
Freya dan Gabriel begitu lama berbincang, mereka sudah berbincang selama berjam-jam bahkan makanan yang mereka pesan pun sudah habis. Norman sangat kesal dibuatnya, entah apa yang Freya bicarakan dengan pria menyebalkan itu, dia tidak mengerti sama sekali kareka mereka membicarakan penggalian-penggalian yang telah mereka lakukan bahkan dia mulai merasa mengantuk mendengar percakapan mereka.
Norman yang sangat kesal, lebih memilih berbaring di atas pangkuan Freya. Kebetulan mereka sedang duduk di sebuah sofa panjang. Freya sangat terkejut dengan apa yang sedang Norman lakukan. Norman meraih tangan Freya dan meletakkan ke atas kepalanya seolah-olah dia meminta Freya untuk mengusap kepalanya.
Freya tersenyum sebisa mungkin pada Gabriel, dia benar-benar tidak enak hati pada sahabatnya itu apalagi yang terjadi di luar dugaan. Norman semakin bersikap menyebalkan saja, setelah berbaring di atas paha Freya, kini Norman memeluknya dari samping dan membenamkan wajahnya di leher Freya dan sesekali mencium leher Freya sampai membuat Freya merasa geli.
"Norman, jangan seperti ini!" Freya mendorong wajah Norman agar menjauh.
"Masih berapa lama lagi kalian mau berbicara seperti ini?" tanya Norman.
"Kenapa? Duduk saja dengan benar!" Freya masih mendorong wajah Norman.
"Oh, ayolah. Aku bosan. Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan jadi sebaiknya kita pulang, aku sudah tidak sabar untuk tidur denganmu!" ucap Norman.
"A-Apa?" Freya terkejut, wajahnya merah padam karena ucapan Norman apalagi Gabriel melihat ke arah mereka.
"Jangan asal bicara!" Freya memijit pelipis, kesal.
"Kau begitu lama, aku sudah bosan menunggu!" ucap Norman.
"Jika begitu pergilah, tinggalkan aku dengan Gabriel."
"Tidak, kita datang bersama jadi harus kembali bersama!" tentunya dia tidak mau meninggalkan Freya berduaan dengan pria mencurigakan itu.
"Baiklah, aku rasa untuk hari ini sampai di sini saja, Freya. Padahal aku ingin mengajakmu makan malam tapi sepertinya tidak bisa!" ucap Gabriel.
"Maaf, Gabriel. Lain kali kita akan bicara lagi."
"Tidak apa-apa, jika ada apa-apa katakan padaku. Aku pasti akan membantumu dan jika ayahmu sudah kembali, tolong hubungi aku karena aku ingin bertemu dengannya."
"Tentu, aku akan mengabari dirimu."
"Tolong pertimbangkan juga ajakanku untuk melakukan penggalian, Freya. Aku pergi dulu," Gabriel beranjak begitu juga dengan Freya. Sesungguhnya dia tidak enak hati apalagi masih banyak yang hendak dia bicarakan dengan Gabriel tapi pria yang ada di sampingnya dan yang sedari tadi tidak mau pergi benar-benar membuat mereka tidak leluasa.
Gabriel bahkan menatap Norman dengan tatapan tidak senang, entah siapa pria itu tapi keberadaannya sangatlah mengganggu. Sepertinya dia harus mencari cara agar dia bisa berbicara dengan Freya secara pribadi. Gabriel pamit pergi, Norman sangat senang melihatnya. Freya melambai pada Gabriel dan setelah itu dia duduk di sisi Norman dan menatap pria itu dengan tajam serta menunjukkan ekspresi kesal.
"Sudah puas sekarang?" tanyanya sinis.
"Tentu saja sudah," Norman tersenyum lebar karena dia benar-benar sudah puas.
"Ada apa denganmu hari in? Kenapa kau bersikap menyebalkan sedari tadi?" tanya Freya.
"Aku bersikap biasa saja, tidak ada yang aneh!" elak Norman.
"Tidak perlu berbohong. Kau bersikap menyebalkan dan kekanak-kanakan. Kau seperti pria pecemburu sedari tadi. Jangan katakan kau memang sedang cemburu pada Gabriel!"
"Ck, aku tidak cemburu. Jangan asal bicara. Aku bosan menunggumu begitu lama!"
"Siapa yang memintamu untuk menunggu?" tanya Freya sinis sambil memijat lehernya yang pegal.
"Itu tidak penting karena yang paling penting adalah, pria itu mencurigakan!"
"Apa maksudmu mencurigakan?" tanya Freya tidak mengerti.
"Ck, aku ingin tanya padamu. Penemuan paling berharga apa yang ayahmu dapatkan selama ini? Apakah artefak yang kau cari selama ini adalah penemuan yang paling berharga yang ayahmu dapatkan?"
"Selama ini apakah ada yang tahu akan penemuan paling besar yang ayahmu temukan?" tanya Norman lagi dan Freya menjawabnya dengan gelengan.
"Apa kau lupa dengan teori kita waktu itu, Freya? Kemungkinan ada seorang arkeolog yang terlibat dengan hilangnya ayahmu, apa kau melupakan hal itu?"
"Tidak tapi tunggu, apa kau mencurigai Gabriel?" tanya Freya.
"Yeah, aku memang mencurigainya!" jawab Norman tanpa ragu.
"Apa alasanmu mencurigai dirinya, Norman. Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan ayahku!"
"Aku mencurigai dirinya dari perkataan yang dia ucapkan."
"Ck, kau pasti tidak senang padanya oleh sebab itu kau jadi mencurigainya!" ucap Freya.
"Freya, jangan karena dia sahabatmu lalu kau menutup mata akan apa yang terjadi. Kau boleh mempercayainya tapi kau pun harus waspada. Apa kau tidak mau tahu kenapa aku bertanya apakah semua penemuan ayahmu adalah penemuan besar dan siapa saja yang tahu akan penemuan besar yang ayahmu dapatkan?"
Freya belum menjawab namun tatapan matanya tidak berpaling dari Norman. Apa yang Norman katakan sangatlah benar, Gabriel menyinggung penemuan besar yang ayahnya temukan padahal dia yakin ayahnya tidak mempublikasikan batu berharga yang dia dapatkan dan dia pun yakin, batu itulah penemuan besar yang ayahnya dapatkan selain artefak-artefak yang ada.
"Kenapa? Sudah bisa berpikir sekarang?" tanya Norman mencibir.
"Yeah, kau benar. Aneh, ayahku selalu menemukan artefak berharga. Semua tahu akan perkataan itu tapi ucapan Gabriel merujuk pada sesuatu yang mencurigakan."
"Sepertinya otakmu sudah kembali rupanya!"
"Enak saja, jangan asal bicara!" Freya memukul bahu Norman namun dia masih juga berpikir.
"Oleh sebab itu, jangan asal percaya. Sudah aku katakan padamu, disituasi seperti ini jangan mempercayai siapa pun karena bisa saja musuh yang justru mendekat!"
"Aku tahu!" Dia tidak mau curiga pada Gabriel seperti Norman curiga pada pria itu tapi jika dia pikir dengan baik-baik, selama ini yang tahu alamat barunya tidaklah banyak dan Gabriel salah seorang yang tahu alamat rumah itu. Apakah dia harus mengiyakan rasa curiga Norman pada Gabriel?
"Jika sudah sadar ayo pulang. Agar tidak dicurigai, kau harus tetap berkomunikasi dengannya dan mencari tahu apakah kecurigaan kita benar atau tidak!"
"Baiklah, baik. Tapi kau tidak akan bersikap seperti ini lagi, bukan? Aku harap kau tidak mengganggu agar aku bisa tahu apa yang dia inginkan!"
"Aku tahu!" sesungguhnya dia tidak suka tapi mau tidak mau dia harus membiarkan Freya dan pria bernama Gabriel itu berdua agar mereka tahu apakah Gabriel adalah musuh ataukah kawan.
"Jika begitu, ayo pulang!" Norman sudah beranjak namun dia berjongkok di hadapan Freya.
"Mau apa?" tanya Freya heran.
"Menggendongmu, apa lagi? Bukankah kau lebih suka di gendong?" tanya Norman heran.
"Tidak, sekarang kau tidak perlu menggendong aku lagi!" tolak Freya.
"Kenapa? Apa sudah tidak suka?" Norman beranjak dan memandangi Freya dengan tatapan heran.
"Bukannya tidak suka, aku sedang tidak ingin!" Freya melangkah pergi, dia tidak mau digendong lagi karena baginya yang waktu itu adalah terakhir kali dan dia tidak mau menambah kenangan manis apa pun lagi agar perpisahan mereka tidak begitu menyakitkan.
"Cepat!" teriak Freya sambil melambaikan tangannya.
Norman mengikuti langkahnya, tanda tanya memenuhi hati. Ada apa dengan Freya? Biasanya dia yang akan naik ke atas bahunya tanpa perlu diundang tapi kini dia justru menolak. Aneh, dia benar-benar tidak menyukai sikap Freya yang seperti itu.