
Untuk kesekian kali, Victor sangat murka karena rencana mereka gagal. Padahal dia sudah mengutus anak buah terbaiknya, meski bukan yang paling terbaik tapi mereka sudah cukup untuk menangkap dua orang yang seharusnya mudah di tangkap.
"Apa yang kalian kerjakan, kenapa bisa kalian yang diserang?" teriak Victor yang saat itu sedang berbicara dengan anak buahnya.
"Maaf, Bos. Serangan itu sangat mendadak, Kami bahkan belum melakukan apa pun tapi kami sudah diserang dengan senjata peledak!" jawab anak buahnya.
"Bodoh, kalian semua bodoh! Untuk apa keahlian yang kalian miliki? Kalian bertujuh dan mereka berdua. Kalian semua memiliki keahlian, dan kalian ditugaskan untuk mengelabui Freya Walner dengan keberadaan artefak yang dia inginkan di rumah itu agar dia masuk ke dalam untul mengambilnya dan setelah itu kalian harus menangkapnya!" memang itu yang direncanakan oleh Victor. Sesungguhnya berita yang dilihat oleh Freya hanya berita palsu dan artefak ayahnya tidak ada di Los Angles. Rumah itu tentu saja rumah milik Victor, kedua ahli it diutus untuk mengacaukan cctv lalu memperlihatkan artefak yang sesungguhnya yang masih bersama dengannya di rumah itu untuk memancing Freya sehingga Freya masuk ke dalam untuk mengambilnya.
Victor sudah memperhitungkan semuanya, dia yakin Freya pasti akan meretas cctv untuk melihat tapi kesalahan yang dilakukan oleh kedua anak buahnya karena beberapa gambar yang tidak stabil dan mencurigakan justru membuat Freya curiga.
"Maafkan kami, Bos. Satu kesalahan yang kami lakukan justru telah membuatnya curiga," ucap anak buahnya yang sedari tadi masih sibuk dengan perangkat komputernya.
"Kalian benar-benar bodoh!" teriak Victor marah.
"Aku akan menangkapnya untukmu, Bos!" ucap Chen yang sedari tadi sibuk melihat ujung belatinya yang tajam.
"Apa yang mau kau lakukan, Chen? Jangan sampai kau mengambil langkah yang salah sehingga kau membuat kesalahan fatal," ucap Victor.
"Tidak akan, Bos. Serahkan padaku, malam ini aku akan menangkapnya dan membawanya kepadamu dalam keadaan hidup tapi aku tidak yakin apakah ada anggota tubuhnya yang masih utuh atau tidak!" belati dimasukkan ke dalam sarungnya, Chen melangkah mendekati sebuah meja di mana ada dua pedang panjang di sana, "Aku menginginkan satu tangannya yang telah membunuh kakakku!" ucapnya dengan tatapan mata yang tajam dan tatapan mata itu tertuju pada bilah pedang.
"Lakukan, Chen. Aku harap kau tidak mengecewakan aku!" perintah Victor.
"Tentu tidak, aku akan pergi menangkapnya untukmu!" dua pedang sudah berada di punggung Chen beserta senjata lainnya, wanita itu melangkah pergi namun salah seorang rekan memanggilnya sehingga langkah Chen terhenti. Sesuatu dilemparkan oleh sang rekan, Chen segera menangkap benda itu dan melihatnya.
"Kami akan memberitahumu lokasinya dan kami akan membantu dirimu untuk memisahkan mereka sehingga kau bisa menangkap yang wanita itu dengan mudah!"
"Ide bagus, bergerak sekarang!" Chen kembali melangkah, diikuti oleh enam rekannya. Mereka akan mencari keberadaan Freya dan menangkapnya dan kali ini, mereka yang harus berhasil.
Freya menghentikan laju mobilnya saat lampu sudah berwarna merah. Kedatangan mereka ke Los Angles sungguh sia-sia, mereka bahkan hampir masuk ke dalam jebakan musuh. Memang benar yang Norman katakan, mereka tidak boleh bertindak gegabah. Mulai sekarang dia harus berhati-hati karena kemunculan artefak milik ayahnya bisa saja sebuah berita palsu yang sengaja dibuat untuk memancing dirinya.
Norman terlihat puas, Freya meliriknya dan menatapnya dengan tatapan kesal. Misi gagal tapi pria itu justru terlihat senang. Melihat aksi gilanya, dia rasa Norman pernah melakukan tindak kriminal sebelumnya.
"Sepertinya kau sangat senang, Norman!" ucap Freya.
"Tentu saja, apa tidak boleh?" Norman melirik ke arahnya dengan senyuman menghiasi wajah.
"Bukan tidak boleh, kau seperti sudah terbiasa dengan senjata-senjata itu. Aku tahu kau pasti bukan orang sembarangan jadi katakan padaku, apa kau mantan tentara atau kau mantan seorang kriminal?" Freya berpaling, melihat ke arah Norman.
"Aku bukan mantan kriminal, tapi aku memang pernah bergabung dalam kesatuan. Bersama denganmu aku merasa lebih hidup, petualangan yang kau berikan padaku terasa sangat menyenangkan. Oleh sebab itu aku tidak akan ragu untuk melakukan apa pun selama aku bebas melakukannya!" yeah, selama dia berada di luar dan hidup sebagai rakyat biasa, tidak akan ada yang melarangnya tapi setelah dia kembali ke kerajaan maka dia adalah raja yang harus menjaga image dan mengikuti banyak aturan yang tidak boleh dilanggar sama sekali.
"Hng, kau seperti sedang memberontak dan menyalurkan bakat terpendammu!" ucap Freya. Mobil kembali dijalankan karena lampu jalan sudah berganti menjadi hijau.
"Anggap demikian, Freya. Ada masanya bermain-main dan ada masanya kita serius jadi anggap saja aku sedang bermain-main saat ini!" ucap Norman. Dia tidak bermaksud berkata buruk dan yang dia maksud adalah masanya bermain untuk tidak menjadi pemuda baik dan taat pada aturan seperti yang dia lakukan selama ini tapi Freya justru mengira jika yang dimaksud oleh Norman adalah bermain dengannya.
"Kenapa kau jadi diam?" tanya Norman.
"Aku sedang berpikir, ke mana kita akan pergi? Apa kita akan tetap menyusup ke rumah itu untuk membuktikan apakah artefak itu ada di rumah itu atau tidak?"
"Aku rasa tidak perlu, aku yakin berita itu hanya untuk memancing kita saja. Aku curiga jika kau sedang diincar saat ini!" ucap Norman.
"Jika begitu, kita pulang saja tapi sebelum itu aku itu aku ingin makan terlebih dahulu!" ucap Freya.
"Jangan katakan kau ingin makan udang dan tiram lagi!" ucap Norman.
"Memangnya kenapa?" tanya Freya, dia melirik ke arah Norman sejenak dengan tatapan tidak senang.
"Please, Freya. Aku bosan!"
"Baiklah, kita tidak makan udang dan tiram. Kita akan makan steak tapi kau yang bayar!"
"Ck, kau benar-benar tidak mau rugi!" gerutu Norman.
"Tidak ada satu wanita pun yang mau rugi!" Freya tersenyum. Mereka pergi mencari restoran steak tanpa menyadari jika mereka sedang diintai.
Lokasi keberadaan mereka sudah diketahui oleh anak buah Victor. Chen dan dua orang bertugas menangkap Freya sedangkan empat lainnya akan mengalihkan perhatian Norman karena mereka hanya butuh menangkap Freya Walner saja dan yang pria, tidak ada hubungannya sama sekali.
Restoran steak terbaik sudah mereka temukan, Freya tampak bersemangat apalagi yang akan membayar adalah Norman. Freya menggandeng lengan Norman saat masuk ke dalam restoran itu. Mereka berdua disambut dengan baik, senyuman tak henti menghiasi wajah Freya.
"Jangan terlalu banyak tersenyum, Kau terlihat menakutkan!" ucap Norman.
"Sembarangan, kau benar-benar tidak pandai menilai wanita cantik!"
"Aku paling ahli tapi untukmu, kau jauh dari kata cantik!" ucap Norman bercanda.
"Pria bermulut pedas. Lebih baik aku makan, lagi pula tidak penting aku cantik atau tidak di matamu karena aku tidak akan menjadi kekasihmu!" Freya mengambil buku menu, seorang pramusaji dipanggil karena dia hendak memesan.
Freya memasang wajah cemberut, dia memesan banyak agar Norman mengeluarkan banyak uang. Jika tidak ada maka biarkan saja pria itu mencuci piring kotor. Setelah selesai memesan, Freya beranjak dari tempat duduknya.
"Mau ke mana?" tanya Norman.
"Kamar mandi, jangan katakan kau mau ikut!" jawab Freya sinis.
"Tidak berminat!" Norman Juga bersikap sinis.
Freya mendengus dan melangkah pergi, dia tidak tahu jika bahaya sudah mengintai karena anak buah Victor ingin menangkap dirinya hari ini juga.