Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Tidak Melakukan Apa Pun



Suara teriakan Freya, mengejutkan Cristina yang sedang membuat makanan tapi keterkejutannya tidak lama. Cristina tersenyum, sepertinya dia harus membuat banyak makanan untuk merayakan malam pertama sang nona. Cristina menebak sudah terjadi pada Freya dan Norman tadi malam oleh sebab itu itu dia sangat senang.


Norman yang terkena sialnya karena satu tendangan dia dapatkan sehingga membuatnya terpental ke atas lantai. Freya benar-benar terkejut karena mereka tidur berdua dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, dia sedang tidak memakai bajunya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidur denganku dan kenapa aku tidak memakai baju?" teriak Freya.


"Aku tidak melakukan apa pun. Bajumu terkena muntahan oleh sebab itu aku melepaskannya," jawab Norman.


"Bohong, aku tidak percaya!" Freya berteriak sambil menutupi dadanya yang telanjang.


"Aku tidak melakukan apa pun, sungguh," ucap Norman seraya beranjak.


"Aku tidak percaya!" teriak Freya lagi.


"Ya sudah jika tidak percaya," Norman sudah berjalan menuju pintu tapi langkahnya terhenti sejenak, "Ngomong-Ngomong, punyamu ternyata kecil," godanya.


"Sialan, pergi kau!" teriak Freya sambil melempar bantal.


Norman terkekeh dan keluar dari kamar Freya. Bantal yang di lempar oleh Freya mengenai pintu, dia kembali berteriak karena kesal tapi setelah Norman sudah keluar dari kamar, Freya melompat turun dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi karena dia ingin melihat kedua dadanya yang dibilang kecil oleh Norman.


Sial, ternyata benar. Kedua dadanya sangat kecil. Pantas saja tidak ada yang tertarik dengannya, ternyata kedua dadanya tidak menarik. Freya bahkan melihat kedua bokongnya, baiklah, dia tidak mau lihat lagi karena atas bawah kempes.


"Menyebalkan, asal bicara!" ucap Freya sambil menggaruk kepalanya tapi apa yang dikatakan oleh Norman membuatnya jadi kepikiran.


Cristina sudah membuat banyak makanan untuk merayakan masa pelepasan keperawanan yang dilakukan oleh Freya. Pelayan itu menyapa Norman yang masuk ke dapur sambil tersenyum manis, tentu saja sikap yang ditunjukkan oleh Cristina membuat Norman heran.


"Ada apa denganmu?" tanya Norman.


"Tidak ada apa-apa, Tuan. Apa Nona belum selesai mandi?" tanya Cristina.


"Tidak tahu!" jawab Norman sambil angkat bahu. Cristina yang sudah sangat menginginkan sang majikan memiliki kekasih menganggap Norman menjawab seperti itu karena pura-pura saja.


"Kenapa begitu banyak makanan? Apa ada acara yang sedang kau rayakan?" tanya Norman.


"Tentu saja ada, semua ini untuk Nona." jawab Cristina sambil tersenyum manis. Dia pun sudah tidak sabar Freya bergabung bersama dengan mereka.


Freya yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur. Tatapan matanya yang tajam tidak lepas dari Norman yang sudah berada di dapur. Sebal, gara-gara perkataan pria itu dia sampai berusaha mengganjal kedua dadanya menggunakan kain lalu dia merasa sangat konyol. Cristina yang sudah menunggu sangat senang karena Freya sudah datang.


"Selamat pagi, Nona," sapa Cristina.


"Pagi, kenapa kau begitu senang dan kenapa kau membuat banyak makanan?" tanya Freya sambil menarik kursi.


"Tentu saja untuk merayakan keberhasilan Nona," jawab Cristina.


"Keberhasilan apa?" Freya mengambil segelas susu dan meneguknya.


"Keberhasilan karena Nona sudah melepaskan keperawanan!" jawab Cristina tanpa berdosa.


Bruussshhh!! Susu yang ada di mulut Freya menyembur keluar dan sialnya, Norman yang memang duduk di hadapannya harus mandi air susu. Norman terkejut, seluruh wajah basah kuyup akibat susu yang disemburkan oleh Freya.


"A-Apa kau bilang?" teriak Freya gugup.


"Ada apa, Nona? Kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya Cristina tidak percaya.


"Ka-Kau?" Freya malu luar biasa, wajahnya bahkan memerah apalagi Norman melotot ke arahnya


"Bagus, Freya. Aku sudah mandi dan kau memandikan aku dengan susu lagi!" ucap Norman seraya mengusap wajahnya yang basah.


"Bu-Bukan salahku!" teriak Freya.


"Apa aku salah?" tanya Cristina dengan ekspresi wajah tidak bersalah.


"Tentu saja, tidak ada yang seperti itu!" teriak Freya. Cristina benar-benar asal bicara dan membuatnya malu.


"Berisik, punyaku masih original oleh sebab itu memang kecil!" ucap Freya sambil membuang wajahnya.


Norman terkekeh, Cristina jadi tidak enak hati. Freya benar-benar kesal, sepotong roti pun diambil dan digigit dengan perasaan kesal. Mau tidak mau Norman beranjak karena dia harus mencuci wajah dan mengganti bajunya yang basah bahkan dia pun harus mandi lagi. Setelah dia pergi, Cristina duduk di samping Freya untuk meminta maaf padanya.


"Maafkan aku, Nona. Aku kira kau dan tuan Norman telah melakukan sesuatu semalam," ucap Cristina.


"Kami tidak melakukan apa pun, jangan asal menyimpulkan!"


"Tapi kalian berdua sampai pagi di dalam kamar, apa benar tidak terjadi apa pun?" Cristina tampak tidak percaya jika tidak terjadi apa pun antara Freya dan Norman apalagi mereka berdua di dalam kamar sampai pagi.


"Tentu saja tidak. Walau aku mabuk tapi aku tahu jika kami tidak melakukannya. Lagi pula tidak ada tanda-tanda kami melakukan meski aku tidak memiliki pengalaman sama sekali dan aku tidak mau melakukannya saat mabuk apalagi aku rasa pria itu bukan baj*ngan!"


"Bagaimana jika Nona tidak sadar, bagaimana jika Tuan Norman juga sedang mabuk sehingga kalian berdua justru melakukan hal itu tanpa sadar?" tanya Cristina.


"Apa pun itu, nyatanya kami tidak melakukan hal itu!" ucap Freya.


"Sayang sekali, padahal aku sudah sangat mengharapkan kalian berdua melakukannya," Cristina tampak sedikit kecewa.


"Apa yang kau katakan? Jadi kau ingin aku melakukan dengan seorang pria asing tanpa adanya perasaan?"


"Bukan begitu, siapa tahu kalian berdua berjodoh," jawab Cristina.


"Tidak mau, dasar menyebalkan!" Freya menarik telinga Cristina.


"Ampun, Nona. Aku hanya berharap Nona segera memiliki kekasih saja," teriak Cristina sambil memegangi tangan Freya yang sedang menarik telinganya.


"Tapi tidak dengan pria itu!"


"Ada apa denganku?" tanya Norman yang tiba-tiba masuk ke dapur.


"Tidak ada!" jawab Freya seraya beranjak.


"Mau pergi ke mana? Apa yang akan kau lakukan hari ini?"


"Tidak melakukan apa pun, hari ini kita bersantai sampai aku menemukan petunjuk lagi keberadaan artefak milik ayahku."


"Baiklah, kau belum menjawab aku. Mau pergi ke mana? Bukankah kau belum makan?" tanya Norman.


"Bukan urusanmu, dasar lima senti!" jawab Freya, kini dia membalas apa yang Norman katakan padanya.


"Apa kau bilang?" teriak Norman tidak terima.


"Bye, Tuan lima senti!" Freya melambai dan melangkah keluar.


"Tunggu, siapa yang lima senti?" Norman tampak tidak terima.


"Tentu saja dirimu!" teriak Freya yang sudah berada di luar dan hendak menutup pintu.


"Tunggu, Freya!" Norman pun berlari keluar untuk mengejar Freya.


"Mau apa? Jangan mengejar aku!" teriak Freya sambil berlari.


"Aku ikut!" jawab Norman yang sedang berlari di sisinya.


"Aku hanya ingin jalan pagi saja, jadi untuk apa kau ikut?"


"Ayolah, aku tidak mengenal kota ini jadi ajak aku."


"Baiklah," jawab Freya. Sesekali memiliki teman seperti itu tidaklah buruk. Cristina yang melihat di depan pintu tampak tersenyum. Meski tidak terjadi apa pun pada Norman dan Freya tadi malam tapi dia bisa melihat jika hubungan mereka sudah semakin dekat.


Norman dan Freya berjalan dengan santai sambil berbincang dan pada saat itu sebuah mobil melintas di sisi mereka tapi mobil itu tiba-tiba terhenti dan beberapa orang melihat mereka dari kaca mobil yang dibuka. Akhirnya, sepertinya kedua orang itulah target yang sedang mereka cari.