Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Saling Bersaing



Malam sudah datang, Freya berdandan secantik mungkin karena dia berniat pergi menikmati malamnya. Norman tidak melepaskan pandangannya dari Freya tapi dia juga sedang bersiap-siap untuk pergi. Dia tidak mau ditinggal sendirian di hotel karena dia juga ingin menikmati malamnya di kota London.


Dia juga berniat mengganggu Freya yang tega meninggalkan dirinya begitu saja padahal mereka berdua sudah melewati malam menegangkan tapi Freya justru tidak mau mengajaknya untuk bersenang-senang. Freya yang sudah berdandan tampak puas dengan penampilannya. Gaun berwarna merah sudah melekat di tubuh seksinya. Tidak mungkin tidak ada pria yang tidak akan mendekati dirinya. Malam ini dia harus mendapatkan mangsa seorang pria tampan dan dia yakin dia bisa mendapatkannya.


"Ingat, jangan ganggu aku!" ucap Freya sambil merapikan rambutnya.


"Siapa yang mau mengganggu dirimu?" Norman meliriknya dengan tatapan tidak senang.


"Bagus, jika kau ingin membawa seorang wanita untuk menghabiskan malam sebaiknya kau sewa kamar lain!"


"Sembarangan, kau kira aku laki-laki macam apa?"


"Apa aku salah?" Freya melirik ke arah Norman sehingga mereka berdua saling melirik dengan tajam.


"Kau juga jangan asal bawa lelaki pulang, awas terkena penyakit mematikan!"


"Berisik, aku tidak melakukan hal itu!"


"Bagus, aku pergi dulu!" Norman terlihat begitu percaya diri, dia pergi terlebih dahulu agar Freya tidak curiga sama sekali dan memang demikian. Freya keluar setelah Norman keluar tidak lama. Dia tidak tahu jika Norman mulai mengikuti dirinya dari belakang. Norman ingin tahu ke mana Freya pergi karena dia berniat mengganggu Freya yang melupakan dirinya begitu saja.


Freya menaiki taksi, dia mencari sebuah restoran atau tempat yang menyenangkan dan pada akhirnya dia berada di sebuah kapal karena di sana akan diadakan sebuah pesta. Tidak perlu menggunakan undangan, pesta itu dibuka untuk umum bagi tamu yang memiliki uang. Lagi pula kapal itu tidak berlayar karena kapal memang diperuntukkan untuk memberikan hiburan malam bagi pengunjung yang ingin mencari kesenangan.


Norman juga menaiki kapal itu, Freya tidak akan tahu karena dia berbaur dengan para tamu yang hadir. Musik keras terdengar dari bar, Freya melangkah mendekati meja judi karena dia ingin mengadu keberuntungannya di meja itu. Siapa tahu dia bisa menang jutaan dolar yang bisa dia jadikan modal untuk melakukan aksinya untuk mengambil artefak milik ayahnya kembali.


"Boleh aku bergabung?" tanya Freya pada seorang pria tampan yang sedang bermain sendirian.


"Tentu saja, Nona. Meja ini bisa diduduki oleh siapa saja," jawab pria itu.


Norman melotot dengan ekspresi tidak senang, entah kenapa dia merasa seperti itu padahal mereka berdua tidak memiliki hubungan apa pun bahkan mereka berdua hanya orang asing saja. Freya begitu cepat akrab dengan pria yang sedang bermain judi dengannya. Mereka berbicara dan tertawa sesekali. Oke, baiklah. Wanita itu bisa maka dia pun bisa.


Norman mendekati seorang wanita yang kebetulan sedang sendirian, Norman mengajak wanita itu tentunya dia mendapatkan sambutan baik. Norman mengajak wanita itu untuk duduk di meja judi yang berada di dekat Freya dan ketika melihatnya, Freya terkejut dan setelah itu dia terlihat tidak senang. Mereka berdua bahkan saling menatap dengan api persaingan yang terlihat jelas di antara mereka.


"Giliranmu, Nona," ucap pria yang ada di samping Freya.


"Panggil aku Freya," ucap Freya sambil tersenyum.


"Freya, nama yang bagus. Setelah bermain, bagaimana jika kita menikmati pesta ini?"


"Boleh saja, aku datang ke pesta memang untuk bersenang-senang," Freya tersenyum namun tatapan matanya kembali melihat ke arah Norman namun Freya justru jadi kesal saat melihat wanita yang berada di samping Norman menempel padanya bahkan berusaha menggodannya.


"Ayo kita berdansa," ajak Freya pada pria yang ada di sisinya.


"Bagaimana dengan pertaruhan kita?"


"Apa yang sedang kau pertaruhkan?" tanya Freya menggoda.


"Dirimu di atas ranjangku malam ini!" mendengar perkataan pria itu, Norman tentu saja semakin tidak senang namun Freya justru tersenyum seperti menyetujui ucapan pria itu.


"Baiklah," pria itu beranjak lalu mengulurkan tangannya ke arah ke arah Freya.


Freya mengangkat dagu, lalu melihat ke arah Norman dengan angkuhnya. Norman jadi kesal, dia seperti sedang ditantang oleh Freya. Freya menyambut uluran tangan pria asing yang mengajaknya untuk berdansa, dia akan menikmati waktunya dengan pria tampan itu.


Norman tidak mau ketinggalan, dia pun mengajak wanita yang bersama dengannya untuk berdansa. Mereka berdua sudah seperti pasangan kekasih yang bertengkar dan saling membalas. Karena kesal lagi-lagi Norman mengikuti dirinya, Freya memeluk pria asing itu dan membiarkan tangan pria itu meraba punggungnya. Norman semakin panas, Freya benar-benar menantang dirinya.


Dansa yang mereka lakukan bukan dansa biasa, para pedansa akan bertukar pasangan nantinya. Tentunya itu bukan dansa yang in*tim karena mereka akan bersenang-senang. Musik pun sudah berubah, gaya berdansa berubah dan para pasangan harus bertukar. Freya mengumpat, sepertinya mau tidak mau dia akan berdansa dengan Norman yang menyebalkan padahal dia tidak mau diganggu oleh pria itu. Seperti yang Freya duga, akhirnya dia dan Norman berdansa berdua.


"Kenapa kau mengikuti aku? Apa tidak ada tempat menyenangkan lagi di London?" tanya Freya yang benar-benar kesal.


"Aku tidak mengikuti, aku hanya menemukan tempat ini untuk bersenang-senang!" jawab Norman beralasan.


"Tidak perlu menipu, kau sengaja membuntuti aku!"


"Untuk apa aku membuntuti dirimu, aku bersama dengan wanita cantik yang ada di sana!" Norman masih saja beralasan.


"Jika begitu lepaskan, aku juga bersama dengan pria tampan yang ada di sana!" Freya tidak mau kalah.


"Jangan kau bawa pulang ke hotel, sewa kamar sendiri!"


"Kau pun tidak boleh, lagi pula pria itu akan membawa aku ke mansionnya yang megah bak istana!" Freya asal bicara mengenai hal itu. Mereka bahkan berbicara sambil berdansa namun mereka tidak melakukan pertukaran pasangan sehingga pria dan wanita yang bersama dengan mereka tadi menunggu mereka dan saling menatap dengan tatapan heran tapi tidak lama karena mereka pun pergi dengan perasaan kesal pastinya.


"Oh, bagus. Wanita itu memiliki sebuah kastil megah dan aku bisa tidur dengan nyaman di kastilnya yang megah. Dia pun punya banyak uang jadi aku tidak akan kekurangan uang!" Norman pun asal bicara untuk hal ini.


"Kau pria miskin punya banyak hutang, jangan memanfaatkan wanita malang yang tertarik dengan ketampananmu!"


"Oh, jadi aku tampan?"


"Tidak, aku hanya asal bicara saja!"


"Lihat aku, Freya!" Norman berhenti, begitu juga dengan Freya. Dagu Freya diangkat dan mereka berdua saling pandang.


"Aku sudah melihatmu dan kau jelek!" ucap Freya.


"Apa kau bilang?"


"Minggir, mengganggu kesenanganku saja yang sedang menggoda pria!" Freya mendorong Norman dan melangkah pergi.


"Kau tidak akan bisa menggoda siapa pun selama aku masih menjadi partermu!"


"Enak saja!" Freya menunjukkan jari tengahnya dan melangkah cepat untuk pergi dari lantai dansa tapi Norman mengejarnya dan meraih tangan Freya lalu menariknya hingga tubuh Freya tertarik ke arahnya. Freya terkejut, kedua mata melotot karena Norman mencium bibirnya tanpa permisi dan mendekapnya dengan erat.


Freya hendak memukul namun Norman sudah menahan tangannya juga tak melepaskan bibir Freya sehingga wanita itu tidak bisa melawan dan pada akhirnya Freya pasrah, tidak melawan lagi bahkan mereka berdua berciuman penuh gairah di tempat itu. Freya yang sudah menyalakan api dan dia harus menanggung akibatnya.