
Vanila masih mengejar kakaknya yang berlari semakin menjauh. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa kakaknya lari darinya padahal dia hanya ingin tahu kenapa kakaknya bisa berada di kota itu. Bukankah dia berkata tidak akan datang ke kota London? Untuk apa kakaknya menipu padahal dia sudah berada di kota itu.
Dia pun ingin tahu, siapa wanita yang bersama dengan kakaknya. Dia yakin wanita itu bukan wanita biasa karena dia tahu semenjak kematian Emely kakaknya tidak pernah mau dekat dengan wanita mana pun tapi wanita itu? Kakaknya bahkan berlari tanpa mau melepaskan tangannya. Sungguh dia sangat penasaran dan ingin tahu, dia sangat yakin kakaknya juga menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh dia ketahui.
Norman masih menarik tangan Freya untuk terus lari, dia tahu adiknya masih mengejar. Bisa celaka jika Vanila dan Freya bertemu, rahasianya benar-benar akan terbongkar. Freya akan tahu jika dia adalah seorang raja, dia pun yakin Freya pasti akan marah dan membencinya. Dai belum selesai dengan petualangan yang dia lakukan oleh sebab itu dia belum mau identitasnya diketahui oleh Freya. Jangan sampai Freya tidak melibatkan dirinya lagi dalam misi mencari keberadaan ayahnya.
"Sampai kapan kita harus lari?" tanya Freya sambil berteriak.
"Sampai kita bisa lolos darinya!!" jawab Norman sambil berteriak pula.
"Sial, gara-gara kau udang dan tiramku ditinggal begitu saja!"
"Masih saja meributkan hal itu? Aku akan membelikannya sampai kau puas setelah ini!"
"Menyebalkan, aku tidak mau makan lagi denganmu!"
"Jangan cerewet, terus saja lari karena jika kita tertangkap maka kita tidak akan berakhir baik dan kau, tidak akan bisa mencari keberadaan ayahmu karena kau sudah dianggap sekutu yang telah membawa uang mereka kabur!" teriak Norman menakuti.
"Menyebalkan, aku jadi terlibat dalam masalahmu dan menjadi buronan mereka!" teriak Freya tidak terima yang terus berlari sekuat tenaga.
"Kau yang melibatkan aku terlebih dahulu jadi kita impas!"
"Sekarang bagaimana? Gara-Gara kau makan siangku jadi gagal!" Freya berpaling, dia kira mereka tidak dikejar lagi tapi nyatanya Vanila begitu gigih. Pasti Norman membawa uang suaminya begitu banyak oleh sebab itu, wanita itu tidak juga berhenti.
"Lari saja, jangann cerewet!" teriak Norman kesal.
"Tidak mau, kita berpencar. Jika kau tertangkap maka aku bisa selamat!" ucap Freya sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Norman.
"Apa? Dasar wanita kejam!" Norman tampak tidak terima.
"Temui aku di lokasi kedua jika kau tidak tertangkap!" teriak Freya yang sudah berlari menuju arah lain.
Norman pun berlari ke sisi lain, bagus. Wanita licik yang cukup cerdik karena Freya tahu jika dia bukan target utama oleh sebab itu Freya lari ke arah lain untuk menyelamatkan dirinya karena Freya yakin, yang dikejar oleh Vanila sudah pasti bukan dirinya.
"Kak Norman, tunggu!" teriak Vanila.
"Sorry, Vanila. Aku tidak ingin petualanganku berakhir jadi sebaiknya kau tidak membocorkan rahasiaku karena Freya akan membenci aku saat dia tahu siapa aku!" ucap Norman dalam hati yang sudah berlari pergi.
Vanila berhenti berlari karena dia sangat lelah. Entah apa yang sedang disembunyikan oleh kakaknya, dia sangat penasaran. Dia tahu kakaknya sedang berlibur untuk menikmati waktunya sebagai rakyat biasa tapi kenapa harus lari darinya?
Vanila mengambil ponsel, dia akan menghubungi suaminya yang tertinggal di restoran. Dilihat dari arah kakaknya berlari, dia yakin mereka menuju One Eye karena tempat itu tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Temui aku di One Eye," perintah Vanila pada suaminya yang sedang menunggu.
"Apa kau tidak mendapatkan mereka?" tanya Abraham.
"Tidak, tapi sepertinya mereka pergi ke One Eye jadi temui aku di sana!"
"Baiklah, aku akan segera ke sana!"
Vanila meelangkah menuju One Eye yang terlihat. Setelah tenaganya kembali dia kembali berlari. Jangan sampai kakaknya hilang tapi pada saat itu, sebuah pesan dikirimkan oleh Norman untuknya. Vanila menghentikan larinya untuk sesaat dan membaca pesan yang kakaknya kirimkan.
"Jangan mengejar, Vanila. Aku sedang menyamar jadi jangan sampai Freya tahu siapa aku yang sebenarnya!" itu pesan yang dikirimkan oleh Norman.
Tidak puas dengan pesan yang kakaknya kirimkan, Vanila menghubungi kakaknya yang saat itu sudah hampir tiba di One Eye.
"Jadi namanya Freya?" tanya Vanila.
"Yeah, aku sedang menyamar menjadi rakyat biasa oleh sebab itu jangan sampai dia tahu!"
"Siapa dia, Kak? Apa dia pacarmu?" tanya Vanila yang memang sudah sangat ingin tahu akan masalah ini.
"Bukan, kami hanya partner!"
"Partner? Dalam hal apa?" Vanila semakin penasaran.
"Partner dalam segala hal, sudah jangan ganggu aku dan jangan mengejar. Satu hal lagi, kau harus membayar makanan yang belum aku bayar!"
"Menyebalkan, jangan menjadikannya partner di atas ranjang saja tapi jadikan dia partner untuk seumur hidupmu!" ucap Vannila.
"Cerewet, awas jika kau mengejar aku!" Norman mengakhiri percakapan mereka dan kembali berlari menuju One Eye.
Vanila pun melangkah menuju One Eye karena dia sudah meminta suaminya untuk menemuinya di sana. Mungkin saja dia bisa bertemu dengan Freya tanpa sengaja? Mendadak dia ingin meliihat wajah panik sang kakak akibat kebohongannya pada wanita itu.
Freya terus berlari, dia sudah hampir tiba. Terus terang dia sudah merasa sangat lelah. Benar-Benar kejadian tidak terduga. Tidak saja harus lari dari polisi, para utusan Dark Dragon dan kemungkinan Black Scorpion pun akan mengejar mereka tapi kini, yang menggejar mereka justru bertambah dan mereka harus melarikan diri dari hutang yang ditinggalkan oleh Norman.
Freya menghentikan larinya, dia butuh istirahat dan mengambil napas. Kedua kakinya sangat sakit, setelah ini dia perlu dipijat dan pelakunya harus bertanggung jawab. Freya mencari keberadaan Norman sambil melangkah mendekati One Eye, entah pria itu bisa lolos atau tidak tapi dia yakin bisa.
Pengunjung di tempat itu cukup ramai, Norman pun mencari keberadaan Freya di antara pengunjung yang juga bergerak mendekati One Eye untuk menaiki benda besar yang menyerupai biang lala raksasa tersebut. Freya juga melangkah mendekati benda itu karena dia berniat beristirahat di dalam biang lala sambil melihat kota London. Semoga saja tidak ketahuan.
Freya menunggu giliran seperti yang lainnya, Norman yang sudah melihatnya melangkah mendekat dengan terburu-buru sedangkan Vanila yang sudah berada di tempat itu pun mencari keberadaan kakak dan suaminya. Freya sudah hendak masuk ke dalam biang lala namun dia dikejutkan oleh seseorang yang menarik tanggannya. Freya berpaling dan tampak lega karena yang menarik tangannya adalah Norman.
"Aku kira kau sudah tertangkap!" ucapnya.
"Hal itu tidak mungkin terjadi!" kini Norman menggenggam tangan Freya dan menariknya masuk ke dalam biang lala.
"Apa wanita itu sudah tidak mengejar?"
"Aku rasa masih, oleh sebab itu kita bersembunyi di sini!"
"Menyebalkan, kedua kakiku terasa sakit. Setelah kembali kau harus memijatnya!"
"Itu perkara mudah!!" tangan Norman sudah berpindah dan sudah berada di pinggang Freya.
"Jangan menempel padaku, panas!" pinta Freya seraya menyingkirkan tangan Norman.
"Jangan cerewet!" Norman justru menariknya semakin mendekat.
Freya jadi kesal tapi dia malas berdebat. Mereka berdua berdiri di sisi biang lala yang menghadap tepat ke sungai Thames. Walau harus berlari ria sebentar tapi pemandangan indah dari biang lala yang sudah bergerak naik membuat suasana hati jadi berubah. Norman bahkan sudah berpindah, berdiri di belakang Freya dan memeluknya. Dia tidak tahu jika adiknya yang sedari tadi mencari melihat ke atas dengan senyuman menghiasi wajah. Sudah dia duga ada di atas.
"Ayo kita pergi," ajak Vanila pada suaminya yang sudah menemukan keberadaannya.
"Kakakmu?" tanya Abraham.
"Sepertinya dia sudah pergi, aku akan menghubunginya nanti!" jawab Vanila yang pura-pura tidak melihat.
Abraham tidak bertanya lagi, mereka pergi dari tempat itu meninggalkan Norman yang sedang menikmati waktunya bersama dengan Freya di dalam biang lala. Freya bersandar di dada Norman, memandangi kota London yang indah. Kebersamaan mereka, pemandangan indah itu dan apa yang sedang mereka lakukan tidak akan dia lupakan karena setelah misi berakhir, penjara sudah menanti dirinya.