
Beberapa obat dikonsumsi oleh Freya pagi itu, dia berkata itu obat untuk usus buntunya dan dia harus rutin mengkonsumsi obat itu agar dia tidak perlu menjalani operasi karena dia baru mengalami gejala saja. Itu yang Freya katakan pada Norman saat Norman bertanya padanya. Begitu banyaknya obat membuat Norman curiga namun lagi-lagi Freya bisa meyakinkannya.
Berkat obat itu pula, Freya tidak merasakan nyeri lagi di perutnya. Dia sudah merasa lebih baik dari pada sebelumnya dan setelah ini semoga dia tidak perlu berlari ke sana ke mari lagi. Norman sedang berbicara dengan Kendrick ketika Gabriel menghubungi Freya.
Freya pun menjawabnya, kebetulan dia juga ingin mengatakan pada Gabriel jika dia tidak bisa menemui Gabriel untuk beberapa hari mendatang karena dia tidak tahu harus pergi ke mana setelah ini. Freya pun berbicara di balkon kamar agar Norman tidak mendengarnya.
"Ada apa, Gabriel? Aku minta maaf karena tidak bisa menemui dirimu untuk beberapa hari mendatang," ucap Freya.
"Kenapa, Freya? Apa kau sedang pergi?" tanya Gabriel.
"Hm, ya. Ada hal penting yang harus aku lakukan!"
"Apa yang kau lakukan? Apa kau pergi mencari keberadaan ayahmu?" tanya Gabriel.
"Dari mana kau tahu hal ini, Gabriel?" Freya menegakkan duduknya, dari mana Gabriel tahu akan hal ini? Dia tidak mengatakan pada siapa pun, bahkan pihak berwajib pun tidak lalu bagaimana Gabriel bisa tahu?
"Kau tahu dari mana, Gabriel?" tanya Freya kembali.
"Aku mendengar hal ini dari ilmuwan lain, mereka berkata ayahmu menghilang setelah mendapatkan penemuan yang sangat berharga. Apakah benar?" tanya Gabriel.
"Hm, begitulah," entah ilmuwan mana yang mengatakan hal itu pada Gabriel tapi dia justru curiga pada Gabriel.
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku, Freya? Aku bisa membantumu mencari keberadaan ayahmu!" ucap Gabriel.
"Terima kasih, Gabriel. Kau tidak akan bisa!"
"Aku pasti bisa, aku bisa membatu kau menemukan keberadaan ayahmu dan menemukan keberadaan batu itu!"
"Apa kau bilang? Dari mana kau bisa tahu akan batu yang ditemukan oleh ayahku?" tanya Freya, kini dia semakin curiga.
"Sudah aku katakan padamu, ada seorang ilmuwan yang mengatakan hal ini padaku dan dia juga mengatakan akan batu yang ditemukan oleh ayahmu. Aku tahu kau sedang dalam bahaya, Freya. Sebab itu percayalah padaku dan kita akan menyelamatkan ayahmu secara bersama-sama!"
"Lagi-Lagi kau mengejutkan aku, Gabrial. Dari mana kau tahu aku dalam bahaya? Apa kau orang yang telah membocorkan batu yang ditemukan oleh ayahku?" tanya Freya. Sungguh dia curiga dengan Gabriel yang mendadak tahu segalanya.
"Jangan asal bicara, aku tidak tahu apa pun. Aku mendengar dari seorang ilmuwan yang aku kenal. Aku tahu kau berada di dalam bahaya karena dia memberikan sebuah rekaman padaku!"
"Rekaman? Apa isinya?" tanya Freya.
"Rekaman akan keberadaan ayahmu. Rekaman yang berisi jika ayahmu sedang diancam dan akan dibunuh jika kau tidak mau menyerahkan batu itu."
"Apa? Berikan rekaman itu padaku, Gabriel!" pinta Freya.
"Pasti akan aku berikan tapi kau harus berjanji untuk tidak pergi sendiri, aku akan menemani dirimu untuk menyelamatkan ayahmu jadi tunggulah aku!" ucap Gabriel.
"Tidak, kirimkan saja rekamannya padaku. Aku tidak bisa melibatkan siapa pun apalagi dirimu!"
"Percayalah padaku, Freya. Aku akan membantumu bernegosiasi dengan para penculik itu agar ayahmu dilepaskan dan agar kau bisa membawa ayahmu pergi. Mereka pasti orang yang sangat berbahaya oleh sebab itu, kau tidak boleh gegabah dalam bertindak."
"Aku tidak bisa melibatkan dirimu, Gabriel. Aku akan pergi sendiri!" ucap Freya.
"Freya, bersama denganku kau aman. Percayalah," ucap Gabriel.
"Aku tunggu, Freya. Meskipun dalam rekaman itu memintamu untuk pergi sendiri tapi jangan pergi sendiri karena berbahaya. Percayalah padaku, aku akan membantumu melakukan negosiasi."
"Aku tahu, Gabriel. Berikan dulu rekamannya agar aku bisa mengambil keputusan!"
"Segeralah, ayahmu tidak bisa menunggu lama!"
"Aku tahu!" ucap Freya.
Gabriel mengirimkan rekaman yang dia dapatkan pada Freya, dia harap Freya tidak bergerak sendiri dan melibatkan dirinya. Freya memutar rekaman yang baru dia dapatkan karena dia sangat ingin tahu apa isinya. Norman yang sudah selesai berbicara dengan Kendrick pun menghampiri dirinya dan sangat heran melihat apa yang Freya lakukan apalagi Freya sedang serius melihat sebuah rekaman.
"Freya, jika kau sudah menemukan batu itu segera datang untuk menolong Daddy dan Cristina!" itu ucapan ayahnya yang terpaksa dia lakukan.
"Daddy," Freya berucap dengan lirih, air mata jatuh perlahan saat melihat ayahnya yang mengenaskan.
"Apa yang kau lihat?" tanya Norman.
Freya hanya berpaling dengan air mata mengalir, Norman duduk di sisinya dan mengambil ponsel milik Freya. Freya mendengarkan apa yang ayahnya katakan dan setelah itu, dia mendengar seseorang berbicara dengan penuh ancaman padanya. Dia mendengar jika dia tidak boleh datang dengan siapa pun jika tidak ayahnya dan Cristina akan mati.
"Dari mana kau mendapatkan rekaman ini, Freya?" tanya Norman setelah melihat rekaman itu.
"Gabriel, dia baru saja menghubungi aku dan mengirimkan rekaman ini padaku!"
"Bagaimana dia bisa memiliki rekaman ini?" tanya Norman sepertinya kecurigaannya akan pria itu benar.
"Entahlah, dia berkata jika seorang kenalan sesama ilmuwan yang mengirimkan rekaman itu padanya dan dia juga mengajak aku pergi bersama untuk bernegosiasi dengan penjahat itu agar ayahku dilepaskan."
"Apa kau percaya dengannya, Freya? Apa kau percaya dengan apa yang dia katakan?" tanya Norman.
Freya menatap ke arah Norman, apa dia percaya dengan apa yang Gabriel katakan? Semua tidak mungkin hanya kebetulan semata.
"Tidak!" jawab Freya.
"Bagus, jika begitu jangan percaya dengannya karena aku yakin dia adalah musuh dalam selimut seperti yang aku duga. Keberadaanmu di kota ini pasti dia yang membocorkan pada pihak musuh. Dia bisa menyadap nomor ponselmu dan seperti yang kita duga sebelumnya, dia pula yang membocorkan kediamanmu pada musuh dan bisa saja, dia ingin menjebak dirimu jadi jangan percaya dengannya!"
"Aku memang tidak percaya dengan siapa pun!" Freya mengambil ponselnya dari tangan Norman seraya beranjak namum Norman menahan tangannya.
"Mau ke mana kau?" tanya Norman.
"Pergi ke markas musuh untuk menjadi umpan. Kau masih mau membantu aku, bukan?" Freya berpaling, memandangi Norman. Jika pria itu tidak mau terlibat lagi maka dia tidak akan bisa memaksa dan dia akan pergi dengan rencananya sendiri.
"Tentu saja aku akan membantu," Norman bangkit dari tempat duduk lalu memeluk Freya, "Aku sudah berjanji akan membantumu sampai tuntas jadi aku akan menepati janji dan tidak akan membiarkan kau pergi seorang diri untuk membebaskan ayahmu dan Cristina tapi kita harus membuat rencana. Kita tidak boleh bertindak gegabah apalagi kita berada di markas musuh."
"Aku tahu, Norman. Oleh sebab itu, apakah kau mau membantu aku?"
"Tentu saja, ayo kita buat rencana bagus untuk memberikan kejutan pada musuh!' ucap Norman, sebuah ciuman mendarat di wajah Freya.
Freya mengangguk, apa yang dia tunggu akhirnya datang. Dengan begini petualangannya mencari keberadaan ayahnya akan segera berakhir dan setelah ini, apa yang harus dia lakukan? Sungguh dia bimbang antara menyerahkan diri pada pihak berwajib atau menjalani hidup normal di tempat tersembunyi tapi dari dua pilihan itu masih ada satu hal yang harus dia lakukan yaitu membersihkan nama Norman. Dia sudah berjanji jadi harus dia lakukan apalagi Norman adalah seorang raja yang tidak boleh memiliki reputasi buruk oleh sebab itu, setelah semua berakhir dia harus membersihkan nama Norman sesuai dengan janji yang telah dia ucapkan.