
Mereka sudah tiba di Los Angles tapi Norman dan Freya tidak langsung memporak porandakan lokasi. Mereka berdua justru mengintai dari kejauhan, mereka berdua berada di dalam mobil saat itu. Sebuah rumah mewah berlantai dua menjadi incaran mereka karena di sanalah kemungkinan artefak milik ayah Freya berada.
Kali ini Freya tidak begitu yakin, begitu juga dengan Norman. Rasanya tidak mungkin pengusaha yang membeli artefak itu mengumbar barang berharga yang dia beli padahal sudah sangat jelas kekacauan yang mereka lakukan sudah tersebar. Sebagai pemilik barang antik yang sangat berharga tentunya akan bertindak hati-hati apalagi sampai memamerkan barang berharga yang dimiliki.
Freya sibuk meretas cctv yang ada di rumah itu, dia ingin memantau keadaan di dalam rumah mewah itu. Dia harus tahu di mana saja para penjaga berjaga, dia pun harus tahu situasi di dalam sekaligus keberadaan artefak karena biasanya para kolektor memiliki ruang khusus untuk menyimpan barang-barang milik mereka.
Tentu aksi yang dilakukan oleh Freya diketahui oleh dua ahli IT yang diutus oleh Victor. Mereka memang sudah menunggu target yang harus mereka tangkap dan target muncul di saat yang tepat ketika mereka sedang menunggu.
"Cari lokasi keberadaan mereka!" Chen memberikan perintah itu karena dia sudah tidak sabar melakukan tugasnya untuk menangkap target.
"Bersabarlah, jangan membuat kesalahan!"
"Aku tahu apa yang aku lakukan tidak pernah salah jadi katakan di mana wanita itu!"
Dua ahli IT yang sedang sibuk mengacaukan rekaman cctv untuk memengelabui penyusup membagi tugas. Yang satu mencari keberadaan penyusup dan yang satu mengelabui cctv agar penyusup masuk perangkap lalu melihat artefak yang diincar.
Freya yang masih tidak sadar begitu serius memantau keadaan dan mencari keberadaan artefak. Norman juga membantu, cukup mulus menyusup ke rumah megah yang memiliki penjagaan ketat. Jika memang itu rumah seorang pengusaha mungkin akan dijaga lebih ketat tapi entah kenapa dia merasa ada yang aneh.
"Apa kau tidak mencurigai situasi, Freya?" tanya Norman.
"Mencurigai bagaimana maksudmu?" tanya Freya tidak mengerti.
"Kau benar-benar tidak peka dan waspada!"
"Aku tahu, Norman. Ada yang aneh dengan rekaman cctv itu. Beberapa gambar tampak mencurigakan dan terlihat tidak nyata, aku yakin ada sebuah jebakan di dalam sana yang sudah menanti kita."
"Jika begitu kita tidak perlu bergerak malam ini. Kita tidak boleh gegabah sehingga kita tertangkap oleh musuh."
"Apa kita harus menunggu?" tanya Freya.
"Menunggu lebih baik, Freya. Tidak perlu khawatir, sedikit mengulur waktu tidak masalah asal kita selamat dan tidak salah mengambil langkah."
"Baiklah, sebaiknya kita pergi dari tempat ini sebelum ada yang tahu keberadaan kita!" ucap Freya.
"Kau tahu, Freya?" Norman melihat ke arah Freya sambil memperlihatkan senyuman penuh artinya.
"What?" Freya menatapnya dengan tatapan curiga.
"Mari kita buat keributan sedikit agar musuh yang kita hadapi tidak meremehkan kita!" ucap Norman.
"Maksudmu?" Freya sungguh tidak mengerti.
"Pindah, kau yang bawa mobil dan berikan laptop itu padaku!" ucap Norman.
Freya tidak mengerti tapi dia mengikuti apa yang Norman katakan, Mereka berdua bertukar posisi, Freya yang membawa mobil sedangkan Norman sibuk dengan perangkat laptop yang sudah berpindah tangan. Norman bahkan tidak memerintahkan Freya yang hendak berputar agar terus jalan melewati rumah itu. Meski tidak mengerti tapi Freya melakukannya.
"Apa yang mau kau lakukan, Norman?" tanya Freya.
"Aku ingin membuat kembang api sebentar!" jawab Norman sambil tersenyum.
"Kau pria gila, jadi kau ingin meledakkan tempat itu?"
"Tentu saja, musuh mengecoh kita maka harus kita balas. Kita harus bersenang-senang. Lagi pula tidak ada yang berjaga jadi kita harus memberikan kejutan untuk musuh!"
"Kau gila, bagaimana jika artefak milik ayahku hancur karena ledakan itu!"
"Tidak akan, aku tidak yakin artefak itu ada di rumah ini," ucap Norman.
"Dari mana kau tahu?"
"Sudahlah, jika ada pun tidak mungkin bisa pecah hanya karena ledakan kecil akibat granat. Lagi pula hanya bagian depan saja jadi, ayo kita bersenang-senang!" ajak Norman.
Freya hanya menggeleng, benar-benar laki-laki yang suka membuat onar. Mobil dibawa dengan cepat melewati rumah itu. Cctv yang menghadap jalan menangkap gambar mereka berdua. Para anak buah Victor mengira musuh sudah pergi tapi mobil yang pergi cukup jauh justru kembali berputar. Mobil itu seperti kembali, kedua ahli IT yang melihat komputer terkejut karena dari layar komputer muncul gambar jari tengah, tentunya itu ulah Norman. Mereka langsung meminta semua bersiap-siap karena mereka mengira musuh mereka akan kembali untuk menyerang. Chen pun sudah bersiap-siap dengan sebuah senjata api laras panjang, dia yang akan menangkap Freya hidup atau mati karena salah satu pria yang mati waktu itu adalah kakaknya oleh sebab itu dia ingin membalas dendam.
Norman yang sangat bersemangat membidik dari dalam mobil, dua senjata peledak berada di tangan. Mereka tidak bisa menyusup seperti yang biasa mereka lakukan karena musuh pasti semakin cerdik apalagi keberadaan artefak cukup mencurigakan.
Freya menghentikan laju mobil secara mendadak, "Hati-Hati!" ucap seorang ahli It yang melihat mobil yang dibawa oleh Freya sudah berhenti tapi pada saat itu juga, dua peluru melesat keluar dari mobil. Tidak terlihat siapa yang menebak akibat cctv yang tidak menjangkau namun dua peluru itu cukup mencurigakan.
"Hati-Hati!" teriakan itu kembali terdengar dan pada saat itu, peluru senjata api peledak yang di tembakan oleh Norman menghantam dinding lalu ledakan dahsyat pun terjadi menghancurkan tembok. Tidak sampai di sana saja, Norman kembali menembakkan senjata peledaknya secara bertubi-tubi. Peluru itu melesat masuk ke dalam melalui lubang tembok yang sudah hancur.
Ledakan demi ledakan terjadi, membuat anak buah Victor panik bahkan Chen harus terpental akibat ledakan itu. Mulut Freya menganga, Norman tertawa menikmati pemandangan kembang api yang dia ciptakan. Adrenalin terpacu, pria itu kembali melemparkan dua granat yang sudah dia tarik pinnya.
"Kau benar-benar gila!" ucap Freya.
"Terima kasih atas pujianmu!" Norman tersenyum lalu melemparkan dua granat ke arah rumah megah yang kemungkinan menjadi markas itu. Lagi-Lagi dua ledakan terjadi, menghancurkan apa saja. Freya kembali menggeleng, sungguh luar biasa.
"Sekarang pergi, Freya. Hari kita hanya membuat kekacauan tanpa perlu mengeluarkan tenaga!" perintah Norman.
Freya mengikuti perintah, mobil pun dibawa pergi. Chen berlari keluar dengan keadaan murka. Wanita itu berdiri di tengah jalan dan berusaha menembak mobil yang dibawa oleh Freya meski mobil yang dibawa oleh Freya sudah pergi cukup jauh.
"Sial!" Chen mengumpat, gagang pistol di cengkeram dengan erat.
Chen kembali masuk ke dalam rumah yang sudah hancur, mereka harus memberi laporan pada Victor. Dia yakin ada yang membatu Freya Walner dan dia yakin jika pria yang memiliki identitas tersembunyi itu telah membantunya.
"Berikan aku lokasi keberadaan wanita itu!" perintah Chen pada kedua ahli It yang masih berusaha mengikuti ke mana mobil Freya pergi.
Chen juga memperhatikan, dia akan membuat perhitungan dan dia yang akan membawa Freya pada bosnya yang sudah menunggu di Hong Hong.