
Freya dan Norman sudah memutuskan akan pergi ke London untuk mengambil artefak milik ayah Freya yang akan dilelang beberapa hari lagi. Kali ini sebelum mencuri mereka harus mengikuti lelang terlebih dahulu dan pura-pura menjadi pembeli yang tertarik dengan benda antik. Mereka melakukan hal itu untuk1 mencari tahu ke tangan siapa artefak itu akan jatuh.
Uang hasil menjual mobil cukup untuk mereka gunakan selama di perjalanan. Mereka sudah sepakat untuk menyewa satu kamar untuk menghemat pengeluaran. Mereka pun tidak akan langsung kembali setelah melakukan aksi karena mereka sudah sepakat akan bersantai sebentar di kota itu.
Norman dan Freya pun sudah berada di dalam pesawat. Satu hal yang Norman lupakan jika adiknya berada di London bersama dengan keluarganya. Celaka, dia harus berhati-hati agar tidak bertemu dengan adiknya atau suami adiknya karena jika sampai mereka tahu apa yang sedang dia lakukan, dia akan menjadi bahan tertawaan.
Norman menurunkan topi, seolah-olah Vanila berada di dalam pesawat itu untuk memergoki dirinya. Sebisa mungkin dia harus menghindari mereka agar tidak bertemu. Freya sedang memandangi pemandangan yang ada di luar sana. Ini kali pertama dia datang ke London, dia sudah sangat tidak sabar untuk berkunjung ke museum yang ada di kota itu.
"Apa kau pernah datang ke London, Norman?" tanya Freya.
"Hm, tidak. Tidak pernah!" dusta Norman padahal dia menuntut ilmu di universitas yang ada di kota itu bahkan dia tinggal cukup lama di London.
"Sayang sekali, aku kira kau pernah datang ke London sehingga kau bisa mengajak aku jalan-jalan ke tempat bagus yang ada di kota ini!"
"Kita bisa menggunakan peta, jadi tidak perlu khawatir."
"Tidak menyenangkan!" ucap Freya sambil bersedekap dada.
"Hei, ingat tujuan awal kita datang. Jangan pergi ke sembarangan tempat yang tidak kau tahu karena jika kau tersesat aku tidak bisa mencarimu!"
"Aku bukan anak kecil yang akan tersesat!"
"Tapi jangan pergi jauh-jauh!"
"Iya, cerewet!" Freya kembali melihat kota London yang sudah terlihat dari atas sana.
Norman bersandar di kursi, dia berniat untuk tidur sebentar namun tindakan Freya yang menarik tangannya secara tiba-tiba mengejutkan dirinya. Freya melakukan hal itu bukan tanpa alasan, dia terpana dengan London Bridge dan juga One Eye yang terlihat dari atas.
"Norman, tempat itu apa kau tahu?" tanyanya.
"Tentu saja, kenapa?"
"Kita harus pergi ke sana," ucap Freya.
"Baiklah, baik. Tapi jangan menarik aku seperti ini!"
"Hng, dasar tidak menyenangkan!" Freya menepis tangan Norman. Dia tidak mengganggu pria itu lagi sampai akhirnya pesawat yang membawa mereka mendarat.
Hotel adalah tujuan pertama, Freya ingin mengecek lokasi karena dia tidak tahu medan yang akan mereka masuki nanti oleh sebab itu Freya berjalan dengan terburu-buru saat melangkah menuju lobi tapi Norman justru menariknya secara tiba-tiba dan mengajaknya untuk bersembunyi.
"Apa yang kau?"
"Stts!" Norman menutup mulut Freya dan meletakkan jarinya ke bibir.
Freya tidak mengerti dan karena ingin tahu, Freya mengintip dari balik dinding dan mendapati beberapa orang pria yang sepertinya para pembisnis masuk ke dalam hotel itu. Aneh, kenapa Norman seperti takut dengan sesuatu? Apa ada yang dia kenal di antara para pria tersebut?
"Ada apa denganmu?" tanya Freya heran.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Norman pula.
"Sudah, kenapa? Apa kau seorang buronan karena memiliki banyak hutang?"
"Anggap saja demikian!" jawab Norman.
"Hah, ternyata. Aku sungguh tidak menduga. Jangan katakan salah satu dari pembisnis itu sedang mencarimu karena kau tidak membayar uangnya oleh sebab itulah kau bersembunyi seperti ini!" tebak Freya.
"Kau benar, kau sangat benar Freya. Oleh sebab itu bantu aku, jangan sampai mereka melihatku jika tidak aku tidak akan bisa membantumu mendapatkan artefak itu," dusta Norman. Sebenarnya salah satu dari pria itu adalah adik iparnya. Beruntungnya dia cepat sadar, jika tidak adik iparnya bisa melihat dan Freya akan tahu siapa dirinya. Kesalahpahaman Freya sangat bagus, biarkan saja Freya menganggap dirinya banyak hutang. Semakin dia salah paham semakin bagus karena dengan begitu Freya tidak akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Freya melangkah pergi, Norman pun bernapas lega. Selamat, dia sudah menduga akan bertemu dengan si adik ipar tapi dia tidak menduga akan bertemu secepat itu. Setelah melihat situasi yang cukup aman, topi yang dia kenakan pun diturunkan agar wajahnya tidak terlihat.
Norman melangkah cepat dengan perasaan was-was, dia benar-benar takut Abraham melihatnya. Dia juga harus waspada karena di mana Abraham berada maka di sana pula Gaston berada. Jangan sampai dia bisa menghindari sang adik ipar tapi dia justru kepergok oleh asistennya. Norman bahkan menempel di belakang Freya saat melakukan chek in sambil menyembunyikan wajahnya di leher Freya.
Freya sedikit terkejut namun dia berusaha tersenyum saat seorang resepsionis mengambil tanda pengenal palsu yang telah mereka sediakan.
"Kekasihnya, Nona?" tanya resepsionis itu.
"Hm, ya. Kekasihku memang sedikit manja," ucap Freya sambil mengusap wajah Norman. Dia melakukan hal itu agar terlihat sedikit nyata dan tidak dicurigai.
"Ini kunci kamar kalian, nikmatilah waktunya," dua buah kunci diberikan beserta dengan tanda pengenal mereka.
"Terima kasih," Freya mengambilnya lalu menarik Norman pergi menuju lift.
Norman melihat sekitar, sudah dia duga ada Gaston dan sialnya Gaston sedang melangkah mendekati mereka. Norman buru-buru memeluk Freya dari belakang dan kembali menyembunyikan wajahnya. Celaka, Gaston justru berdiri di sisi mereka. Freya mulai kesal, jangan katakan pria itu sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Apa yang kau lakukan?" bisik Freya. Dia bahkan berusaha melepaskan tangan Norman yang melingkar di tubuhnya.
Norman tidak menjawab, jika dia berbicara maka Gaston akan mengenali dirinya. Freya benar-benar kesal, dia hendak mendorong Norman karena tingkahnya namun ketika dia berbalik dia justru melihat Gaston yang sedang berdiri di sisinya. Jangan katakan Norman bertingkah demikian karena pria itu adalah salah satu y
orang yang dia hutangi. Sial, datang ke London justru membuat mereka mengalami sedikit masalah.
Pintu lift sudah terbuka, Freya tidak melangkah masuk. Lebih baik dia menghindari pria berjas itu dari pada berada di dalam masalah. Mereka sampai di tunggu karena lift tidaklah penuh.
"Tidak mau ikut, Nona?" tanya Gaston.
"Oh, tidak. Terima kasih," tolak Freya. Karena dia tidak mau masuk maka pintu lift pun ditutup. Norman sangat lega, selamat. Pintu lift yang lain terbuka, Norman segera menarik Freya dengan cepat dan masuk ke dalam. Mereka harus segera berada di dalam kamar, jangan sampai dia justru bertemu dengan Abraham sehingga adiknya tahu dia berada di sana.
"Apa kau juga berhutang dengan pria itu?" tanya Freya saat lift yang membawa mereka sudah membawa mereka naik.
"Yeah, begitulah," dusta Norman.
"Sepertinya kau tidak saja berhutang dengan banyak orang."
"Memang tidak, aku berhutang dengan banyak orang."
"Ck, jangan sampai para penagih hutang itu mengacaukan misi kita."
"Tidak akan, kau tidak perlu khawatir."
"Bagus!" pintu lift sudah terbuka, Freya segera melangkah keluar dan mencari kamar yang akan mereka tempati. Sebuah kamar yang cukup luas untuk mereka dengan pemandangan kota London.
"Wah, kamar yang sangat bagus!" ucap Freya. Dia melihat kamar itu dan tampak puas.
Norman berdiri di depan jendela untuk berpikir, sebaiknya dia menyamar selama berada di London. Bisa celaka saat dia membuat keributan dengan Freya, wajahnya justru ketahuan. Bagaimana jika wajahnya tersebar di berita pagi? Adiknya bisa shock dan dia akan langsung diminta pulang oleh kedua orangtuanya. Jika sampai hal itu terjadi maka petualangannya selesai.
"Tempat yang sangat bagus, Norman," ucap Freya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kau menyukainya?" Norman melirik ke arahnya sejenak.
"Tentu saja, aku sangat menyukainya."
"Bagus," Norman melangkah mendekati Freya, "Terima kasih atas bantuannya," setelah berkata demikian, Norman memberikan sebuah ciuman di pipi Freya dan melangkah pergi meninggalkan Freya yang seperti orang ling lung.