
Freya menggunakan sebuah topi agar wajahnya tidak begitu terlihat. Dia khawatir bertemu dengan renternir yang mengejarnya waktu itu. Bagaimanapun hari ini dia tidak mau berlari lagi, sudah cukup karena kakinya sudah sangat pegal.
Freya tidak menunggu di restoran, dia menunggu Norman di luar dan duduk di sisi dermaga. Cuaca yang sangat panas membuatnya harus mengipas sesekali menggunakan tangan. Freya pun tampak sedikit kesal, dia sudah menunggu Norman cukup lama tapi pria itu masih belum juga datang.
Jam tangan pun dilihat, Freya kembali menggerutu karena dia sudah duduk di sana hampir satu jam. Sepertinya Norman sengaja membuatnya menunggu, jangan katakan pula pria itu tidak datang karena perkataannya yang mengatakan jika dia tidak mau bertemu dengannya lagi. Mungkin saja pria itu marah sehingga tidak mau datang.
"Sebal!" Freya memutar topi. Napas berat dihembuskan, sendirian ternyata tidak menyenangkan. Freya termenung, apakah dia akan kesepian seperti itu saat berada di dalam penjara nanti? Sepertinya dia harus membiasakan diri agar tidak terlalu shock setelah berada di dalam penjara. Tapi dia yakin dia akan memiliki teman di balik jeruji besi.
Freya termenung memandangi laut dan kapal yang hilir mudik datang dan pergi. Seperti kapal itu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan pada akhirnya nanti, dia akan berpisah dengan orang-orang yang dia temui dan yang dia kenal. Freya kembali menghela napas tanpa menyadari ada yang mendekatinya lalu orang itu berdiri di belakang Freya dan meletakkan sesuatu yang seperti benda tajam di bawah leher Freya. Freya terkejut, dia hendak berpaling tapi orang yang ada di belakangnya justru mengancam dirinya.
"Jangan coba-coba melihat ke belakang!" suara seorang pria terdengar sedikit aneh.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Freya.
"Berikan saja apa yang kau miliki!" pinta pria itu, Freya menebak jika dia sedang dirampok.
"Aku tidak memiliki apa pun!" ucap Freya.
"Tidak percaya, berikan sekarang!"
"Sudah aku katakan tidak ada!" Freya jadi kesal, sudah panas tapi dia harus diancam tidak jelas seperti itu.
"Ya sudah, berikan saja apa yang ada padamu."
Freya mengernyitkan dahi, heran. Dia jadi curiga dengan orang yang ada di belakangnya, jangan katakan pria menyebalkan yang sedang dia tunggu sedang mengerjai dirinya. Rasanya jadi sangat masuk akal, awas saja jika benar. Akan dia tendang bokongnya tanpa ragu.
"Aku hanya punya ponsel," ucap Freya.
"Berikan, sekarang!"
Freya pura-pura mengambil ponsel, dia akan berbalik dan melihat siapa yang sedang mengancamnya saat ini. Dia rasa kecurigaannya sudah pasti benar. Ponsel sudah berada di tangan, Freya kira dia bisa berbalik tapi nyatanya tidak karena ponsel direbut begitu saja dan pria itu kembali meminta sesuatu yang membuat Freya terkejut.
"Sekarang buka bajumu!" pinta pria yang dia yakini adalah Norman.
"Apa?" Freya memekik, rasa tidak sabar untuk berpaling memenuhi hati.
"Sekarang!" pinta pria itu. Freya mencengkeram kedua tangan dengan erat, sudah cukup. Permintaan gila itu tidak akan dia turuti.
"Cepat!" Freya mendapatkan bentakan sehingga kesabarannya langsung habis.
"Jangan keterlaluan!" Freya memegangi lengan yang ada di bawah leher lalu menggigitnya tanpa ragu. Pria itu pun berteriak, benda tumpul yang dipegang pun jatuh dan benda itu hanya benda yang terbuat dari plastik saja.
"Lepaskan, apa kau gila!" kini yang terdengar jelas adalah suara Norman. Seperti tebakan Freya, yang sedang menakuti dirinya memang Norman. Dia sudah tiba di restoran tapi Freya tidak ada. Dia pun menunggu cukup lama sehingga Norman memutuskan untuk mencari keberadaan Freya dan menemukannya di sisi dermaga. Oleh sebab itu dia ingin menakuti Freya. Seharusnya dia pura-pura jadi polisi, mungkin Freya akan langsung lari dan melompat ke laut.
"Menyebalkan, sok mengancam aku. Apa kau pikir aku tidak tahu?" Freya menyingkirkan tangan Norman dengan cepat.
"Kenapa kau di sini? Aku mencari kau di restoran tapi kenapa kau menunggu di tempat seperti ini?!" Norman melangkah ke depan lalu duduk di sisi Freya.
"Kau begitu lama, jadi aku tunggu di sini. Menyebalkan, menakuti aku dengan pura-pura menjadi perampok. Aku mau pergi saja!" Freya hendak beranjak namun Norman menahan tangannya.
"Mau ke mana?"
"Pulang, aku tidak mau bersama denganmu lagi!" ucap Freya.
"Sudah, jangan marah. Nih," Norman menempelkan es cream yang dia beli ke pipi Freya.
Freya menatap pria itu dengan tajam, es cream yang ada di tangan Norman pun direbut. Norman tersenyum, wanita yang mudah dibujuk. Freya menikmati es creamnya sambil menggerutu, dia sudah lama menunggu tapi Norman sok seperti seorang penjahat.
"Sudah, aku hanya bercanda saja," Norman menggeser duduk dan merangkul bahu Freya.
"Jangan dekat-dekat!" ucap Freya sinis namun kepalanya sudah bersandar di bahu Norman tanpa sadar.
"Dasar, apa yang kau katakan tidak sama dengan apa yang kau lakukan!"
"Berisik!" wajah Freya tersipu, sejujurnya dia senang Norman sudah datang.
"Apa sudah lama?" Norman memainkan tangannya di rambut Freya tanpa henti. Freya hanya mengangguk karena dia sibuk menikmati es cream yang sudah mencair.
Mereka berdua diam, tangan Norman tak juga berhenti membelai rambut Freya. Mereka berdua sudah bagaikan sepasang kekasih yang sedang memadu kasih di sisi dermaga. Freya pun tak protes lagi, setidaknya es cream yang diberikan oleh Norman cukup membungkam mulutnya yang cerewet.
"Ayo pergi makan," ajak Freya setelah es creamnya habis.
Norman memandanginya dan tersenyum, Freya menatapnya dengan tatapan heran. Dia bahkan melihat kanan kiri lalu mengusap bibirnya karena dia pikir ada sesuatu,
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Freya.
"Ada!" Norman mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Freya, "Manis," ucapnya.
"Jangan mencium sembarangan!" Freya menutup mulut dengan wajah cemberut.
"Aku belum dapat es cream bagianku!"
"Jangan membual!" Freya membuang wajahnya ke samping.
"Jadi tidak mau di cium?" goda Norman.
"Tidak!" jawab Freya namun lagi-lagi tindakan tidak sesuai dengan perkataan karena Freya sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Norman dan menempelkan bibir mereka berdua.
Norman tidak menyia-nyiakan kesempatan, tangannya pun sudah berada di pinggang Freya dan menariknya mendekat. Mereka berdua sibuk tanpa mempedulikan yang lainnya. Bagaikan sudah lama tidak bertemu, bagaikan sedang menumpahkan perasaan rindu itulah yang sedang mereka lakukan tapi tidak ada yang mau mengakuinya di antara mereka karena mereka berdua masih menganggap jika mereka adalah partner.
Freya mengatur napas setelah ciuman mereka terlepas, Norman tersenyum dan mengusap wajahnya dengan perlahan. Entah kenapa dia menyukai kebersamaan mereka yang seperti itu. Aneh, sejak kematian Emely, gadis yang telah membawa cintanya pergi, dia tidak pernah mau dekat dengan siapa pun padahal begitu banyak putri para pejabat berusaha mendekatinya tapi entah kenapa dia begitu mudah dekat dengan Freya. Apakah karena karakter Freya yang menyenangkan yang telah membuatnya bisa dekat dengan Freya dengan mudah? Itu mungkin saja jadi pemicu pertama kedekatan mereka karena kebanyakan wanita yang dia kenal selalu menjaga image mereka. Seperti yang adiknya katakan, para wanita itu berharap bisa menjadi ratu selanjutnya.
"Kenapa memandangi aku seperti itu?" tanya Freya dengan nada tidak senang.
"Aku memandangi wajah jelekmu!"
"Menyebalkan, aku tidak jelek!" Freya membuang wajah sambil bersedekap dada.
"Aku hanya bercanda, ayo pergi makan!" Norman sudah beranjak sambil memegangi tangan Freya.
"Kali ini tidak ada yang boleh mengganggu makan siangku!" ucap Freya seraya beranjak.
"Tenang saja, kau bisa makan sampai puas!"
"Awas jika tidak mampu bayar, aku tidak mau tahu!" ucap Freya.
"Tenang saja, kita berdua akan berakhir di dapur dan mencuci piring!"
"Aku tidak mau!" tolak Freya.
Norman terkekeh, tangannya sudah berpindah ke pinggang Freya. Norman pun menarik Freya mendekat agar yang melihat Freya tidak menggodanya. Freya pun menyandarkan kepalanya di bahu Norman. Tanpa mereka berdua sadari, mereka begitu mesra seperti pasangan kekasih bahkan kemesraan yang mereka tunjukkan melebihi pasangan kekasih yang sesungguhnya.