Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Tidak Percaya



Karena bajunya robek di bagian belakang, Freya menunggu Norman di dalam kamar karena saat itu Norman sedang pergi membeli baju untuknya. Tidak saja membeli baju, Norman pun mencari obat oles untuk luka Freya agar cepat kering dan mencari obat untuk menghilangkan bekas luka.


Norman pun menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk berbicara dengan Kendrick karena dia memiliki rencana untuk musuh yang tertangkap oleh mereka. Sambil menghubungi Kendrick, Norman berada di cafe karena dia ingin membelikan segelas kopi untuk Freya.


"Apa kau sudah menemukan keberadaannya?" tanya Norman pada anak buahnya.


"Tentu saja sudah, Sir. Anak buahku sudah membawanya. Apa yang harus aku lakukan pada wanita itu?" tanya Kendrick, dia harus tahu perintah apa yang akan dia dapatkan selanjutnya.


"Introgasi wanita itu, cari tahu di mana arkeolog bernama Nathan Walner darinya. Jika dia tidak mau, maka bawa dia ke hong Kong dan kembalikan pada organisasi Black Scorpion. Kau tahu maksudku, bukan?" dia akan memberikan sedikit kejutan pada organisasi itu. Akan dia tunjukkan pada organisasi itu jika mereka tidak boleh asal mencari lawan.


"Aku tahu, Sir," jawab Kendrick.


"Bagus, cari tahu juga keberadaan Nathan Walner. Kemungkinan dia berada di tangan Black Scorpion jadi selidiki tanpa ada yang tahu!" Norman kembali memberi perintah.


"Baik, Sir," jawab Kendrick.


Norman menyimpan ponselnya setelah memberi perintah. Kopi yang dia inginkan pun sudah diantarkan, sekarang waktunya kembali ke kamar karena semua yang dibutuhkan Freya sudah dia dapatkan. Beruntungnya tidak ada polisi yang mencari meski kekacauan yang mereka lakukan menjadi berita yang menghiasi seluruh stasiun televisi. Beruntung pula dia menghapus jejak keberadaan mereka di lokasi kejadian.


Norman masuk ke dalam kamar, dia kira Freya sedang bersantai tapi nyatanya Freya sedang berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakangi dirinya. Norman melangkah mendekat dengan pelan, barang-barang yang dia bawa diletakkan ke atas lantai.


Norman pun naik ke atas ranjang dengan perlahan agar Freya tidak tahu. Freya pasti sedang tidur setelah aksi melelahkan yang mereka lakukan hari ini. Tangan Norman melingkar dengan perlahan di tubuh Freya saat dia sudah berbaring di belakang Freya. Usapan tangannya membuat Freya bergerak sebentar namun dia kembali tidur.


Norman membalikkan tubuh Freya dengan perlahan, dia ingin melihat wajahnya. Akibat lelah luar biasa yang dia alami membuat Freya tidak menyadari jika Norman sedang memandangi wajahnya dan memainkan jarinya di wajahnya tanpa henti.


Pikiran Norman berkelana, dia merasa tidak rela jika tidak bisa melihat wajah itu ditempat tidur lagi. Norman menghela napas, ada yang aneh pada dirinya. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi tapi dia tidak tahu perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Sial, dia seperti anak muda yang sedang kasmaran tidak jelas.


Hm! Freya menepis tangan Norman yang masih bermain di wajahnya.


Norman tersenyum, tengkuk Freya ditarik secara tiba-tiba sehingga membuat Freya terkejut dan terbangun dari tidurnya apalagi Norman mencium bibirnya secara tiba-tiba pula. Kedua mata Freya melotot, wajah Norman yang pertama kali dia lihat. Norman tidak melepaskan bibirnya sampai membuat Freya memukul bahunya karena membutuhkan napas.


"Ka-Kau pria gila!" Freya mengatur napasnya yang memburu. Rasanya mau pingsan tapi Norman justru tersenyum dan mengusap wajahnya dengan perlahan.


"Ada apa denganmu?" tanya Freya heran.


"Tidak, aku merasa waktunya sudah dekat!" ucap Norman.


"Sudah dekat, apa maksudmu?" Tanya Freya tidak mengerti.


"Waktu menemukan keberadaan ayahmu sudah dekat dan aku pun merasa kita akan segera menemukan keberadaan batu itu."


"Baiklah, itu berita bagus!" Freya bergeser untuk memeluk Norman yang sedang berbaring telentang.


"Kau terlihat senang?" Norman meliriknya sebentar lalu dia kembali menatap langit kamar.


"Tentu saja aku senang, dengan begini tugasku selesai. Misi mencari batu dan ayahku pun selesai!" ucap Freya.


Norman diam, Freya terdengar sangat senang tapi dia tidak senang sama sekali. Wajah diusap dengan kasar, apa yang sedang terjadi dengannya? Sikap diam Norman membuat Freya heran. Ada apa dengan pria itu?


"Apa aku harus merayakannya dengan pesta agar agar aku terlihat senang?" Norman berbalik, menatap wajah Freya dan memainkan jarinya kembali.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Freya karena Norman memandanginya tanpa henti.


"Tidak, aku sudah membeli obat untuk lukamu agar cepat kering. Biarkan aku mengoleskannya!"


"Apa kau membelikan baju untukku?" Freya sudah duduk di atas ranjang dan merapikan rambutnya.


"Tentu, dengan segelas kopi!"


Norman pun beranjak, Freya kembali dipeluk dari belakang. Bibirnya mendarat di tengkuk Freya sehingga membuat Freya menekuk leher akibat rasa geli karena bibir Norman yang terus bermain di lehernya.


"Geli, Norman. Singkirkan bibir mesummu dariku!" ucap Freya seraya mendorong wajah Norman.


"Rasanya sudah lama kita tidak seperti ini, Freya," Norman tak juga menghentikan bibirnya yang terus bermain bahkan kedua tangan juga sibuk bermain di kedua benda yang sudah sedikit besar di tangannya.


"Omong kosong, kita baru melakukannya di rumah!" Freya berusaha menahan diri, menahan gairah yang mulai memercik akibat ciuman dan sentuhan tangan Norman.


"Sepertinya kedua gunung ini sudah membesar," goda Norman.


"Enak saja, singkirkan tanganmu!" Freya memukul tangan Norman yang masih tidak henti bermain.


"Cepat oleskan obatnya, kopi yang kau beli awas saja jika sudah dingin. Kau harus membelikannya yang baru!" Freya buru-buru beringsut untuk menjauhi Norman.


"Ck, sikap menyebalkanmu kembali lagi!" Norman pun beringsut dan duduk di sisi Freya.


"Cepat, setelah ini kau harus memijitkan kedua kakiku yang pegal akibat terlalu banyak berlari!" Freya mengangkat satu kakinya di hadapan Norman.


"Baiklah, baik. Kau benar-benar tidak pantas menjadi seorang ratu!"  Norman beranjak untuk mengambil barang-barang yang ada di atas lantai serta kopi yang ada di atas meja.


"Kau selalu berkata demikian? Apa kau seorang raja?" Freya menatap ke arah Norman dengan tatapan serius.


"Bagaimana jika aku benar-benar seorang raja?" Norman kembali mendekatinya dan memberikan kopi pada Freya, "Apa kau akan mempercayainya, Freya?" tanyanya lagi.


Freya mengambil kopi yang diberikan oleh Norman. Apa Norman sedang bercanda, ataukah dia sedang serius? Mereka berdua saling pandang, Freya justru sedang membayangkan Norman saat menjadi seorang raja saat ini. Raja yang brutal dan juga mesum.


"Pfff!" Freya menahan tawa, entah kenapa dia merasa Norman jadi terlihat konyol dengan pakaian seorang raja meski dia tidak tahu raja dari negara mana.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Norman.


"Hei, segeralah sadar. Kau memang raja tapi kau raja pemimpi jadi berhenti berkhayal. Hanya orang bodoh yang akan Percaya jika kau adalah raja. Raja mana yang bermain-main di luar seperti dirimu jadi jangan bermimpi!" ucap Freya.


"Baiklah, bagus jika kau tidak percaya!" ucap Norman.


"Tentu saja, aku masih waras jadi aku tidak akan percaya!" Freya meneguk kopinya, dia kembali diam dan berpikir tapi tidak lama karena tawa kerasnya terdengar. Itu karena dia kembali membayangkan Norman sebagai raja dan baginya itu sangatlah lucu. Sepertinya kepala Norman terbentur, semoga dia cepat sadar. Norman tidak mempedulikan tawa Freya, terserah Freya mau percaya atau tidak yang pasti dia sudah sedikit membuka identitasnya.