Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Mengikuti Permainan



Gabriel sedang menunggu kabar dari Freya. Dia harap Freya melibatkan dirinya untuk membebaskan ayahnya. Dia sudah menunggu kabar itu cukup lama, dia bahkan sudah tidak sabar namun Freya belum juga menghubunginya. Apa Freya ragu dan tidak mempercayai dirinya?


Sebaiknya dia menunggu sebentar lagi dengan harapan Freya segera menghubunginya. Gabriel menunggu dengan banyak pikiran, rasa was-was jika Freya tidak mau mempercayai dirinya memenuhi hati tapi sesungguhnya Freya dan Norman sedang berdiskusi akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka berdua berdebat cukup lama karena Norman tidak setuju dengan rencana Freya.


"Aku tidak setuju dengan rencanamu!" ucap Norman.


"Ayolah, Norman. Bukankah kau mau membantu aku? Ini rencana yang paling sempurna!"


"Tidak, Freya. Aku tidak bisa membiarkan dirimu menjadi umpan walau rencana yang kau katakan begitu sempurna!" itulah yang mereka debatkan. Freya berniat pergi bersama dengan Gabriel untuk menjadi umpan sehingga dia bisa masuk ke dalam markas musuh. Yang musuh inginkan adalah dirinya jadi dia ingin mengikuti permainan. Selain menjadi umpan, dia juga meminta Norman mengikuti secara diam-diam lalu menyerang dari luar setelah dia memberi tanda. Rencana yang dibuat sangat sempurna tapi Norman tidak suka Freya pergi dengan Gabriel dan dia pun tidak setuju Freya masuk ke markas musuh seorang diri karena sangat berbahaya namun rencana yang dilontarkan oleh Freya, adalah rencana satu-satunya yang harus mereka jalankan apalagi musuh meminta Freya untuk datang seorang diri.


"Norman, kita tidak memiliki waktu untuk berdebat. Kita tidak bisa menunda terlalu lama apalagi musuh menginginkan aku!" ucap Freya.


"Aku tahu tpi aku tidak bisa membiarkan kau berada di dalam markas musuh seorang diri, Freya. Kita tahu jika Gabriel adalah pengkhianat dan itu sangat berbahaya untukmu karena kau dikelilingi oleh penjahat yang tidak kita ketahui jumlah apalagi menurut kabar yang Kendrick berikan padaku, Black Scorpion tidak seorang diri."


"Aku tahu, ayahku sudah mengatakan beberapa kelompok menginginkan batu itu jadi aku tahu musuhku banyak dan tidak bisa diremehkan!" sejak awal dia memang sudah tahu jika musuhnya tidak hanya satu kelompok saja.


"Jika kau memang sudah tahu, lalu bagaimana aku bisa membiarkan kau sendirian berada di tempat berbahaya itu, Freya!" Norman melangkah mendekat, berharap Freya tidak melakukan apa yang dia rencanakan.


"Kita cari cara lain, kita bisa memanfaat Gabriel dan mengancamnya. Dia bisa membawa kita masuk jika dia masih ingin tetap hidup," Norman memegangi tangan Freya, masih banyak cara yang bisa mereka lalukan selain menjadikan Freya sebagai umpan.


"Norman, kau tahu ayahku dan Cristina berada di tangan musuh," Freya menatap ke arah Norman, dia harap Norman tidak berdebat dengannya terlalu lama, "Saat musuh tahu aku tidak melakukan apa yang mereka perintahkan, mereka pasti akan membunuh mereka satu persatu. Jika sampai hal itu terjadi, apa gunanya usahaku selama ini?" kini Freya yang mendekati Norman dan satu tangannya sudah berada di wajah Norman, "Percayalah padaku, Norman. Aku mempercayai dirimu untuk membantu aku jadi aku ingin kau datang secara diam-diam dan menyerang mereka dari luar. Percayalah, tidak ada rencana yang lebih baik dari pada ini," ucapnya lagi.


"Tapi aku takut kau berada dalam bahaya," Norman memeluk Freya, sungguh dia tidak mau melepaskan Freya pergi apalagi Freya harus berada di dalam markas musuh.


"Tidak perlu khawatir, Norman. Selama aku memberikan apa yang mereka inginkan, mereka tidak akan melakukan apa pun padaku!" ucap Freya.


"Jadi kau ingin memberikan batu yang kau cari dengan susah payah pada mereka?" tanya Norman.


"Tidak, aku akan memberikan yang palsu pada mereka. Aku yakin tidak akan ada yang tahu bagaimana bentuk batunya. Aku akan mengelabui mereka semua oleh sebab itu, biarkan aku pergi dengan Gabriel dan kau menyusul. Bagaimanapun kita harus menyerang secara diam-diam dan musuh harus menganggap jika aku tidak berdaya akibat ancaman mereka."


"Baiklah, baik. Tapi berjanjilah padaku jika kau akan menjaga dirimu baik-baik dan tidak melakukan apa pun yang bisa mencelakai dirimu sendiri!" pinta Norman.


"Aku berjanji padamu, Norman. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!"


"Baiklah, hubungi Gabriel dan katakan jika kau ingin meminta bantuannya!" Norman melepaskan pelukannya, meski berat tapi dia harus melepaskan Freya ke markas musuh.


"Terima kasih atas pengertianmu, Norman. Aku benar-benar mengandalkan dirimu."


"Aku tidak akan mengecewakan dirimu Freya dan aku pasti akan membawamu keluar dari tempat musuh!"


"Aku percaya padamu!" Freya melangkah pergi karena dia mau menghubungi Gabriel. Gabriel yang sudah menunggu sedari tadi tentu saja sangat senang karena Freya akhirnya menghubunginya. Dia yakin Freya pasti akan menyetujui tawaran yang dia berikan.


"Apa kau yakin kau bisa membantu aku bernegosiasi, Gabriel?" tanya Freya. Dia tidak boleh langsung menyetujui ajakan Gabriel agar Gabriel tidak curiga sama sekali.


"Tentu saja, percayalah padaku. Aku pasti akan membantumu menyelamatkan ayahmu," ucap Gabriel meyakinkan.


"Baiklah, sekarang katakan padaku siapa ilmuwan yang memberitahumu akan apa yang terjadi pada ayahku dan akan batu yang ayahku temukan. Apa aku mengenalnya?"


"Dia sahabat ayahmu, Freya. Dia pula yang pergi melakukan penggalian dengan ayahmu dan mengetahui batu itu."


"Lalu, kenapa dia memberitahumu dan kenapa dia tidak memberitahu aku secara langsung?"


"Dia tidak tahu nomor ponselmu, Freya. Percayalah padaku, aku pasti akan membantumu menyelamatkan ayahmu!" Gabriel kembali meyakinkan Freya agar Freya percaya padanya.


"Terima kasih, Gabriel. Aku percaya padamu. Jadi kapan kita akan berangkat?"


"Di mana kau sekarang?" tanya Gabriel pura-pura tidak tahu.


"Italia, apa kau mau datang?"


"Baklah, kita bertemu di Italia lalu kita berangkat ke Hong Kong bersama-sama. Ingat, tidak ada yang boleh tahu apalagi Norman!"


"Tidak perlu khawatir, dia hanya orang asing dan dia sudah pergi beberapa hari yang lalu!"


"Jika begitu aku akan segera ke sana!"


"Aku tunggu!" ucap Freya seraya menatap ke arah Norman.


Norman menghampiri Freya dan meraih pinggangnya. Dia kembali memeluk Freya karena sesungguhnya dia masih tidak suka dengan rencana Freya dan yang membuatnya semakin tidak suka adalah, Freya akan berduaan dengan Gabriel tanpa adanya dirinya.


"Bagaimana, apa kalian akan bertemu di sana?" tanya Norman.


"Dia akan datang, Norman. Aku rasa sebaiknya kau pergi ke Hong Kong terlebih dahulu agar Gabriel tidak melihatmu karena aku sudah berkata jika kau sudah pergi. Menyamarlah saat kau sudah tiba di sana dan aku akan mengirim pesan padamu saat aku sudah berada di Hong Kong dengan Gabriel."


"Apa kau yakin kita harus melakukan cara ini?"


"Sangat yakin, kau pergilah terlebih dahulu. Besok Gabriel sudah tiba, tunggu aku di sana karena setelah dia datang aku akan pergi bersama dengannya!"


"Baiklah!" Norman mengangkat dagu Freya dan menatapnya dengan senyuman menghiasi wajah, "Aku akan menunggumu di sana sesuai dengan rencanamu. Aku tidak akan lari, aku pasti menepati janjiku!" ucapnya lagi.


"Dan aku akan menempati janjiku nanti!" Freya berjinjit, kedua tangan sudah melingkar di leher Norman dan mereka berdua berciuman cukup lama seolah-olah itu akan menjadi ciuman terakhir mereka dan seolah-olah mereka tidak bisa melakukannya lagi.