menyamar agar tidak ada yang tahu rupa asli kita!"
"Tidak perlu khawatir!" Freya mengambil dua pengenal palsu yang sudah jadi.
"Lihat ini. Jangan lupa dengan namamu, Fedrick," ucap Freya seraya memberikan identitas palsu milik Norman.
"Wow," Norman mengambil identitas palsu yang diberikan oleh Freya, "Kenapa aku terlihat begitu tua dan jelek di sini?" tanya Norman.
"Jika tidak mau ada yang tahu sebaiknya menyamarlah seperti itu!"
"Lalu bagaimana dengan punyamu?" Norman hendak merebut identitas palsu milik Freya tapi Freya segera menyembunyikannya.
"Hei, kenapa tidak mau memperlihatkannya padaku?"
"Nanti kau akan tahu!" ucap Freya.
"Ck, jangan membuat aku penasaran!"
"Tidak, lagi pula tidak ada yang spesial. Sebaiknya kita kembali melihat lokasi dan menyusun rencana yang matang!"
"Kau benar," meski pun dia penasaran dengan rupa Freya di identitas palsunya tapi mereka memang harus kembali fokus dan membuat rencana yang akan mereka lakukan nanti. Mereka berdua sangat serius sampai waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Semua barang-barang dimasukkan ke dalam sebuah tas, tentu saja mereka tidak perlu membawa barang-barang itu namun senjata api sudah berjajar di atas ranjang.
Norman sedang melakukan penyamaran, sedangkan Freya berada di kamar mandi dan sedang melakukan penyamaran juga. Sebotol spray rambut berwarna merah sedang digunakan, dia akan mengganti warna rambutnya menjadi merah menyala. Tentunya untuk malam ini saja.
Gaun berwarna merah juga sudah dia kenakan di padu dengan sarung tangan berwarna hitam dengan panjang sampai ke bagian siku. Tidak hanya itu saja, dibagian paha sudah terpakai sebuah alat yang bisa digunakan untuk menyimpan senjata api.
Freya sangat puas melihat penampilannya, wajah sudah dipoles sedemikian rupa sehingga rupa aslinya tidak terlihat. Rambutnya sudah merah menyala dan dibentuk bergelombang sehingga dia terlihat berasal dari kalangan keluarga kaya yang tidak bisa diremehkan.
"Apa kau sudah selesai, Freya?" tanya Norman yang sudah selesai melakukan penyamaran.
"Tentu saja," Freya keluar dari kamar mandi dan ketika melihat penampilannya, Norman terpukau dan terpana.
"Wow, apa itu kau?" tanya Norman.
"Tentu saja, apa penampilanku sangat aneh?" Freya memutar tubuhnya sedikit agar Norman dapat melihatnya. Semoga tidak aneh agar tidak dicurigai. Norman melangkah mendekat, dia melihat Freya bagaikan seorang pengamat dan setelah itu, pinggang Freya diraih lalu tubuhnya ditarik mendekat.
"Kau juga terlihat luar biasa, Norman," Freya merapikan kumis palsu yang digunakan oleh Norman dan kembali berkata, "Penyamaran ini juga berguna agar kau tidak dikejar oleh orang-orang yang mengejar dirimu karena hutang. Meski kau memiliki banyak hutang tapi sesungguhnya gayamu tidak seperti orang yang memiliki banyak hutang bahkan aku merasa wajah dan gayamu ini cukup menjual!"
"Apa maksud perkataanmu? Apa kau kira aku mau menjadi gi*golo?"
"Bodoh, maksudku menjadi model. Sudahlah!" Freya mendorong tubuh Norman dan melangkah menuju ranjang.
"Sebaiknya kita bersiap," ucap Freya seraya mengambil senjata api dan menaruhnya di paha.
Norman pun mengambil senjata api, pelelangan akan diadakan pukul sepuluh malam oleh sebab itu mereka segera bergegas pergi menuju tempat lelang. Sebagian tamu sudah datang, mereka menunjukkan tanda pengenal karena pelelangan itu hanya bisa dihadiri oleh orang-orang yang terundang saja.
"Tuan Fedrick?" tanya seorang penjaga yang memeriksa buku tamu dan identitas yang diberikan oleh Norman.
"Hm, ya," jawab Norman.
"Dan Nyonya?" Penjaga itu melihat ke arah Freya.
"Sonia," ucap Freya sambil tersenyum.
"Silahkan masuk," mereka pun dipersilakan untuk masuk.
Freya menggandeng lengan Norman saat melangkah masuk, mereka sudah seperti sepasang kekasih. Freya bahkan melangkah dengan angkuh, sekarang mereka sudah seperti pasangan yang sempurna.
"Kenapa kita bisa lewat begitu saja?" tanya Norman.
"Aku mencuri identitas salah satu tamu yang diundang," bisik Freya.
"Kau benar-benar cerdik!" kini Norman merangkul pinggang Freya. Dia benar-benar bertemu dengan wanita yang cerdik dan juga licik.
Mereka diantar ke tempat duduk mereka tanpa dicurigai sama sekali. Freya dan Norman ternyata duduk di kursi tamu kehormatan. Bagus, dari tempat duduk yang strategis itu mereka bisa melihat barang yang akan di lelang dan juga para tamu yang akan mengadu keberuntungannya malam ini.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya lelang itu dimulai. Tentunya barang yang dilelang pertama kali bukan artefak milik ayahnya, mereka harus bersabar menunggu sampai para pembeli berlomba menawar untuk mendapatkan barang yang mereka mau.
Freya melihat sekitar, dengan sebuah teropong kecil yang memang diperuntukkan untuk melihat. Yang Freya lihat adalah orang-orang yang berada di barisan kursi paling depan. Karena Freya dan Norman duduk di atas jadi dia kesulitan melihat rupa orang-orang yang ada di depan tapi meski begitu, dia mencurigai beberapa orang yang memang tampak mencurigakan.
"Kau lihat orang-orang yang ada di depan sana," Freya berbicara sepelan mungkin agar tidak ada yang mendengar.
"Ada apa dengan mereka? Apa merekalah orang-orang yang menculik ayahmu?" Norman juga berbicara sepelan mungkin.
"Aku tidak tahu tapi aku curiga dengan mereka!"
"Baiklah, fokus pada pelelangan. Jika mereka memang orang-orang yang menangkap ayahmu, mereka pasti akan mengejar kita saat kita mendapatkan artefak milik ayahmu!"
"Kau benar, tapi kita harus bersabar sampai artefak itu keluar!"
"Sepertinya tidak akan lama lagi," ucap Norman. Seperti yang dia katakan, artefak milik ayah Freya dibawa keluar setelah beberapa barang yang dilelang telah terjual. Freya menegakkan duduk saat melihat artefak itu, harga yang ditawarkan dimulai dengan harga satu juta dolar.
Para pengoleksi barang antik mulai mengangkat sebuah benda yang memang disediakan untuk mereka saat hendak menawar. Freya dan Norman pun ikut menawar tapi ternyata begitu banyak yang menginginkan artefak itu sampai akhirnya mereka tidak menawar lagi karena mereka akan melakukan plan B yaitu mengambil artefak itu sebelum transaksi dilakukan dan akhirnya, seorang pria tua yang memiliki begitu banyak pengawal yang memenangkan artefak itu dengan harga yang cukup fantastis.
Artefak itu sudah terjual dan dibawa pergi. Mereka masih mengikuti pelelangan sampai selesai dan setelah itu, Norman dan Freya pun segera beranjak karena sudah waktunya menjalankan rencana kedua.