Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Perasaan Tidak Rela



Setelah menyelesaikan permasalahan mereka di atas ranjang, hubungan aneh mereka sudah kembali seperti semula lagi. Freya tidak lagi bersikap manis yang sengaja dia buat-buat sehingga membuat Norman tidak kesal. Memang sikap jutek lebih cocok dengan wanita seperti Freya.


Mereka berdua tidak keluar dari kamar setelah melakukan perdamaian di atas ranjang. Norman sedang duduk di depan komputer sedangkan Freya berada di atas pangkuannya. Mereka berdua sedang sibuk mencari keberadaan artfek milik ayah Freya juga replika mumi raja Tutankhamun yang tersebar di museum. Meski Norman sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu tapi dia tidak ingin Freya tahu.


"Aku khawatir Dark Dragon masih mencari keberadaan kita!" ucap Freya. Dia tidak boleh melupakan kelompok yang hampir mencelakai dirinya dan dia harus lebih berhati-hati agar kejadian waktu itu tidak terulang.


"Tidak perlu khawatir, Dark Dragon tidak akan mengincar kita lagi."


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Freya curiga.


"Hm, aku hanya menebak saja," jawab Norman beralasan.


"Siapa kau sebenarnya, Norman? Aku yakin kau telah melakukan sesuatu pada kelompok Dark Dragon itu."


"Aku tidak melakukan apa pun, Freya."


"Jika begitu kenapa kau berkata Dark Dragon tidak akan mengincar kita lagi? Aku yakin kau bukan orang sembarangan jadi katakan padaku siapa kau?"


"Apa kau ingin tahu?" Norman memeluk Freya dan mencium tengkuknya.


"Katakan, siapa kau sebenarnya?" tiba-tiba dia jadi ingin tahu dan penasaran.


"Aku hanya seorang buronan. Kau sudah tahu, bukan?"


"Apa benar? Entah kenapa aku tidak begitu mempercayainya!" ucap Freya karena dia memang ragu.


"Untuk apa aku berbohong, kau sudah melihat sendiri bahkan kau juga dikejar gara-gara aku."


"Jika begitu siapa Vanila?" akhirnya dia bertanya akan hal itu.


"Apa kau marah padaku dan cemburu gara-gara dirinya, Freya?"


"Jangan terlalu percaya diri, aku tidak cemburu!" ucap Freya kesal.


"Kau cemburu, aku tahu itu. Kau pun cemburu dengan kedua wanita yang ada di dalam pesawat itu. Meski kau tidak mau mengakuinya tapi aku bisa melihat jika kau cemburu dengan mereka!"


"Ck, aku tidak mau berbicara lagi denganmu!" Freya beranjak dari atas pangkuan Norman dan melangkah pergi.


"Hei, kita belum selesai!" Norman juga beranjak dari tempat duduk dan melangkah mengikuti Freya.


"Aku lapar, mau makan!" ucap Freya.


Norman mengikutinya keluar dari kamar. Mereka memang menuju dapur untuk mencari makanan namun sebelum mereka tiba di meja makan, Freya terkejut dan berteriak karena Cristiana melompat keluar di depan mata sambil membunyikan sebuah party pooper.


"Selamat!" teriak Cristina.


"Cristina, apa kau ingin membunuh aku?!" teriak Freya kesal. Kedua tangan berada di dada di mana jantungnya berdegup kencang akibat terkejut.


"Aku hanya ingin memberikan kejutan dan ucapan selamat untuk Nona!" ucap Cristina.


"Untuk apa? Kau bisa membuat aku terbaring di dalam peti mati dengan cepat akibat kelakuanmu ini!"


"Kemarilah, Nona. Aku membuatkan banyak makanan untuk kalian semua," ucap Cristina tanpa mempedulikan protes dari Freya.


"Untuk apa dan apa yang sedang kau rayakan?" tanya Freya heran.


Cristina memang membuat banyak makanan padahal tidak ada yang ulang tahun. Freya berdiri di samping meja dan mengambil sepotong makanan. Norman pun berdiri di sisinya, seperti Freya, dia pun tidak mengerti apa yang sedang dirayakan oleh Cristina.


"Aku membuat makanan ini untuk merayakan keperawanan Nona yang sudah dilepaskan!" mendengar perkataan itu tentu membuat Freya terkejut sehingga makanan yang ada di dalam mulutnya tersembur keluar sehingga mengenai Norman.


"Freya!" Norman tampak tidak terima.


"Ma-Maaf," Freya buru-buru membersihkan makanan yang ada di baju Norman. Dia pun masih terbatuk akibat tersedak makanan.


"Minum dulu, Nona." Cristina memberikan minuman yang sudah dia ambil dengan terburu-buru.


"La-Lain kali jangan asal bicara!" Freya menyambar gelas minuman yang ada di tangan Cristina dan meneguknya dengan cepat.


"Aku tidak asal bicara. Jeritan Nona begitu nyaring terdengar jadi aku tahu."


"Brrusshhh!!" lagi-lagi minuman yang ada di dalam mulut Freya menyembur keluar dan pria yang ada di hadapannya lagi-lagi harus sial dan basah akibat air yang disemburkan oleh Freya.


"Freya!" Norman berteriak karena dia jadi basah kuyup.


"Cristina!" Freya justru berteriak pada Cristina.


"Maaf, Nona. Maafkan aku!" Cristina jadi tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, aku rasa kurang!" Freya justru kembali meneguk minumannya lagi lalu menyemburkannya ke arah Norman.


Norman berteriak, dia semakin basah kuyup akibat semburan Freya. Tidak saja Norman yang terkejut, Cristina juga terkejut.


"Nona, kenapa kau semakin sengaja?" tanya Cristina.


"Pria menyebalkan memang harus disembur agar tidak menyebalkan lagi!" jawab Freya.


"Beraninya kau, Freya?!"


"Kenapa? Apa masih kurang?" Freya semakin sengaja.


"Kau, ikut denganku sekarang juga!" Norman hendak meraih tangan Freya namun Freya menghindar dengan cepat dan bersembunyi di belakang Cristina karena dia tidak mau mengikuti Norman dan dia pun tahu jika mereka akan berakhir dengan gairah panas di dalam kamar mandi.


"Tidak mau, pergi sana. Aku mau makan!"


"Awas kau nanti!" mau tidak mau, Norman melangkah pergi karena dia harus berganti pakaian. Freya tampak puas, sekali-kali memang harus membalas perbuatan pria menyebalkan itu agar tidak selalu dia yang kalah.


"Sepertinya hubungan kalian berdua sangat baik, Nona," ucap Cristina.


"Tidak juga, kami hanya rekan jadi jangan salah paham!" Freya duduk di meja makan, piring kosong pun diambil beserta sendok dan garpu.


"Apa kalian berdua tidak saling menyukai?" tanya Cristina ingin tahu.


"Tidak, seperti yang kau tahu aku memang tidur dengannya tapi kami melakukannya tanpa melibatkan perasaan jadi kami akan berpisah pada saatnya tiba nanti."


"Apa tidak apa-apa seperti itu, Nona?"


"Tentu saja tidak. Aku tidak mempermasalahkannya karena aku tahu dia terlibat gara-gara aku. Lagi pula setelah aku menemukan Daddy, ada yang harus aku lakukan dan pada saat itu tiba, kau boleh mengikuti Daddy atau kau ingin berhenti bekerja pun tidak masalah."


"Ke mana Nona mau pergi?" tanya Cristina lagi.


Freya tidak menjawab dan tersenyum tipis. Norman berdiri di belakang dinding untuk mendengar apa yang sedang Freya bicarakan dengan Cristina. Apa yang hendak Freya lakukan setelah menemukan ayahnya? Apa mereka tidak akan bertemu lagi setelah itu? Sekarang dia jadi memikirkan apa yang akan terjadi dengan mereka berdua nantinya, dia pun tidak tahu apakah dia akan kembali ke Swedia dan meninggalkan Freya begitu saja ataukah mereka akan berpisah dengan cara yang baik-baik.


Cristina membuat minuman, sedangkan Freya menikmati makanan. Norman pergi ke kamar yang dia tempati, dia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan di hatinya. Keseharian yang dia lewati bersama dengan Freya akan berakhir cepat atau lambat dan dia akan berpisah dengan wanita menyebalkan itu. Dia sangat tahu mereka hanya partner tapi kenapa dia tidak rela?


Sial, dia sudah merasa jika ada yang salah pada dirinya. Seharusnya perasaan tidak rela itu tidak boleh dia rasakan tapi kini, perasaan tidak rela itu justru datang tanpa permisi dan karena perasaan itu dia jadi tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah petualangannya sudah selesai nanti.


Freya sudah selesai makan, dia kembali masuk ke dalam kamar dan menghampiri laptopnya. Freya terkejut melihat apa yang dia dapatkan, sebuah lokasi keberadaan artefak milik ayahnya sudah dia dapatkan. Freya tersenyum, akhirnya dia mendapatkan lagi lokasi keberadaan artefak milik ayahnya. Dia sangat beruntung bisa menemukan keberadaan artefak dalam waktu yang cukup dekat. Sepertinya dia bisa menemukan keberadaan ayahnya dalam waktu dekat tapi sayangnya, sebuah kejutan sudah menanti dirinya.