Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Dunia Milik Berdua



Freya dan Norman sudah cukup lama berada di atas biang lala, mereka pun melihat ke bawah sebelum mereka memutuskan untuk turun. Freya yang paling waspada, dia khawatir orang-orang yang mencari Norman masih berada di bawah. Semua itu gara-gara perkataan Norman yang menakutinya. Jangan sampai dia harus masuk penjara akibat dikira komplotan Norman.


"Apa wanita itu sudah pergi?" tanya Freya yang masih melihat ke bawah dengan serius.


"Sepertinya sudah, tidak perlu khawatir," jawab Norman. Dia yakin adiknya pasti sudah pergi.


"Jika begitu waktunya kita pergi dari sini!" ajak Freya.


"Ke mana kita akan pergi? Apa kau masih ingin pergi ke London Bridge?" tanya Norman.


"Sudah terlanjur berada di kota ini, kenapa tidak? Sebaiknya kita manfaatkan waktu yang ada karena aku merasa kita tidak mungkin kembali karena kau buronan di kota ini!" ucap Freya.


"Yeah.. Yeah, aku memang buronan," ucap Norman mengiyakan.


"Ya sudah, ayo cepat!" Freya menarik tangan Norman saat biang lala berhenti berputar dan pintu sudah terbuka.


"Jangan buru-buru, biarkan saja mereka keluar terlebih dahulu!" Norman menarik Freya hingga tubuh Freya mundur dan menabrak dadanya.


"Kenapa kau suka menarik aku?" ucap Freya kesal.


"Aku hanya ingin mencegah diriimu saja. Kita keluar setelah mereka."


"Baiklah, tapi lepaskan tanganmu!" Freya berusaha menyingkirkan tangan Norman yang melingkar di tubuhnya.


"Tidak perlu malu, aku sudah meraba?" ucapan Norman terhenti karena Freya sudah menutup mulutnya dengan terburu-buru.


"Jangan asal bicara!" ucapnya.


Norman tersenyum, telapak tangan Freya disingkirkan lalu kecupan lembut mendarat di atas punggung tangan Freya. Freya menatapnya dengan tatapan tidak senang bahkan Freya menarik tangannya dengan buru-buru.


"Hubungan kita tidak dekat seperti itu, Norman. Kita hanya partner," ucap Freya seraya melangkah pergi.


"Baiklah, kita hanya partner," Norman mengikuti langkah Freya yang sudah meninggalkan dirinya. Dari tempat itu mereka akan menuju London Bridge, meski Freya berkata mereka partner tapi Freya tidak menolak saat Norman menggenggam telapak tangannya.


"Cuacanya sangat panas," ucap Freya.


"Mau es cream? Aku yang akan mentraktirmu."


"Kau memang harus melakukannya, aku harus berlari gara-gara kau jadi cepat belikan!" perintah Freya.


"Bagus, kau sudah seperti seorang ratu saja!" ucap Norman tidak senang.


"Yeah, aku akan jadi ratu, lihat saja nanti!" ucap Freya asal.


"Jangan bermimpi, masih siang!!" Norman memberikan satu sentilan di dahi Freya hingga membuat Freya kesal.


"Menyebalkan, jangan lakukan hal ini lagi. Cepat belikan es creamnya!" teriak Freya kesal sambil memegangi dahinya.


"Baik, baik. Ratu mimpi," goda Norman.


"Norman!" Freya semakin kesal, sedangkan Norman terkekeh dan melangkah pergi.


"Tunggu di sana baik-baik!" ucap Norman.


Cuaca yang begitu panas membuat Freya memutuskan untuk mencari tempat teduh, sebuah pohon besar yang cukup rindang menjadi pilihan. Freya berdiri di bawah pohon untuk berteduh. Meski dia sudah terbiasa dengan cuaca panas tapi akibat berlari, dia merasa lelah dan haus.


Norman membeli dua es cream, dia kembali ke tempat semula untuk mencari Freya tapi wanita itu tidak ada.


"Ck, ke mana dia?" gerutu Norman, dia melihat sekitar sambil melangkah sampai akhirnya dia melihat keberadaan Freya di bawah pohon besar. Norman jadi kesal tapi bukan karena ditinggalkan oleh Freya tapi karena dua orang pria yang sedang berbicara dengan Freya'lah yang telah membuatnya kesal.


Norman melangkah mendekati Freya dengan cepat, es cream bahkan dicengkeram dengan erat sehingga hampir tumpah. Kedua mata bahkan melotot ke arah dua pria yang sedang berbicara dengan Freya, ekspresinya terlihat menakutkan sehingga kedua pria itu melangkah mundur.


"Ada apa? Bukankah kalian ingin nomor ponselku?" tanya Freya.


"Lain kali saja, kami pergi dulu!" ucap mereka yang sudah melangkah pergi.


Freya mengernyitkan dahi, aneh. Apa yang terjadi? Kedua pria itu seperti baru saja melihat raja neraka.


"Hm, ternyata di sini sedang menggoda pria!" ucap Norman.


"Norman?" Freya berbalik dan mendapati Norman sudah berada di belakangnya.


"Aku cari sedari tadi sampai es cream mencair tapi ternyata kau sedang berbincang dengan orang asing!"


"Maaf, maaf. Aku hanya cari teman berbincang saja!"


"Nih!" Norman memberikan dua es cream yang mulai mencair.


"Untukku?" Freya mengambil kedua es cream itu. Norman benar-benar bersikap sangat aneh, dia bahkan melangkah pergi setelah es cream berpindah tangan.


Freya cuek saja, dua es cream yang ada di tangan dinikmati karena Freya benar-benar haus. Norman yang sudah berjalan di depan mendadak menghentikan langkahnya. Kenapa dia jadi kesal seperti itu? Freya pun tidak peka sama sekali dan lebih memilih es creamnya.


Norman memutar langkah dan berjalan mendekati Freya yang sedang sibuk dengan dua es cream di tangan. Norman menghentikan langkah tepat di hadapan Freya sehingga membuat Freya menghentikan langkahnya.


"What?" tanya Freya yang sedang menatap Norman dengan tatapan heran.


"Ck, benar-benar wanita yang menyebalkan!" Norman menarik tangan Freya serta meraih pinggangnya. Kedua mata Freya melotot karena Norman menjilati bibirnya, es cream yang dia pegang pun sampai terjatuh.


"Manis!" ucap Norman dan setelah itu, Norman mencium bibir Freya tanpa ragu. Mereka berada di tengah jalan saat itu, tidak ada yang peduli walau ada beberapa orang yang melihat ke arah mereka. Freya yang mendapatkan ciuman mendadak mulai terbuai dan membalas ciuman yang Norman berikan. Kedua kaki sudah berjinjit bahkan kedua tangan sudah melingkar di leher Norman. Norman tak henti mencicipi bibir Freya, mencicipi manisnya es cream yang ada di mulut Freya sampai habis.


Mereka berdua saling pandang dengan napas terengah, Freya tidak mengerti dengan apa yang terjadi tapi Norman tampak puas karena es cream yang dia beli dapat dia cicipi.


"Akhirnya dapat!" ucap Norman sambil menjilati ujung bibirnya.


"Maksudmu?" tanya Freya tidak mengerti.


"Kau memakan es cream milikku jadi aku mengambilnya kembali!" ucap Norman.


"Apa?" Freya hampir memekik karena dia tidak terima.


"Ayo pergi!" Norman sudah memutar langkah dan melangkah pergi. Pria itu bahkan bersiul dan terlihat senang tanpa tahu jika Freya sedang melihat es creamnya yang belum habis tapi sudah berakhir di atas aspal jalan.


"Cepat, jika tidak akan aku tinggal!" teriak Norman.


"Menyebalkan, kembalikan es creamku!" teriak Freya yang sudah berlari ke arah Norman lalu melompat naik ke atas punggungnya. Norman terkejut, dia hampir terjatuh akibat kehilangan keseimbangan namun Norman buru-buru memegangi kedua kaki Freya yang melingkar di pinggangnya.


"Apa kau sudah gila? Bagaimana jika kita berdua sampai terjatuh?"


"Aku tidak peduli, sekarang belikan aku es cream dan gendong aku sampai ke London Bridge!" pinta Freya.


"Apa? Apa kau ingin mematahkan pinggangku?" Norman tampak tidak terima.


"Jangan cerewet, cepat jalan!" perintah Freya.


"Oke.. Oke, aku seperti sedang menggendong monyet betina yang tersasar!"


"Norman, teganya kau!" Freya memukul bahu Norman karena tidak terima dengan perkataan Norman.


"Baiklah, baik. Jangan bergerak jika tidak aku lepaskan!" ancam Norman.


"Es cream!" pinta Freya. Mau tidak mau, Norman membelikan es cream untuk Freya tentunya sambil menggendongnya. Freya bahkan masih menempel di punggung Norman sambil menikmati es cream saat menuju London Bridge. Mereka tidak peduli dengan pandangan beberapa orang. Anggap dunia milik berdua dan yang lain mengontrak meski mereka berdua bukan pasangan melainkan partner yang aneh.